Bukan Pemuasmu, Om Duda!

Bukan Pemuasmu, Om Duda!
Chapter 55


__ADS_3

Roy menghubungi salah satu asisten perusahaan Dyandra Group, bertanya tentang jadwal Kaivan besok.


Terlihat Roy menghela nafas panjang. "Kaivan sedang tidak ada di perusahaan, mungkin kita menemui tuan Dyandra juga diundur sampai Kaivan kembali ke Indonesia..."


Hati Elsa resah tak tenang, resiko berat yang harus dilewatinya benar-benar membuat perasaan Elsa gugup juga takut.


Roy peka dengan perasaan kekasihnya itu. "Kita jalani saja, jika tidak sekarang kapan lagi? Shena putriku bukan Kaivan apalagi cucu tuan Dyandra...."


"Bagaimana dengan Shena? rasa bersalahku terhadapnya semakin besar, Roy aku hampir gila karena terus memikirkan ini!..." Timpal Elsa frustasi.


"Kau yang membuka jalan, maka kau juga harus bisa melewatinya!..."


Elsa memijit pusing kening, Roy berdiri dari atas kasur. "Tidurlah duluan, aku mau ke dapur sebentar...."


"Hmmm..."


Roy keluar dari kamar ia berjalan melewati dapur, kaki lelaki itu memutar langkah, saat mendengar isak tangis dari kamar putrinya Shena.


Roy diam-diam mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut gadis kecil itu, hatinya trenyuh dan merasa bersalah. Masuk ke dalam juga tidak mungkin, pasti Shena belum bisa menerimanya. "Maafkan papa Shen....."


.......


.......


Los Angeles (LA)


Hari berikutnya....


Kaivan dan Arabella sudah kembali ke hotel, mereka berdua sudah sampai di parkiran...


"Apa harus pakai masker juga topi segala?.." Tanya Kaivan kepada istrinya.


"Hmm, jika tidak seperti ini pasti talent pool akan mengenali dirimu..." Balas Bella dengan perlahan memasangkan topi dan masker pada wajah tampan itu.


"Sampai kapan hubungan kita akan terus ditutup seperti ini Khanza? orang-orang perusahaan berhak tahu siapa pendamping hidupku..."


Arabella menatap dalam manik Kaivan. "Tidak sekarang aku belum siap, beri waktu...."


Kaivan terdiam ia mengerti perasaan istrinya, tentunya orang-orang di perusahaan jika sudah mengetahui hubungan keduanya, pasti pandangan mereka terhadap Arabella akan berbeda. "Oke...."

__ADS_1


Sebelum keluar Kaivan mencium bibir sexy itu dengan leluasa, cumbuan panas kembali terulang bahkan bibir ranum Bella tampak sedikit membengkak akan ulahnya.


"S-sudah... Jika seperti ini aku bisa telat nanti..." Protes Bella dengan pipi merona.


Kaivan tersenyum menyeringai. "Baiklah ayo kita keluar."


"Iya..."


Keduanya keluar dari dalam mobil menuju lantai utama, Kaivan dan Arabella berjalan menuju lift, menekan tombol dan menunggunya.


"Bel! kamu kah itu???..." Panggil seseorang.


Deg!..


"Mbak Yeni!..." Batin Bella, ia menoleh ke arah sumber suara.


Mbak Yeni berjalan ke arah mereka berdua, terlihat wanita usia kepala 3 itu banyak membawa barang-barang di tangan. "Darimana Bel? ini jam setengah 7 pagi, kamu baru pulang dari mana?..."


Tatapan mbak Yeni tertuju pada lelaki tinggi yang mengenakan topi dan masker. "Siapa dia kenapa bisa bersamamu?..."


"Ah dia asisten perusahaan kita mbak, kebetulan dia sedang LA kita bertemu dan dia juga nginep di sini..." Bohong Bella..


Mbak Yeni manggut-manggut. "Kebetulan sekali..."


Ting!!


Pintu lift terbuka, Bella masuk diikuti Kaivan.. Mbak Yeni juga ikut masuk ke dalam. " Sekalian Bel..."


"Iya mbak..." Jawab kikuk Bella. "Mbak habis belanja? itu kelihatan sangat berat sekali...."


"Ya betul, mbak membeli beberapa kebutuhan untuk 1 minggu ke depan.." Tampak Yeni keberatan. Ia menoleh ke belakang ke arah Kaivan. "Pak asisten bisa tolong bantu bawakan? ini! ini satu lagi, ini, dan juga ini, eh ini ketinggalan! ini satu lagi...."


"Hah!...." Bella terkejut.


Yeni memberikan hampir semua kantong belanjaan pada Kaivan, ia kini hanya memegang satu kantong saja. "Terimakasih ya pak..."


Kaivan menatap tajam ke arah istrinya, Arabella menggigit bibir bawah. "Bagaimana ini? dia sebenarnya Kaivan mbak bukan asisten!...." Batin Bella frustasi.


"Kenapa Bell wajah kamu tegang seperti itu?.." Tanya Yeni.

__ADS_1


"E-enggak mbak...."


Kaivan di belakang hanya bisa pasrah ngedumel dalam hati, sambil membawa beberapa kantong belanjaan Yeni, ia layaknya seorang pembantu yang patuh terhadap majikan.


Selama di dalam lift Bella memijit pusing kening, sangat tak nyaman sekali dengan Kaivan...


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai tempat Yeni menginap.


Wanita itu mengambil belanjaan dari tangan Kaivan. "Terimakasih pak asisten, Bel kita ketemu lagi di ruang kerja..."


"Oke mbak..."


Mbak Yeni keluar, lift pun kembali berjalan menuju lantai 45 dimana kamar Bella berada.


"Haaaaahh...." Kaivan menghela nafas panjang. "Sebenarnya Yeni belanja apa? sampai tanganku pegal begini!..."


Bella tersenyum kikuk. "Maaf tidak ada alasan lain, aku hanya bisa menyebutmu asisten perusahaan..."


"No problem honey..."


Karena sudah melewati lantai 40, Kaivan membuka maskernya ia rasa aman..


Lift terbuka, Kaivan dan Arabella keluar untuk menuju kamar..


"Itu kantong siapa? yang kamu pegang sayang?..." Tanya Kaivan.


Bella melihat, akhirnya ia engeh. "Ya ampun ini belanjaan mbak Yeni kebawa!..."


"What???..."


"Bel!!!..." Panggil seseorang yang berlari dari arah lift.


Deg!


Rupanya Mbak Yeni menyusul karena itu sarapan yang dibelinya, ia berlari kecil menuju asisten juga Bella. "Maaf Bel mbak lupa..."


Bibir Bella kelu tak dapat bicara, Yeni beralih menatap ke arah sang asisten.

__ADS_1


DEGG!...


Brukh, belanjaan Yeni terjatuh seketika, wanita itu langsung menutup mulut saat melihat wajah asisten tanpa masker. "T-tuan!??? apa s-saya akan dipecat s-sekarang juga?...."


__ADS_2