
Bulan benar benar bahagia saat ini. Bagaimana tidak? Ayahnya sudah menyadari kesalahannya dan yang lebih bagusnya lagi, hubungannya dengan Bintang direstui oleh kedua orang tuanya.
Bulan memasuki kelas-nya dengan wajah yang berseri-seri. "Hai, Tata." ucapnya sambil tersenyum ke arah Tata.
Tata pun membalasnya dengan senyuman pula. Tata senang bukan kepalang. Bagaimana tidak, Bulan menyapanya hari ini. Baginya, itu berita yang bagus yang sudah lama ditunggu-tunggunya.
Bulan sudah tak sabar menunggu jam istirahat tiba. Ia sudah tak sabar ingin berbincang bincang dengan Tata yang kira kira sudah satu minggu lebih tak saling sapa dengannya. Ia sudah kangen dengan celoteh-an Tata yang sudah lama tak terdengar di gendang telinganya. Ia pun sudah tak sabar ingin mencubit pipi-nya Tata yang selalu membuatnya gemas itu.
Tak terasa waktu yang ditunggu-tunggu, akhirnya tiba juga. Bel tanda istirahat pun berbunyi. Semua murid bersorak kegirangan. Tak terkecuali Bulan. Gadis itu melompat-lompat kegirangan di tempat-nya. Teman temannya pun menatapnya heran. Tak terkecuali Bintang, bahkan cowok itu sudah setengah mati memegang perutnya, saking lamanya ia tertawa.
Bulan pun menghentikan acara lompat-lompatnya ketika melihat Bintang yang berada di sampingnya, sudah tertawa setengah mati.
"Ihh, kok ketawa sih." ucap Bulan jengkel.
Bukannya menjawab, cowok itu malah terus tertawa. Tak mempedulikan Bulan yang kini menatapnya kesal.
"Ihh, Bintang nyebelin banget sih." ucapnya berdecak kesal sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai.
Bintang pun menghentikan tawanya ketika melihat Bulan yang sudah benar benar kesal.
"Ya udah gue minta maaf, Okey." ucapnya mengalah.
Namun gadis itu tak kunjung kunjung bicara juga. Ia masih tetap dalam posisinya, membelakangi Bintang sambil bersedekap dada. Jangan lupakan wajahnya yang cemberut.
"Lan, maafin lah! Gue kan udah minta maaf." ucapnya lagi dengan nada sedih sambil mengguncang guncangkan tubuh gadis itu.
Cowok itu pun berdecak kesal. Ia pun bangkit dari duduknya dan hendak berlalu dari kelas tersebut.
Bulan yang melihat itu pun, langsung mencekal pergelangan tangan cowok itu. "Ehh, mau kemana?" tanyanya.
"Ke kantin." jawab Bintang dingin.
"Lho marah ya sama gue?" tanya Bulan.
"Buat apa gue marah sama lho." jawab Bintang cuek.
"Tuh kan. Kamu ngambek kan?"
Tak ada sahutan apapun.
"Oke, gue maafin nih." ucap Bulan mengalah.
"Serius?" ucap Bintang senang. Wajahnya kembali ceria.
Bulan hanya menganggukkan kepalanya pasrah untuk mengiyakan. Bintang pun langsung memeluknya tanpa memperhatikan sekelilingnya yang kini tengah meledek mereka.
"Cie udah peluk-pelukan aja nih."
"Iya, gue jadi iri nih."
Bulan dan Bintang pun langsung melepaskan pelukannya.
"Gue mau ke kantin, lho mau ikut gak?" tanya Bintang sekaligus menawarinya.
"Gak deh. Males." tolak Bulan cepat.
__ADS_1
"Yakin? Gue tinggal nih?" ucap Bintang menggoda Bulan.
"Iya Bintang." jawab Bulan kesal.
Bintang pun pergi ke kantin sendirian sambil berdecak kesal karena Bulan menolak ajakannya. Bulan hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan cowok cool itu yang kini menjadi kekasihnya.
Selepas kepergian cowok itu, Bulan menghampiri Tata ke mejanya. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan cewek tersebut, yang beberapa hari ini hubungan mereka renggang.
"Hai Tata," sapanya ramah kepada cewek tersebut sembari duduk di sampingnya.
Bukannya membalas sapaan Bulan, cewek itu malah beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk pergi dari tempat itu. Rupanya ia ingin menghindar. Namun dengan sigap, Bulan mencekal pergelangan tangannya.
"Lepasin gue Lan!" ucapnya terdengar serak, menahan dirinya agar tak mengeluarkan cairan bening itu dari matanya.
"Lho mau kemana?" ucapnya bertanya balik.
"Jangan tinggalin gue lagi Ta." ucapnya lagi dengan nada memohon.
"Lepasin gue Lan, gue gak pantes jadi teman lho. Lho terlalu baik buat gue. Gue gak mau dengan adanya gue, itu hanya buat lho jadi sedih. Biarin gue pergi Lan." ucap cewek itu sambil sesekali menyeka air matanya yang kini telah membanjiri pipinya.
"Enggak, gue gak akan biarin lho pergi Ta. Lho itu tetap sahabat gue. Sahabat gue yang paling baik." balas Bulan bersikukuh.
"Hm" tawa kecilnya mendengar penuturan Bulan bahwa ia adalah sahabat terbaiknya. Ia menganggap itu sangat lucu. Ya, benar benar lucu didengar. Coba bayangkan, mana ada sahabat baik yang tega menyakiti perasaan sahabatnya sendiri.
"Sahabat baik lho bilang?". Ia kembali tertawa. "Lho lupa Lan, gue itu... " ucapnya yang langsung terpotong.
"Gue gak peduli Tata." sela Bulan agak meninggi dengan mata yang sudah berkaca kaca. "Gue gak peduli kalau lho pernah buat hubungan gue sama Bintang berantakan. Gue gak peduli itu Tata. Malah... " lanjutnya menghentikan sejenak ucapannya tersebut
Sedangkan Tata hanya menunduk mendengarkan penuturan temannya tersebut.
"Malah, gue berterima kasih banget sama lho." lanjutnya santai, yang tentu membuat Tata menolehkan pandangannya pada gadis yang kini masih duduk di bangku sebelahnya tersebut dan menampakkan raut wajah bingungnya.
"Serius lho, Lan." ucap Tata memastikan dengan wajah yang berbinar binar.
Bulan menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan. Sontak, Tata langsung memeluknya.
"Gue minta maaf ya, Lan. Gua gak bermaksud buat_" ucap Tata dalam pelukan Bulan sambil menangis bahagia.
"Sttt... " Bulan langsung menghentikannya untuk berbicara. "Gue udah maafin lho okey." ucapnya sambil mengelus ngelus punggung Tata.
"Gue senang deh, akhirnya kalian akur lagi." ucap seseorang yang kini sudah berdiri di depan mereka.
Bulan dan Tata pun langsung melepaskan pelukannya.
"Kak Langit?" ucap Bulan heran dengan kehadiran cowok itu di kelasnya yang secara tiba tiba. "Ada apa Kak?" tanyanya.
"Gue...Gue... Gue cuman mau kasih ini ke Tata." jawab Langit agak gugup sambil menyodorkan sebuah kado kecil yang entah isinya apaan.
"Cieee." ucap Bulan sambil menyenggol lengan Tata.
"Isinya apaan tuh, Kak?" tanyanya kepo.
Sedangkan Tata, cewek itu hanya diam mendengarkan percakapan kedua orang yang berada di hadapannya ini sambil menunduk. Ia tak berani menatap wajah cowok itu.
"Kepo amat sih lho." Ujar Langit ketus.
__ADS_1
"Daripada kepo, mending lho pergi sana. Temanin tuh pacar lho, kasihan tau sendirian di kantin." ucapnya lagi.
"Diusir nih?" tanya Bulan agak kesal.
"Kerjain sih Tata ah." Sebuah ide konyol muncul di pikiran Bulan.
"Ya udah, gue keluar dulu ya. Gak baik nih jadi obat nyamuk di sini." ucapnya sambil tersenyum jahil ke arah Tata.
Cewek itu mendengus kesal.
"Bye." ucap Bulan berlari keluar dari kelas sambil melambaikan tangannya kepada kedua insan yang masih berada dalam kelas tersebut.
Selepas kepergian Bulan, keadaan pun menjadi hening. Tak ada yang berani buka suara. Tampak keduanya masih tampak canggung.
"Kok gue jadi gugup gini sih kalau dekat sama Kak Langit, biasanya juga kan enggak."
"Jangan bilang kalau gue jatuh cinta sama Kak Langit."
"No," Tata menggeleng gelengkan kepalanya, berusaha membuang jauh jauh pikirannya itu. "Sadar Ta, sadar lho kan udah punya Surya."
"Ada apa?" tanya Langit menyadarkannya dari lamunannya.
"Ha? Maksudnya?" ucap Tata balik bertanya. Tak mengerti maksud Langit.
"Kenapa geleng geleng kepala?" ucapnya, bertanya.
"Oh, gak pa-pa kok Kak." jawabnya berbohong.
Langit menatapnya penuh selidik selama beberapa detik. Kemudian langsung mengambil alih, duduk di samping Tata.
"Lah, kok Kakak duduk di samping gue sih?" tanyanya gerogi.
"Emang kenapa? Gak boleh?" ucapnya balik bertanya.
"Boleh sih." jawabnya singkat. "Tapi gak harus di sini juga kan, Kak? Bangku kosong kan banyak." jelasnya.
"Tapi aku maunya sama kamu." ujar Langit cepat yang berhasil membuat cewek itu bungkam.
Cewek itu hanya diam menunduk sambil memegangi dadanya yang tengah berdetak tak menentu.
"Lho mau kan, jadi pacar gue?" ucapnya lagi yang tentu membuat cewek itu tersentak kaget dari lamunannya. Kemudian memandangi wajahnya cukup lama.
"Apa? Kak Langit nembak gue barusan? Gue gak salah dengar kan?" ucapnya dalam hati.
"Ya udah, kalau belum bisa jawab sekarang gak papa kok." ucapnya lagi sambil tersenyum hangat ke arahnya.
"Gue bakal selalu setia buat nunggu jawaban dari lho, sekalipun jawaban lho itu bakal buat aku kecewa." lanjutnya.
"So sweet banget." Ucapan Langit itu mampu membuat Tata meleleh.
"Nih, buat kamu." ucapnya lagi sambil memberikan kotak kecil tersebut kepada Tata.
Tata pun menerimanya.
Langit pun lalu bangkit dari duduknya kemudian berpamitan pada Tata.
__ADS_1
"Gue ke kelas dulu ya!" pamitnya.
Tata pun hanya bisa mengangguk pelan.