
Di sebuah ruangan yang didominasi oleh chat putih, Bulan memegangi kepalanya yang terasa perih. Pening tiada tara seketika menghantam kepala gadis itu ketika sedang melintas di koridor sekolah hendak ke kantin. Mungkin efek benturan di tembok oleh Renata.
Bintang sudah menunggunya saat itu. Makanya terburu-buru meski langkah tertatih. Hingga pada akhirnya Bulan yang tidak dapat menahan rasa sakit itu tumbang di jalan. Murid-murid yang kebetulan ada di koridor saat itu histeris dan membawa Bulan ke ruangan UKS.
Bulan memijit pelipisnya yang masih berdenyut nyeri. Ingatan gadis itu kembali memutar beberapa adegan yang terjadi di pagi hari ini. Pertama, Bintang yang menjemputnya ke rumah dan status hubungan mereka sudah resmi pacaran. Lalu yang kedua, sikap Renata yang tiba-tiba berubah padanya. Teman sebangku yang sudah dianggapnya sahabat itu seketika berubah menjadi iblis yang akan menghabisinya kapan saja.
Tidak! Bagaimana semua hal mustahil itu terjadi?
Gadis itu mengerjapkan mata. Lanjut menggelengkan kepala, menolak telak semua yang terjadi pagi ini. “Tidak, ini pasti ada yang salah!” tuturnya menegaskan pada diri sendiri bahwa semuanya hanyalah halusinasi semata.
Brukkk!
Pintu ruang UKS yang dibuka dengan begitu kasar mengembalikan kesadaran Bulan. Sontak menoleh ke arah pintu. Mengernyitkan kening kala mendapati raut cemas Bintang yang tak biasa.
Lelaki itu mendekat menghamburkan lamunan Bulan yang sejenak tercipta.
“Bintang ...?” cicit Bulan pelan.
Bibir gadis itu langsung bungkam dengan napas tertahan. Jangan lupakan Degupan jantung yang menggila. Bintang yang tiba-tiba menghambur ke pelukan berhasil membuat kejut jantung pada Bulan.
“Kamu enggak papa, kan, babe?” tanya Bintang parau. Suaranya teredam dalam pelukan Bulan. Namun, tak bisa dipungkiri tersirat akan kekhawatiran dari nada bicaranya.
Bulan meremang mendengar nama panggilan dari Bintang. Babe?
Secepat itukah waktu berlalu dan mengubah segalanya? Termasuk perasaan Bulan yang dengan mudah dimenangkan oleh Bintang? Bahkan dulu tak pernah sedikit pun tersirat dalam hatinya untuk jatuh hati pada laki-laki dalam pelukannya saat ini.
“A-aku ... gue baik-baik aja, kok, Tang.”
Bulan hampir saja terbawa suasana. Jujur, dia belum terbiasa pakai aku-kamu. Tadi pagi saja, dia seperti dikendalikan oleh sesuatu untuk terus berkata aku-kamu. Setiap akal sehat Bulan kembali dan ingin menolak gejolak aneh itu. Pada akhirnya kalah oleh bibir yang asal ceplas-ceplos. Walau demikian, tangan Bulan tetap terangkat yang dengan refleks mengusap punggung tegap milik lelaki itu. Tak lain adalah sebagi bentuk rasa terimakasih atas kekhawatiran Bintang padanya.
“Harusnya kamu lawan Renata. Jangan biarin dia makin berulah dan bikin geram,” kata Bintang dengan nada lembut.
“Tapi, Bi---”
“Apa? Dia sahabat kamu?” pungkas Bintang yang seakan paham dengan arah ucapan Bulan.
Lelaki itu mengurai pelukannya. Beralih memegang kedua pundak sang gadis dan menatap lekat kedua bola matanya.
__ADS_1
“Dia udah keterlaluan, Lan. Kamu enggak bisa diam aja!” Bintang sedikit menyentak. Bukan niat untuk membentak gadis yang dicintainya, tetapi untuk menegaskan bahwa Renata memang sudah harus ditindaktegasi.
Mendengarkan Bintang menasehatinya, fokus Bulan hanya pada kedua netra hitam sosok di depannya. Tidak bisa mengelak lagi bahwa Bulan terpesona dalam netra kelam yang kini memancarkan sorot khawatir itu.
“Tapi dia tetap sahabat aku, Bintang,” elak Bulan terus mencoba untuk membela Renata.
Bintang menggeleng keras. “Tidak ada sahabat yang rela melukai sahabatnya sendiri.”
Baik, kali ini Bulan membenarkan ucapan si badboy sekolah itu.
“Udah, sekarang kamu istirahat. Kamu belum pulih total. Aku bakal temanin kamu di sini,” kata Bintang.
Lelaki itu membantu Bulan untuk membaringkan badannya kembali ke brankar UKS. Sembari duduk di samping brankar, Bintang tiada henti mengulum senyum. Dia meraih kedua tangan Bulan dan mengusapnya lembut berharap bola mata cantik milik gadis itu terpejam.
“Tapi, Bi. Aku harus kembali ke kelas. A-aku harus belajar. Jangan sampai Papa tahu kalo aku bolos dari jam pelajaran ...,” cicit Bulan dengan sorot ketakutan di kedua bola mata.
Senyuman di bibir Bintang kian terukir lebar. “Udah, enggak usah khawatir. Papa kamu udah tahu kok,” ujar Bintang dengan santai.
Sontak, bola mata Bulan membulat sempurna. Sontak bangun dari posisi baringnya. “Apa?!” pekiknya tak tanggung-tanggung sampai membuat Bintang menyumpal telinga dengan tangan.
Namun, ucapan Bintang selanjutnya mampu membuat Bulan makin melebarkan matanya. Terkejut untuk yang kedua kalinya.
“Papa kamu dalam perjalanan kemari. Aku sempat hubungi tadi. Dia mau jemput kamu terus bawa ke rumah sakit katanya.”
***
Bintang tidak membual dengan ucapannya. Tak berselang jam setelah ucapan Bintang, Irawan benar-benar datang menjemputnya. Untuk pertama kalinya, raut yang selalu menatapnya datar itu berubah menjadi raut cemas dan penuh kasih sayang.
Kini, Bulan dan sang ayah sudah berada di atas rumah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bulan tiada henti merecoki sang ayah bahwa dia baik-baik saja.
“Pa, enggak usah berlebihan, deh. Bulan tuh baik-baik aja. Percaya, deh!” tutur Bulan lagi, mengulang ucapan yang sama berulang kali.
Irawan yang sedang fokus menyetir melirik putri semata wayangnya yang duduk di sebelahnya. “Enggak usah banyak protes, Bulan. Papa harus pastikan kamu dalam kondisi baik-baik saja,” sahutnya tegas.
Bulan memutar bola mata malas. Gadis itu melengoskan pandangan keluar jendela. Sudah muak berdebat dengan sang ayah yang ternyata sikapnya masih sama seperti dulu. Keras kepala. Dan, sepertinya tidak akan pernah bisa berubah.
Dalam kebisuan gadis itu, diam-diam memikirkan semua kejanggalan yang terjadi hari ini. Mengapa Renata bisa berubah membenci dirinya? Sedangkan Bulan tidak tahu dimana letak kesalahannya.
__ADS_1
Tadi saja, saat Bintang menemaninya masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas sekaligus minta ijin pada guru yang sedang mengajar untuk pulang duluan. Bola matanya tak sengaja bersitatap lagi dengan gadis itu. Hanya raut sinis yang Bulan dapat. Setelahnya Renata melengoskan pandangan, muak.
Lalu, kenapa sikap sang ayah tiba-tiba berubah perhatian seperti ini? Sejak kapan dia dengan terang-terangan mengungkapkan rasa khawatirnya secara terang-terangan?
Itu mustahil bagi seorang Bulan.
Aneh! Mengapa keadaan berbanding terbalik sekarang?
Tidak! Bukan keadaan yang berbanding terbalik. Tetapi, Bulan yang baru sadar akan suatu hal.
Gadis itu menggeleng dalam diam. “Ini bukan dunia gue. Ini bukan dunia asli seorang Bulan Purnamasari. Sepertinya gue terjebak di dunia lain,” gumamnya pelan nyaris terdengar.
Tiba-tiba kepalanya kembali berdegung hebat. Bulan berteriak kencang melampiaskan rasa sakitnya. Bulan merasakan saat ini kepalanya serasa ingin pecah.
Irawan langsung menghentikan laju mobilnya di sebuah pinggir jalan dan menatap simpati Bulan di sampingnya.
“Bulan, are you okey?”
Samar-samar, suara sang ayah terdengar sepintas dalam telinga Bulan sebelum kesadarannya hilang. Tubuh lemah gadis itu ambruk ke depan menabrak dashboard mobil membuat Irawan menyerukan namanya.
Lantas, meraih pundak Bulan dan menyandarkannya ke jok sandaran. Beberapa kali menepuk pipi gadis itu berharap dia bangun, tetapi usaha yang Irawan lakukan sia-sia. Hal yang membuatnya panik bukan kepalang.
***
Sementara itu, di atas balkon sebuah kamar yang minim pencahayaan berdiri seorang laki-laki berusia sekitar 20 tahunan dengan pandangan lurus ke depan. Pakaian serba hitam yang dikenakan dari kepala hingga ujung kaki membuat kesan khas bagi siapa saja yang melihatnya.
Seutas seringai tipis yang terukir di wajah tampannya sekaligus tampak mengerikan.
“Game over,” desisnya penuh penekanan di tiap kalimat. Lanjut mendesah kecewa yang tampak dibuat-buat.
Secangkir kopi cokelat hangat di atas meja di sisi kanannya kini sudah dingin karena dianggurkan sejak tadi. Diraih, lalu diteguknya hingga tersisa setengah.
Setelah itu, berlalu masuk ke dalam kamar dengan raut gembira dari sebelumnya.
“See you next games Bulan Purnamasari.”
***
__ADS_1