Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 18. Permintaan Maaf


__ADS_3

Sudah satu hari, Bulan dan Bintang menjalin hubungan percintaan. Namun tampaknya biasa biasa saja. Tak ada masalah diantara keduanya tersebut. Kecuali satu, restu dari orang tua mereka. Itulah yang menjadi beban mereka sekarang. Apalagi ayahnya Bulan, bukankah sungguh membenci Bintang?


"Nanti pulang bareng aku ya" ucap Bulan di sela sela kegiatan pembelajaran. Tentunya berbisik atau berbicara dengan pelan. Kalau tidak sudah ****** ia di tangan gurunya.


"Biasanya juga pulang bareng. Kenapa baru ngajakim sekarang? Kemarin aja kemana?" ucap Bintang yang membuat Bulan mendengus kesal.


"Kamu gak peka banget sih" ucap Bulan kesal.


"Terus, maksudnya gimana?". Bintang tak kalah kesalnya dengan cewek itu.


"Maksud aku itu, nanti kalau kita pulang, kamu mampir ke rumah aku dulu ya." jawabnya menjelaskan.


"Iya, iya" jawab Bintang asal. "Tapi tunggu dulu deh." tiba tiba ia ingat sesuatu.


"Apalagi?" tanya Bulan kesal, karena kefokusannya dengan pelajaran pun terganggu.


"Bokap lho kan gak suka sama aku, beb" jawabnya memelas.


"Nah, justru itu," timpal Bulan.


"Justru itu bagaimana? Kamu mau bikin akuati di tangan bokap lho?" tanya Bintang tak mengerti maksud Bulan.


"Bukan itu ******. Makanya dengerin baik baik dulu. Jangan langsung ambil kesimpulan aja. Ngerti gak?" ucap Bulan sudah sangat kesal dengam cowok yang di sampingnya ini. Seandainya guru tidak di dalam, pasti dia sudah menjambak rambut cowok tersebut.


Bintang pun hanya mengangguk paham.


"Maksud gue itu, supaya kamu bisa lebih akrab sama bokap gue" ucap Bulan dengan emosi yang tertahan.


"Hey kalian, ngomong apaan berdua?" tanya Bu guru tiba tiba, yang membuat kedua sosok manusia tersebut langsung menjawab, "Kita bu" ucap mereka sambil menunjuk dirinya.


"Iya siapa lagi? Emang ada yang lain apa, bisik bisik di kelas ini selain kalian?" jawab guru tersebut dengan kesal.


"Ya maaf bu" jawab mereka kompak.


"Kalain bahas apaan?" tanya Bu Guru itu kepo.


"Ya, bu guru kepo amat. Ganggu orang pacaran aja Bu" ledek seorang siswa yang langsung diikuti tertawaan anak anak satu kelas. Bulan pun hanya bisa tersenyum malu. Ya karena itulah kenyataannya.


"Stt, diam diam" ucap Bu guru sambil memukul mukul meja agar murud muridnya diam. Kelas pun kembali menjadi hening.


Tak terasa waktu terus berlalu, hingga bel tanda pulang pun berbunyi juga. Ia pun keluar kelas bergandengan tangan dengan Bintang. Tentu itu membuat sebagian teman temannya yang cewek merasa baper dan yang lainnya merasa iri.


Ketika mereka sampai di depan pintu gerbang, tiba tiba seorang cewek yang tak dikenalnya datang menghampiri mereka. Bulan mentaksirnya kalau dia itu adek kelasnya.


"Siang kak" sapa adek kelasnya yang tak dikenalnya itu.


"Kamu siapa ya? Kok gue gak kenal?" tanya Tata.

__ADS_1


"Kenalin gue Kak. Karin anak kelas X IPA2" jawabnya menjelaskan.


"Bulan" balas Bulan singkat.


"Ada apa?" Tanyanya lagi. Ia tak suka basa basi.


"Ini Kak, ada yang nitipin surat buat Kakak. Gue sih kurang terlalu kenal orangnya. Cuman dia bilang, tolong berikan ini kepada Bulan Purnamasari, Kelas XI IPA 1." jelas Karin sambil memberikan sepucuk surat kepada Bulan.


"Tapi kok lho tau ya, kalau gue Bulan Purnamasari?" tanya Bulan heran.


"Kan, gue baca papan nama kakak" jawab Karin polos.


"Ohh iya" jawab Bulan sambil memukul dahinya. Kemudian hendak membuka dan membaca isi surat tersebut, namun langsung dilarang oleh Karin.


"Jangan baca dulu kak. Sesuai perintah sang pengirim, kakak boleh membacanya kalau di rumah nanti. Ya udah gue balik duluan ya kak." ucap gadis tersebut yang kemudian berlalu dari parkiran itu.


"Makasih ya" ucap Bulan setelah punggung gadis itu sudah tak tampak lagi.


"Dari siapa?" tanya Bintang pura pura tak mengerti, padahal dia mendengar percakapan kedua gadis tersebut.


"Gak tau" jawab Bulan polos.


"Kalau gak tau kenapa di terima?" tanya Bintang sengaja memancing emosi Bulan. Tapi ternyata Bulan lagi gak mood sekarang buat bercanda.


"Siapa tau penting" jawab Bulan yang mampu membuat cowok itu diam juga.


"Jadi ceritanya ngambek nih?" tanya Bulan sekaligus meledek, kemudian tertawa terbahak bahak.


"Gak usah ngeledek deh" ucap Bintang tak suka.


"Ya, makanya jangan ngambek terus. Ayo senyum" Ujar Bulan.


"Ya udah, aku senyum ini" ucapnya kemudian membalikkan badannya ke belakang untuk memperlihatkan senyumnya kepada Bulan.


"Gimana bisa liat ******. Kamu tuh pake helm" ucapnya sambil memukul helm Bintang dengan keras, tak peduli jika cowok itu memarahinya.


"Aduh sakit, beb" ucapnya agak manja.


"Duh sakit ya. Sorry ya beb, aku gak sengaja". Bintang senang bukan kepalang. Baru kalai ini, ia mendengar kata itu keluar dari mulut sang pacarnya, yang telah resmi jadian kemarin.


"Kamu bilang apa barusan? Beb? Aku gak salah dengar kan?" tanyanya pada Bulan, tentu cewek itu terpipu malu.


"Emang kenapa, salah ya?" jawabnya balik bertanya.


"Cie, udah manggil bebeb bebeb aja. Besok manggilnya apa nih? Sayang? Cie." goda Bintang sekaligus ledekannya.


Bulan pun mendengus kesal. Kemudiam memukul kembali helm Bintang.

__ADS_1


Lagi lagi, Bintang meringis kesakitan. "Sakit sayang".


"Ya, makanya. Jangan ledekin terus" jawab Bulan yang setelahnya tak ada lagi percakapan diantara keduanya hingga mereka sampai di depan rumah Bulan. Mereka pun turun dari motor. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu. Ketika hendak membuka pintu, tiba tiba Bintang menghentikannya.


"Lan, aku pulang aja deh. Perasaan aku jadi gak enak nih. Besok besok aja ya." ucapnya memohon.


"Ya udah deh kalau kamu belum siap" jawab Bulan pasrah. Ia tidak boleh egois, memaksakan Keinginanny sendiri tanpa memperhatikan perasaan orang lain.


Bintang pun melangkahkan kakinya ke arah motor. Namun mungkin baru selangkah kaki Bintang, pintu rumah Bulan tiba tiba terbuka. Yang pastinya bukan Bulan yang membukanya. Bintang pun terpaksa menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kembali.


"Bulan, kamu udah pulang sayang" sapa Bu Mila yang tiba tiba muncul dari balik pintu.


"Iya, Ma." sapanya sambil menyalami tangan mamanya.


"Hai tante, apa kabar?" sapa Bintang, kemudian ikut menyalami tangan mamanya Bulan.


"Ehh, ada nak Bintang juga. Kabar naik nIk." ucapnya ketika baru menyadari kalau Bintang ada di situ. "Ya udah masuk yuk. Bulan ajak Bintang masuk." ajaknya kemudian.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan tengah. Di sana ternyata sudah ada Pak Irwan yang rupanya dari tadi menunggu kedatangan putrinya itu. Bulan pun langsung menyalami tangan ayahnya. Ia memang lagi benci sama ayahnya. Namun itu  bukan membuatnya menjadi anak yang durhaka. Bintang pun mengikuti apa yang dilakukan Bulan dengan sedikit agak ragu.


Pak Irwan langsung memeluk Bulan dengan erat. Bulan berusaha melepaskan pelukannya, namun ayahnya itu memeluknya lebih erat.


"Pa, Papa kenapa? Ada apa?" tanya Bulan heran mendapat perlakuan dari ayahnya seperti itu, yang sangat tidak biasanya. Bahkan bisa dibilang tidak pernah.


"Papa minta maaf ya nak. Ternyata selama ini cara Papa mendidik kamu itu salah. Papa terlalu keras dan tegas. Tanpa memperhatikan sendiri akibat yang ditanggung anaknya sendiri karena keegoisannya" jelasnya.


"Udahlah Pa, gak usah ungkit ungkit lagi masalah itu. Lagian, Bulan udah maafin kok. Tapi kok Papa bisa berubah begini sih?" ucap Bulan bertanya balik.


"Ini semua karena Tata, Bulan. Teman kamu  yang satu itu. Ia sudah membukakan pintu hati Papa Bulan. Ia menyadarkan papa dari semua ini Bulan. Kamu harus berterima kasih kepadanya, Nak." jawab Pak Irwan menjelaskan, tak terasa air mata menetes di pipinya begitu saja.


"Hah? Tata?" ucap Bulan tak percaya. Bagaimana bisa Tata mengetahui latar belakang kehidupannya, padahal dBulan sendiri tak pernah menceritakannya pada siapapun, kecuali Langit. Ya, hanya cowok itu yang mengetahui masalahnya dalam keluarganya. Aneh, bukan?


Pak Irwan mengangukkan kepalanya. "Dan, bukan hanya itu Bulan. Ia juga memneritahu saya kalau Bintang itu anak baik baik. Saya sempat tak memercayainya,


namun ia memperlihatkan sendiri bukti buktinya bersama temannya yang satu, yang Papa lupa lagi namanya." jelasnya lagi.


"Hah? Temannya yang satu? Siapa Pa? Surya" tanyanya pada ayahnya.


"Bukan itu" jawab Pak Irwan cepat. "Namanya itu La... " belum sempat selesai ia berbicara, Bulan sudah lebih dulu memotongnya.


"Langit, Pa maksudnya?" jawab Bulan seakan bertanya.


"Iya, namanya Langit. Papa baru ingat" ucap Pak Irwan.


"Pantes aja Tata tau permasalahan keluargaku, ternyata ada Langit juga" batinnya.


"Kok bisa Pa, bagaimana ceritanya?"

__ADS_1


__ADS_2