
Kaivan dengan perlahan menoleh ke arah istrinya, Arabella menatap tajam penuh tanda tanya. "A-apa maksudnya ini!?..."
"Dimana putriku!!..." Tukas Roy dengan nada tinggi, ia ingin berencana menemui Shena di mansion Kaivan, namun putrinya itu hilang bahkan di sekolah juga tidak ada.
"Apa kau mau mati? berani memelototi ku seperti itu!.." Sinis Kaivan.
Cklek!
Pintu ruang CEO utama terbuka, Rei masuk ke dalam ia menodongkan pistol pada kepala Roy. "Bersikaplah sopan! bagaimana pun juga dia selama 4 tahun mengurus putrimu dengan baik!..."
Roy terdiam tak berkata, ucapan Rei menamparnya.
Arabella semakin tak mengerti dengan masalah yang dilihatnya sekarang. Shena putri kandung Roy? Kaivan yang mengurus Shena selama 4 tahun? dan Shena yang tiba-tiba menghilang?..
"Oke aku salah mungkin karena dorongan emosi..." Ucap Roy mengangkat kedua tangannya. "Tapi dimana putriku? dia hilang tidak ada di rumahmu ataupun sekolahnya...."
"Ini pasti mengejutkan karena aku mengakui kebenaran ini, nanti akan ku perjelas langsung kepada kalian juga tuan Dyandra. Tapi saat ini dimana Shena?.."Lanjut Roy wajahnya sangat khawatir.
Rei mengerutkan kening menatap sahabatnya. "Bukankah dia sekolah?.."
Kaivan memijit kening. "Suruh bodyguard untuk mencari kemana perginya Shena!..."
__ADS_1
"Kau tak tahu!??.." Tanya Roy.
"Kau pikir aku akan menyembunyikan putri orang lain dari ayahnya sendiri, hah?!..." Kaivan naik pitam.
Arabella menahan dada suaminya. "Sudah sudah..."
"Kau keluar!..." Tunjuk Rei ke arah pintu kepada Roy.
Dengan raut wajah yang tak bisa diartikan, Roy mau tak mau meninggalkan ruangan itu dari pada mati konyol.
Ruangan seketika hening, Rei menatap bergantian Arabella dan Kaivan. "Kalian silahkan bicara dulu, aku keluar.."
"Baik!..." Rei berlalu dari sana.
Seperginya Rei, Arabella menatap sang suami. "Jadi Shena bukan anakmu? kenapa kau tidak bilang kepadaku dari dulu?..."
"Aku memikirkan perasaan gadis kecil itu sayang..."
Bella peka maksud Kaivan. "Padahal aku sudah menyayanginya seperti anakku sendiri..."
"Apa papa Dyandra tahu?.."
__ADS_1
Kaivan menggeleng. "Belum, tapi mungkin inilah saatnya semua orang tahu. Sepertinya aku harus menyerahkan Shena kepada orang tuanya, untuk mengisi mansion besar kita, aku akan membuat beberapa anak untuk mengisinya, resmi dari rahimmu!..."
Arabella terkekeh sekilas. "Mau berapa?..."
Kaivan memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Sebenarnya ini tubuhmu aku tak memaksa sayang, kau yang melahirkan bukan diriku. Aku tentu menginginkan buah hati dari rahimmu, tapi semuanya kembali lagi kepada dirimu sendiri.."
Arabella tersenyum sekilas. "Kau ternyata bisa semanis ini....."
"Of course.." Kaivan mengeratkan pelukan, ia meletakkan wajah tampannya pada leher jenjang Bella.
Rei mendapat kabar jika Shena ikut ke rumah si bibi yang ada di kota B. "Oke bawa kembali ke Jakarta, bawa serta si bibi!..." Suruh Rei pada bodyguardnya.
Setelah sampai di Jakarta, Shena hanya menatap datar ke arah Elsa dan Roy.
Kaivan dan Arabella hanya berdiri di belakang saja, si bibi membiarkan nona kecil itu bersama orang tuanya.
"Sayang kamu baik-baik saja? kenapa tidak mengabari dulu ini papa nak, maaf papa selama ini bungkam...." Lirih Roy memeluk gadis kecil itu.
Elsa ikut memeluknya, ia merasa bersalah. Jika mengingat tahun-tahun sebelumnya, ia ternyata gagal menjadi ibu yang baik.
Setelah dipeluk Roy dan Elsa, Shena berjalan menuju Kaivan dan Arabella yang tersenyum ke arahnya. "Papa Kaivan terimakasih sudah menyayangiku selama ini, mama Bella juga.." Shena mulai menangis. "Aku sedih harus melihat reaksi oppa, aku menyayanginya juga hiks hiks!.."
__ADS_1