Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 49. Hidup di Dua Dimensi?


__ADS_3

“Lan, ke kantin yuk!”


Bulan yang sedang sibuk mengemasi peralatan tulisnya yang ada di atas meja lalu dipindahkan ke dalam tas punggungnya, mendongak kala mendapati sebuah ajakan dari sampingnya.


Sedikit kerutan di dahi gadis itu kala mendapati Bintang lah sang pelaku. Cowok itu sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan bersedekap di dada.


“Umm... enggak deh,” tolak Bulan secara halus.


Cowok itu manggut-manggut. “Ya udah, gue duluan ya!” pamitnya yang langsung mendapat anggukan dari Bulan.


Bulan mengerjapkan mata. Deru napas memburu terdengar memenuhi kesunyian di malam itu. Raut pias tak bisa dihindari menghias wajah.


Bulan melirik jam weker di atas nakas. Waktu tepat menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Lagi dan lagi, Bulan terbangun dari tidur di larut malam. Mimpi aneh yang terasa nyata kembali menghampiri dan menganggu tidur nyenyaknya.


Sebuah adegan yang terasa tak asing kembali berputar di ingatan seolah mengingatkan bahwa adegan tersebut pernah terjadi. Namun, Bulan lupa kapan dan dimana. Kondisinya sekarang, Bulan seperti seseorang lupa ingatan yang sedang mengumpulkan sisa-sisa ingatannya yang hilang.


Ini aneh. Bukan sekali dua kali Bulan mengalami hal ini. Hampir tiap malam memimpikan hal serupa, atau lanjutan adegan yang tertunda di mimpi sebelumnya.


Dan, satu hal yang mengganjal pikiran Bulan saat ini. Wajah blur para tokoh yang ada dalam mimpinya mulai terlihat dengan jelas. Hal yang berhasil membuat Bulan bungkam di tempat dengan seribu pertanyaan memenuhi kepala.


Mengapa sosok lelaki yang menjadi pemeran utama dan menjadi pasangannya dalam mimpi aneh itu adalah Bintang Prawijaya, teman sekelas yang baru dikenal Bulan seminggu yang lalu?


Lalu, ada Renata, Surya, Langit, dan juga ... Mentari.


Sebenarnya, apa maksud mimpi itu?


“Apa mungkin gue pernah hidup di dimensi lain? Dan ... mimpi ini adalah bagian dari adegan yang gue lakukan di sana?” gumam Bulan pada diri sendiri.


Gadis itu mengernyitkan kening berpikir keras sambil menggigit ujung jari telunjuk. Lalu geleng-geleng kepala.


“Enggak! Ini enggak waras. Bagaimana bisa pikiran gue bisa nyemplung ke sana?” Bulan mencoba menepis kasar semua praduga itu karena terkesan tidak masuk akal.


“Mimpi itu hanya bunga-bunga tidur, kan?” tanya gadis itu pada diri sendiri.


Lanjut menganggukkan kepala. “Ya, bunga-bunga tidur.”


Setelah hati dan akal sehatnya berperang cukup lama karena ketidakkompakan, barulah gadis itu kembali tidur. Meski pada kenyataannya mata susah sekali terpejam.


***


Pagi yang cerah menyambut hari Bulan yang ceria. Wajah berseri-seri itu keluar dari rumah dan menghampiri seseorang yang sudah menunggu sejak tadi di depan rumah.

__ADS_1


Begitu gerbang rumah terbuka, senyum di bibir Bulan kian mengembang. Seorang cowok dengan seragam sekolah putih abu yang terbalut di balik hoodie putih sedang menunggangi motor sport. Gayanya yang keren seolah tiada henti membuat Bulan jatuh hati padanya.


“Halo cantik,” sapa cowok itu dengan kurang ajarnya menggombal.


“Hai.” Bulan tersipu malu ketika membalas sapaan cowok itu. Dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang daun telinga.


“Yok, berangkat. Sebelum aku cosplay jadi tukang ojek online yang kepincut cinta anak sultan,” ujar cowok itu lagi seolah tiada henti untuk menggombal sang kekasih.


Bulan yang sudah naik di jok belakang menepuk pelan pundak cowok itu. “Ish! Bi enggak jelas banget, sih!” gerutunya sok sebal.


Si cowok tergelak dengan tingkah Bulan yang malu-malu mau. Menghiraukan gerutuan gadisnya, dia menarik kedua tangan Bulan dan melingkarkannya di pinggang dengan sempurna.


Bulan yang terkejut hanya bisa menyembunyikan wajah di balik pundak cowok itu. Kemudian menopangkan dagu di sana ketika motor sudah melaju membelah jalanan raya.


Senyum tiada lepas dari wajah semringah itu. Degupan jantung yang menggila tak kalah turut menemani perjalanan yang tak biasa bagi mereka.


Setahun yang lalu sudah berlalu. Pada akhirnya, Bintang Prawijaya si badboy sekolah berhasil meluluhkan hati Bulan Purnamasari si murid berprestasi. Bintang berhasil mencairkan es yang sudah membatu dalam diri gadis itu.


Sejak seminggu yang lalu, mereka sudah meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Hal yang menghebohkan SMA Mahardika seantero sekolah.


“Tumben, kamu jemputnya lebih pagi dari biasanya,” cicit Bulan di tengah perjalanan, mengungkap sedikit keanehan di pagi ini.


“Aku kan pengen perlihatkan ke kamu kalo aku bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku pengen kamu tuh lihatnya aku sebagai pacar yang baik,” kata Bintang seraya melirik sekilas ke belakang. Tangan Bulan yang melingkar di pinggang, Bintang usap dengan lembut.


Bulan terperangah dengan perlakuan lembut penuh sayang itu sampai membuat bulu kuduknya merinding. Perlu kalian ketahui bahwa ini pengalaman pertama Bulan dalam berpacaran. Bulan tidak pernah dekat dengan lelaki sebelumnya selain Bintang. Hanya cowok itu yang mampu mengubah perspektif Bulan bahwa Bulan tidak akan pernah jatuh cinta selama duduk di bangku putih abu.


“Terima kasih, Bintang. Kamu sudah melakukan yang terbaik.”


Bulan mempererat pelukannya pada Bintang.


Setelah belasan menit mereka tempuh di perjalanan, akhirnya sepasang kekasih itu tiba di sekolah. Kedatangan keduanya di parkiran sekolah menjadi pusat perhatian murid-murid.


Sekolah seketika menjadi heboh. Desas desus terdengar memenuhi lorong sekolah saat keduanya melintas di koridor sambil bergandengan tangan. Ada yang heboh sampai meneriaki pasangan kekasih itu, juga ada yang terang-terangan mencaci Bulan karena merasa tidak pantas bersanding bersama Bintang. Akan tetapi, Bulan maupun Bintang menghiraukan bualan itu.


Keduanya terus berjalan hingga langkahnya mentok di depan sebuah kelas. Saling melirik lanjut melempar senyum, lalu dua murid berbeda gender itu melangkah masuk ke dalam kelas.


“Good morning, gesss! I and my princess is coming!” seru Bintang di depan kelas.


Perhatian murid-murid langsung tertuju pada mereka berdua. Sorakan disertai siulan menggoda memenuhi ruang kelas. Bulan hanya bisa tersenyum malu menanggapi candaan teman sekelasnya.


Di antara sorakan itu, ada satu tatapan  datar yang tersirat akan ketidaksukaan mengarah padanya. Hanya orang itu yang diam mematung sambil bersidekap dada di bangkunya saat semua murid menyoraki Bulan dan Bintang. Cemburu. Satu kata yang mendefinisikan keadaannya.

__ADS_1


Hingga ketika bola mata Bulan tak sengaja bertemu dengan netra kelam milik orang itu. Bulan terenyuh di tempat. Seketika bungkam di tempat bak patung pajangan.


Setelah mata pelajaran pertama dan kedua di hari itu selesai, tiba saatnya jam istirahat. Semua murid berlalu keluar kelas dan berlomba-lomba untuk mengambil tempat di kantin. Tidak jauh beda dengan Bulan dan Bintang yang kini sedang terburu-buru menuju kantin sebelum mereka kehabisan tempat. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba Bulan ingin buang air kecil.


“Ada apa?” Bintang menoleh saat langkah Bulan terhenti.


“Bi, aku ke kamar kecil bentar, ya. Kebelet mau buang air,” katanya melepas tangan Bintang yang digenggamnya.


Bintang mengangguk. Lanjut senyum jahil terbit di bibir sebelum Bulan berlalu. “Mau kutemani?” tawarnya sengaja menggombal.


Bulan melotot tajam. “Bintang!” serunya mewanti-wanti.


Dan sialnya, cowok itu hanya menyengir tanpa dosa.


Bulan kemudian berlalu menyisakan Bintang yang juga kini berjalan duluan ke kantin untuk mengambil tempat.


Sementara itu, Bulan yang baru saja keluar dari toilet menghela napas karena merasa sudah lebih lega dari sebelumnya.


“Renata?” sebutnya dengan kernyit heran di dahi.


Langkah gadis itu seketika terhenti saat di depannya sudah dihadang oleh seorang gadis sambil bersidekap dada.


Gadis yang dipanggil Renata itu mendengus. Bibir tak henti menyungging senyum sinis. Dia mengangkat satu alis dan bertanya, “Kenapa? Kaget lo?!”


Refleks Bulan menggeleng. Renata yang maju selangkah membuat Bulan memundurkan langkah. Jantung berdebar-debar kencang. Ketakutan jelas-jelas tampak di kedua bola mata Bulan. Hingga badannya mentok di tembok bercat putih di belakang.


Sang lawan tersenyum penuh kemenangan melihat raut pias itu. “Oh, takut?” selidiknya.


Wajah itu perlahan berubah tampak menyeramkan saat tangan terangkat mencengkeram dagu Bulan. Senyum sinis pun telah pudar berganti wajah garang yang mampu membuat segan siapapun yang menatapnya.


“Mulai berani, ya, lo sekarang. Mentang-mentang udah pacaran sama si Bintang.” Gadis itu mendengus. Sementara Bulan sudah mencicit takut.


Menyentak dagu Bulan dan kembali berkata tegas, “Gue peringatin ya, sama lo enggak usah banyak tingkah! Setelah rebut kepopuleran gue di sekolah, sekarang lo rebut milik gue juga?! Sialan lo emang!”


“Awas lo!” peringatnya penuh ancaman.


Lepas memberi tatapan tajam dan membenturkan kepala Bulan pada dinding toilet, Renata berlalu dari sana. Meninggalkan Bulan yang kini meringsut takut di bawah lantai depan toilet.


“Lo kenapa berubah, Ta?” cicitnya lemah.


***

__ADS_1


__ADS_2