Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Fealing: Kekhawatiran orang tua Rena


__ADS_3

...''Mencintai itu tidak harus memiliki. Melihat dia tersenyum bahagia, itu sudah lebih dari cukup Jika bersamaku hanya akan menimbulkan luka yang berkepanjangan, lebih baik aku tidak bersamanya. Ku relakan ia dengan orang lain, orang yang mampu membuatnya bahagia hingga mampu melupakan cintanya padaku,''...


...♧••••••••♧•••••••○○♡○○•••••••♧•••••••••♧...


Pukul 23.52, Bryan terbangun dari tidurnya setelah ia merasakan pergerakan dari salah satu jari-jari Raka.


''Raka!"


Bryan segera membuka kedua matanya. Ia pun berdiri dan memperhatikan dengan teliti adiknya. Namun Raka sama sekali tidak merespon panggilannya ataupun menggerakkan jari-jarinya lagi.


"Apakah hanya perasaanku saja?" Bryan menghela nafasnya. Ada rasa kecewa karena ternyata itu hanya perasaannya saja. Ia berharap Raka segera bisa membuka kedua matanya. Namun ternyata itu hanya halusinasinya saja.


Ia pun kembali melanjutkan tidurnya. Dan tanpa ia tahu, sebenarnya pergerakan tadi memang benar adanya. Raka mungkin sedang berusaha keras agar kesadarannya bisa kembali. Namun entahlah hanya Tuhan yang tahu kapan Raka akan benar-benar bisa membuka kedua matanya.


Keesokan paginya...


Rencananya Raka akan di pindahkan ke ruangan kusus. Tapi masih tetap dengan peralatan yang memenuhi tubuhnya sebagai penopang hidupnya.


Pagi-pagi sekali Bryan sudah berada di ruangan tempat Rena di rawat. Ia sedang mengelap wajah dan lengan Rena. Tak lupa ia juga menyisir rapi rambut Rena.


"Wah Tuan Bryan ternyata sangat romatis sekali ya. Ia dengan telaten merawat dan menjaga gadis itu," bisik para perawat yang tak sengaja melihat ke dalam ruangan Rena yang kebetulan pintunya sedang terbuka.


"Kamu kenal dengan pria itu? Memangnya siapa? Dan juga apakah perempuan itu istrinya atau pacarnya?" Salah satu perawat pindahan itu bertanya kepada teman-temannya itu. Karena ia memang belum mengenal siapa Bryan.


"Dia itu saudaranya dokter Raka. Dan perempuan itu.... Aku juga kurang tahu hehehe.... Tapi aku sering melihat dokter Raka membawanya dalam beberapa pertemuan bulan lalu,"


"Lah kukira tahu. Eh tadi kamu bilang pria itu saudara dokter Raka?"


Teman-temannya pun mengangguk bersamaan.


"Dokter muda yang menjadi dokter andalan di rumah sakit Sentosa kah?"


"Iya,"


"Waah, daebak! Aku tu fans berat dokter Raka. Dulu waktu masih kuliah, dokter Raka pernah datang di seminar dan banyak memberi arahan untuk para calon dokter dan perawat. Waktu itu ia terlihat keren sekali," perawat itu membayangkan saat dulu Raka pernah hadir di kampusnya.


Namun teman-temannya langsung diam seketika dan menunduk dengan sendu.


"Hei! Ada apa? Mengapa kalian malah terlihat sedih?" Karena ia memang belum tahu keadaan Raka saat ini. Karena ia baru mulai bekerja di rumah sakit itu tadi pagi.


"Dokter Raka saat ini sedang koma,"

__ADS_1


"Apa!"


Perawat itu tampak syok dan langsung pias wajahnya saat teman-temannya menceritakan tentang keadaan dokter Raka saat ini.


"Alina, mungkin hanya keajaiban yang akan menolong dokter Raka. Sebab kata para dokter yang menangani dokter Raka....." ( Menggelengkan kepala.)


Ya, perawat pindahan itu bernama Alina. Ia sangat mengidolakan Raka. Bahkan saking fans nya ia sampai-sampai mengambil jurusan perawat agar kelak bisa bekerja serumah sakit dengan idolanya itu.


Alina menunduk meneteskan air mata. Ia tidak percaya idolanya saat ini terbaring koma di rumah sakit. Ia ingin melihat keadaan Raka. Namun tugasnya saat ini tidak memperbolahkannya. Sebab tak berapa lama ada pasien yang membutuhkan dirinya.


"Sudahlah Alina. Lakukan dulu tugas kita dengan baik ya. Jangan sedih lagi. Nanti setelah selesai aku akan menunjukkan ruangan tempat dokter Raka di rawat," Teman-temannya Alina mencoba menghibur Alina.


"Benarkah?"


"Iya," jawab kompak teman-temannya.


•••••••♡•••••••


Di tempat lain....


Lebih tepatnya di desa tempat tinggal orang tua Rena berada.


"Buk, kok Rena sudah lama enggak telepon ya buk? Apa jangan-jangan ada apa-apa sama anak kita buk?" Pak Rohim bapak Rena terlihat khawatir dengan putrinya. Karena sudah lama tidak ada kabar dari Rena.


"Engak ya buk, kayaknya udah satu mingguan lo," Rara adik Rena ikut menimpali. Rara tiba-tiba juga merasa rindu dengan embaknya itu. Entah mengapa perasaannya tidak enak sejak kemaren.


Rara ingin mengatakannya pada ibu dan bapaknya, namun Rara tidak ingin ibu dan bapaknya khawatir.


"Benarkah?"


"Iya buk,"


"Ya sudah kalau begitu kamu coba telepon mbakmu. Nanti tanyakan saja langsung padanya,"


"Ok buk, Rara coba telepon mbak Rena dulu,"


Rara segera bergegas masuk ke dalam kamarmya. Sebab ponselnya saat itu sedang mengisi baterai. Maklum ponsel lama kadang sering ngadat tiba-tiba mati, dan terkadang tiba-tiba habis baterai sendiri.


"Maaf, no yang anda tuju saat ini tidak dapat di hubungi “The number you are calling cannot be reache. Please try again” 


Begitulah jawaban yang Rara dapat setelah berulang kali oa mencoba menghubungi kakaknya.

__ADS_1


''Buk....ibuk..!''


''Ada apa toh Ra? Kok malah teriak-teriak,'' sahut ibunya dari dapur. Karena saat itu bu Sugi sedang memasak untuk makan siang.


''No mbak Rena gak bisa di hubungi buk,''


''Mungkin mbak mu sedang sibuk Ra. Kan kamu tahu sendiri di sana mbak mu kerja sendirian dan gak ada temannya,'' ucap Bu Sugi yang mencoba menenangkan putri bungsunya itu. Walau di hatinya juga tersimpan kekhawatiran terhadap putri sulungnya.


''Ck... Bapak benar-benar khawatir buk, di tambah ponsel Rena gak bisa di hubungi.''


Bu Sugi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebab jika suaminya sudah merasa seperti itu, biasanya fealing selalu benar.


Kini kekhawatirannya pun semakin memuncak.


''Coba kamu telepon majikannya saja Ra. Tapi kamu ngomongnya harus sopan ya Ra. Takutnya kakakmu benar-benar sibuk dan malah mengganggunya saja,'' titah bu Sugi kepada Rara.


Rara pun mengangguk paham. Ia segera mencoba menghubungi bu Rossa selaku majikan Rena.


Dua sampai tiga kali panggilan, Rara baru mendapatkan jawaban dari sebrang sana.


''Halo selamat malam,''


..........


''Maaf mengganggu bu, saya adiknya mbak Rena. Ini ibuk dan bapak ingin berbicara dengan mbak Rena. Apakah mbak Rena sedang sibuk?''


.......


''Ooh... Baik bu.. baik. Nanti saya sampaikan kepada ibu dan bapak saya,''


.....


''Ya... trimakasih bu. Dan maaf sudah mengganggu waktu ibu,''


Dan panggilan telepon pun terputus.


''Bagaimana katanya nduk? Apakah mbak mu baik-baik saja?'' Pak Rohim segera menghampiri Rara untuk mengetahui kejelasannya.


''Inggih pak, tadi majikan mbak Rena bilang, kalau mbak Rena saat ini sedang pergi membantu anaknya berbelanja kebutuhan bulanan. Jadinya tidak bisa menerima telepon dulu.''


''Oooo... ya sudah kalau baik-baik saja. Bapak jadi lega,''

__ADS_1


''Iya pak, ibu juga lega akhirnya. Tapi Ra, nanti kalau bisa kamu coba telepon mbak mu lagi ya, ibu ingin denger suara mbakmu,''


''Baik buk, nanti Rara coba telepon mbak Rena kalau sudah enggak sibuk,''


__ADS_2