Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 10. Benci


__ADS_3

Fajar telah menyingsing. Sang surya pun telah memantulkan cahayanya ke bumi. Pagi ini cuaca tampak sangat cerah. Langit tampak bersahabat. Tak ada tanda tanda akan turunnya hujan. Jika alam semesta seceria itu pagi ini, haruskah makhluk penghuninya ikut demikian? Tentu jawabannya tidak.


Ternyata di pagi yang cerah ini, Bulan tak menemukan keceriaannya biar sedikit pun. Sungguh hari yang menjengkelkan. Baginya, hari ini hari yang memalaskan baginya. Ingin rasanya ia tak mau masuk sekolah hari ini. Ia belum siap bagaimana reaksi Bintang nantinya saat bertemu dirinya.


Sejak kejadian tadi malam, entah kenapa hubungan Bulan dengan ayahnya semakin tak akur. Bulan semakin membenci ayahnya. Ia sungguh kecewa.


"Ma, Bulan berangkat ya" ucapnya sembari menyalami tangan kanan Bu Mila. Sementara Pak Irwan, ia tampak cuek. Tak menghiraukan keberadaan kedua sosok yang ada di depannya. Bulan yang mau menyapanya pun mengurungkan niatnya. Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan penuh amarah dan penuh kebencian. Kemudian, Bulan melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya pada Pak Irwan. Tentu ini meninggalkan tanda tanya besar bagi Bu Mila.


"Papa udah liat kan, bagaimana reaksi Bulan sama papa." ucap Bu Mila memulai percakapan.


"Tak usah bujuk saya Mila, untuk mengizinkan Bulan berteman dengan laki laki brengsek itu. Saya tak sudi." balas Pak Irwan tegas.


"Tapi kita belum tau cerita yang sebenarnya, Pa, mengapa Bintang babak belur seperti itu? Siapa tau aja, ia habis nolongin Bulan?" ucap Bu Mila, mencoba memberikan penjelasan kepada suaminya yang keras kepala itu.


"Mama gak usah belain dia dan jangan bahas dia lagi." timpal Pak Irwan mulai emosi. Namun masih bisa ditahannya.


"Pa, kenapa papa jadi keras kepala seperti ini sih?" tanya Bu Mila yang langsung dibalas dengan bentakan dari Pak Irwan.


"Saya bilang JANGAN BAHAS DIA LAGI." bentaknya.


Bu Mila pun langsung diam seribu bahasa. Ia sudah pasrah dengan sikap suaminya yang sangat keras kepala. Jika berbicara dengannya, tentu saja tidak akan ada ujungnya. Jadi ia memutuskan untuk mengalah saja.


Sementara itu, Bulan yang kini dalam tengah perjalanan menuju sekolah, ia menangis meratapi dirinya sendiri. Tak kuasa, melawan ayahnya yang keras kepala dan tak tau berterima kasih itu. Rasa sedih, marah, kecewa, dan malu bercampur aduk dalam diri Bulan. Sedih karena ia tak akan bisa berteman dengan Bintang lagi, marah dan kecewa atas kelakuan ayahnya, dan malu umtuk bertemu Bintang, takut Bintang menghinanya.

__ADS_1


"Papa keras kepala, papa egois, papa jahat. Bulan benci papa." gumamnya sambil menyeka air mata yang terus menetes di pipinya.


"Kenapa menangis?". Tiba tiba seseorang dari arah belakang datang menghampirinya. Dan kini orang itu sudah berada di sampingnya dengan sebuah motor. Suara itu belum terlalu familiar di telinganya Bulan. Ini bukan Bintang. Lantas, siapa? Pertanyaan itu muncul dipikiran Bulan.


Dengan perlahan, Bulan menoleh ke sampingnya dan ternyata, "Kak Langit?".


Laki laki itu hanya tersenyum kepadanya.


"Kenapa menangis?" tanya laki laki itu lagi saat mereka dalam perjalanan.


"Gak papa kok, kak. Cuman sedih aja." jawab Bulan bohong.


"Sedih karena apa?" tanyanya lagi.


"Ya sedih aja. Emang gak boleh?" jawab Bulan bertanya balik dengan ekspresi manjanya.


"Kok aneh sih kak?" tanya Bulan.


"Ya jelas jelas anehlah. Masa' ada orang yang sedih tanpa sebab." jawab Langit sambil tertawa. Kali ini tawanya terdengar jelas.


"Ada dong, buktinya gue." jawab Bulan cepat dengan ucapan terbilang sombong.


"Ngaco deh".

__ADS_1


Setelah ucapan itu, keadaan pun kembali menjadi hening. Tak ada suara pun yang terdengar, selain suara kendaraan yang juga berlalu lalang di tempat tersebut, hingga mereka sampai di sekolah. Sekolah sudah terbilang cukup ramai. Bulan dan Langit pun turun dari motor. Kemudian mereka pun melangkahkan kakinya ke halaman sekolah. Tanpa sengaja Bulan menginjak tali sepatunya yang terbuka. Untungnya dengan sigap, Langit memegang kedua lengannya dari arah belakang.


Dan, di saat yang bersamaan Bintang muncul. Sungguh pemandangan yang membuat hatinya panas dan kesal. Api kecemburuannya tiba tiba bdrkobar kobar dalam jiwanya. Bintang yang awalnya mau berdamai dengan Bulan, terpaksa mengurungkan niatnya setelah melihat pemandangan tersebut. Rasa marah dan kecewa seperti hal tadi malam dianggap hal biasa biasa jika dibandingkan dengan pemandangan yang barusan diliatnya beberapa menit lalu.


"Gue benci Bulan. Dasar cewek murahan." pekiknya dalam hati.


"Maaf, maaf." ucap Bulan sembari berusaha bangun dari genggaman Langit. Langit pun membantunya.


"Makasih ya kak" tambahnya.


"Ya udah Bulan ke kelas duluan ya kak".


Tak ada sahutan pun biar satu dari Langit. Laki laki itu hanya berdiam diri mematung sembari menatap wajah Bulan.


Bulan pun mencoba menyadarkannya dari lamunan. "Hai, Kak. Kak Langit" ucapnya sambil melambai lambaikan tangannya di depan wajah Langit. Cowok itu pun tersadar.


"Ehh iya iya, ada apa Bulan? Tadi kamu bilang apa?" tanyanya agak gugup.


"Kakak ngekhayal ya?" selidik Bulan heran.


"Gak kok". Langit menggaruk garuk tengkuk kepalanya yang tak gatal. Melihat itu, Bulan berusaha keras menahan tawanya namun hasilnya nihi.


"Hahahaha".

__ADS_1


"Kok ketawa?" tanya Langit bingung.


Bulan pun menghentikan tawanya. "Gak kok" jawabnya singkat.


__ADS_2