
''Silahkan diminum non,'' ucap Rena sambil meletakkan segelas jus jeruk yang tadi bu Rossa siapkan.
Namun Jenny hanya meliriknya saja dan kembali memainkan ponselnya tanpa menjawab ucapan Rena. Namun saat Rena akan melangkahkan kakinya kembali ke dapur, tiba-tiba Jenny memanggilnya.
''Eh mbak, bukannya yang mau mengambilkanku minum Tante Rossa ya. Kenapa malah jadi kamu?''
''Bu Rossa sedang ada urusan dengan Mas Raka. Jadi saya yang mengantarkannya,'' jawab Rena.
''Mas?''
''Iya, Mas Raka Non,''
''Kok kamu manggilnya mas sih? Harusnya kan Tuan muda. Kenapa malah jadi Mas. Kurang pantas tahu. Kamu pikir Raka itu sama kek Mas-mas kampung yang ada di desamu itu apa!''
Rena jadi bingung harus menjawabnya apa? Soalnya panggilan itu Raka sendiri yang memintanya. Namun dari arah belakang Rena, Raka tiba-tiba muncul lalu mengatakan...
''Aku sendiri yang memintanya untuk memanggilku dengan panggilan itu. Memangnya kenapa? Apanya yang tidak pantas? Panggilannya itu aku rasa sangat bagus daripada panggilan tuan muda yang kaku itu,''
''Tapi Raka, bukankah itu kurang pantas? Dia itu kan cuma pembantu. Kastanya lebih rendah daripada kita. Kalau kamu dipanggil dengan sebutan mas, rasanya kayak kuno dan kampungan sekali Raka.''
''Kuno, kampungan? Aku malah merasa kalau panggilan tuan muda itu yang lebih kuno dan kampungan. Lagi pula, itu panggilannya untukku. Tidak ada urusannya denganmu. Kenapa kamu yang malah keberatan?''
''Bukan begitu Raka,''
''Sudahlah Jenny. Kau mau balik atau tidak? Kalau tidak, aku akan jalan sendiri,'' ucap Raka yang berlalu pergi begitu saja menyeret kopernya dan memasukkannya ke dalam mobil.
''Raka! Raka! Tunggu dulu. Bukan begitu maksudku...''
''Sudahlah! Jangan berdebat lagi. Apakah kamu akan mendapatkan uang jika terus berdebat seperti itu? Jika kamu masih membahasnya lagi, aku tidak akan pulang bersamamu. Lebih baik aku memesan taksi online,'' ucap Raka dengan kesal.
Mendengar ucapan Raka, Jenny pun terdiam. Ia tidak ingin jika sampai Raka benar-benar pulang sendiri dan meninggalkannya. Sia-sia dong usahanya selama ini.
''Raka! Tunggu mama sebentar,''
__ADS_1
''Ya mah. Jalanlah pelan-pelan. Jangan berlari seperti itu,''
Bu Rosa berusaha mengejar langkah putranya, sampai-sampai ia lari terbirit-birit sambil membawa sebuah tas kecil.
''Ini, ketinggalan.''
''Mama, aku kan sudah bilang. Biarkan saja ini di rumah,''
''Hei! Nanti jika ada apa-apa denganmu kamu bisa menggunakannya,''
''Tante...,'' sapa Jenny.
''Hemm,''
Bu Rossa hanya menanggapinya dengan berdehem saja saat Jenny menyapanya kembali.
''Berhati-hatilah. Dan jangan ngebut-ngebut di jalan,''
''Tenang saja Tante, aku pasti akan jagain Raka,'' ucap Jenny.
''Iya ma. Raka akan selalu mengingatnya. Tenang saja. Ok,''
''Oh ya Raka. Nanti tanggal 20, Mama akan ke tempatmu. Jangan lupa untuk menjemput mama di bandara,''
''Baik mah.''
Mobil yang Raka kendarai lalu pergi meninggalkan halaman rumah mamanya dan melaju cepat di jalanan.
Rena masih terdiam kaku melihat kepergian Raka.
''Hei, ada apa denganmu Ren? Kenapa kamu malah melamun? Tenang saja, Raka cuma pergi bekerja, bukan pergi berkencan. Nanti tanggal 20 kamu ikut dengan ibu untuk menyusul Raka,''
''Haaaah? Apa maksud bu Rossa?'' Batin Rena mengernyitkan dahinya mendengar perkataan majikannya itu.
__ADS_1
''Hehehe... Tidak melamun kok bu. Saya hanya berpikir, Apakah panggilan Mas ke Mas Raka itu kurang pantas ya Bu?''
''Siapa yang bilang? Bukankah Raka sendiri yang memintamu untuk memanggilnya dengan sebutan Mas,''
''Iya sih Bu. Tapi......''
''Sudahlah Ren. Jangan kamu tanggapi perkataan Jenny. Gadis itu memang sifatnya seperti itu. 11 12 sama dengan Natasha. Jadi, kamu jangan terlalu menghiraukan mereka. Anggap saja mereka itu hanya seperti lebah yang ngang ngung ngang ngung setiap hari di telinga kita.
''Hehehe... Bu Rossa ini lucu sekali. Calon menantunya malah disamain dengan lebah,''
''Kan memang mereka mirip lebah kan? Eh tunggu dulu. Ralat ya Ren, mungkin Natasha memang calon menantu saya. Tapi kalau Jenny, dia bukan calon menantu saya.''
''Loh kok bukan bu? Rena kira Mas Raka dan non Jenny pasangan kekasih,''
''Siapa yang bilang? Gadis seperti Jenny, Raka mana suka. Malah yang ibu lihat, Raka terlihat lebih menyukaimu Ren,'' ucap Bu Rossa sambil melirik Rena.
Bu Rossa sengaja ingin menjahili Rena dan sekaligus ingin mengetahui isi hati Rena. Apakah Rena memiliki sedikit perasaan untuk putranya itu. Takutnya ia sudah terlanjur menjodohkan, tapi Rena malah ternyata tidak memiliki perasaan apapun terhadap Raka. Kan kasihan nanti Raka.
Sedangkan Rena sendiri, Ia menjadi gugup. Tiba-tiba hatinya berdebar-debar tidak karuan. Bukan karena ia sedang jatuh cinta, tapi ia malah merasa takut kalau Bu Rossa salah paham terhadapnya. Rena takut, kalau bu Rossa mengira ia menjadi penggoda putranya, karena akhir-akhir ini selama Raka berada di rumah mamanya. Mereka sering bercanda tawa bersama.
''Ah Ibu bisa saja. Mana ada Bu, Rena ini hanya perempuan kampung. Selain itu, Rena hanyalah perempuan miskin dan seorang janda pula. Rena tidak ingin memiliki pikiran apapun terhadap siapapun. Rena hanya ingin fokus bekerja, membahagiakan diri sendiri, dan juga membantu ekonomi orang tua Rena,'' ucap Rena yang kemudian pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
Bu Rossa memandangi wajah Rena dengan perasaan sendu. Ia tahu gadis itu pasti berpikir kalau dirinya meragukan kebaikannya. Ia sangat paham dengan maksud Rena. Tapi ia tidak ingin kalau gadis itu terlalu menutup diri dan tidak mau membuka hatinya lagi.
Rasa sakit karena dikhianati, Ia juga sudah pernah merasakannya. Bagaimana rasanya ia harus merangkak, tertatih-tatih dan berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Tentu saja ia sangat tahu.
Bu Rossa sangat mengerti bagaimana perasaan Rena saat ini. Sebab dulu ia juga pernah merasakannya. Ternyata suaminya dulu juga berselingkuh. Suaminya itu pergi meninggalkannya dan kedua putranya ketika Bu Rossa tengah mengandung Raka 8 bulan.
Pada saat itu hujan dan juga mati lampu. Bu Rossa merintih kesakitan saat perutnya mengalami kontraksi. Namun bu Rossa malah melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau suaminya malah sedang asyik memadu kasih dengan sahabatnya sendiri yang sudah ia percaya dan juga sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.
Bahkan mereka tinggal bersama, karena sahabatnya itu baru saja tiba ke kota. Katanya, ia akan merantau untuk mencari pekerjaan. Oleh sebab itu Bu Rossa pun membantu dengan memberikan tempat tinggal untuknya. Namun kebaikan yang ia lakukan malah dibalas dengan luka yang teramat dalam.
Bu Rossa menghela nafasnya. Jika teringat dengan masa lalunya, rasa sakit yang sudah lama ia kubur dalam-dalam rasanya seperti tergali kembali.
__ADS_1
Bu Rossa berharap, kelak Rena bisa membuka hatinya kembali. Dan melupakan rasa sakitnya itu.