
Di dalam kamar mandi, erangan lembut bersautan.. Karena pengaruh wine Arabella menyeimbangi penyatuan panas Kaivan.
Hal ini membuat Kaivan senang, tanpa melepas cumbuan Kaivan menggendong tubuh polos Bella untuk pindah ke kamar berganti gaya dengan posisi lain.
Mereka semakin leluasa bergerak, keduanya menggila akan hasrat masing-masing..
"Ahhhh!.... Aku menyukainya...." Lirih Bella tanpa sadar, saat suaminya bermain lidah di antara s*langk*ngan.
Kaivan menyunggingkan senyum tipis saat Bella menegang, dengan hasrat yang membara Kaivan kembali memaju mundurkan pinggulnya, mer*mas dua gundukan kencang yang ikut naik turun.
Bibir keduanya menyatu, saling ******* menyesap indra perasa masing-masing penuh agresif.
"Mmmh... Khanza, ahhh!...." Erang Kaivan. Di sela penyatuan panas ia menggerayangi dua gundukan kencang Bella, layaknya bayi kehausan.
Ritme penyatuan semakin cepat, tubuh mereka menegang saat mencapai puncak. "Aaaahhhh!!....."
Nafas Kaivan juga Arabella terengah-engah, Arabella puas hasratnya terpenuhi ia mengelus wajah tampan yang berada di atasnya itu. "Bagaimana jika tadi kamu tak datang?...."
CUP!
Kaivan mencium bibir ranum itu. "Aku mungkin akan membunuh Nathan untukmu..."
Bella tersenyum sekilas. "Aku sudah mendingan, kau bisa istirahat terimakasih..." Bella mengecup dagu suaminya.
Tangan kekar Kaivan mengelus gundukan kencang Bella.
"Mmmhh!...."
"Aku masih menginginkannya, kau tahu tubuhmu candu bagiku bukan?.." Bisik lembut Kaivan.
__ADS_1
Bella tersenyum. "Benarkah?...."
Kaivan menggigit bibir bawahnya karena tak tahan, wanita ini hampir setiap hari membuatnya terus merasa jatuh cinta. Dengan hasrat yang masih menggebu, Kaivan kembali melakukan penyatuan panas, tak peduli dengan tubuh keduanya yang hampir basah akan keringat.
.......
.......
Pagi pukul 09:00
Hari ini jadwal pulang para talent pool dari LA, pak Dito dan mbak Yeni sudah ada di ruang tunggu, wajah mereka datar bergelut dengan pikiran masing-masing. Sementara Nathan, entah kemana anak itu belum datang.
Handphonenya tak aktif, disusul ke kamar hotelnya juga hening.
"Apa kita hubungi tuan Kaivan saja? Nathan entah kemana, dan hari ini jadwal pulang kita ke Indonesia.." Ujar pak Dito.
Karena mendapat laporan dari Mbak Yeni melalui pesan, Bella yang sedang bersiap-siap menghampiri Kaivan. "Nathan menghilang...."
"Reiki bilang dia sudah tiba di Jakarta, mungkin Nathan semalam langsung memutuskan untuk pulang duluan..." Balas Kaivan.
Bella manggut-manggut.
"Sudah siap? ayo kita ke ruang tunggu..."
"Oke.." Balas Bella menarik kopernya.
Kaivan tersenyum saat melihat leher jenjang istrinya dipenuhi tanda merah, bekas ulahnya semalam. "Kau tidak akan menutupinya sayang?."
Bella mengerutkan kening. "Menutupi apa?..."
__ADS_1
Kaivan mendekat semakin dekat dan.... Cup!
Ia mencium leher Bella. "Banyak bekas yang ku tinggalkan di sini, apa mereka bebas menjadi saksi?.."
Deg!...
Tanpa bicara lagi Bella mengambil syal lalu menutupi lehernya itu. "Tidak mungkin, aku yang malu nanti!.." jawabnya kikuk.
"Oke-oke..."
Mereka berdua meninggalkan hotel, menuju ruang tunggu. Para sopir sudah siap mengantarkan mereka ke bandara untuk penerbangan.
Menyaksikan Arabella dan sang atasan bersama, pak Dito dan mbak Yeni hanya diam, cukup mengerti dan tak mau banyak bicara, takut pekerjaan mereka yang melayang.
~
Indonesia
"Nathan wanita masih banyak lagi, cukup kamu mengejar Arabella yang sudah jadi istri Kaivan! lihat tubuhmu kurus begini mama tak mau!, lupakan Bella, jangan melawan Kaivan jika kau ingin aman..." Ujar Lia kepada putranya itu, menyedihkan saat melihat Nathan menangis.
"Aku masih mencintainya ma...."
Lia mengelus kepala Nathan. "Cukup, mari berdamai dengan kenyataan. Kamu masih bisa menyayangi Bella sebagai kakak ipar Nathan... Mama mohon ubah pendirian kamu, kita hidup saja dengan damai tanpa memaksakan sesuatu yang bukan untuk kita!..."
Nathan semakin terisak, berat sangat berat sekali rasanya. Demi ingin kembali dengan Bella, dulu Nathan mengakhiri hubungan gelapnya dengan Sely.
Saat ini berdamai dengan kenyataan jalan satu-satunya, jika ingin hidup dengan tenang. "Perlahan aku mungkin akan melupakan Arabella...."
"Mama dukung, kita keluarga nak..." Bijak Lia yang dirinya juga sudah sejak lama menerima kenyataan hidup.
__ADS_1