Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 30. Diculik


__ADS_3

Setelah puas bermain-main keempat orang itu pun memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya Bulan dan Tata izin untuk bebersih dulu.


"Kita bebersih dulu ya!" ucap Bulan.


"Ya udah tapi kalian hati-hati ya! Jangan lama-lama!" pesan Bintang.


"Iya, santai aja keles." ujar Tata mengingat kata-kata Bintang yang teramat lebay. Kemudian keduanya pun meninggalkan Bintang dan Surya yang tengah asyik bercakap-cakap.


"Lho sama Tata gimana sih Sur?" tanya Bintang pada Surya, bingung dengan status mereka. Dibilang teman tapi mesra, dibilang mesra tapi gak pacaran. Terus apa?


Surya mengedikkan bahunya tak tau lalu kembali meminum air kelapanya.


"Lho itu gimana sih? Kalau lho suka sama dia tembak dong, entar lho diduluin baru tau rasa lho." tanya Bintang sekaligus meledek Surya.


"Gue masih ragu," ujar Surya sambil menatap kosong ke depan.


"Ragu gimana? Lho brlum yakin sama perasaan lho?" bingung Bintang.


"Bukan itu. Gue masih ragu gimana kalau nanti Tata menolak gue. Gue kan pernah permainkan perasaannya dia. Ya pasti dia udah gak percaya lagi lah sama gue." jawab Surya.


"Ya elah, itu doang ragu. Cobalah dulu! Kalau lho gak coba mana bisa lho tau kalau Tata gak akan terima lho," ucap Bintang mencoba memberi pemahaman kepada Surya.


"Ya udah deh nanti gue coba," putus Surya pasrah.


Bintang pun mernagkulnya dari samping, "Nah gitu dong, ini baru teman gue." ucapnya.


Sementara itu, Bulan dan Tata sudah selesai bebersih. Mereka sudah keluar dari kamar mandi beberapa menit yang lalu. Kini mereka sudah berada di jalan pulang.


"Lho gimana sama Surya?" tanya Bulan memulai pembicaraan agar tak terasa sunyi.


Tata mengedikkan bahunya tidak tau. "Ya gitu deh," ucapnya biasa-biasa saja, namun hatinya tidak biasa-biasa saja.


"Ya udah lho sabar aja ya, gue yakin kok pasti Surya juga suka sama lho." support Bulan.


Tata pun melirk Bulan di sampingnya kemudian menyunggingkan senyumnya.


Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang datang membekap mulut Bulan. Bulan pun memberontak namun hasilnya nihil. Tata pun tak tinggal diam, dia mencoba melawan penculik yang bertopeng itu namun hasilnya gagal. Bulan pun berhasil dibawa pergi. Sementara Tata tersungkur di bawah tanah.


"Bintang" pekiknya. Ia pun segera bangkit dari jatuhnya dan bergegas ke tempat Bintang dan Surya.


Tampak dari kejauhan, mereka melihat Tata sedang berlari ke arah mereka. Bintang dan Surya pun mengernyit heran ketika tak melihat keberadaan Bulan.


"Itu dia, tapi kok Bulan gak ada sih?" ucap Surya.


"Iya, Bulan kemana ya?" tanya Bintang.


Akhirnya Tata pun sampai di tempat Bintang dan Surya menunggunya dengan bercucuran air mata. Itu semakin membuat Surya dna Bintang semakin berperasaan tidak enak.


"Tang, Bu-la-n..." ucapnya sambil sesenggukan.


"Loh, kok kamu nangis sih? Bulan mana?" tanya Surya beruntun.


"Bu-lan di-cu-lik," jawabnya terbata-bata masih terus sesenggukan.


Sontak, Bintang dan Surya pun terlonjak kaget dari duduknya mendengar berita itu.

__ADS_1


"Apa? Bulan diculik?" tanya Bintang tak percaya.


Tata mengangguk.


"Siapa yang menculiknya?" tanyanya lagi namun kali ini terdengar marah.


Tata menggeleng tidak tau.


"Argghh, kenapa bisa?" tanyanya lagi sambil menendang segala sesuatu yang ada di sekitarnya.


"Tadi di jalan waktu kita mau balik, ada seseorang yang bertopeng membekap mulut Bulan dan membawanya masuk ke dalam mobil." jawab Tata mencoba untuk tenang.


"Kenapa lho gak bantu?"


"Gue udah melawannya Tang, tapi tetap aja kalah." ujar Tata tak terima jika dikatai tak membantu Bulan.


"Terus gimana?"


"Kita lapor polisi," jawab Surya.


"Ya udah yuk," ajak Bintang yang bergegas masuk ke dalam mobilnya diikuti Surya dan Tata.


Ketika hendak menjalankan mobilnya, tiba-tiba handphone Bintang berdering. Bintang pun mengeceknya. Ada pesan yang masuk dari nomor yang tidak diketahui.


085*********


Kalau lho mau Bulan selamat, jangan pernah berani lapor ke polisi! Gue tungguin lho di gudang tua jalan Cempaka nanti malam. Pastikan lho datang sendiri ke sini!


Awas ya jangan macam-macam! Gue gak main-main.


"Anjing!" umpat Bintang sambil memukul setir mobilnya.


"Kenapa Tang?" tanya Surya heran.


"Orang yang culik Bulan ngancem gue. Dia bilang kalau gue mau Bulan gak kenapa-napa gue gak boleh bawa masalah ini ke polisi. Dan, nanti malam gue disuruh ke gudang tua jalan Cempaka seorang diri." ucap Bintang panjang lebar.


"Kasihan banget ya Bulan," ucap Surya.


"Gue punya ide," lanjutnya.


Bintang pun langsung menatap Surya. "Apa?" tanyanya.


"..."


Surya membisikkan sesuatu kepada Bintang. Terlihat Bintang setuju dengan ide Surya. Cowok itu senyum-senyum sambil manggut-manggut.


Sementara Tata, cewek itu hanya diam melamun di belakang. Tampak ia sedang memikirkan sesuatu.


"Jangan senang dulu, ini belum berakhir. Oke, hari ini kalian yang menang, tapi gue pastikan besok-besok gue yang bakalan menang." .


Kata-kata Mentari itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran Tata.


"Gue yakin pasti otak dari semua ini Mentari." batinnya.


"Lho kenapa Ta?" tanya Surya saat tak sengaja melihat Tata dari tadi diam saja.

__ADS_1


"Gue rasa kayaknya Mentari yang menculik Bulan." ujarnya.


Bintang pun menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Darimana lho bisa nyimpulin ini semua Ta?" tanya Bintang. Ia mulai cemas dengan Bulan jika benaran Mentari lah penculiknya. Bukankah cewek itu sadis, dia akan melakukan apa saja asal buat dia merasa senang.


"Lho lupa Mentari bilang apa," jedanya sedikit. "Dia kan bilang jangan senang dulu, ini belum berakhir. Bisa jadi kan dia yang menculik Bulan?"


"Iya juga sih," ucap Surya manggut-manggut menyetujui ucapan Tata.


"Ya udah kita let's go sekarang!" ucap Bintang kemudian kembali menjalankan mobilnya.


"Jangan dulu Tang. Gue minta lho jangan gegabah. Nanti yang ada nyawa Bulan yang bakal jadi terancam. Please." mohon Surya.


"Iya Tang, Surya benar. Seharusnya kita jangan gegabah dulu." tambah Tata.


                                            ***


Sementara itu di tempat lain, Bulan tersadar dari pingsannya. Hal pertama yang dia liat adalah ruangan kumuh yang penuh dengan barang-barang bekas. Gudang, pikir Bulan. Kemudian yang kedua, ia merasa kalau kedua tangannya sedang diikat. Dan yang ketiga, pemandangan yang amat sangat membuat Bulan melotot adalah Mentari yang tengah berdiri di depannya dan menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Halo Bulan, udah sadar? Hm?" tanyanya dengan sombong.


"Gu-e dimana? Ngapain lho di sini? Lho mau ngapain gue?" tanya Bulan beruntun saking paniknya.


"Sebelum gue ngehabisin lho, gue mau lihat dulu seberapa besarnya cinta Bintang sama kamu," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah pisau tajam dari dalam saku celananya. Bulan yang melihat itu langsung panas dingin. Ia menelan ludahnya susab payah.


"Kenapa? Lho takut?" tanya Mentari seklaigus meledeknya.


Bulan hanya diam menunduk. Ia tak bisa berkata apa-apa.


"Bebasin gue Tar!" pinta Bulan memohon.


"Enak aja. Setelah gue culik lho susah payah dan setelah lho rebut Bintang dari gue dan permaluin gue di sekolah kemarin, lho bilang bebasin gue? Jangan mimpi." balas Mentari.


Bulan pun hanya menangis sesenggukan.


                                       ***


Malam ini terasa sunyi mencekam. Dingin malam semakin membuat malam ini semakin terasa horor. Di depan sebuah gudang tua, di sinilah Bintang berdiri. Perlahan-lahan, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan gudang tersebut. Ruangannya tampak sedikit gelap dikarenakan lampunya yang sudah redup. Bintang pun semakin hati-hati melangkahkan kakinya masuk, jangan sampai dia juga malah terjebak.


Tap, tap, tap.


Begitulah suara langkah kaki Bintang setiap melangkah. Hingga ia tiba di sebuah ruangan yang cukup besar. Ia melihat gadis itu di sana dengan posisi duduk di atas kursi dan tangan terikat. Bintang pun segera menghampirinya.


"Bulan!" panggil Bintang.


Bulan pun tersadar dari tidurnya mendengar suara itu. Ia mendongakkan kepalanya. Sungguh, ini seperti mimpi.


"Bintang please bantuin gue keluar dari sini!" mohon Bulan.


"Iya lho tenang aja," ucap Bintang kemudian mensejajarkan posisinya dengan Bulan kemudian mulai membuka tali yang mengikat tangan Bulan.


Ketika Bintang hendak selesai membuka talinya, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka sambil bertepuk tangan.


"Bagus, bagus, bagus!" ucap orang tersebut.

__ADS_1


Bintang pun menolehkan badannya ke belakang dan mendapati seseorang berdiri dan tengah menatap mereka dengan tatapan benci.


"Mentari?"


__ADS_2