Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 34. Hari Sial Bintang Part 2


__ADS_3

“ARGHHH... !!!”


Bintang memukuli tembok roftoop dengan brutal seperti orang kesetanan. Tak peduli akan akibat yang akan didapatkan-nya setelah ini. Entah kenapa, dia tidak dapat lagi menahan gejolak yang selama ini dipendam-nya untuk tidak meledak.


“Sialan!”


“Anjing!”


“Mati aja lo, tua bangka!”


Umpat-nya sambil memukuli tembok yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa itu.


Setelah merasa puas, Bintang berhenti memukuli tembok tersebut. Lelaki itu mendudukkan bokong-nya dilantai dan menyenderkan badan-nya ke tembok yang barusan dipukuli-nya.


Dada-nya naik turun dengan napas terengah-engah. Lelah. Namun setidak-nya, ada sedikit rasa lega yang dirasakan-nya setelah mengeluarkan semua gejolak itu di tempat ini. Ya, meski belum sepenuh-nya.


Bintang meringis pelan, baru merasakan sakit di area punggung tangan-nya. Memar dan sedikit mengeluarkan darah. Bintang mencoba untuk bersikap acuh. Percuma diobati. Nanti juga bakal sembuh sendiri, bukan?


Lalu, lelaki itu membaringkan tubuh-nya ke lantai dengan kedua tangan yang menjadi tumpuan kepala. Dingin-nya lantai membuat-nya sedikit merasa tenang. Dia mencoba memejamkan mata meski terasa sulit. Hingga akhir-nya, dia terlelap.


***


Bel istirahat berbunyi sekitar dua menit yang lalu. Sekolah yang tadi-nya terlihat sepi, kini sudah tampak ramai kembali. Semua murid-murid berkeliaran di sekitar sekolah. Hampir setiap sudut sekolah ditempati murid-murid berkerumun.


Bintang yang tertidur di lantai atap terbangun ketika merasakan perut-nya yang terus berbunyi bak sebuah alarm. Menganggu saja! Gerutu-nya dalam hati.


Oh, ****!


Bahkan, Bintang sampai lupa. Dia belum makan apapun sedari tadi pagi. Dengan malas, Bintang bangun dari tidur-nya dan merapikan sedikit seragam-nya yang sedikit lusuh. Kemudian, melangkahkan kaki-nya turun dari lantai atap tersebut.


Sesampai-nya di lantai bawah, banyak pasang mata yang menatap-nya heran. Apalagi melihat penampilan acak-acakan cowok itu. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya kala mendapat delikan tajam dari Bintang.

__ADS_1


Ah, harusnya itu bukan suatu hal yang perlu dipertanyakan lagi? Bukankah penampilan Bintang memang seperti itu setiap harinya?


Bintang terus melangkahkan kaki-nya lurus ke depan. Tujuan-nya sekarang hanya satu, kantin. Perut-nya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi sekarang. Namun sial-nya, dia malah bertemu dengan sahabat-nya yang rada sinting di perbelokan koridor.


Double ****!


“Pagi, brader!” sapa Surya heboh. “Wih, darimana aja nih? Bolos kok, gak ngajak-ajak.” Bibir lelaki itu mengerucut sebal seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Surya, sahabat bobrok-nya sedari dulu sejak zaman purbakala, tiba-tiba saja sudah berada di samping-nya.


Tak ada sahutan dari-nya. Bintang hanya diam, berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Melihat-nya, membuat Surya menggeram kesal. Sok dingin!


“Woy, lo dengar gak sih gue ngomong?!” teriak Surya tepat di telinga kiri Bintang.


“Anj*ng!!!” umpat Bintang kasar sambil mengusap telinga kiri-nya yang berdengung karena teriakan Surya. Lalu, melayangkan tatapan tajam-nya pada cowok itu. Sahabatnya ini ... selalu ada saja kelakuan-nya.


Yang ditatap tajam seperti itu, bukan-nya merasa takut malah cengengesan tidak jelas. Fiks, Surya benar-benar sudah gila!


Tak ada sahutan darinya membuat Surya mengumpat dalam hati. Sedikit rasa penyesalan terbesit dalam hati kecilnya telah bicara sepanjang itu dan berakhir dicuekin.


“Btw, habis darimana lo?” tanya Surya mengalihkan pembicaraan. Dia tidak terbiasa dengan suasana canggung seperti ini.


“Roftoop.” Bintang menjawab dengan singkat.


“Busettt! Bicaranya, irit amat bang. Abis kerasukan jin apaan sih lo?” tanya Surya heran dengan perubahan sikap sahabatnya. Bintang kenapa berubah dingin kayak gini?


“Bacot,” cibir Bintang.


Kini, mereka telah sampai di kantin. Bintang dan Surya terus berjalan lurus ke depan dan menghentikan langkah-nya di sebuah meja paling pojok. Mereka memilih untuk duduk dan menghabiskan waktu istirahat-nya di situ.


***

__ADS_1


“BINTANG!!! MY HONEY MY BEBEB LOPE-LOPENYA TARI!!!”


“IHH, KEMANA AJA SIH, BEB! AKU CARIIN KAMU KEMANA-MANA, EH TAU-TAUNYA KAMU ADA DI SINI!!!”


Teriakan itu membuat nafsu makan Bintang hilang. Cowok itu menggusah napas lelah, lalu dengan cepat-cepat mengunyah nasi goreng yang baru saja disendokkannya ke dalam mulut.


Sendok yang dipakainya tadi diletakkan dengan kasar ke piring nasi goreng yang masih tersentuh sedikit. Wajar saja, karena Bintang baru tiga kali menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulut dan gadis peganggu itu sudah datang duluan.


Dia benar-benar pengganggu. Lihat, sekarang dia sedang bergelayut manja di lengan kekarnya, membuat Bintang bergidik ngeri karenanya.


Cowok itu mengambil gelas berisi air putih yang ada di atas meja lalu meneguknya hingga tandas, lalu meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. Bintang beralih melirik tidak suka cewek yang sedang duduk sambil bergelayut manja di sampingnya.


“Tar, lo bisa minggiran dikit gak? Gue sesak, eneg juga liat muka lo yang mirip babi mantan gue. Kalo lo mau manja-manja, udah sana sama Surya. Jangan sama gue!” ujar Bintang sarkas dengan nada pengusirannya.


“Ih, kok gitu sih, Bi! Aku kan maunya sama kamu.” Cewek itu berdecak sebal. Dia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kantin dengan bibir mengerucut beberapa senti ke depan.


Surya yang masih menikmati nasi gorengnya angkat kepala ketika Bintang membawa-bawa namanya saat berbicara tadi. “Hu'um, benar kata Bintang ... mending sama gue. Gue jamin deh, lo bakal hidup aman dan damai kalo sama gue,” celetuk Surya dengan senyuman lebarnya.


Bukan rahasia umum lagi kalau Surya memang terpesona dan jatuh cinta pada gadis selebgram dan primadona SMA Mahardika itu. Murid-murid SMA Mahardika semuanya sudah pada tahu. Pasalnya, cowok itu selalu menyatakan perasaannya terang-terangan di hadapan umum. Meski berkali-kali ditolak sama gadis itu, tetapi Surya tak pernah merasa lelah juga untuk terus mengejar.


“Ih, pede banget sih lo Sur! Siapa juga yang mau sama lo? Gue sih, ogah! Wle! ” Cewek itu menjulurkan lidahnya ke arah Surya. Mentari Putri, nama lengkap selebram cantik itu, bergidik ilfeel mendengar penuturan Surya.


“Bi, kapan sih terima cinta aku? Aku kurang apa coba di mata kamu. Cantik, iya. Seksi apalagi. Kamu mau cari tipe cewek kayak gimana lagi sih?!” sungut-sungut Mentari pada Bintang. Cewek itu menatap Bintang memelas.


Dan bukan rahasia umum lagi, kalau Mentari suka sama Bintang. Nasibnya sama dengan Surya, selalu ditolak berkali-kali sama cowok itu tetapi tetap saja tidak berhenti untuk mengejar. Mungkin kalian mengiranya gadis bodoh, bertahan dan rela tersakiti oleh satu orang lelaki yang tak mencintainya. Tetapi bukankah banyak orang bisa menjadi bodoh hanya karena dibutakan oleh cinta?


Bintang mendengus, memalingkan wajahnya ke samping. “Tar, udah berapa kali sih, gue ingetin sama lo. Gak usah suka sama gue karena gue juga gak suka sama lo. Dari pada lo sakit nantinya, mending lo buang tuh jauh-jauh perasaan lo,” ujar Bintang pedas tanpaa memikirkan bagaimana perasaan lawan bicaranya sekarang.


Bintang melepaskan tangan Mentari yang memegang lengan, bangkit dari duduknya dan beranjak dari sana. Meninggalkan Mentari yang kini memandangi kepergiannya dengan tatapan nanar dan wajah tertekuk bersama Surya yang kini melayangkan tatapan ibanya pada Mentari.


“Udahlah, Tar! Mending lo move on aja!” peringat Surya.

__ADS_1


***


__ADS_2