
''Tanggung jawab adalah sebuah prinsip yang di tanamkan sejak dini oleh orang tua kita kepada kita. Mengakui kesalahan kita, meminta maaf dan bertanggung jawab. Itu adalah fase sikap bijak dan dewasa seseorang dalam menyingkapi permasalahan,''
...^^^^^^^♡^^^^^^^...
''Silahkan di minum,''
Niko menyerahkan segelas jus jambu kepada Rena.
''Trimakasih,'' jawabnya menyunggingkan senyuman manis kepada Niko.
Niko pun menemani Rena mengobrol sambil memeriksa data-data pasien yang ia pegang selama ia menggantikan Raka. Sebab sebelum Raka pergi untuk menghadiri rapat, Raka meminta Niko untuk membereskan dan menyerahkan kepadanya.
''Oh ya aku lupa,''
Rena menatap bingung Niko yang seperti mencari sesuatu di sebuah kotak yang ada di samping Rena duduk.
''Apa yang sedang anda cari dokter Niko?''
"Nah ketemu!'' Niko mengangkat tangannya yang memegang sebungkus biskuit kesukaannya. Lalu menyerahkannya kepada Rena. Namun Rena menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa tidak suka?''
"Biskuit itu kalau di makan malah akan membuat banyak gudal di gigi," Rena menjawab dengan bahasa yang campur di desanya.
"Gudal? Apa itu?" Niko bingung karena tidak tahu arti gudal. Karena ia bukan asli dari kota itu atau bisa di katakan ia berasal dari pulau sebrang. Jadi bahasa mereka sedikit berbeda.
"itu lo dok, sisa makanan yang menempel di gigi yang bikin mulut kita gak nyaman," ucap Rena tersenyum.
''Mbak Rena jangan tersenyum seperti itu, aku jadi ikutan meleleh lo lihat senyuman mbak Rena,''
Rena mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Niko. Ternyata dokter kalau ngegombal garing juga. Masih mending lah gitu. Dari pada ''Akan kubawa cintamu sampai meja operasi,'' kan horor jadinya.
Memikirkan semua itu Rena jadi tertawa sendiri.
__ADS_1
''Hahahahaha.....''
Tawa Rena menggema di seisi ruangan. Namun tawa itu seketika berhenti ketika sesorang datang membanting pintu dengan sangat keras.
Brak!!...
Rena dan Niko langsung berdiri membalikkan badan seketika, untuk melihat siapa yang sudah membuat keributan itu.
"Jenny?" Niko terkejut melihat kedatangan Jenny dengan wajah memerah menahan emosi yang siap meledak seperti sebuah bom atom yang menghancurkan hirosima dan nagasaki.
Dan yang membuat Niko tambah terkejut lagi saat tiba-tiba Jenny langsung menampar Rena dan menjambak rambutnya.
"Dasar perempuan kampungan, ****** sialan. Berani kamu merebut Raka dariku!" Teriaknya seperti orang yang kesurupan.
Rena yang terkejut juga bingung dengan apa yang sedang terjadi. Apa lagi Jenny datang tiba-tiba dan langsung menamparnya membuat ia hanya bisa diam saja tanpa bisa membalas.
Melihat Rena yang di sakiti oleh Jenny membuat Niko langsung turun tangan. Apa lagi ia mendapat titah dari sang sahabat untuk menjaga Rena. Jika Raka sampai tahu perempuan yang sangat dicintainya itu di sakiti oleh orang lain, pasti ia akan tamat riwayatnya.
"Apa yang kau lakukan Jenny? Apa-apaan kau ini! Datang-datang mencari keributan seperti orang gila!'' Niko melerai dan menarik Rena agar bersembunyi di belakangnya.
Jenny berteriak histeris sambil menangis mengungkapkan semua isi hatinya.
"Kau sudah tahu sejak dulu kalau Raka tidak pernah mencintaimu. Lalu untuk apa kamu melakukan semua itu? Kau sendiri yang bersalah. Kau berpura-pura mengundang semua dewan dan juga para atasan, termasuk papamu untuk melakukan rapat dadakan ini. Lalu apakah ini yang kau inginkan? Kau bukan hanya membuat malu dirimu sendiri. Tapi kau juga membuat malu rumah sakit karena harus ikut campur tangan atas urusan cintamu itu Jenny,"
"Diam kau Niko! Kau dari dulu tidak pernah mendukungku. Kau selalu ikut-ikutan memojokkanku. Memangnya apa kurangnya diriku dibandingkan perempuan ini! Dia hanyalah perempuan kampung yang bahkan hanya tamat lulusan SD saja. Orang miskin seperti itu bagaimana bisa Raka memilihnya?''
"Jenny, cinta tidak memandang kasta. Cinta juga tidak memandang tinggi rendahnya pendidikan. Tapi cinta murni dari hati. Kamu tidak bisa memaksakannya. Kamu berbuat seperti ini dan membuat keributan, melibatkan banyak orang. Apa kau tidak malu Jen?''
"Aaaaaak...... BRAKK!!''
Jenny mendobrak meja Niko dan mengobrak-abrik barang-barang yang ada di atas meja itu.
"Apa kau gila Jenny! Kau merusak seluruh pekerjaanku. Aku lembur dua hari dua malam untuk mengerjakannya. Tapi kau dengan seenaknya merusaknnya?" Niko ikutan geram melihat tingkah Jenny yang di luar batas.
__ADS_1
"Biar sekalian kamu tahu rasa. Siapa suruh kamu membela perempuan sialan ini,''
BRAK....
Jenny membanting pintu dan keluar dari ruangan itu. Rena tiba-tiba terdiam. Ia menjongkokkan tubuhnya dan menutupi kedua telinganya. Tiba-tiba ia menangis sesenggukan membuat Niko jadi bingung.
"Rena,"
Tanpa embel-embel Mbak lagi Niko langsung berusaha menenangkan Rena sebisanya.
"Kenapa ha? Jangan takut, perempuan gila itu sudah pergi kok. Kamu tenang saja dan jangan dengarkan dia ya," Niko berusaha menenangkan Rena. Namun tangisan Rena malah semakin menjadi.
Air matanya sudah membasahi kedua pipinya. Dan tiba-tiba pintu ruangan Niko terbuka lagi. Raka berlari seperti orang gila menghampiri Rena, lalu memeluknya erat-erat.
"Tenang ya, ada aku di sin. Lihat aku, tatap mataku," Raka berusaha menenangkan Rena dan menangkup kedua pipi Rena agar melihat ke arahnya.
Dan tak lama kemudian Rena tertidur di pelukan Raka. Raka kemudian membopong Rena dan menidurkannya di ranjang tempat biasa ia beristirahat.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Rena bisa menangis seperti itu?'' tanya Raka menatap tajam ke arah Niko. Niko yang ditatap demikian ia pun menelan ludanya dengan kasar.
Perlahan Niko mulai berbicara.
"Tadi Jenny datang mengamuk dan menampar Rena. Bahkan ia mengatai dan memaki Rena habis-habisan." Niko menggaruk-garuk pelipisnya takut jika sampai Raka marah dan berbuat hal di luar batas karena masalah itu.
Apa lagi posisi Jenny sebagai anak kesayangan direktur utama di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia tidak ingin Raka mendapat masalah lagi.
"Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dia datang dan langsung menampar Rena dan memakinya."
"Gadis itu benar-benar minta diberi pelajaran," Raka sangat geram mendengar Niko menceritakan kejadian tadi.
"Sudahlah Raka, lebih baik kamu tenangkan dirimu dan Rena dulu. Kamu bawa Rena pulang dan istirahat dulu. Tapi Raka, apa yang sebenarnya terjadi di ruang rapat? Apa yang membuat Jenny mengamuk seperti itu?''
__ADS_1
Raka memejamkan kedua matanya mengingat hal yang terjadi di ruangan rapat tadi. Darahnya mulai mendidih lagi, dan kedua tangannya mengepal erat.