Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 24. Aneh (Berubah) 2


__ADS_3

Dan...


"Gak ada siapa-siapa." ucap Surya kala tak mendapati seorang pun di sana.


"Ya udah cabut yuk!" ajak Mentari.


Mereka pun berlalu dari tempat itu..


Bintang yang ternyata bersembunyi di belakang pohon itu pun bernafas lega, karena mereka tak melihatnya. Ia pun keluar dari persembunyiannya dengan hati-hati, rakit mereka belum pergi.


"Gue harus selesaiin masalah inj secepatnya. Masalah ini gak boleg dianggap enteng karrna melibatkan semuanya." gumam Bintang.


Bintang pun bergegas pergi dari tempat itu. Di sepanjang lorong, ucapan Mentari waktu itu dan juga percakapan Surya dan Mentari tadi, terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia tak habis pikir, Surya bisa berubah seperti itu hanya karena cinta.


Bintang tak fokus jalan, hingga ia menabrak seseorang. Bintang pun tersadar dari lamunannya ketika mendengar ringisan kecil dari orang yang ditabraknya itu.


"Aww... Sakit." ucap seorang gadis yang ditabrak Bintang tengah tersungkur di lantai.


Suara itu sangat familiar di telinga Bintang. Ya suara itu suara gadisnya, Bulan Purnamasari.


"Lho gak pa-pa kan Lan," ucap Tata sambil membantu Bulan berdiri.


"Heh, Bintang. Lho punya hati gak sih. Udah nabrak orang trus gak minta maaf atau membantunya." kesal Tata yang hanya melihat Bintang memandangi mereka saja.


Namun Bintang hanya diam mendengarkan celoteh Tata.


"Kalian lagi berantem, makanya jadi cuek-cuekan seperti ini? Kenapa sih Tang, Bulan ada salah? Kalau ada maafin ya!" ucap Tata.


"Bintang, lho punya mulut gak bisa? Kayak bicara sama batu saja?" kesal Tata karena Bintang tak kunjung bicara juga.


"Bintang, lho-"


"Udah ngomongnya?" bentak Bintang tak kalah emosi.


"Lho apa-apaan sih?"


"Bukan urusan lho." ucap Bintang kemudian meninggalkan Bulan dan Tata yang sedang tersulut emosi.


"Ih, ngeselin banget sih tuh cowok." ucap Tata emosi sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Udah, udah." ucap Bulan menenangkan Tata.


Kemudian mereka pun melanjutkan langkahnya. Bukannya ke kelas, mereka malah ke taman sekolah dan berduduk santai di situ. Menenangkan pikiran Tata kembali.


"Gue gak habis pikir deh Lan, kok lho bisa jadian sih sama si cowok dingin plus nyebelin itu." ucap Tata masih emosi.


"Udah Ta, gak usah pikirin dia. Mending sekarang kita cari tau penyebab mereka jadi seperti itu."


"Ide bagus. Tapi caranya bagaimana?"


"Kita buntutin mereka dari belakang." jawab Bulan yang langsung diangguki oleh Tata.


Kring...


Bel pun berbunyi, menghentikan aktivitas masing-masing para murid dan berlarian ke kelas. Begitu pun dengan Bulan dan Tata, mereka berlari sekencang-kencangnya ke kelas sebelum guru mendahului mereka.


Namun di tengah perjalanan mereka, Tata tak sengaja bertabrakan seseorang.


"Lho gak papa kan?" tanya orang tersebut yang sangat familiar di telinga Tata.


Tata pun mendongakkan kepalanya. Ada rasa senang sedikit di hatinya bertemu dengan cowok ini. Langit yang menyadari bahwa cewek iti adalah Tata pun  menjauhkan tubuhnya dari tubuh Tata yang hendak berniat membantunya berdiri tadi. Kemudian pergi meninggalkan Tata dan Bulan begitu saja.


"Kak, Kak Langit!" teriak Tata yang tentu tak digubris olehnya.


Tanpa seizinnya, air mata lolos begitu saja dari mata Tata. Bulan pun langsung mendekatinya dan berusaha menenangkannya.


"Ya udah ke kelas yuk!" ajak Bulan yang melihat Tata sudah agak tenang.


Tata hanya menanggapinya dengan senyuman. Mereka pun berdiri dari duduk mereka dan mengibas-ngibaskan roknya dari debu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


Namun sesampainya mereka di depan kelas, ternyata guru sudah mengajar di dalam.


Tok tok tok.


Bulan mengetuk pintu kelas. Semua mata pun menoleh padanya dan Tata.


"Darimana saja kalian?" tanya Pak Andre.

__ADS_1


"Maaf Pak, kita dari kantin." jawab Tata berbohong.


"Karena kalian telat masuk, kalian saya hukum membersihkan gudang belakang sekolah." ucap Pak Andre.


"Siap pak." jawab Bulan dan Tata serempak.


Mereka pun melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu dan bergegas ke belakang sekolah. Dalam perjalanan mereka, mereka bercakap-cakap.


"Oh ya, lho heran gak sih masa' Surya gak ada di kelas tadi." ucap Tata yang mendapat anggukan dari Bulan.


"Bintang juga Ta," ucap Bulan membuat Tata menghentikan langkahnya.


"What? Serius lho Lan?" teriak Tata.


"Stt. Santai aja keles." ucap Bulan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Ups, sorry." Tata menutup mulutnya.


Mereka pun melanjutkan langkahnya.


"Aneh ya? Kok mereka barengan sih?"


Tak terasa mereka telah sampai di belakang sekolah. Namun pemandangan yang mereka di depan mereka terlihat menarik sehingga mereka menghentikan langkahnya dan bersembunyi di sebuah pohon. Mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan Surya dan Mentari di jam pelajaran seperti ini, di belakang sekolah pula.


"Ngapain mereka di sini?" tanya Tata.


"Pasti ada yang mereka sembunyiin nih, makanya ngomongnya di sini. Sepertinya ada yang tidak beres diantara mereka." jelas Bulan.


"Ya udah kita nguping aja yuk!" ucap Tata.


"Video-in, Video-in."


Tata pun mengeluarkan ponselnya dan mem-videonya.


"Terus, rencana lho bagaimana? Bagaimana caranya saya menghancurkan hubungan Bulan dan Bintang?" tanya Surya.


Tata dan Bulan yang mendengar itu pun menutup mulutnya rapat-rapat. Tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Oh my god, mereka mau ngehancurin hubungan lho sama Bintang, Bulan." ucap Tata pelan takut mereka menyadari keberadaannya.


"Bagaimana?"


"Kamu pura-pura jadiin Tata pacar kamu, lalu kamu bujuk dia supaya mempengaruhi Bulan agar menjauhi Bintang. Beres deh, gampang kan?" jelas Mentari.


"Dengan begitu, bukan hanya hubungan Bulan dan Bintang yang rusak, tapi juga dengan Tata." tambahnya.


"Wah, wah, gak bisa dibiarin nih. Lho dengar sendiri kan Lan, mereka mau mengadu domba kita." ucap Tata seketika emosi.


Ketika hendak beranjak dari tempatnya untuk menghampiri keduanya, Bulan dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.


"Lho mau kemana?" tanya Bulan.


"Mau menghampiri mereka lah, kasih mereka pelajaran." jawab Tata.


"Tahan dulu emosinya. Kita dengarin dulu semua omongan mereka. Okey?" ucap Bulan.


Tata pun luluh. Ia kembali duduk di tempat persembunyiannya.


Sementara itu, Bintang yang juga berada di tempat itu tak lupa juga memvideonya.


"Kalian gak akan bisa lolos dariku." gumamnya.


Hingga Surya dan Mentari pergi dari tempat itu. Bulan dan Tata pun bernafas lega karena mereka tak mengetahui keberadaannya.


"Untung saja." ucap Tata.


"Lho udah rekam kan?" Tata mengangguk.


"Oke, sekarang kita selesain hukuman kita."


Bulan dan Tata pun keluar dari persembunyiannya dan di saat yang bersamaan Bintang juga keluar dari persembunyiannya. Ketiganya sama-sama terkejut.


"Bintang?" ucap Bulan.


"Bulan? Ngapain kalian di sini?" tanyanya agak ketus.


"Lho sendiri ngapain di sini?" ucap Tata bertanya balik, tak kalah ketusnya.

__ADS_1


"G...gue la...lagi-"


"Lho pasti dengar kan pembicaraan mereka tadi?" potong Tata memastikan.


"Jadi kalian juga dengar. Atau..." ucap Bintang yang langsung diangguki oleh Bulan dan Tata.


"Iya kita udah tau semuanya." ujar Bulan.


"Gue gak habis pikir deh sama mereka. Apa tujuan mereka coba, menghancurkan hubungan kalian? Apalagi Surya  dia sahabat lho, Tang. Masa' tega sih sama sahabatnya sendiri." ucap Tata sambil mondar-mandir di depan Bulan yang sedang duduk manis di salah satu bangku di kelas dan Bintang  yang duduk di atas meja tempat Bulan duduk.


Ya, sehabis membersihkan gudang belakang sekolah, mereka memutuskan berkumpul di kelas untuk memecahkan teka-teki ini mumpung sekolah sudah sepi.


"Ini salah Mentari." ucap Bintang tegas.


Tata yang sedang mondar-mandir tersebut langsung berhenti dan menatap Bintang heran.


"Maksud lho?" tanyanya.


"Tata, logikanya kan gini," ucap Bulan yang dari tadi diam saja. Tata pun mengalihkan pandangannya pada Bulan.


"Secara Mentari kan, suka sama Bintang." Lanjut Bulan.


"Jadi maksud lho, Mentari mau hancurin hubungan kalian supaya dia bisa bebas deketin Bintang. Gitu?" ujar Tata dengan menekankan setiap kata yang ia ucapkan.


Bulan dan Bintang pun menganggukkan kepalanya bersamaan untuk menanggapi ucapan Tata.


Tata ikut menganggukkan kepalanya sambil membulatkan mulutnya sehingga mengeluarkan suara "Oh".


Ketiganya pun kembali terdiam. Terlena dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Tata kembali angkat bicara, memecah keheningan tersebut.


"Tunggu deh, kayaknya ada yang aneh," ucap Tata yang membuat Bulan dan Bintang tersadar dari lamunannya.


Bulan pun mengernyit heran.


"Apa?" tanyanya dengan alis yang hampir bertautan.


"Mentari kan sukanya sama Bintang, terus apa hubungannya dengan Surya? Mengapa Surya harus terlibat?" ucap Tata bertanya yang mampu membuat mereka kembali terdiam dalam beberapa saat.


Lima menit kemudian...


"Aku mengerti."


Bulan dan Tata pun mendongakkan kepalanya dan menatap Bintang dengan heran.


"Jadi Mentari itu akan menjadikan Surya kambing hitamnya." ucap Bintang menjawab keheranan teman-temannya.


Keadaan pun kembali hening. Mereka bergelut masing-masing dengan pikiran masing-masing.


"Iya kita tau soal itu Bintang. Kita tau kalau Mentari bakal jadiin Surya kambing hitamnya. Tapi permasalahannya, apa alasannya? Kenapa harus Surya? Kan, masih banyak yang lain." ucap Tata yang disetujui oleh Bulan.


"Gue tau," Bintang dan Tata pun langsung mengarahkan pandangannya kepada Bulan.


"Gue rasa Mentari bukan hanya mau merusak hubungan gue sama Bintang. Tapi juga sama persahabatan kita semua, antara gue dengan lho, dan antara Bintang dan Surya. Coba deh kalian pikir!" jelas Bulan yang disetujui oleh Bintang dan Tata.


"Benar. Apa yang Bulan bilang benar." ucap Tata sambil memandang Bintang. Sementara yang dipandang menganguk.


"Wah, enggak bisa dibiarin ini." ucap Tata.


Tata benar-benar emosi saat ini. Bulan pun bangkit berdiri dan segera mendekati Tata dan memeluknya dari samping.


"Jangan emosi! Kita pasti bisa gagalin rencana busuk mereka. Karena gue juga gak mau kehilangan sama sahabat kayak lho." Ucap Bulan sambil mengelus-elus punggung gadis itu agaf tenang.


Seketika wajah Tata berubah kembali menjadi ceria.


"Makasih ya." ucap Tata.


"Atas?"


"Udah mau jadi sahabat aku."


Mereka pun kembali berpelukan. Sementara Bintang, ia tampak terharu melihat dua sahabat yang sulit untuk dipisahkan ini.


Setalahnya, Bulan dan Tata pun melepaskan pelukannya dan kembali ke posisi awal.


"Jadi, gimana cara kita gagalin rencana mereka?" tanya Bulan entah tertuju pada siapa.


"Gue punya ide." sahut Bintang dengan senyuman smirk-nya.

__ADS_1


__ADS_2