
Jangan terobsesi dengan sesuatu hal yang bukan milik kita. Karena terkadang sesuatu hal yang benar-benar milik kita, akan tiba pada waktunya.
...•••••••••••••••••♡••••••••••••••••...
''Bryan! Apa yang sedang kau lakukan!''
Bu Rossa, Raka dan Rena terkejut saat melihat Bryan sudah berdiri di atas sebuah kursi dan di lehernya sudah terlilit sebuah tali yang sudah diikatkan di atas.
''Mah, aku gak mau hidup lagi. Natasha.... Natasha dia....''
Bu Rossa dan Raka langsung berlari berusaha menurunkan Bryan. Namun Bryan tetap menolak dan memegang kuat tali yang ada di lehernya.
Buk....
Sebuah tinjuan melayang di pipi Bryan
''Aah... Raka! Apa yang kamu lakukan!'' Teriak bu Rossa histeris melihat Raka memukul Bryan.
''Hanya karena cinta kamu sampai mau bunuh diri? Bodoh kamu bego Bryan! Aku benar-benar kecewa punya kakak lemah seperti dirimu,'' ucap Raka penuh emosi.
''Kau itu tahu apa ha! Pacaran saja tidak pernah, mana tahu rasa sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai,''
''Cin...'' Raka baru akan membalas ucapan Bryan. Namun suara Rena langsung membuatnya bungkam.
''Cinta? Hanya karena cinta kamu mau mati begitu saja. Membuang waktu 27 tahun hidupmu yang sudah mamamu berikan dengan susah payah dan bertaruh nyawa. Bodoh, benar-benar bodoh yang tidak bisa terobati. Kau hanya kehilangan cinta dari seorang wanita yang tidak ada hubungan darah apapun denganmu. Bahkan dia sudah menyakiti hatimu dengan penghianatannya. Lalu, jika kamu mati menurutmu siapa yang paling tersakiti? Apakah Natasha? Tidak bodoh! Tentu saja mamamu, adikmu dan juga orang-orang yang tulus menyayangimu.''
''Cinta boleh tapi bodoh jangan! Kau mabuk-mabukan, tidak makan, mengurung diri, bahkan sampai mau bunuh diri. Membuat semua orang khawatir. Lalu apa kau tahu sedang apa Natasha sekarang? Dia sedang liburan, Makan enak tidur nyenyak.''
''Apa yang di katakan oleh adikmu sangatlah benar, walau dia belum pernah berpacaran. Lalu untuk apa berpacaran jika pada akhirnya saling menyakiti?''
''Mas Bryan, mas Bryan harusnya bersyukur Tuhan masih sayang sama mas Bryan karena sudah di tunjukkan kebenarannya sebelum mas Bryan menikah. Kalau sudah terlanjur itu malah lebih menyakitkan dan akan benar-benar menghancurkan kehidupanmu.''
''Apa mas tahu, luka yang didapatkan sebelum menikah lebih ringan ketimbang sesudah menikah. Apa Mas tahu, betapa sakit dan hancurnya saat pernikahan yang kita idam-idamkan seumur hidup kita harus hancur karena orang ketiga. Kita yang berusaha membina dengan baik, menjaga namun harus lenyap karena penghianatan! Bahkan dengan fitnah dan juga ketidakadilan, itu jauh lebih menyakitkan Mas. Luka yang mungkin bisa kering, namun traumanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dulu yang sering mendamba akan cinta, kini hati sudah terasa mati rasa. Apa Mas tahu betapa sakitnya itu? Bahkan untuk menelan sebutir nasi saja itu tidak akan pernah sampai di tenggorokan, jika mengingatnya kembali,''
''Mas Bryan ingin mati kan? Mati saja sana! Mati saja. Biar mas puas dan langsung masuk neraka tanpa antrian. Biar Natasha tambah bahagia karena sudah membuat mas Bryan gila karena cintanya.''
Brak!!!
__ADS_1
Setelah mengucapkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya, Rena langsung pergi begitu saja sambil membanting pintu meninggalkan Raka, Bryan, dan Bu Rossa yang terdiam mematung setelah mendengar semua yang Rena katakan.
Plok..plok...plok...plok...
''Waah, Mbak Rena benar-benar keren.'' Ucap Raka menggelengkan kepalanya membuat Bu Rossa dan Bryan menoleh ke arahnya.
''Oh, jangan menatapku dengan tatapan menyebalkanmu itu. Lanjutkan saja acara bunuh dirimu itu. Aku janji, kali ini aku tidak akan menghalangimu lagi. Bahkan jika sampai terjadi, aku akan membuatkanmu pesta tujuh hari tujuh malam plus tahlilan dan surah yasin gratis untukmu.''
''Oh, satu lagi, aku juga akan menyediakan mobil terbaik dari rumah sakit tempatku bekerja. Dasar laki- laki ''LEMAH '' Ucap Raka yang juga ikut pergi meninggalkan kamar Bryan.
Dengan tatapan kosong, Bryan akhirnya turun dan melepaskan tali yang ia lilitkan di lehernya. Dengan langkah gontai ia duduk di sudut kasur tempat tidurnya. Bu Rossa ikut duduk di sebelahnya sambil mengelus-elus pundak sang putra.
Tak disangka Bryan menggeser duduknya lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang mama.
''Apakah hidup Mbak Rena semenyedihkannya itu?''
Bu Rossa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
''Apakah mama tahu cerita tentang hidup Mbak Rena?''
''Sedikit. Mama juga hanya mendengarnya dari Wulan, temannya Rena,''
''Iya, dulu sebelum Rena ke sini Wulan sempat bercerita tentang hidup Rena,''
''Bryan hanya mendengar kalau Mbak Rena pernah menikah dan suaminya mengkhianatinya lalu pergi bersama kekasihnya. Apakah itu benar Mah?''
''Iya benar. Tapi bukan hanya itu yang didapatkan oleh Mbak Rena,''
''Bukan hanya itu? Maksud mama?''
''Jika mungkin hanya penghianatan yang dilakukan oleh suaminya, mana mungkin Rena menutup pintu hatinya rapat-rapat sampai sekarang.''
''Apakah sedalam itu lukanya mah?''
''Tentu saja,'' ucap bu Rossa sambil mengelus-elus puncak kepala Bryan.
''Kamu ingin mendengar ceritanya?''
__ADS_1
''Iya Ma,'' Bryan menganggukkan kepalanya.
''Baiklah, Mama akan menceritakannya. Siapa tahu dengan mendengar sedikit cerita tentang Mbak Rena, kamu bisa melanjutkan hidupmu itu,''
Bryan tersenyum menatap mata sang mama.
''Rena adalah gadis yang ceria dan murah senyum. Di keluarganya, Ia sangat disayang oleh ayahnya meskipun Ia memiliki saudara perempuan juga. Namun kedua orang tuanya memperlakukan mereka penuh dengan kasih sayang walaupun hidup mereka bisa dikatakan serba kekurangan,''
''Serba kekurangan?''
''Ya. Bahkan katanya dulu waktu kecil, untuk makan saja mereka harus pergi ke hutan mencari ubi liar yang ada di hutan.''
''Ya Tuhan, benarkah seperti itu Ma?''
''Tentu saja, makanya kamu harus banyak-banyak bersyukur Bryan. Sejak kecil kamu tidak pernah kekurangan apapun.''
''Iya mama. Maafkan Bryan,'' ucap Bryan dengan sendu.
Bu Rossa tersenyum melihat ekpresi putranya. Bu Rossa akhirnya bisa lega melihat putranya kini sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
''Semua itu tidaklah seberapa. Belum lagi hinaan, cacian dan makian dari orang-orang sekitar yang memandang rendah keluarga Rena, karena dianggap menjadi orang termiskin di kampungnya.''
''Memangnya apa salahnya miskin? Bukankah jika tidak ada orang miskin maka tidak ada orang kaya mah?''
''Kau benar. Tapi pandangan orang desa itu berbeda sayang. Jangan kira hidup di desa itu sangat indah seperti cerita. Kehidupan di desa juga ada kesulitannya. Rena pernah berkata,
''Satu telinga yang mendengar seribu mulut yang berbicara,''
''Ya, aku juga pernah mendengar Raka menyebut kata-kata itu,''
''Benarkah?''
''Iya mah, waktu itu ketika aku sedang bercerita tentang syuting ku yang ada di pelosok,''
''Ooooo... ya, mama juga ikut mengobrol dengan kalian kan?''
''Iya mah. Mah lanjutkan lagi ceritanya,''
__ADS_1
''Baiklah mama akan melanjutkannya tapi jangan lupa tinggalkan like, komen dan giffnya ya subscribe jangan lupa biar nanti kalau bab ini off teman-teman semuanya bisa mendapatkan notifikasinya oke Salam hangat untuk semuanya Maaf ya telat up-nya,''