
"Lan, lho gak papa kan?" tanya Tata yang baru saja masuk kelas bersama Surya.
"Iya gue gak papa." jawab Bulan dengan senyum paksa. Ia terpaksa berpura pura terlihat baik di depan sahabatnya, tanpa satu masalah pun. Namun tentunya Tata tak percaya dengan pernyataan gadis itu kalau ia baik baik saja. Mana ada sih orang yang baik baik aja kalau habis diadili?
Mungkin seperti itulah yang dipikirkan Tata.
"Ohh ya, si mak lampir bagaimana?" tanya Tata. Sebenarnya ia malas membahas tentang Mentari yang dijulukinya mak lampir itu.
"Maksud lho, Mentari?" ucap Bulan bertanya balik.
"Ya iya siapa lagi" jawab Tata yang agak kesal karena Bulan tak peka.
"Dia diskors selama satu minggu" jawab Bulan yang membuat Tata tertawa puas. "Kok malah ketawa?".
"Iya, tau nih si Tata. Gak jelas." Surya yang dari tadi diam pun angkat bicara.
"Ehh, ternyata ada Surya juga di sini" ucap Bulan terkekeh, ketika baru menyadari kehadiran Surya.
Tiba tiba Bintang masuk ke dalam kelas dengan wajah murung. Tata pun langsung menghentikan tawanya. Perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah tempat duduknya. Langkahnya tiba tiba berhenti tepat di depan mejanya sebelum duduk di bangkunya. Ia menatap kecewa cewek yang berada di samping belakang mejanya. Bulan yang mendapat tatapan seperti itu pun bertanya tanya dalam hatinya. "Gue punya salah ya sama dia, kok dia natapnya gitu sih?".
Sementara itu, Tata dan Surya yang tadinya jadi penonton, kini saling menatap dan memberi kode. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Tapi apa? Bulan yang melihat itu pun mengernyit heran, ia maksud kedua orang tersebut.
"Ada apa?" tanya Bulan tiba tiba sambil menatap dua orang tersebut secara bergantian. Tata dan Surya pun menghentikan aktivitasnya.
"Eng... Enggak kok" ucap Tata terbata bata.
"Benaran?" ucap Bulan memastikan.
"Iya, benaran Lan. Gak ada apa apa kok". Surya pun angkat bicara ,untuk meyakinkan Bulan, agar ia tak merasa curiga.
Bulan pun hanya manggut manggut meskipun ia masih belum percaya dengan pernyataan kedua orang tersebut.
"Ya udah kita keluar bentar ya" ucap Tata tiba tiba setelah memberi kode yang kedua pada Surya.
"Mau kemana?" tanya Bulan yang tak mendapat jawaban dari kedua sosok tersebut. "Gue ikut".
__ADS_1
"Gak, lho gak boleh ikut" ucap Tata menolak.
"Ya kok gak boleh sih" ucap Bulan kesal.
Tata pun tak menggubris ucapan Bulan. Ia langsung menarik pergelangan tangan Surya keluar kelas, mengajaknya pergi dan entah dibawanya kemana. Kini tinggal Bulan dan Bintang pun yang berada dalam kelas tersebut. Keadaan pun berubah jadi hening. Tak ada pembicaraan sekalipun. Tampaknya keduanya masih terlihat canggung dan cuek setelah kejadian itu. Apalagi Bulan, masalahnya saja dengan Bintang belum selesai, ehh sudah dapat masalah yang baru.
Tiba tiba suara notifikasi dari handphone Bulan memecah keheningan tersebut. Bulan pun merogoh handphonenya yang berada dalam saku bajunya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Tata" gumamnya sambil manggut manggut saat melihat pengirim pesan itu. Ia pun kemudian membaca isi pesannya.
"Lan, tolong ambilin gue buku novel yang ada di tasnya Surya dong. Habis tuh lho ke sini nyusul gue di belakang sekolah".
"Tata gila ya, udah tau gue lagi berantem sama Bintang ehh malah disuruh buat ambil buku novel di tasnya Surya. Mereka kan satu meja, gimana cara ngambilnya?" batin Bulan agak kesal setelah membaca pesan dari Tata. Ingin juga ia bantu Tata, namun di sisi lain ia masih cuekan sama Bintang.
Tiba tiba handphone Bulan kembali berbunyi. Ia pun kembali mengeceknya. Pengirimnya masih sama, Tata. Ia pun membaca isi pesannya.
"Lho gak mau ambilin gue Lan. Ya udah deh gak usah. Tapi jangan harap ya kita bisa sahabatan lagi".
Bulan pun berdecak kesal.
Kemudian, ia bangkit dari tempat duduknya. Ia menarik nafasnya dalam dalam, kemudian menghembuskannya keluar dengan kasar. Setelah itu ia beranjak dari bangkunya dengan malas dan menghampiri Bintang, maksudnya mejanya.
"Yes berhasil" ucap seseorang girang dari balik jendela.
"Hay" sapa Bulan agak canggung. Ia terpaksa menyapa Bintang terlebih dahulu. Tidak mungkin kan ia langsung ceplas ceplos aja. Entar dikira mau maling lagi.
Bintang pun menatap ke arah Bulan. Kemudian menampilkan wajah senyumnya.
"Jangan senang dulu. Gue ke sini mau ambil novel yang ada di tasnya Surya, bukan untuk maafin lho" ucap Bulan menjelaskan sebelum cowok itu salah paham dengan kedatangannya. Senyum Bintang pun tiba tiba pudar, dan berubah jadi murung.
"Ya udah, ambil aja" ucap Bintang yang kemudian tak peduli lagi dengan apa yang sedang dilakukan gadis itu.
Bulan pun membuka tas Surya dan mengambil sebuah novel. Tak sengaja membaca judul buku sampul novel tersebut. "Ketika Bulan dan Bintang bersatu". Bulan pun langsung tersenyum kala membaca judul novel tersebut. Tiba tiba sebuah pertanyaan muncul dipikirannya.
"Emang Bulan sama Bintang bisa bersatu?".
__ADS_1
Ia pun membuyarkan lamunannya itu lalu menutup kembali tas Surya, sebelum beranjak dari tempat itu.
"Ya, kok gak mempan sih." ucap seseorang yang dari tadi mengintip kedua orang tersebut lewat jendela.
"Gagal dong rencananya" tambah temannya lagi yang berada di samping. Yang ini suara khas cowok.
"Tenang aja, kita kan masih punya satu rencana lagi. Dan kali ini gak boleh ada kata gagal" ucap yang cewek itu dengan tegas.
Yang cowoknya itu pun hanya mengiyakan saja.
Baru beberapa detik kepergian Bulan dari kelas, handphone Bintang tiba tiba berbunyi. Bintang pun langsung mengeceknya. "Tumben tumbenan nih anak chat gue" gumama Bintang sembari membaca isi pesan tersebut.
"Tang, tolongin gue. Gue lagi disekap sekarang di gudang belakang sekolah. Cepatan ke sini sebelum mereka habisin gue. Cepat Tang.".
Tanpa berpikir panjang Bintang pun langsung berlari ke arah belakang sekolah. Ia tak mau Surya sampai kenapa napa. Sementara itu, kedua sosok yang dari tadi mengintip di jendala itu pun tertawa lepas.
Sementara itu, Bulan yang sudah sampai di belakang sekolah, berdecak kesal karena tak mendapati Tata di sana.
"Kayaknya gue ditipu nih. Wah keterlaluan tuh anak" ucap Bulan pada dirinya sendiri. Ia benar benar marah pada Tata sekarang. Mana cara ambilnya susah lagi, hafus berhadapan dulu sama Bintang. Ehh, nyata nyatanya malah ditipu. Sial!
Bulan pun beinisiatif untuk balik ke kelas. Namun saat ia membalikkan badannya, tiba tiba seseorang datang menabraknya. Bulan pun tersungkur di lantai.
"Lho gak papa kan?" tanya orang yang menabrak Bulan tersebut sambil menghampirinya. Kemudian menyodorkan tangannya untuk membantu Bulan berdiri.
Bulan pun menatap wajah cowok itu. "Bintang". Dia pun kembali diam.
"Gak usah pikir macam macam, gue cuma bantuin lho gak ngeharapin maaf dari lho." lirihnya yang langsung membuat Bulan menatapnya kembali.
"Jadi Bintang gak ngeharapin maaf lagi dari gue" gumam Bulan frustasi.
Tiba tiba muncul rasa takut kehilangan di hati Bulan. Ia takut kehilangan Bintang. Mau dimaafin, ehh terlanjur Bintang tak mengharapkan maaf lagi darinya. Gimana ini?
Bulan pun langsung meraih tangan cowok itu. Setelah Bulan berdiri, Bintang pun langsung meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Jadi benaran Bintang gak ngeharapin maaf lagi dari gue" batinnya.
__ADS_1
"Ya, rencananya gagal lagi".