Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 17. Kejutan untuk Bulan


__ADS_3

Pagi tampak cerah, tak ada tanda tanda akan turunnya hujan. Begitupun dengan Bulan, tak ada tanda tanda kesedihan sekalipun. Wajah Bulan pun kembali terlihat ceria seperti biasanya.


Bulan pun memasuki ruangan kelasnya dengan tergesa gesa. Ia sudah tidak sabar dengan surprise yang dijanjikan Bintang tadi malam. Sesampainya di dalam pun Bulan langsung melirik ke arah tempat duduk Bintang. Namun tempatnya masih kosong, tasnya pun belum ada. Itu artinya ia belum datang. Pertahanannya pun mulai runtuh. Ia tak ingin Bintang membohonginya. Bahkan ia sempat berpikir kalau tadi malam itu, hanya rekayasa Bintang saja agar bisa menenangkannya. Tapi pikiran itu dibuangnya jauh jauh. Ia harus positif thinking. Siapa tau aja Bintang masih dalam perjalanan.


Tanpa Bulan sadari, ternyata dati tadi ada seseorang di sampingnya. Mungkin ia tidak akan pernah sadar jika cowok tersebut tidak berdehem. Bulan pun langsung menoleh ke sampingnya. Di sana ia melihat Bintang, terlihat tampan dari biasanya, dengan kedua tangan bertengger du belakang. Entah apa yang sedang di bawah cowok itu. Apakah itu sebuah kado untuk Bulan seperti apa yang dijanjikannya tadi malam. Bahkan teman teman ceweknya meleleh semua, melihat penampilan baru Bintang. Ia terlihat tampak keren dengan gaya rambutnya yang baru. Bahkan, Bulan takjub.


Tanpa basa basi, Bintang langsung agak berjongkok di depan gadis tersebut——kaki kanan ditekuk menyentuh lantai, sedangkan kaki kiri tetap tegak berdiri lurus——.


"Lan, jujur waktu pertama kali kita ketemu, entah kenapa jantungku ini berdebar tak menentu." ucapannya itu langsung membuat teman temannya satu kelas antara mendukung dan meledek juga.


"Kamu mau gak jadi pacar aku?" lanjutnya sembari memberikan bunga pada Bulan yang dipegang di Belakangnya tadi.


"Terima, terima" Suara support dari teman temannya pun tiba tiba memenuhi isi ruangan tersebut.


Bulan hanya tersenyum tersipu malu. "Jadi surprise Bintang itu, nembak gue." batinnya.


"Gimana?" tanya Bintang yang membuat Bulan tersadar dari lamunannya.


Tanpa sengaja Bulan Menatap Tata, seolah olah ia ingin meminta pendapat darinya. Padahal ia sedang marah dengan cewek itu. Tata pun menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk memgiyakan. Bulan pun langsung tersenyum ke arahnya.


"Iya gue mau jadi pacar lho" jawab Bulan yang semakin membuat heboh teman temannya.


"Cie, pasangan baru"


"Hem hem, Bintang gak jomblo lagi nih"


"Traktirannya mana nih?"


Begitu banyak ucapan yang keluar dari mulut teman temannya yang tentu membuat Bulan tersipu malu.

__ADS_1


Siapa sangka, tanggal 23 September 2020 akan menjadi hari jadian sekaligus hari bahagia Bulan bersama Bintang. Hari ini pun, Bulan kembali pindah ke tempat duduknya semula. Tiba tiba Bulan teringat dengan novel kemarin yang diambil dari tasnya Surya. "Inikah yang dinamakan 'Ketika Bulan dan Bintang Bersatu'?".


"Ternyata lebih indah dari dugaanku sebelumnya."


Bulan yang begitu bahagia sekarang, berbeda dengan Tata. Gadia itu sebenarnya agak sedikit senang karena akhirnya ia menemukan juga pasangan yang cocok untuknya. Namun di sisi lain, ia masih sangat bersalah pada Bulan. Karena dirinya, sahabatnya itu harus terjepit dalam masalah yang sangat dalam dan keluar dari dalamnya itu tentu tidak sangat mudah. Itulah yang selalu membayangi pikiran Tata. Ia merasa kalau dirinya, bukanlah sahabat yang baik untuk Bulan. Meskipun Surya sudah beberapa kali menenangkannya, namun gadis itu tak kunjung senyum senyum juga.


"Pokoknya bagaimana pun caranya dan apapun resikonya, gue harus minta maaf sama Bulan?" tekadnya.


                 *****


"Lan, kamu mau pesan apa?" tanya Bintang pada Bulan ketika hendak pergi memesan makanan. Ya, mereka sedang berada di kantin sekarang. Semenit yang lalu, bel berbunyi.


"Nasi goreng sama es teh manis aja deh" jawab Bulan kemudian duduk di salah satu meja, sementara Bintang pergi memesan makanan. Sambil menunggu kedatangan Bintang, Bulan merogoh handphone yang ada di sakunya dan memainkannya.


Tiba tiba seseorang datang menghampirinya. "Lan,".


"Lho masih marah sama gue?" tanya cewek tersebut dengan lagak sedih.


"Enggak kok. Gue udah gak marah lagi sama lho." jawabnya lagi tanpa menoleh setitikpun ke arah sumber suara tersebut.


"Kalau udah gak marah, berarti lho udah maafin gue dong" ucap cewek tersebut langsung menebak.


Bulan pun langsung menghentikan aktivitas main handphonenya dan mengalihkan pandangannya ke arah cewek yang mengajaknya bicara tersebut.


"Tata, gue udah gak marah lagi sama lho itu bukan berarti gue udah maafin lho ya. Lho kira maaf itu gampang. Gak segampang lho nyakitin gue, Ta." ucapnya tegas yang mampu membuat Tata menangis.


"Gue bisa jelasin kok, Lan" ucap Tata berharap Bulan mau mendengarkan penjelasannya.


"Gue gak butuh penjelasan dari lho.  Mending lho sama Kak Langit jauhin gue deh." jawab Bulan yang langsung bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Meskipun dalam hatinya ia tidak tega mengatai Tata seperti itu, tapi entah apa yang membuatnya seperti itu. Dia serasa terhipnotis, hingga ia mampu mengeluarkan kata kata kasar teesebut.


Di saat yang bersamaan, Bintang datang dengan nasi goreng dan es teh manis yang dipesannya tadi. Namun Bulan, moodnya untuk makan tiba tiba hilang begitu saja.


"Ke kelas aja yuk" ajak Bulan sambil menarik tangan Bintang untuk pergi dari kantin.


"Tapi kan, pesanannya udah datang" balas Bintang.


"Aku lagi gak mood Bintang. Kamu ngerti gak sih?" ucap Bulan tiba tiba kasar. Entah mengapa ia susah sekali mengontrol emosinya hari ini. Seharusnya kan, ia bersenang senang saat ini. Ini kan hari bahagianya.


"Iya, aku ngergitin kamu kok" jawab Bintang tak ingin memperkeruh suasana. Mereka pun balik ke kelas dan meninggalkan Tata sendirian di kantin sambil menangis.


Surya pun datang memgiburnya. "Udah tenang aja Ta, entar Bulan pasti balik juga kok ke lho. Gue yakin itu."


"Gimana gue bisa tenang kalau Bulan gak mau maafin gue" ucap Tata tanpa menghentikan tangisannya.


Surya pun mengambil tissue di atas meja kantin dan mengelap air mata Tata di pipinya. Ia turut prihatin dengan gadis itu. Ia tau kalau sumber masalah itu, memang berasal dari gadis tersebut. Tapi itu bukan karena kesengajaannya dan di luar dugaannya. Tata pun langsung menatap Surya lekat, begitu pun dengan Surya. Sebuah kenyamanan dan kehangatan pun kembali muncul di hati Tata. Paling tidak ia bisa sedikit tenang dengan kehadiran Surya.


"Makasih" ucap Tata tiba tiba. Surya pun langsung tersadar dari lamunannya dan melepas tangannya beserta tissue dari wajah Tata.


"Tenang aja gue masih punya satu cara kok, biar lho bisa baikan sama Bulan" ucap Surya, kembali ke topik pembicaraan mereka tadi.


"Bagaimana?" tanya Tata penasaran.


"Sini?" ucap Surya yang membuat Tata mengernyit heran.


"Telinga lho," lanjutnya yang langsung dimengerti Tata apa maksud Surya. Sepertinya ia ingin membisikkannya sesuatu.


Tata pun menurut saja, ia mendekatkan telinganya ke dekat mulut Surya. Surya pun mengatakan sesuatu kepadanya. Setelahnya, Tata pun manggut manggut tanda mengerti.

__ADS_1


__ADS_2