
Kaivan yang sedang mengotak-ngatik laptop di tempat lain, menoleh saat mendengar pekikan Elsa juga benturan meja. "Apa ada sesuatu?..."
Lelaki itu berdiri dari duduknya, menghampiri tempat dimana istri dan mantan istrinya berada..
"K-Kaivan......" Rintih Elsa yang terkulai di lantai, wanita itu menyentuh perutnya yang terkena tendangan. "Wanita simpananmu hampir membunuhku!..."
Kaivan beralih menatap istrinya Arabella.
"Kau mau menolongnya? silahkan, aku menghargai mantan istrimu juga karena Shena, namun dia benar-benar keterlaluan jadi aku hanya.......
Belum selesai Arabella bicara, Kaivan langsung menyentuh pipinya, tatapan lelaki itu tampak cemas. "Apa ini bekas tangan? hah!!!..."
Deg!... Jantung Elsa berdebar kencang merasa panik..
Kaivan dapat merasakan pipi mulus Bella sangat panas, apalagi yang merasakannya. "Khanza, jawab!..."
Bella menarik tangan kekar Kaivan. "Jangan mengkhawatirkanku, aku tak apa...."
Tatapan tajam Kaivan beralih ke arah Elsa. "Apa kau yang melakukannya?..."
"Dia memang pantas, aku memiliki hak untuk menyalurkan kekesalan,,,, Kau tahu? bahkan dia lebih parah menendang perutku Kaivan!..." Rintih Elsa, matanya berkaca-kaca akan sakit.
"Mau kamu apa hah?!!!..." Bentak Kaivan yang jengah dengan sikap Elsa, sementara Arabella memilih pergi tak mau ikut campur, ia duduk di ruang tengah.
__ADS_1
"Di saat seperti ini pun kau berani membentakku Kaivan? hiks hiks... Dia hampir membunuhku dengan tendangannya, bagaimana jika aku mati, Shena akan lebih terpuruk, harusnya kau menolongku, ini malah..... hiks hiks hiks!....." Air mata Elsa berlinang deras.
"Elsa....." Kaivan memijit pusing keningnya, ia melirik Arabella yang duduk di kursi ruang tamu..
Bella memberi kode untuk menyuruhnya, membawa Elsa pergi sekaligus ke rumah sakit. "Dia ibu kandung putrimu..." Lirih Bella.
"Ck!..." Decak Kaivan...
"Aaakkhh!... S-sakit hiks hiks..." Pekik Elsa yang terkulai lemas, sebisa mungkin ia terus mengeluarkan air mata buayanya.
"Padahal aku tak menendangnya di bagian inti..." Batin Bella sedikit jengah dengan Elsa.
Kaivan meraih handphone memberi pesan kepada seseorang.
Kaivan tak langsung menjawab, ia memasukkan kedua tangannya pada saku celana. "Sebentar lagi Roy datang ke sini, aku tak mau membuang waktu bersama dengan istriku, hanya untuk mengantarmu ke rumah sakit saja, jadi pergilah!.." Jawabnya datar.
Setelah berucap Kaivan berlalu dari sana ke tempat semula.
Bella terkejut dengan ucapan Kaivan, apa dia tidak salah dengar? Kaivan menyebut status hubungannya di depan Elsa.
"I-istri!????...." Tanya Elsa dengan suara gemetar, ia pun beralih menatap Arabella yang juga menatap datar ke arahnya. "Gak! gak mungkin!..." Elsa menggelengkan kepala berkali-kali. "Dia hanya pemuas belaka, ya pasti gak mungkin!!!!..."
Ting tong ting tong!...
__ADS_1
Arabella melewati Elsa lalu membuka pintu apartemen, rupanya Roy sudah datang. "Dimana Elsa?.." Tanyanya to the point kepada Bella.
Bella langsung menunjuk Elsa yang terus membantah, jika Bella bukan istri dari Kaivan.. "Di sana.."
Roy masuk dan membantu Bella untuk berdiri. "Kita ke rumah sakit sekarang..."
"Gak mau, masih ada yang ingin ku tanyakan kepada Kaivan. Lepas Roy!!.." Berontak Elsa.
Tanpa menjawab, Roy menggendong tubuh kekasihnya dan berlalu pergi dari apartemen Bella.
Ruangan itu seketika kembali hening, Arabella menghela nafas panjang. "Jika bukan ibu kandung Shena, sudah ku tendang dari lantai ini!..."
Arabella duduk di kursi ruang tengah, ia menyentuh pipi bekas tamparan. "Sssshh! perih juga ternyata..."
Dari arah berlawanan, Kaivan datang membawa es batu dan kompresan. Ia pun duduk di samping Bella, yang menatap tanda tanya ke arahnya.. "Kemari!..."
Arabella terdiam saat Kaivan meraih wajahnya. "Kenapa kau tidak mengantar Elsa?..."
"Istriku kamu bukan dia..."
Jawaban Kaivan membuat hati Bella tersentuh, padahal ia tak masalah jika Kaivan mengantar Elsa, namun lelaki itu malah acuh tak peduli..
Dengan perlahan, Kaivan mengelus lembut pipi Bella dengan kompresan.. "Bagaimana??..." Wajah tampan itu terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Pipi Bella seketika merona. "Ah i-ini dingin..."