
...''ORANG YANG SUKSES "meski diludahi, orang itu akan menganggapnya pujian dari iri hati."...
...'' ORANG YANG GAGAL " mendapatkan tepuk tangan bagaikan sebuah tamparan,"...
...♧•••••••••••••♡•••••••••••••♧...
Bu Rossa langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di si sofa. Pandangannya seketika sendu tak terarah. Bryan pun juga demikian.
''Apakah sudah di bawa untuk periksa kandungan?'' Bu Rossa bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
''Belum ma, baru aku yang memeriksanya. Kupikir mama dan dia harus tahu dulu bagaimana keadaan Rena. Baru nanti kita melakukan pemeriksaan di rumah sakit,'' Raka menjelaskan kepada mamanya, namun enggan menyebut nama kakaknya.
''Bryan, jika kamu masih menganggap dan menghormati mama sebagai mama kandungmu, kamu harus segera menikahi Rena dan hapus perasaanmu kepada Natasha!'' Ucap Bu Rossa yang saat ini menatap tajam ke arah putra sulungnya itu.
''Mah....." Raka merasa tidak terima dengan kelutusan mamanya. Dia yang mencintai Rena selama ini. Tapi mamanya malah menyuruh orang lain menikahi wanita yang sangat ia cintai itu.
"Raka, diamlah! Mama sedang berbicara. Apa selama ini mama mengajarimu untuk tidak sopan dengan memotong pembicaraan orang tua yang sedang berbicara!"
"Tapi ma, aku yang mencintai Rena. Dia hanya mencintai Natasha. Di hatinya hanya ada Natasha, oleh sebab itu ia bisa berbuat hal demikian!" Jelas Raka yang mengeluarkan seluruh unek-uneknya.
"Raka! Ini semua demi kebaikan Rena. Biar bagaimanapun anak yang di kandung oleh Rena adalah anak dari kakakmu, darah dagingnya. Bukankah lebih baik seoranga anak mendapatkan kasih sayang yang utuh dan lengkap dari orang tua kandungnya sendiri?''
"Raka akan menganggap anak yang di kandung Rena sebagai anak kandungku sendiri ma,"
Di tengah perdebatan antara mamanya dan adiknya, Bryan sendiri masih berperang dengan isi kepalanya. Dan tiba-tiba ia berdiri lalu berkata :
"Aku akan menikahi Rena."
__ADS_1
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bryan, Bu Rossa dan Raka langsung menoleh ke arahnya.
"Apa kau yakin nak?''
"Iya ma, aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan menikahi Rena dan akan belajar mencintai Rena. Aku tidak akan menjanjikan apapun dulu. Tapi sebagai laki-laki, aku akan berusaha membahagiakan Rena dan anakku ma, akan ku pastikan dia tidak akan menderita lagi, tidak akan menangis lagi kecuali tangis bahagia," Bryan berkata dengan penuh keyakinan.
"Lalu bagaimana sengan Natasha?'' Raka tiba-tiba memotong ucapan Bryan.
Mendengar pertanyaan dari adiknya, Bryan menoleh ke arah Raka.
"Bahkan aku sudah tidak ingat bagaimana rupa wajahnya. Jadi jangan sebut-sebut lagi namanya,"
"Oh ya Raka, kakak tahu kakak memiliki banyak kesalahan dan sudah membuatmu kecewa. Tapi kakak akan membuktikan bahwa kakak akan mulai sekarang kakak akan mempertanggung jawabkan semua ucapan dan perbuatan kakak. Kakak tidak akan lagi mengecewakan hati mama lagi," ucap Bryan.
Raka memejamkan kedua matanya tangannya mengepel erat melepaskan emosi yang saat ini memenuhi relung hatinya. Bagaimanapun apa yang diucapkan oleh Mamanya itu adalah benar. Iajuga tidak ingin jika nantinya anak yang dikandung Rena mempertanyakan kebenarannya.
Selama di perjalanan hati dan pikirannya terus berperang. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Apakah ia benar-benar bisa merelakan wanita yang ia cintai selama ini untuk bersama dengan kakaknya sendiri.
Di rumah, Rena sudah memasak berbagai makanan kesukaannya dan kesukaan Raka. Entah mengapa ia ingin makan begitu banyak sekali. Bahkan memasak mie saja ada tiga jenis. Ada mie goreng, mie nyemek dan mie kuah.
Saat ia tengah asik melahap makanannya, tiba-tiba dari arah luar terdengar deru motor yang sangat ia kenali. Rena segera menaruh sendok dan garpunya dan berlari menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.
Cklek...
"Wah, mas Raka sudah pulang," ucap Rena tak lupa dengan senyuman yang manis menyambut kedatangan Raka. Melihat senyuman Rena membuat hati Raka semakin sakit memikirkan kedepannya nanti.
Raka bingung, ia harus mengatakan apa kepada Rena. Bagaimana harus menjelaskan kepada Rena bahwa ia akan dinikahi oleh kakaknya yang bahkan untuk bertemu saja Rena masih belum bisa memerangi rasa traumanya itu.
__ADS_1
Raka memegang kedua pundak Rena dan membawanya untuk duduk di sofa. Ia kemudian memejamkan matanya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Rena.
"Aku sedang makan, jangan tidur di sini Mas Raka. Tidur saja di kamarmu," ucap Rena masih memikirkan makanannya yang masih belum ia habiskan.
"Aku sedang lelah dan mengantu. Biarkan aku tidur di pangkuanmu sebentar. Beri aku waktu 10 menit untuk tidur. Jangan bergerak aku sedang nyaman," ucap Raka tanpa membuka kedua matanya.
"Menyebalkan sekali, lalu bagaimana dengan mie nyemek ku?"
Meskipun kesal dengan kelakuan Raka namun Rena juga tidak tega melihat Raka yang sepertinya sangat kelelahan sampai-sampai ia langsung tertidur pulas di pangkuannya.
"Entah dari mana tadi kau pergi mas? Sampai-sampai kau terlihat lelah begini," monolog Rena sambil perlahan mengusap-usap puncak kepala Raka.
Di sisi lain Bu Rossa tengah menelpon dokter pribadinya yang selama ini membantunya untuk terapi. Bu Rossa ingin terapinya di double hari. Yang biasanya satu minggu sekali, bu Rossa kini meminta satu minggu tiga kali. Bu Rossa ingin secepatnya pulih kembali.
"Mah, apakah mama yakin meminta dokter untuk menemani Mama terapi satu minggu tiga kali? Bukankah itu akan membuat Mama terlalu kelelahan. Jika mama melakukan latihan yang berlebihan itu juga akan memperburuk keadaan Mama,"
Bryan berusaha membujuk mamanya agar mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin mamanya terburu-buru dalam melakukan terapinya. Nanti bukannya sembuh malah akan membuat tubuh mamanya semakin drop.
"Mama yakin Bryan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan mama. Mama merasa jauh lebih baik sekarang ini. Bahkan bukankah kamu melihat, Mama berbicara juga sudah mulai lancar kembali?''
"Iya ma, tapi Bryan tidak ingin Mama nanti kenapa-kenapa,"
"Jangan berkata demikian. Apa kau pernah mendengar sebuah kalimat bahwa "Kata adalah doa,''
"Bryan tahu ma, tapi......"
"Sudahlah Bryan, daripada kamu memikirkan hal-hal yang tidak perlu, lebih baik kamu memikirkan cara agar secepatnya bisa berbicara dengan Rena. Kamu ingin menikahinya tapi kamu belum bisa bertemu dengannya. Apakah itu mungkin? Sana pikirkan baik-baik bagaimana caranya!" ucap bu Rossa sembari mendorong pundak putranya agar keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Bryan menghela nafasnya perlahan. Di dalam pikirannya Ia juga sedang memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Rena. Ia tidak tahu apakah Raka akan mengizinkannya untuk bertemu dengan pena. Sebab terakhir kali mereka bertemu, ia membuat Rena histeris.