
Andre menyusul Bintang masuk ke dalam kelas dengan wajah merah padamnya. Sesampainya di dalam, dia langsung memberikan materi pada anak murid-nya. Menghiraukan gombalan maut yang diberikan oleh siswi-siswinya.
"Selamat pagi anak-anak! Hari ini, kita masih akan belajar tentang matriks." Andre memulai pembelajarannya dengan sebuah sapaan. Guru muda itu sudah berdiri di depan kelas lengkap dengan sebuah spidol bertinta hitam di tangan kanannya.
"Minggu lalu kan, kita sudah belajar tentang pengertian matriks, jenis-jenis matriks, dan juga transpose matriks ..." Andre menjeda sejenak ucapannya. Guru muda itu melayangkan tatapannya ke segala penjuru ruangan. Meneguk salivanya lalu melanjutkan ucapannya kembali. "... Nah, hari ini kita akan belajar penjumlahan dan pengurangan matriks," akhir Andre.
"Terus?" tanya Bintang di pojok sana dengan suara pelan sehingga tidak ada yang dengar selain dirinya sendiri dan Surya yang duduk di sampingnya. Kedua murid yang duduk di bangku barisan ujung kiri di bangku kedua dari depan itu menatap malas Pak Andre yang kini sedang menjelaskan di depan.
"Tapi sebelum itu, Bapak mau tanya-tanya dulu buat tes daya ingat kalian. Apa itu matriks dan transpose matriks?" Andre tersenyum miring kepada murid-muridnya setelah melayangkan pertanyaan mematikan itu bagi sebagian murid. Dia yakin pasti hanya sebagian kecil saja yang mengingat penjelasannya pada materi minggu lalu. "Ada yang bisa jawab?" tanya Andre lagi.
Tampak kelas yang tadinya hening mulai berisik. Semua murid saling melempar tatapan dan tunjuk-menunjuk satu sama lain untuk menjawab pertanyaan.
Pak Andre mendengus sekaligus berdecih dalam hati. Lihat, tidak ada seorang pun murid yang mampu menjawab pertanyaannya. Padahal itu pertanyaan yang gampang, loh! Berarti minggu lalu tidak ada yang benar-benar memperhatikannya menjelaskan.
"Sttt... Udah, udah, udah!" Andre mengangkat jari telunjuk kanan ke atas udara menyuruh murid-muridnya untuk diam.
Kelas pun kembali berubah menjadi hening. Tidak ada lagi ajang tunjuk-menunjuk. Melihat tatapan dingin dari Pak Andre membuat mereka diam tak berkutik.
"Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan saya?!" tanya Andre tegas, terdengar nada marah yang terselip di sana. Kilatan marah tampak menyala di kedua bola mata pria itu.
"Gak ada pertanyaaan om susah-susah semua," jawab Bintang dengan suara pelan membuat Surya yang menelungkupkan kepalanya di meja kembali duduk tegak dan mendelik ke arah Bintang.
"Woy, diam sat! Pak Andre dengar mampus lu!" bisik Surya memperingati.
Bintang melirik sinis ke arah Surya. "Gue peduli?" tanyanya yang berhasil membuat Surya berdecih.
Cowok itu mengalihkan perhatiannya ke depan berpura-pura mendengarkan penjelasan Pak Andre. Dia tidak peduli lagi kalau sahabatnya yang satu itu kena marahnya Pak Andre. Lagian Surya juga sudah memperingatinya, tetapi Bintang aja yang tetap kekeh. Ck, dasar kepala batu!
Tidak mendapat respon membuat Andre menghembuskan napas gusar. Guru itu kembali ke tempat duduknya. Dia menjatuhkan bokongnya di sana dengan sedikit kasar. Lalu melayangkan tatapan amarahnya ke segala penjuru ruang kelas. Lebih tepatnya ke semua anak muridnya yang kini mendadak kompak mengheningkan cipta.
Guru itu kembali menghela napas. "Huh! Kalian ini bagaimana sih? Jadi, apa saja yang kalian lakukan kalau saya menjelaskan di sini sampai-sampai tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan saya seorang pun, hah?!" tanya Andre marah.
"Tidur, Pakkk!" seru Bintang dari mejanya membuat sebagian pasang mata mengarah padanya. Semuanya membulat melihat Bintang yang kini menelungkupkan kepalanya di meja belajarnya.
Andre yang ada di depan memutar bola matanya. Jengah untuk menegur murid yang satunya itu. Karena pada akhirnya dia akan kembali melawan, jadi Andre putuskan untuk membiarkannya saja. Andre menyerah. Dia angkat tangan kalau soal Bintang, walau anak itu keponakannya sendiri.
Hening sejenak. Andre masih dengan tatapan jengkelnya dan para murid kelas 2 IPA B dengan tundukan kepalanya.
"Kalian ini benar-benar ..."
Tok... Tok... Tok...
Omelan Andre menggantung di udara dengan sebuah ketukan pada pintu kelas. Sontak, semua pasang mata mengarah ke sana.
Andre melayangkan tatapan penuh tanyanya ke semua murid sebelum beranjak dari bangkunya. Menghampiri pintu kelas dan membukanya.
Ceklek...
__ADS_1
Senyumnya mengembang dengan sedikit guratan di kening melihat Bu Dona bersama seorang siswi berdiri di ambang pintu. Tatapan Andre terfokus pada siswi yang berdiri di belakang Bu Dona. Dia bertanya dalam hati. Apakah dia murid baru?
"Eh, Bu Dona! Ada apa, Bu?" tanya Andre berbasa-basi. Dia memang sedang menatap Bu Dona. Tetapi perhatian guru muda itu tidak terfokus ke sana. Ekor matanya terus mengawasi murid baru itu yang tak sekali-kali mencuri pandang ke arahnya. Senyum miringnya menyungging begitu saja.
"Eh, Pak Andre! Saya ganggu ya, Pak, ngajarnya? Duh, maaf Pak! Jadi ganggu, gini," minta maaf Bu Dona sembari cengengesan.
"Ah, enggak kok, Bu! Hahaha..." ujar Andre tertawa hambar. Lewat ekor matanya, Andre melihat senyum terukir di bibir ranum siswi itu.
Mungkinkah dia terpesona dengan tawanya?
Ah, kenapa Andre jadi besar kepala begini?
"Ohya, Bu! Ini ... ada apa ya?" Wajah Andre berubah serius.
"Oh, ini Pak ..." ujar Bu Dona menggantung ucapannya. Guru itu menunjuk siswi baru yang berdiri di belakang samping kirinya. "Ada murid baru di kelas Bapak," lanjut Bu Dona menjelaskan.
Andre manggut-manggut dengan bibir membentuk huruf O. "Oke, baik Bu!"
"Kalau begitu ... saya permisi dulu Pak!" Andre mengangguki. Setelah Bu Dona berpamitan padanya dan murid baru itu, guru gendut itu pun melangkahkan kakinya menjauh dari kelas tersebut.
"Ayo, silakan masuk!" ajak Andre pada murid itu setelah badan besar Bu Dona sudah menghilang di perbelokan koridor.
"A-ah, i-iya Pak!" sahut murid itu gugup.
Keduanya berjalan memasuki ruang kelas. Riuh pikuk kembali terdengar dari murid-murid dengan kedatangan seorang murid baru di kelas mereka. Apalagi paras gadis itu lumayan cantik mampu membuat kaum adam terpikat.
"Cantik banget woy!!!"
"Wish, cewek gue tuh!"
"Dih, ganjen banget sih tuh cewek!"
"Sok cantik, amat! Masih cantikan gue kemana-mana juga kali!"
"Wah, kalo ini sih, Mentari bakal kalah!"
"Rival lo tuh, Tar!"
Berbagai macam pujian juga hinaan langsung Bulan dapatkan saat gadis itu sudah berdiri di depan kelas. Gadis itu menundukkan kepalanya malu dengan kedua tangan di depan rok saling meremas satu sama lain.
Tanpa Bulan sadari ada sepasang mata yang melotot ke arahnya. Tangannya terangkat ke atas menunjuk-nunjuk gadis itu. Tampak raut terkejut dari wajahnya. Mulutnya tampak berkomat-kamit ingin mengatakan sesuatu tetapi suaranya terasa tertahan di tenggorokan.
Orang itu adalah Bintang. Dia tampak terkejut ketika melihat wajah murid baru itu mirip dengan gadis yang ditemuinya di supermarket kemarin. Hingga sebuah tangan lain menabok tangannya yang terangkat ke atas, membuat cowok itu menoleh ke samping. Ternyata pelakunya adalah Surya.
"Loh, kenapa sih? Kek orang kesurupan aja?" Surya memandanginya heran dan aneh sekaligus takut.
Tangan Bintang kembali terangkat ke atas. Gemetaran. Dia menunjuk gadis yang berdiri di depan itu lagi, membuat Surya mengikuti arah tunjuk cowok itu. Guratan semakin tercipta di kening Surya tak mengerti dengan arti kode Bintang.
__ADS_1
"Di-dia ... di-dia-"
"Iya, dia murid baru kan? Terus?" sela Surya.
"Bu-bukan itu," sahut Bintang.
"Lah?!"
"A-anu ..."
"Anu kenapa sih njing!" umpat Surya kesal.
Sementara di depan sana, Andre yang berdiri di samping gadis itu menatapnya lekat. Menyadari kegugupan gadis itu, Andre angkat bicara.
"Nama kamu siapa? Ayo, perkenalan ke teman-temanmu!" titah Pak Andre.
Bulan mengangkat wajah dan menatap Andre sekilas. Setelah itu dia memusatkan pandangannya ke segala penjuru kelas.
"Halo semuanya! Perkenalkan nama saya Bulan Purnamasari. Saya murid pindahan dari Bandung. Semoga kita bisa berteman baik!" Bulan memaksakan mengulum senyum. Lalu gadis itu kembali melirik Andre guna bertanya pada guru itu akan hal apa lagi yang akan dilakukannya.
Andre yang seakan mengerti tatapan itu tersenyum tipis. "Baik, sekarang kamu boleh duduk ... di samping Renata! Gadis yang duduk di bangku kedua barisan ini."
Seorang murid yang ditunjuk Andre melambaikan tangannya ke arah Bulan dengan senyum cerah. "Hai!" ucap murid itu tanpa suara.
Gadis lainnya yang duduk di bangku belakang gadis yang ditunjuk Andre itu menatap sinis murid itu.
"Ish, apaan sih Rena! Norak banget!" cibirnya dengan suara pelan. Lalu tatapannya beralih pada murid baru yang berdiri di depan itu. Dia menatap benci murid itu karena dengan kedatangannya itu bisa membuat popularitasnya sebagai primadona sekolah menurun mengingat paras murid baru ini tidak main-main. Benar-benar saingan berat. Sialan!
Ngapain pake acara pindah ke sini sih?
Cewek itu menatap penuh amarah murid baru itu. Lalu tatapannya beralih pada ponsel yang ada dalam genggaman tangannya. Tak lama seringai kecil muncul di bibir cewek berambut hitam lebat habis di catok itu. Dia tahu bagaimana cara menjatuhkan lawan barunya itu.
Bulan berjalan ke tempat duduk barunya. Sebuah senyum ramah langsung menyambut gadis itu. Bulan mencoba mengulum senyumnya guna membalas senyuman murid yang akan menjadi teman sebangkunya itu. Bulan menjatuhkan dirinya di bangku itu. Tampak dia mulai mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.
Lalu tiba-tiba sebuah tangan terjulur ke arahnya. Bulan meliriknya ke samping. Ternyata itu tangan murid teman sebangkunya.
"Hai, gue Renata!" ucap murid itu.
"Bulan!" ujar Bulan membalas uluran tangan murid itu.
Keduanya mengurai jabat tangan mereka dan fokus ke arah depan. Mendengarkan Pak Andre yang kini melanjutkan penjelasannya. Hingga konsentrasi Bulan buyar ketika mendengar sapaan bisik-bisik dari bangku seberangnya.
Bulan meliriknya ke sana. Dia memutar bola matanya ketika cowok resek itulah yang sedang dadah-dadah di sana dengan senyuman cerahnya.
"Hai, Bulan! Ternyata dunia itu emang sempit, ya? Oh, atau mungkin kita yang jodoh? Ini pertemuan kedua kita loh setelah kemarin di supermarket. Loh ingat gue kan?!" bisik-bisik cowok itu.
Bulan menghiraukannya. Cewek itu kembali fokus ke depan.
__ADS_1
...***...