
...''Selagi masih bisa bersama, masih bisa dilihat, masih bisa di sentuh. Cobalah untuk terus menghargai keberadaannya. Jangan sampai saat sudah kehilangan, baru timbul penyesalan,''...
...•••••••••••••♡♡♡♡♡•••••••••...
Selama di perjalanan Rena diam membisu menatap ke luar jendela. Entah mengapa keberanian yang ia kumpulkan selama berhari-hari, hilang lenyap seketika saat Bryan sudah berdiri di hadapannya.
Ia juga tidak ingin masalah ini berlarut-larut, ia tidak tega melihat Raka dan bu Rossa semakin menderita karenanya. Namun perasaan takut, perasaan cemas dan benci yang sudah susah payah ia sembunyikan agar bisa memaafkan Bryan, tiba-tiba muncul begitu saja di hatinya.
Melihat Rena diam melamun, Raka menghela nafasnya dengan berat. Hatinya ikut sakit melihat perempuan yang ia cintai menderita akibat trauma yang disebabkan oleh kakak kandungnya sendiri.
''Apa kau mau pergi jalan-jalan?''
Raka berusaha membuka pembicaraan agar Rena teralihkan dari rasa takutnya. Namun ucapannya seakan mental begitu saja saat ia tak mendapat respon apapun dari Rena karena Rena masih sibuk dengan dunianya sendiri.
''Rena?''
Panggilannya masih tidak mendapatkan respon. Akhirnya ia pun meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.
Merasakan mobil yang ia kendarai tidak berjalan, akhirnya Rena menoleh ke arah Raka.
''Kenapa berhenti mas?'' Tanyanya dengan ekpresi polos.
Raka menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah Rena.
''Apakah di luar jendela terlihat sangat indah? Sampai-sampai kamu tidak pernah merespon panggilanku sejak tadi,''
''Haaah?'' Rena masih bingung mendegar ucapan Raka.
''Sudahlah, kita lanjutkan saja perjalanan kita,'' Raka mengusap puncak kepala Rena. Kemudian ia pun kembali mengemudikan mobilnya menembus jalanan kota hingga tiba di halaman rumahnya.
Brak.....
Setelah menutup pintu mobilnya Rena bergegas membuka pintu rumah. Dan tanpa menunggu Raka, Rena langsung berlari masuk ke kamarnya.
Raka melihat heran dengan tingkah Rena. Ia pun segera membereskan barang-barang bawaannya dan menyusul Rena.
Huek....huek... huek....
Terdengar suara Rena yang terus berusaha memuntahkan isi perutnya.
Raka segera berlari menyusul Rena yang saat ini terlihat kelelahan sampai-sampai ia terduduk lemas di depan kloset.
__ADS_1
''Ada apa hemm?'' Tanya Raka sambil memijit pelan tengkuk Rena.
''Aku juga tidak tahu mas. Rasanya perutku gak enak sekali dan ingin muntah. Tapi tidak bisa muntah,''
Mendengar penuturan Rena, pikiran Raka langsung kemana-mana. Ia pun segera memapah Rena dan mendudukkannya di kasur.
Raka langsung mengambil peralatan dokternya dan mulai memeriksa keadaan Rena.
''Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Mungkin ini efek mabuk perjalanan saja,'' ucap Rena yang melihat kekhawatiran Raka.
Namun tidak dengan Raka, setelah ia memeriksa keadaan Rena, ia langsung terduduk lemas di sebelah Rena. Bahkan alat Stetoskopnya saja sampai terjatuh di lantai.
Melihat itu membuat Rena terheran-heran.
''Ada apa mas Raka? Mengapa ekpresi mas Raka seperti itu?''
Raka memejamkan kedua matanya. Alih-alih menjawab pertanyaan Rena, Raka malah pergi begitu saja meninggalkan Rena.
''Kenapa dengan mas Raka? Mengapa sikapnya tiba-tiba berubah seperti itu?'' ucap Rena.
Namun ia tak mempedulikan Raka lagi. Rena lebih memilih pergi ke dapur untuk memasak. Karena kebetulan ia merasa sangat lapar dan ingin makan yang banyak.
............
''Aku tidak bisa diam saja seperti ini,'' ucapnya. Ia pun kemudian mengambil jaketnya dan kunci motornya. Lalu pergi meninggalkan rumahnya.
Tak lupa sebelum pergi, ia sempatkan untuk mengirimkan pesan singkat untuk Rena.
...''Aku ada urusan sebentar. Mungkin aku tidak ikut makan malam. Beristirahatlah setelah selesai makan, dan tidak perlu menungguku. Aku sudah membawa kunci cadangan rumah,''...
Begitulah isi pesan singkat yang Raka kirimkan kepada Rena. Setelah membaca pesan dari Raka, Rena meletakkan ponselnya dan melanjutkan kegiatannya itu.
Sedang di sisi lain. Saat ini pikiran Raka berkecamuk di otaknya. Sejak memeriksa keadaan Rena, Raka memutuskan untuk pergi ke rumah mamanya.
Ting tong....
Bel pintu rumah terus berbunyi berulang kali tanpa jeda. Hal itu membuat Bryan terlihat kesal mendengarnya.
''Sial! Siapa sih yang bertamu malam-malam seperti ini tanpa tahu aturan!'' gerutunya sambil berlari menuju gerbang utama.
Setelah pintu gerbang terbuka, ekpresi Bryan langsung berubah seketika saat melihat kedatangan Raka.
__ADS_1
Dan tanpa basa-basi begitu melihat kakaknya yang membuka pintu, Raka langsung menjatuhkan sepeda motornya begitu saja. Ia langsung memukul wajah kakaknya tanpa aba-aba.
''Kau gila ya! Datang-datang langsung memukul.'' Ucap Bryan yang tidak terima mendapatkan bogem mentah dari adiknya. Ia pun juga bersiap akan memukul balik sang adik.
Bu Rossa yang juga ikut keluar karena penasaran dengan tamu yang datang, seketika langsung berteriak histeris saat melihat kedua putranya berkelahi.
''Berhenti!'' Teriaknya.
Mendengar teriakan sang mama, membuat Raka dan Bryan menghentikan perbuatan mereka.
''Mama!'' Ucap Raka dan Bryan bersamaan.
''Aaada apaa de..ngan ka..lian? Ke..na..pa ka..lian ma..lah berkelahi di lu...ar!'' Ucapnya dengan terbata-bata.
Raka membuang nafasnya dengan kasar dan memandang tajam ke arah Bryan. Bryan yang di tatap seperti itu juga ikutan emosi.
''Masuk!'' Ucapnya dengan tegas karena kedua putranya itu masih saling bersitegang.
Akhirnya Raka dan Bryan masuk mengikuti kursi roda yang saat ini Bu Rossa dorong sendiri dengan susah payah tanpa mau dibantu oleh kedua putranya itu.
Setelah sampai di dalam rumah, Bu Rossa berusaha berdiri menggunakan tongkatnya.
''Mama, apa yang Mama lakukan? Jangan memaksakan berdiri dulu, kesehatan Mama belum benar-benar pulih,'' ucap Raka khawatir. Ia pun maju untuk membantu mamanya duduk kembali.
Namun bu Rossa malah menepis tangan Raka hingga Raka sedikit terpental dan hampir jatuh.
''Mama, sini biar Bryan yang membantu mama,'' Bryan pun maju dan ingin membantu mamanya juga. Namun bu Rossa kembali menepis tangan Bryan juga.
''Mah, kenapa Mama marah? Bukankah tadi kita baik-baik saja,'' ucap Bryan.
Bu Rossa membuang nafasnya dengan kasar.
''Katakan, ada apa yang sebenarnya? Mengapa kalian berkelahi di depan rumah?'' ucap bu Rossa yang saat ini sudah berdiri bertumpu dengan tongkatnya sendiri.
''Sepertinya Rena hamil,'' jawab Raka.
Satu kalimat yang membuat seisi rumah diam seketika. Baik bu Rossa maupun Bryan, mereka Langsung menunduk dan meneteskan air mata.
-
-
__ADS_1
-
Maaf ya teman-teman saya jarang up entahlah saya punya penyakit malas. bagaimana cara ngilanginnya ya ada yang tahu? kalau ada yang tauu tolong bantu jawab ya di kolom komentar