Bukan Pemuasmu, Om Duda!

Bukan Pemuasmu, Om Duda!
Episode 66


__ADS_3

"Gak, gak usah udah terlambat!..." Potong Riri, yang benar saja jika ingin ditolong ia harus jatuh kembali?.


Dua pelayan menghampiri Nathan. "Tuan ada yang bisa saya bantu?."


"Tidak, kalian kembali lagi bekerja..." Ramah Nathan.


Riri melotot saat mereka memanggil Nathan dengan sebutan tuan, apa dia yang memiliki Cafe ini?.


"Baik..." Para pelayan itu kembali ke tempat semula dan melanjutkan pekerjaan.


Rianty menatap tajam Nathan. "Jadi ini Cafe milik lo?..."


"Sudah jelas bukan?.." Singkat Nathan sambil melepas jasnya.


"Kemana aja lo setelah menyakiti sahabat gue!??.." Rianty masih tak terima mengingat kelakuan Nathan dulu, dia selalu menjadi garda terdepan untuk membela Arabella.


"Kak Bella?..."

__ADS_1


Rianty terdiam, entah kenapa nada bicara Nathan sekarang sangat lembut, ia bahkan kini menyebut Bella dengan sebutan kakak.


Dari dulu keduanya jarang akur selalu ribut, tentunya Rianty merasa heran dengan perubahan ini. "Gak usah sok alim Nath, gue tahu lo orangnya gimana, jujur gue ketemu sama lo masih enek karena ulah lo dulu tuh!..."


Nathan menatap lekat wajah Riri. "Itu dulu Rianty Marpu'ah! semua orang bisa menjadi lebih baik, jika mau mengoceh jangan di sini nanti para pelanggan dengar ya!..."


"Cih! gak salah gue denger lo ngomong begitu Nath?...."


"Kakak pesanannya sudah sampai!...." Ucap pelayan pada Riri, ia meletakkan di atas meja.


"Oke-oke..." Balas Riri dari kejauhan.


Rianty merinding, ia menjauh dari Nathan. "Gak, gak mau! gue gak mau ketemu sama orang yang pernah menyakiti sahabat gue!..."


Nathan terdiam, mendengar ucapan Riri rasa bersalahnya kembali menghantui. Namun sebisa mungkin Nathan tenang, yang jelas ia sekarang sedang berproses menata hidupnya untuk lebih baik mau itu sikap juga karir. "Ya terserah kau saja Ri, aku memang pantas dijauhi karena kesalahan di masa lalu...." Ucap Nathan seadanya, setelahnya ia berlalu ke dalam.


"Bentar, tuh anak beneran Nathan!?.." Riri tak habis pikir. "Berubah banget, barusan gue berasa jadi tukang bully menyudutkan tuh orang...." Riri merasa tak enak, namun ia tak ambil pusing kembali ke mejanya lanjut mengisi perut.

__ADS_1


Nathan yang sedang duduk di ruangan melihat daftar-daftar menu seketika terdiam. "Memang aku se-menjijikan itu...."


Pergi dari rumah utama untuk merubah diri lebih baik, Nathan diberi kepercayaan langsung oleh papa tirinya Dyandra, ia memberikan modal yang cukup besar. Jika ia kembali menghancurkan kepercayaan itu lagi, maka kehancuran benar-benar di depan mata.


Kini ia lebih mandiri, sadar mau sampai kapan jadi diri yang buruk, mulai mendapatkan teman yang pergaulannya tidak aburadul seperti dulu. Dari itu semua Nathan merasakan perubahan yang luar biasa, dikelilingi orang baik juga hidup dengan damai.


Setelah melihat beberapa daftar, Nathan keluar dari ruangannya untuk melakukan aktivitas lain.


Saat Nathan lewat sosok wanita cantik tak lepas menatapnya dengan tatapan tajam, padahal wanita itu sedang makan. Heran saja bagi Riri dengan perubahan Nathan. "Ck, ya I don't care sih tapi kayak.... Ya sudahlah!..."


"Aku tahu aku seburuk itu, tapi gak harus makan sambil sinisin anak orang donk Ri!...." Sengaja Nathan sambil lewat begitu saja.


Para pengunjung melihat ke arah mereka.


"Hak ya! gue masih benci dan tak terima sama kelakuan lo dulu..." Potong Riri tak mau kalah.


Sementara Nathan acuh memilih pergi.

__ADS_1


"Awas neng jangan benci benci kayak gitu, nanti jadi suka loh... Soalnya benci dan cinta cuma beda tipis..." Ujar pengunjung wanita paruh baya dengan kekehan.


"Aduh ibu gak bakal, kami sudah bertikai dari sejak dulu!..." Jawab ramah Riri. "Yang benar saja!..." Batinnya mau menangis.


__ADS_2