Bukan Pemuasmu, Om Duda!

Bukan Pemuasmu, Om Duda!
Chapter 36


__ADS_3

"Bella, kau selama ini mungkin juga ketakutan dengan ulah mantan kekasihmu itu, papa dan mama khawatir, walaupun kamu belum bisa membuka hati kembali, itu tak apa....


"Seiring berjalannya waktu pasti terbiasa, sebelumnya ini tak terpikirkan oleh om juga papa, namun setelah dibicarakan kalian memang cocok bersama, saling membutuhkan juga..." Ucap Rendi kepada putrinya.


Arabella meremas ujung baju kuat, selama ini ia menghindar dari Kaivan, membentengi hati agar tidak jatuh dalam pesona lelaki itu, namun takdir berkata lain malah menyeretnya ke dalam pernikahan.


Tidak ada jawaban dari Kaivan, walaupun ini juga salah satu keinginannya untuk mendapatkan hati Bella, tapi ia tahu perasaan Bella, jika hal ini sangat terburu-buru.


Namun Kaivan sendiri tidak bisa membantah, apa yang diucapkan papanya dan Rendi memang benar.


"Bagaimana ini? yang benar saja!.." Batin Bella resah, ia melirik Kaivan yang menatap lekat ke arahnya juga.


"Aku tidak menolak, namun jawaban mengenai pernikahan ada pada Arabella.." Timpal Kaivan to the point.


"Aku masih kuliah 1 bulan lebih lagi.."


"Tak masalah sayang, bedanya jika kalian menikah, kamu ada pendamping juga pelindung, kita tidak tahu Nathan nanti melakukan apalagi untuk bisa mendapatkanmu.." Ujar mama Sonya sambil memegang tangan putrinya.


Arabella terdiam, jawabannya penentu kehidupan Bella untuk ke depan nanti.....


...*...


...*...


...*...


1 Minggu kemudian.....


Perusahaan Dyandra Group


Rianty mempercepat langkah, saat melihat sahabatnya Arabella di lantai utama. "Bel!..."


Arabella menoleh. "Ri??.."


"Kemana aja lo Bel 3 hari gak masuk kantor?.." Tanyanya.


"Ah itu, gue nyelesaikan skripsi Ri, jadi memilih izin dulu.." Sengaja Bella.


Rianty mendapati gelagat aneh pada sahabatnya. "Yakin?.."

__ADS_1


"I-iya lah apalagi coba!..."


"Oke oke..."


Dalam waktu bersamaan, Kaivan juga datang ke perusahaan, ia berjalan diiringi Rei dan beberapa asistennya yang berbadan kekar.


Semua pegawai yang ada di ruang utama memberi salam hormat, Arabella mendapati itu terdiam..


Kaivan melewati Arabella yang memberi salam hormat juga, raut wajah tampan itu hanya datar tanpa ekspresi apapun.


Setelah Kaivan berlalu, Arabella dan Rianty berjalan menuju lift.


"Setelah 3 hari, akhirnya tuan Kaivan masuk kembali..."


Arabella tersenyum kikuk.. "Iya..."


Dua sahabat itu berpisah, menuju ruang kerja masing-masing.


Sesampainya di ruang kerja, Arabella menghempaskan tubuhnya pada kursi. "Yang benar saja, dia suamiku sekarang...."


Kaivan dan Arabella kini hubungannya sudah resmi, sebagai suami istri yang sah di mata agama juga negara.


Bahkan Rianty sendiri tak Bella kasih tahu.


Benar-benar rapih dan juga rapat, hanya orang-orang tertentu saja..


Kini Arabella tinggal di apartemen dekat mansion Kaivan, hal itu hanya dia dan Kaivan yang tahu, sementara orang tua dan Dyandra tahunya jika Arabella dan Kaivan tinggal serumah..


Sesampainya di ruang CEO utama, banyak sekali email yang masuk, Kaivan disibukkan dengan pekerjaannya berjam-jam.


"Rei atur jadwal pertemuan dengan klien dari LA!.."


"Akan ku atur..." Timpal Rei..


Kaivan berdiri dari duduknya, ia melepas dasi berjalan menuju kamar pribadi, ia berniat mandi menghilangkan gerah pada tubuh.


Matanya tertuju pada dinding di atas tempat tidur, dimana foto pernikahannya dengan Arabella yang terpampang nyata.


__ADS_1


...(Ilustrasi)...


Mendapati itu Kaivan menyunggingkan senyum tipis, "Istriku???..." Tanyanya pada diri sendiri.


Karena tahu ini sangat cepat, Kaivan memberi ruang untuk Arabella, tidak terlalu memaksakan dirinya untuk memasuki hati wanita itu, namun berusaha tetap, membiarkan dirinya memasuki hati Arabella secara perlahan..


Menjaga dan melindunginya sudah jadi kewajiban Kaivan. "Kau bahkan berani merebut Shena dariku, lihat saja!..."


Ya mungkin karena ada sosok ibu, Shena lebih menghabiskan waktu dengan Arabella di apartemennya, bukan di mansion apalagi Kaivan pulangnya selalu malam.


Setelah resmi menikah, tidak ada malam pertama, Kaivan dan Arabella sendiri tak memikirkan hal itu, mengalir saja, Kaivan belum meminta haknya, ia menginginkan saat melakukannya nanti atas kemauan diri sendiri, bukan sebatas tugas istri yang melayani, kesannya itu terpaksa.


~


Saat melihat Arabella keluar dari ruang kerjanya, Nathan langsung menarik tangan wanita itu, ke tempat yang sedikit jauh dari orang-orang berlalu lalang.


"Nathan!...." Bella menepis genggaman tangannya.


"Aku hanya ingin bertemu dan bicara saja denganmu, tidak lebih..." Ucap Nathan sedikit memohon.


"Apa harus di sini tempatnya???..."


"Hanya sebentar, kita berdua saja..."


Arabella hanya diam.


"Kemana saja kamu selama 1 minggu ini? aku tidak melihatmu pulang pergi dari rumah, tiba-tiba sudah ada saja di perusahaan??..." Tanya Nathan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Kau tidak harus tahu segala kegiatanku sekarang! aku pindah di asrama kampus, berhenti menguntit Nathan!!.." Tegas Arabella, ia sengaja berbohong.


"Asrama kampus? tapi aku sering melihatmu bersama Shena menghabiskan waktu di berbagai tempat...."


Arabella terdiam. "Itu hakku! berhenti menguntit! berapa kali harus ku tegaskan! hah??.. Aku capek Nathan, bisakah jalani hidup seperti biasa? kau juga memiliki Sely yang harus dijaga perasaannya bukan!!..." Arabella habis kesabaran.


"Arabella.... Rasa cintaku kepadanya tidak sebesar kepadamu!.." Timpal Nathan.


"Buka mata!!!..." Tukas Bella tanpa ekspresi, ia berlalu pergi meninggalkan lelaki itu seorang diri.


Kaivan tersenyum sinis melihat tayangan cctv itu.

__ADS_1


__ADS_2