
Pagi pun datang....
Di meja makan semua orang sudah berkumpul untuk sarapan, Bella dan Kaivan sudah siap berangkat ke kantor, Shena juga sudah siap untuk sekolah..
"Bagaimana? Shena suka dengan oleh-oleh yang dibawa mama?." Tanya Arabella, ia sengaja membelikan boneka untuk putrinya itu.
Shena tersenyum. "Sangat suka sekali, terimakasih banyak kak, eh mama!..."
Bella terkekeh sekilas.
"Sekarang sarapan yang banyak, nanti kesiangan..." Timpal Kaivan.
"Oke pah...."
"Pemandangan yang sangat menyejukkan, tapi melihat non Shena hatiku ikut sakit, semoga dibalik semua ini ada kebahagiaan yang menunggunya di depan.." Batin bibi tersentuh, ia sudah tahu apa yang terjadi, saat itu Shena mengeluarkan keluh kesahnya kepada si bibi.
Setelah selesai sarapan, mereka berpisah dengan aktivitas masing-masing...
Di perusahaan, Arabella dan Kaivan bersikap seolah tak saling kenal, itulah kesepakatan untuk saat ini.
Sesampainya di tempat kerja, Rianty langsung memeluk sang sahabat. "Gimana lancar Bel? gue ikut senang kalian berhasil, tunggu! selama di LA Nathan gak berulah kan!??..."
__ADS_1
Bella tersenyum. "Nanya tuh satu-satu Ri, Nathan dan gue baik-baik saja kok..."
"Kasih tahu gue aja kalo tuh laki berbuat macam-macam Bel!..." Rianty mengepalkan tangan. "Masih geram banget gue!..."
"Jangan gitu nanti lo suka Ri..."
"Dih amit-amit Bel, tuh laki gak bener masa iya!..."
Arabella tak langsung menjawab. "Tidak selamanya orang seperti itu begitu pun sebaliknya, its my opini oke.."
Riri memandang lekat wajah sahabat yang menurutnya ada yang beda. "Apa gue salah dengar? ucapan lo barusan kayak lebih pro ke dia loh..."
"Ya karena dia adik ip!!??..." Bella terkejut hampir keceplosan.
"Maksud gue karena Nathan adik atasan kita Ri..." Balas Bella kikuk.
Rianty terdiam. "Ah begitu, yaudah gue harus ke tempat kerja lagi Bel, lo lanjutkan... Have fun girls!..."
"Oke..."
Riri berlalu dari ruang kerja sahabatnya.
__ADS_1
"Ah tadi itu hampir saja..." Gumam Bella. "Maaf Ri gue belum bisa jujur sama lo..."
Reiki menyambut hangat sang atasan, sekaligus sahabatnya saat Kaivan tiba di ruang CEO utama. "Bagaimana? apa hubungan kalian ada perkembangan?.."
Kaivan tersenyum. "Aku tak pernah merasa jatuh cinta hingga seperti ini.. Bukan Arabella yang beruntung mendapatkan ku, tapi akulah yang beruntung memilikinya..."
"Aku ikut senang akhirnya perjuanganmu terbalas. "Sungkan Rei. "Bagaimana dengan identitas Shena? apa Bella tahu itu?.."
Kaivan menggelengkan kepala. "Butuh waktu, istriku sebentar lagi wisuda tidak mungkin membicarakannya dalam waktu dekat ini, bagaimana perasaannya..."
Reiki peka. "Oke..."
Kaivan mulai mengotak-ngatik layar komputer, melihat beberapa pekerjaan yang sempat ia serahkan kepada Rei.
"Ah aku hampir lupa, papamu nanti malam menyuruhmu untuk ke rumah utama, ini resmi dari permintaan Nathan sendiri, bawa serta Arabella..." Jelas Rei.
"Rumah utama? apa papa memberitahu tujuannya menyuruhku untuk datang ke sana?.."
"Tidak, sepertinya Nathan ingin bicara sesuatu denganmu juga Arabella..." Balas Rei...
Kaivan terdiam tak langsung menjawab. "Atur saja!..."
__ADS_1
"Oke, tentang hubunganmu dengan Bella kapan kau akan mengumumkannya? bukankah salah satu pegawai ada yang mengetahui?..." Timpal Rei.
"Besok akan ku umumkan, tak peduli Arabella marah atau apa. Namun itulah caraku membuktikan cinta, aku tidak mau para wanita yang menginginkanku terus mengejar, apalagi jika terlihat dan menyakiti hati istriku. Lebih baik ku umumkan biarkan seluruh dunia tahu, jika dia milikku dan diriku miliknya!...." Ucap Kaivan tegas.