Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 25. Sandiwara


__ADS_3

Dugaannya benar. Hari ini, Surya menembak Tata untuk kedua kalinya. Lelaki itu menyatakan perasaannya di taman belakang sekolah, tepat dimana Surya menembaknya dulu.


"Ta, gue suka sama lho. Lho mau kan jadi pacar gue?" tanya Surya.


Lama Tata berpikir. Ia masih ragu dengan pilihannya. Hingga tanpa sengaja matanya mengarah pada dua orang dari kejauhan sedang tersenyum ke arahnya. Kemudian, mereka menganggukkan kepalanya bersamaan. Seolah-olah mereka meniyakan Tata untuk menerima Surya.


Tata pun kembali menatap Surya yang kini ada di depannya. Ia tersenyum simpul padanya. Jujur, Surya yang melihat itu langsung terpana pada Tata. Jantungnya berdegup begitu cepat.


"Gak. Gue gak mungkin suka sama Tata."


Surya pun segera membuang jauh-jauh perasaannya itu. Ia tak boleh jatuh cinta benaran pada gadis ini. Ingat tujuanmu Surya!


"Iya gue mau kok jadi pacar lho." ucap Tata.


Mata Surya berbinar-binar mendengarnya. "Serius?" tanyanya tak percaya.


"Maaf Tata, gue gak bermaksud buat nyakitin lho."


Tata menganggukkan kepalanya. Surya pun refleks memeluknya. Ia serasa sedang menembaknya benaran. Bahkan Tata pun merasakan hal yang sama. Tapi di detik berikutnya, ia membuang jauh-jauh perasaannya itu.


"Ingat Tata! Dia nembak kamu itu bukan karena dia cinta. Fokus Tata!"


Dari kejauhan, seseorang mengacungkan jempolnya untuk Surya. Surya sempat melihat itu. Seketika perasaan bersalah muncul di benaknya.


                                        ***


Satu minggu kemudian...


"Surya, sepertinya ini sudah saatnya kita beraksi." ucap Mentari dengan handphone yang digenggamnya dan tengah menempel di telinga kanannya.


"Oke, sekarang juga gue telepon Tata ya!" ujar Surya di seberang telepon.


"Gue tunggu kabar baik dari lho." ucap Mentari kemudian memutuskan panggilannya sebelah pihak.


"Maaf teman-teman."


Perasaan bersalah itu kembali muncul di benak Surya. Namun dengan terpaksa, ia harus melakukannya. Surya pun segera menghubungi Tata.


"Halo, ada apa?" tanya Tata pada Surya di seberang telepon.


"Aku kangen aja sayang." jawab Surya berbohong di seberang telepon.


Ada perasaan senang dan jijik dalam hati Tata mendengar panggilan 'sayang' itu dari Surya. Ia tau Surya pasti sengaja berkata manis padanya.


"Kok udah kangen aja sih? Kan ketemunya juga setiap hari, di sekolah."


"Aku rasa itu gak cukup sayang. Umm, gimana kalau kita pergi jalan-jalan?" usul Surya.


"Boleh. Btw, kita mau jalan kemana?"


"Kamu siap-siap aja dulu, nanti sore aku jemput ya! "


"Oke sayang, bye-bye." ucap Tata kemudian memutuskan panggilannya.


Entah kenapa kata 'sayang' itu, refleks keluar dari mulut Tata. Ini kali pertama Tata memanggil Surya dengan sebutan 'sayang'. Tiba-tiba mukanya jadi merah merona. Ia merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya telah mengucapkan kata itu.


Setelah memutuskan sambungannya dengan Surya, Tata pun bergegas mengganti pakaiannya kemudian berdandan yang cantik.


Lima belas menit kemudian, Tata akhirnya selesai juga berdandan. Di saat yang bersamaan, terdengar suara ketokan pintunya.


Itu pasti Surya, pikirnya.

__ADS_1


Tata pun menghampiri pintu rumahnya dan membuka pintunya. Benar saja, Surya sudah berdiri menunggunya dengan pakaiannya yang terbilang keren. Tata yang melihat itu langsung terpesona pada ketampanan Surya. Begitupun dengan Surya, cowok itu juga terpukau melihat kecantikan Tata. Bahkan perasaannya pada Mentari sudah mulai terkikis dari hatinya yang digantikan oleh Tata.


"Ya udah, berangkat yuk!"


"Yuk!"


Surya menarik pergelangan tangan Tata dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Tata.


Dalam perjalanan mereka, yang terdengar hanyalah suara deru kendaraan yang bersahut-sahutan. Tak ada diantara keduanya yang berani angkat bicara. Mereka masih terpukau pada pasangan masing-masing. Hingga Surya angkat bicara untuk memecah keheningan tersebut.


"Oh ya Ta, gue pengen ngomong sesuatu sama lho. Boleh gak?" ucap Surya hati-hati.


"Boleh. Ngomong apa?" Ujar Tata.


"Tapi lho jangan marah ya, sama gue." ucap Surya lagi.


"Iya, gue janji kok." sahut Tata membuat Surya bernapas lega.


"Gue minta lho jauhin Bulan dari Bintang." lanjut Surya.


"Kok aneh gitu sih? Emangnya kenapa?" ucao Tata balik bertanya.


"Ya, enggak sih. Cuman gue gak suka aja-"


"Enggak, Bulan itu sahabat gue. Gue gak mungkin nyakitin sahabat gue sendiri." sanggag Tata emosi.


"Aduh, gimana nih?" batin Surya.


"Emangnya kenapa sih-"


"Oke, oke lupain aja." sela Surya.


Setelah itu, keadaan kembali menjadi hening. Tak ada lagi yang berani angkat bicara. Surya kembali fokus pada jalanan. Sedangkan Tata, cewek itu masih tampak emosi. Ia menggerutu kesal pada Surya.


"Kemana aja deh." jawab Tata dengan ketus.


"Kok gitu sih bebz. Lho masih marah ya, sama omongan gue yang tadi?"


Tata terdiam.


"Kan gue bilang lupain aja." lanjut Surya agak terdengar manja.


Tata masih diam.


"Ya, ngambek ya. Ya udah gue minta maaf nih."


"Iya, gue maafin." ujar Tata ketus.


"Nah gitu dong. Kita mau jalan kemana nih?" tanya Surya.


"Terserah." jawab Tata.


"Kok terserah sih. Emangnya ada ya, tempat yang namanya terserah?" tanya Surya sengaja menggombal Tata.


"Ihh, nyebelin amag sih lho." kesal Tata.


Sementara Surya tertawa terbahak-bahak.


Hingga mobil Surya pun berhenti di sebuah Cafe. Mereka pun segera turun dari mobil. Tata memandang sekelilingnya.


"Kok berhenti di sinj sih?" tanya Tata.

__ADS_1


"Kamu gak suka?" ucap Surya bertanya balik.


Tak ada jawaban dari Tata.


"Ya udah kita cari tempat lain aja yuk." ucap Surya yang hendak naik kembali ke mobilnya namun demgam cepat pergelangan tangannya dicekal oleh Tata.


"Mau kemana?" tanyanya.


"Mau cari tempat lain. Kamu kan gak su-"


"Kata siapa gue gak suka?" potong Tata.


"Kamu suka?" ucap Surya bertanya balik untuk memastikan.


Tata tersenyum simpul kemudian menganguk pelan.


Surya pun langsung menggandeng tangan Tata dan menariknya untuk masuk ke dalam Cafe. Namun baru beberapa langkah, mereka kembali menghentikan langkahnya.


"Bulan?" ucap Tata heran.


Mereka berpapasan dengan Bulan yang sedang bergandengan tangan bersama Bintang.


"Kalian di sini juga?" lanjutnya.


Sementara Bulan, cewek itu hanya diam menunduk. Entah karena apa? Ia seperti seseorang yang merasa bersalah.


"Katanya lagi sibuk, gak ada  waktu? Ternyata sibuk pacaran di sini?" ucap Tata secara tidak sengaja menyindir Bulan.


"Maaf Ta. Bintang yang duluam ngajakin gue jalan." balas Bulan menunduk takut.


"Apa susahnya jujur sih, Lan?" Kesal Tata.


"Maaf." ucap Bulan lirih.


"Maaf, lho bilang?" ucap Tata mengulang ucapan Bulan agak membentak.


"Eh, beraninya lho bentak-bentak pacar gue. Siapa lho?" Kali ini Bintang yang angkat bicara. Ia tak suka pacarnya dibentak-bentak.


Sementara Bulan, cewek itu sudah menangis tersedu-sedu.


"Maksud lho apa bentak-bentak Tata?" ucap Surya tak kalah marahnya.


Surya yang melihat Bintang membentak Tata pun angkat bicara. Ia pun tak rela jika ada yang membentak Tata.


"Ehh, lho gak usah ikut-ikutan ya!" peringat Bintang pada Surya.


"Lho juga gak usah ikut-ikutan." balas Surya yang membuat Bintang semakin geram. Ia pun mendekati Surya dan langsung menarik kerah baju cowok itu kemudian langsung menonjok wajah Surya.


Bulan dan Tata yang melihat itu pun, langsung melerai mereka.


"Udah Stop!" teriak Tata yang melihat Surya hendak membalas tonjokan Bintang.


Keduanya pun berhenti. Bulan menghampiri Bintang dan menjauhkannya dari Surya. Begitupun yang dilakukan Tata. Ia juga menjauhkan Surya dari Bintang.


"Bulan, lho sebenarnya masih nganggep gue sahabat atau gimana sih?" tanya Tata serius.


"Kok lho ngomongnya kayak gitu sih?" Bulan bertanya balik.


"Kalau lho masih mau jadi sahabat gue, gue minta lho jauhin Bintang." ucap Tata.


Tanpa Bulan sadari, air matanya mengalir begitu saja dari kelopak matanya. Ia pun menyekanya dengan kasar kemudian menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Ya udah, kalau lho gak mau, gak usah jadi sahabat gue lagi." tegas Tata kemudian membuka pintu mobil Surya dan naik ke atasnya. Lalu ia menutup pintu mobil Surya dengan keras.


Sementara Surya, cowok itu menyunggingkan senyuman smirk-nya pada dua orang yang ada di depannya itu. Kemudian menyusul Tata naik ke mobilnya. Surya menancap gas mobilnya, mobil pun melaju keluar dari halaman cafe itu. Meninggalkan Bulan yang sedang menangis tersedu-sedu, meratapi kepergian Tata, sahabatnya.


__ADS_2