Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Senyuman Rena


__ADS_3

Hari-hari berikutnya dijalani seperti air yang mengalir. Raka pun dengan telaten merawat dan menjaga Rena.


Rena sendiri kadangkala masih kambuh syok dan traumanya.Terkadang tiba-tiba menangis histeris, tiba-tiba dia melamun sendirian di depan jendela kamarnya. Kadang membuat Raka ikut sedih. Rasanya ia ikut merasakan rasa sakit yang dialami oleh Rena. Ia juga belum menghubungi orang rumah.


Raka juga belum tahu bagaimana kondisi Bu Rossa saat ini. Karena fokusnya saat ini adalah menjaga Rena dan memastikannya agar mental Rena kembali pulih seperti dulu lagi.


''Ayo sarapan,'' ucap Raka sambil menyerahkan piring yang berisi roti lapis dan menaruhnya di hadapan Rena.


Rena diam saja menatap kosong ke piring itu. Dan tiba-tiba ia langsung menangis lagi.


Raka langsung memeluk Rena tanpa bertanya apa-apa lagi. Memang seperti itu setiap harinya dan sudah satu minggu ini Rena terus seperti itu.


"Apa kamu ingin jalan-jalan?''


Rena menganggukkan kepalanya.


''Baiklah, kalau begitu ayo. Aku akan mengantarkanmu untuk berganti pakaian dulu,'' ucap Raka sambil memapah Rena dan mengantarkannya ke kamar.


Selama Rena tinggal di rumah Raka, Rena kini menempati kamar milik Raka. Karena menurut Raka, untuk perempuan yang di cintainya tidak mungkin membiarkannya tidur di kamar pembantu lagi. Raka siang dan malam terus menjaga Rena. Bahkan ia rela tidur di sofa agar saat Rena kambuh, ia bisa langsung menenangkannya.


Dan kalau soal pekerjaan, untuk sementara Ini Raka meminta Niko untuk sementara menggantikannya. Ia juga meminta cuti, entah sampai kapan karena prioritasnya saat ini adalah menjaga Rena, perempuan yang saat ini sangat ia cintai.


Raka menunggu di depan kamar sampai Rena selesai dan membuka pintu.


''Wah sepertinya baju itu emang cocok untukmu. Lihatlah! Siapa perempuan cantik ini?'' gurau Raka. Namun tidak ada balasan kata apapun dari Rena. Ia masih saja menatap kosong.


''Baiklah, Ayo kita sisir dulu rambutmu,''


Raka mau menuntun Rena hingga duduk di kursi meja rias, lalu perlahan Raka menyisiri rambut Rena hingga rapi. Rambutnya dibiarkan terurai dan memakaikannya sebuah jepit dengan hiasan bintang di atasnya.


Raka tersenyum melihat Rena.


''Rasanya aku semakin jatuh cinta kepadamu,'' ucap Raka.


"Ayo!''


Raka membawa Rena pergi berbelanja kebutuhan harian. Terkadang Raka mengajaknya berbicara, namun Rena masih tetap diam saja. Sesekali sudah bisa ikut mengambil barang yang akan ia beli.


''Apakah kau ingin membeli ini?'' ucap Raka sambil menunjukkan barang yang tadi Rena ambil.


''Ya, aku sepertinya menginginkannya,'' jawab Rena.

__ADS_1


Raka tersenyum mendengar jawaban Rena dan mengusap-usap rambut Rena.


《 POV Rena


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku ini. Perlahan aku menyadari sepertinya ada yang salah dengan diriku sejak kejadian malam itu. Tapi aku bersyukur, Mas Raka selalu menemani dan menjagaku selama ini.


Rena memandang Raka yang saat ini tidur di sofa dekat tempat tidurnya.


''Ya Tuhan, dia adalah laki-laki yang baik yang pernah aku kenal selama ini. Sikap dan sifatnya sama seperti ayahku. Memiliki hati yang tulus dan penyayang. Selama ini dia terus menjagaku dan merawatku dengan baik. Selama ini aku sudah banyak merepotkannya. Aku benar-benar tidak pantas untuk nya. Aku tidak pantas menerima kebaikannya.


Rena mengalihkan pandangannya dan memandang ke arah luar jendela. Namun lamunannya tersentak saat sebuah suara memanggilnya.


''Apa yang sedang kau lamunkan Rena?'' Suara lembut itu benar-benar membuat hati dan pikiran Rena menjadi nyaman. Namun ia juga takut jika kenyaman itu ditakdirkan bukan untuknya.


''Tidak ada, aku hanya melihat pemandangan di luar saja,'' ucapku agar ia tidak mengkhawatirkanku.


''Baiklah, kalau begitu ayo turun ke bawah. Aku akan memasakkanmu makanan favoritku,'' 》


Balik Author


Semua belanjaan sudah masuk dalam mobil. Namun terlihat berantakan karena Raka asal memasukannya. Bahkan sampai-sampai mobil Raka kini sudah penuh dengan belanjaan yang mereka beli tadi.


Tiba-tiba Rena tertawa melihat kebingungan Raka.


''Hahahaha... Mas Raka lucu sekali. Kenapa kita tidak membungkusnya jadi satu di dalam kardus?vBukankah itu lebih simple. Kenapa Mas Raka malah menaruhnya di dalam kantong plastik, hingga membuat mobil mas Raka penuh berdesakan,'' ucap Rena.


Sontak melihat tawa Rena dan ucapan Rena yang terkesan mulai cerewet, membuat Raka tersenyum.


''Aku bersyukur perlahan kini dirimu yang dulu mulai kembali,'' batin Raka.


''Tidak apa-apa kalau begitu lebih baik kita tinggalkan saja mobilnya,''


''Kok gitu Mas?''


''Ya, kalau tidak bagaimana kita akan membawanya pulang? Lihatlah! Untuk duduk saja kita tidak bisa,''


''Hais..Mas Raka ini,''


Rena kemudian masuk kembali ke dalam mall, dan tak lama kemudian ia keluar membawa dua kotak kardus lumayan besar. Satu persatu Rena menata barang-barangnya dan dimasukkannya ke dalam kardus hingga kini barang-barang mereka terlihat rapi karena tersusun dan ditaruh di dalam bagasi belakang.


''Nah, bukankah ini sudah bisa diduduki?'' Tunjuk Rena ke tempat duduk yang akan Raka duduki.

__ADS_1


''Ya benar sekali. Terima kasih,'' Ucap Raka tersenyum.


''Ayo duduk dulu,'' Raka membukakan pintu depan.


''Kenapa saya duduk di depan dengan mas Raka? Bukankah itu tidak sopan?'' ucap Rena.


''Kenapa tidak sopan?''


''Kan saya cuman asisten rumah tangga Mas. Seharusnya saya duduk di belakang. Saya duduk di depan, bukankah itu tidak pantas?'' Ucap Rena.


Apakah ia lupa pernyataan cinta Raka kemarin?


Raka mengerutkan dahinya.


Apa yang terjadi? Apakah Rena lupa kalau kemarin ia sudah mengungkapkan perasaannya.


Namun Raka tidak ingin terlalu banyak berbicara dulu. Sebab melihat Rena cerewet dan banyak bertanya seperti itu, sudah membuatnya bersyukur.


''Begini saja, kenapa kamu duduk di belakang? Apa kamu berpikir aku ini sopir taksi online? Enak saja. Pokoknya duduk di depan. Aku ini bukan sopirmu ya,'' gurau Raka.


''Hahaha... baiklah baiklah, Saya cuman bercanda kok mas,'' Rena menutup pintu mobil belakang lalu duduk di tempat duduk samping Raka.


''Nah begitu dong,''


''Hehehe... Apakah kita akan langsung pulang Mas?'' Tanya Rena.


''Tidak, kita akan pergi ke pantai dulu,''


''Hah? Pantai? panas-panas begini?'' Ucap Rena sambil menunjukkan keadaan di sekitar yang memang hari itu terasa sekali panasnya.


''Iya, soalnya aku ingin sekali ke pantai. Apakah kamu tidak ingin melihat pantai? Bukankah sangat menyenangkan panas-panas begini kita bermain air?''


''Kalau panas-panas begini kita bermain air, yang ada kita akan sakit Mas,''


''Kok bisa?''


''Ya, kita akan terkena demam kalau siang-siang begini. Apalagi dalam kondisi panas seperti ini kita malah bermain air,''


''Benarkah? Kata siapa?'' Ucap Raka tidak percaya.


''Kataku,'' jawab Rena spontan yang langsung membuat Raka tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2