
Tata dan Surya pun menghampiri keduanya yang berada di ranjang.
"Kalian tuh kayak anak kecil saja." ledek Bulan pada Tata yang memeluknya.
Tata pun melepaskan pelukannya. "Ihh, Bulan. Gue kesal tau gak." ucapnya kesal.
Bulan pun hanya tertawa kecil melihat muka Tata yang gemas kalau kesal.
"Kalian itu cocok." Ucapan Bintang itu membuat Tata dan Surya bertatapan dan melongoh tak yakin.
"Kata siapa?" tanya Surya ketus.
"Kata gue." jawab Bintang percaya diri.
"Kata lho mah, basi." ketus Bintang. "Sampai kapanpun gue gak bakalan pernah bersatu sama Tata. SAMPAI KAPANPUN ITU." ucapnya sengaja menekankan tiga kata terakhir itu sambil melirik Tata.
Tata tampak sedih mendengar pernyataan Surya itu. Hatinya begitu hancur. Ternyata orang yang selama ini dikejarnya mati matian tak mencintai, bahkan menyukai dirinya. Pupus sudah harapan Tata selama ini. Bulan yang melihat itu ikut prihatin. Ia begitu tau bagaimana hancurnya perasaan Tata saat ini.
Tata pun segera berlari dari ruangan itu. Namun dengan segera, Bulan mencekal tangannya. Ia pun menepisnya dengan kasar.
"Maaf saya harus segera pergi. Cepat sembuh ya, Tang." ucapnya tanpa melirik ke arah ketiga sosok itu. Kemudian kembali berlari keluar dari kamar Bintang.
Kepergian Tata tentu meninggalkan tanda tanya yang besar bagi Bintang dan Surya.
"Lan, Tata kenapa?" tanya Bintang pada Bulan.
"Aneh banget tuh cewek." ucap Surya ketus.
"Gue juga gak tau." jawab Bulan bohong. Tidak mungkin ia mengucapkan yang sebenarnya kepada Bintang, terutama Surya.
"Lho kan sahabatnya, kok gak tau sih." ucap Surya lagi.
"Gue benaran gak tau Surya." ujar Bulan geram.
"Ya udah, kalau gitu gue pulang ya! Entar gue jadi obat nyamuk lagi." ucap Surya terdengar meledek.
"Ngomong apaan sih lho?" ucap Bulan pura pura tak mengerti.
"Gak usah pura pura ****." ucap Surya pada Bulan.
Bulan hanya memutar bola matanya malas. "Emang ngomong sama Surya itu gak ada habisnya. Udah nyebelin, songong lagi. Gue gak habis pikir deh, Tata kok beta banget ya sama cowok ini." batinnya.
"Cepat sembuh ya, Tang" itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut cowok nyebelin itu sebelum beranjak dari tempat itu.
Bulan yang merasa tinggal dirinya yang masih di sini pun ikut berpamitan. "Tang, gue juga pamit ya, entar kemalaman lagi. Cepat sembuh Bintangku."
"Bintang-ku? Emang gue bintangnya Bulan." pikir Bintang.
__ADS_1
Ketika Bulan hendak beranjak dari ranjang Bintang, tiba tiba tangannya dicekal oleh Bintang.
Bulan pun menatap Bintang malas. "Apalagi?"
"Jangan kangen ya!" ucapnya sambil tersenyum.
"Dih, siapa juga yang kangen sama cowok dingin kayak lho. Pede amat sih lho." kesal Bulan. "Udah lepasin tangan gue, gue mau pulang." lanjutnya.
"Kalau gue gak mau?" ucap Bintang yang terdengar seperti pertanyaan.
"Kenapa gak mau?" tanya Bulan ketus.
"Kangen." satu kata yang keluar dari mulut Bintang yang membuat Bulan menatapnya dengan tatapan kosong.
Deg.
Hatinya tiba tiba berdetak tak menentu.
Bintang yang ditatap Bulan seperti itu, bergidik takut. "Jangan ngeliatin kayak gitu, ahh. Gue takut."
Bulan pun tersadar dari lamunannya. "Sorry." ucapnya kemudian menepis tangan Bintang yang memegang pergelangan tangannya sejak tadi dengan pelan.
"Gue pulang ya! Dah!" ucapnya kemudian berjalan keluar dari kamar tersebut.
"Lan, gue suka sama lho. Jangan tinggalin gue." teriak Bintang saat Bulan sudah berada di ambang pintu kamarnya.
Bulan pun membalikkan badannya dan menatap Bintang lekat. Tak ada kebohongan dan kepura puraan yang terpancar di wajah Bintang. Yang ada ialah kesungguhan. Bulan pun hanya geleng geleng, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya. Sedangkan Bintang, ia berdecak kesal atas kepergian Bulan.
Di tengah cowok itu merutuki dirinya sendiri, tiba tiba perasaannya menjadi tidak enak. Ia merasa khawatir akan keadaan cewek itu. Ia pun mencoba menghubunginya, namun handphone-nya tidak aktif. Ia tak menyerah. Dicobanya lagi berkali kali, lagi, lagi, dan lagi. Namun hasilnya apa? Tetap sama. Tak aktif. Perasaannya pun semakin tak karuan. Ingin rasanya ia menyusul Bulan, tapi itu mungkin hanyalah pemikirannya saja. Mana mungkin ia bisa menyusul Bulan jika kondisinya saja masih lemah. Tapi itu tidak berlaku untuk Bintang. Baginya keadaan gadia itu lebih penting dari dirinya.
Sepanjang perjalanan, Bintang tak pernah menghentikan tatapannya menengok ke segala arah untuk mencari keberadaan gadis tersebut. Hingga tatapannya jatuh kepada seorang gadis dipinggir jalan yang sedang dikerumuni orang orang, maksudnya preman. Gadis tersebut sedang meronta ronta meminta tolong, karena tak ingin dibawa preman preman tersebut. Bintang pun langsung melajukan motornya ke tempat tersebut.
"Woyy, lepasan dia!" teriak Bintang yang membuat ketiga preman tersebut membalikkan badannya.
"BINTANG" pekik Bulan tak percaya. "Bintang tolongin gue, Tang." ucap gadis tersebut sembari berusaha melepaskan cengkraman kedua preman tersebut di kedua tangannya.
"Sok pahlawan nih kayaknya" ucap salah satu dari preman tersebut dengan sombongnya, menatap Bintang dengan ejekan.
"Lawan aja bos!" ujar salah satunya lagi yang tengah mencengkram tangan kanan Bulan.
Preman yang dipanggil bos tersebut maju menyerang Bintang. Dengan sedikit tenaga Bintang yang masih ada dalam tubuhnya, ia keluarkan untuk menyerang preman tersebut. Perkelahian pun dimulai. Tak beberapa menit kemudian, preman tersebut tumbang. Preman kedua pun maju. Namun lagi lagi, ia kalah. Dan kini tinggal seorang preman yang masih tengah mencengkram tangan kiri Bulan.
"Maju lho" tantang Bintang.
"Kurang ajar." Preman itu pun maju dan melawan Bintang. Cukup lama mereka mengadu kekuatan. Hingga teriakan Bulan histeris bersamaan tumbangnya Bintang.
"Bintang, awas!" teriak Bulan saat melihat seorang preman tadi yang sudah tumbang, bangkit kembali dan menyerang Bintang dari belakang dengan sebuah balok. Balok itu berhasil mengenai bahu Bintang. Bintang pun langsung pingsan tak sadarkan diri seketika.
__ADS_1
Bulan pun langsung menghampiri tubuh yang sudah terbaring lemah di jalanan itu. "Bintang, bangun Tang!" ucapnya sambil menangis dan menggoyang goyangkan tubuhnya, berharap cowok itu segera sadar.
"Bagaimana ini bos?" tanya salah satu dari ketiga preman tersebut.
"Kita cabut sebelum ada yang melihatnya." jawabnya tegas.
"Tapi..."
"Gak ada tapi tapian. Ayo cabut!" pintahnya.
Ketiga preman itu pun pergi begitu saja, meninggalkan kedua sosok tersebut.
******
"Gue dimana?" pertanyaan itu keluar dari mulut Bintang ketika sadar dari pingsannya.
"Lho di rumah sakit." jawab seorang gadis yang tengah duduk di sampingnya.
Bintang pun mengernyit heran. "Kok bisa?"
"Coba deh lho ingat-ingat lagi, kenapa lho bisa masuk ke sini?" jawabnya lagi.
Bintang pun mengingat ingatnya kembali. Setelah beberapa menit, akhirnya ia kembali angkat bicara.
"Oh iya, gue ingat." ucapnya. "Makasih ya!"
Gadis itu hanya tersenyum manis padanya.
*****
"Gue gak tau lagi deh, kalau aja tadi lho gak datang nolongin gue. Makasih ya!" ucap Bulan ketika turun dari motornya Bintang.
Ya, mereka sudah sampai di depan rumah Bulan. Setelah Bintang sadar, mereka pun meninggalkan rumah sakit itu.
"Iya santai aja kali." ujar Bintang.
"Ya udah masuk dulu, yuk!" ajak Bulan.
"Tapi gue takut sama bokap lho. Kalau bokap lbo marah bagaimana?" ujar Bintang.
"Udah tenang aja. Gue bakal jelasin sama nyokap bokap gue, Oke." ucap Bulan mencoba menyakinkan Bintang.
"Yuk!"
Dengan ragu ragu, Bintang melangkahkan kakinya ke dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sapa Bulan.
"Wa'alaikumsalam" balas kedua sosok yang tengah duduk di sofa ruang tamu.