
Renata belum selesai memakan mie ayam yang dipesannya beberapa menit lalu, tetapi Bulan sudah beranjak dari tempat duduknya. Padahal, kalau Renata perhatikan mie ayam milik gadis itu pun belum setengahnya tersentuh. Tentu hal itu mengundang pertanyaan di benak Renata, juga gurat bingung di raut wajah.
“Kenapa, Lan?” tanya Renata, lanjut menyuapkan mie ayam ke dalam mulut dan mengunyahnya.
“Gue duluan, ya. Mau ke toilet bentar.” Bulan ijin pamit.
Tampak Renata menimbang-nimbang, hingga akhirnya mengangguk. Bulan berlalu, menyisakan Renata sedang terburu-buru menghabiskan mie ayamnya. Juga menyeruput habis es teh manis di cup yang tadi tinggal setengah. Kemudian, gadis itu beranjak dan bergegas menyusul sang sahabat, yang dalam sekejap mata sudah menghilang dari pandangan begitu mengangkat wajah. Renata hendak menunggunya di dalam kelas saja.
***
Koridor sekolah sudah lumayan sepi ketika Bulan melintasinya. Hanya terlihat beberapa murid yang berlalu lalang keluar masuk ruang guru. Biasanya mereka disuruh mengambil buku paket mata pelajaran yang bersangkutan masuk.
Gadis itu baru saja keluar dari bilik toilet. Samar-samar terdengar bel tanda usainya jam istirahat berbunyi saat sedang membayar utang di bilik tadi.
Suasana mencekam cukup membuat bulu kuduk merinding. Entah kenapa harus ini terasa agak berbeda dari biasanya. Teriknya sinar matahari seolah tidak berefek apa-apa pada Bulan. Sedikitpun tak membuatnya gerah. Padahal di seberang sana, Bulan melihat beberapa murid lelaki di koridor seberang sedang mengibaskan kerah bajunya. Kucuran keringat terlihat jelas membasahi wajah murid itu.
Di pertigaan koridor, langkah Bulan tiba-tiba terhenti. Sebuah pemandangan cukup menarik perhatiannya di koridor sebelah kiri.
Gadis itu memicingkan mata, menajamkan penglihatannya. Itu ... bukannya Pak Andre? Tanyanya dalam hati.
Siapa gadis berkepang dua yang sedang bersamanya? Kenapa mereka bisa sedekat itu untuk status antara seorang guru dan murid? Apa mereka punya hubungan keluarga? Dan, kenapa harus mengobrol di tempat sepi seperti itu? Apa topik pembicaraan mereka se-intim itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat di kepala Bulan saat melihat Andre, guru muda yang tersenyum manis padanya kemarin di hari pertamanya sebagai murid baru, sedang bercengkerama asik dengan seorang siswi di teras gudang. Tak bisa dipungkiri, beberapa prasangka buruk mulai bermunculan dalam hati.
“Singkirkan semua pikiran buruk lo itu tentang paman gue. Dia pria yang baik-baik.” Celetukan dari belakang bagai semilir angin yang berbisik di telinga membuat lamunan gadis itu buyar.
Bulan terlonjak kaget dan refleks menoleh ke belakang. Raut datar Bintang yang pertama kali masuk ke indra penglihatannya tepat di depan wajahnya. Tumpukan buku di tangan cowok itu berhasil menarik perhatiannya.
Bintang melangkah ke depan dan berhenti tepat di samping gadis itu. Dia menoleh ke samping tepat saat Bulan masih terperangah dengan keberadaanya. Bintang tebak dalam hati gadis itu bertanya-tanya sejak kapan dia ada di sini.
Senyum dan dengus sinis sebagai pembuka suara cowok itu.
“Jangan suka kepo sama urusan orang lain. Itu enggak ada faedahnya buat lo, malah tambah-tambah dosa,” ketus Bintang sebelum berlalu pergi.
Bulan terpaku di tempat. Bintang sudah pergi, tetapi kata-katanya masih membekas di kepala. Kata-kata itu terlalu to the point untuk menyindir. Menusuk dan berhasil membungkamnya seperti patung.
Hingga ketika dia menoleh lagi ke teras gedung, dua orang tadi sudah tidak ada di sana. Semuanya kembali seperti semula. Sunyi.
__ADS_1
***
“Kamu sadar enggak, sih? Alur cerita novel yang terbit tahun lalu terlalu monoton.”
Lelaki berkacamata dengan bentuk wajah kecina-cinaan itu tampak menghentikan tarian tangannya di atas keyboard laptop. Prolog untuk cerita baru yang sedang dia garap baru saja selesai ditulis.
Gadis berkepang dua dan wajah imut seperti bayi itu dapat melihat pantulan layar monitor di kacamata laki-laki di sampingnya saat menoleh. Cahaya remang-remang di ruangan yang membuatnya terlihat tampak jelas.
Lama hanya saling menatap dan hening yang ambil alih, hingga lelaki itu membuka suara. Bahkan, gadis itu sudah lebih dulu memalingkan wajah karena tidak nyaman bertatapan terlalu lama. Meski laki-laki di sampingnya itu saudara kembarnya sendiri. Namun, tatapan mengintimidasinya selalu menguasai dan menciutkan nyali gadis itu.
“Novel Bulan & Bintang?” balas laki-laki itu balik bertanya. Menyebutkan judul novel bergenre teenfiction karangan mereka berdua yang populer di kalangan remaja.
Anggukan dari si gadis membuatnya bungkam beberapa saat. Tangan itu kembali menari-nari lincah di atas keyboard. Fokusnya kembali pada layar monitor. Dia tampak sedang menimang-nimang narasi seperti apa yang bagus sebagai pembuka adegan di bab pertama cerita barunya.
“Jadi?” Suara laki-laki itu kembali terdengar. Di sela-sela kegiatan mengetik. Tak urung, kegiatannya kembali terhenti ketika si gadis bersuara.
“Perlu kita revisi. Alurnya kita rombak, tetapi inti ceritanya tetap sama.” Gadis itu menjawab mantap. Sekali lagi dibacanya dengan saksama tulisan acak-acakan semalam di kertas HVS---sebelum diserahkan ke tangan sang kakak, lelaki di sampingnya. Terlihat, beberapa kata atau bahkan kalimat dicoretnya, lalu diganti dengan yang baru ketika dirasa kurang sreg.
“Jadi, kamu mau alur yang seperti apa? Punya ide?” Lelaki bermata sipit itu memperhatikan kegiatan adiknya dengan tampang meragukan.
Si gadis tak menjawab. Dia hanya fokus mengoreksi.
Ucapan lelaki chindo itu terhenti ketika sebuah kertas terjulur ke arahnya. Dengan ragu mengambil alih kertas tersebut dan membacanya. Ekspresi pertamanya saat membaca kalimat pertama adalah kening yang mengerut. Hingga raut itu perlahan pudar dengan sendirinya. Di akhir kalimat, dia tampak tercekat. Pertanyaan terakhirnya yang terpotong rasanya sangat sulit untuk ditelan mentah-mentah.
“Bagaimana?” Si gadis mengangkat satu alis sebagai respons saat sang kakak menyudahi bacaannya lantas mengangkat wajah dan menatapnya datar. Jantungnya berdegup kencang, takut-takut sang kakak tidak setuju atau kurang sreg dengan alur baru yang dia buat.
“Keren. Aku suka.”
Tiga kata, tetapi sangat berarti bagi gadis itu. Senyum tipis seketika terbit di bibir. Wajah datar sang kakak kini tak lagi berpengaruh lagi bagi degupan jantungnya.
“Oke, ceritanya kita rombak.”
Percakapan dua bersaudara itu berakhir. Atensi keduanya kini beralih pada handphone si laki-laki chindo yang berdering di atas meja. Id Caller yang terpampang di layar handphone membuat keduanya saling melempar pandang, sebelum akhirnya laki-laki itu mengangkat panggilan.
“Iya? Halo, Pak. Ada apa?” Saat hening yang terdengar begitu panggilan tersambung, si laki-laki berinisiatif memulai pembicaraan.
“Halo, Roy. Selamat malam.” Suara berat khas lelaki terdengar dari seberang.
__ADS_1
Sengaja laki-laki yang dipanggil Roy oleh si penelepon itu diam dan tak menjawab sapaan---hanya ingin mendengar kalimat lanjutan dari si penelepon. Dia tipe orang yang tidak suka berbasa-basi.
“Bagaimana naskah barunya, Roy? Sudah rampung, kah?”
Senyum tipis tampak menghias bibir. “Belum, Pak. Ini masih dalam proses penulisan,” jawab Roy lanjut terkekeh.
“Oh, oke-oke. Saya tunggu sampai naskahnya rampung.” Begitu respons dari seberang.
“Siap, Pak.”
Tut!
Dan panggilan pun terputus.
Laki-laki chindo yang diketahui bernama Roy itu menjauhkan handphone dari telinga dan meletakkan kembali ke tempat asalnya.
Plak!
Sebuah tepukan cukup keras di pundak membuatnya mengaduh dan menatap si pelaku dengan tajam.
“Apa?!” tanyanya menahan geram.
Rani, adiknya itu memang suka sekali membuatnya kesal.
”Kenapa enggak sekalian tanyain soal alur cerita novel Bulan & Bintang yang mau kita rombak?!” balas Rani dengan pekikan tertahan.
“Lupa,” ujar Roy enteng.
Rani memutar bola mata jengah.
“Bentar, aku chat.”
Roy meraih handphone itu kembali dan meng-chat tim penerbit yang menghubunginya tadi. Tak lama, senyum semringah terbit menghias wajahnya membuat Rani menduga-duga tim penerbit dengan keputusan mereka yang hendak mengubah alur cerita novel yang sudah diterbitkan.
Roy dan Rani, dua remaja SMA yang sangat menginspirasi remaja-remaja lain seusia mereka. Setahun yang lalu, berhasil menggemparkan dunia kepenulisan ketika dua bersaudara itu menerbitkan novel perdana mereka dan berhasil mencuri perhatian publik.
Rani yang pandai mengarang alur cerita, sementara Roy yang pandai mengekspresikan ide-ide Rani menjadi tulisan indah yang enak dibaca. Dari mereka, terciptalah sebuah karya.
__ADS_1
Mereka, saudara kembar yang saling melengkapi.
***