
Di kesunyian malam, Bintang duduk termenung di balkon kamar sembari memandangi indahnya pemandangan langit. Langit bertabur bintang ditemani rembulan malam membuat suasana malam itu benar-benar perfect.
Ditemani secangkir kopi hangat plus manis buatan Bi Ira, pembantu di rumah Bintang, ditambah sebatang rokok yang menyelip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, semakin menambah kenikmatan di malam itu.
Kepulan asap yang keluar dari mulut dan hidung Bintang setiap kali menyesap batang rokoknya, membubung tinggi ke langit, lalu hilang tertelan udara. Bintang menengadah mengikuti kemana arah kepulan asap itu pergi lalu menghilang.
Sudah berselang beberapa menit setelahnya, namun Bintang belum berniat juga untuk beranjak dari sana. Dia masih setia memandangi indahnya langit. Entah sudah berapa banyak batang rokok yang habis olehnya.
Bintang menyesap sekali lagi batang rokok terakhirnya yang kini tinggal beberapa senti. Kepulan asap berbentuk lingkaran tidak beraturan itu kembali membumbung tinggi ke udara. Bintang mengamatinya dengan lamat. Ketika kepulan asap itu sudah menghilang, barulah Bintang mengalihkan atensinya.
Bintang menggesekken ujung batang rokok yang menyala merah itu ke pinggir asbak, lalu membuang putung rokok itu ke dalamnya. Atensi Bintang lalu beralih pada secangkir kopi yang masih hangat di meja sampingnya. Bintang menyergap gelas tersebut dan meminumnya dalam sekali tegukan. Jakun cowok itu tampak naik turun.
Bintang meletakkan gelasnya kembali ke atas meja setelah meneguk habis kopinya. Lalu, dia merogoh saku celana pendeknya ala celana rumahan dan mengambil handphone-nya dari sana.
Bintang memeriksa benda pipih tersebut yang tak henti-hentinya berbunyi sedari tadi. Setelah layarnya menyala, Bintang dapat melihat ratusan pesan masuk di aplikasi WhatsApp. Bintang pun membuka aplikasi berwarna hijau tersebut. Bintang hanya menatap sekilas ratusan chatingan tersebut yang ternyata berasal dari grup kelasnya yang lagi ramai. Entah apa yang sedang dibahas teman sekelasnya. Bintang tidak peduli.
Ting!
082xxxxxxxx
Bi, aku mau jujur...
Aku masih cinta sama kamu, Bi. Aku tau, kamu juga pasti masih suka sama aku, kan?!
Bi, mau ya balikan sama aku?! Plis, Bi!
Iya, aku tau aku salah. Tapi aku kan udah minta maaf. Plis, Bi maafin aku! Kasih aku satu kesempatan lagi. Aku janji aku gak bakal sia-siain kamu lagi.
Plis, Bi!
Ketika Bintang hendak keluar dari aplikasi tersebut, pesan berturut-turut yang masuk dari kontak yang tidak dikenal berhasil menarik pusat perhatian Bintang. Bintang mengernyitkan dahi. Nomornya seperti tidak asing. Bintang membuka room chat-nya bersama kontak itu.
^^^Read.^^^
Bintang hanya membaca pesannya tanpa ada niatan untuk membalasnya. Bintang keluar dari aplikasi tersebut dan mematikan daya handphone-nya. Bintang meletakkan benda pipih tersebut kembali ke atas meja dengan seidkit kasar. Lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Bintang memejamkan matanya, mencoba menghalau semua apa yang berkelana dalam pikirannya. Sekarang, cowok itu tahu siapa dibalik kontak tak dikenal yang barusan mengiriminya pesan itu.
Ya, dia adalah orang yang sama yang telah mengajarkan bagaimana rasanya jatuh cinta terlalu dalam pada Bintang. Sekaligus mengajarkan bagaimana rasanya patah hati terdalam dikhianati oleh orang yang dicintai.
Dulu, nomor itu adalah nomor yang selalu Bintang tunggu-tunggu pesan darinya. Ya, itu dulu. Sekarang, nomor bahkan nama gadis itu yang sempat terukir indah sudah terhapus penuh dari hatinya. Bodohnya Bintang dulu tidak langsung memblokir kontak tersebut. Sekarang dia mengiriminya chat lagi kan?!
__ADS_1
Ah, sudahlah! Ngapain masih bahas masa lalu. Lagipula, Bintang sudah menemukan penggantinya. Bintang yakin dia adalah belahan jiwanya yang selama ini dia cari-cari. Ahay!
Flashback On...
Sepulang sekolah, Bintang tak langsung pulang ke rumah. Dia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk latihan futsal bersama Surya di tempat biasa mereka latihan, setelah absen beberapa hari. Banyak dari teman-temannya yang mempertanyakan akan hal itu.
“Kok, baru masuk lagi, Bro? Kemarin-kemarin, kemana aja?”
Bintang tersenyum menanggapi pertanyaan mereka, lalu menjawabnya dengan singkat dan simple.
“Lagi mager gue, Bro!” Begitu katanya.
Alasan yang klise memang. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin, kan, Bintang menceritakan yang sebenarnya pada teman-temannya?
Dan bodohnya, mereka malah percaya jawabannya begitu saja kecuali Surya.
Ya, Surya. Hanya cowok itu satu-satunya yang mengetahui semua tentang Bintang. Begitu pun sebaliknya, Bintang juga sudah tahu semua tentang Surya. Itu karena mereka sudah bersahabat dan akrab sejak kecil. Bahkan, mereka sudah tampak seperti sepasang saudara.
Hari sudah semakin sore. Matahari yang ada di ufuk Barat sudah hampir tenggelam digantikan dengan terbitnya rembulan malam di ufuk Timur. Latihan futsal berakhir beberapa menit yang lalu. Setelah berganti baju, kini, Bintang sudah siap untuk pulang. Semua teman-temannya yang duduk di ruangan tamu menatap Bintang bingung. Pasalnya, sehabis mereka latihan, biasanya mereka menyempatkan diri untuk nongkrong dulu selama setengah jam sambil minum-minum sebelum pulang. Eitss, jangan salah paham dulu ... bukan alkohol, kok, yang mereka konsumsi.
Lagi-lagi, banyak pertanyaan yang Bintang dapat dari teman-temannya. Seperti ...
“Bintang, lo mau balik?”
Untungnya, ada Surya yang membantu Bintang menjawab pertanyaan teman-temannya. Huh, syukurlah! Ternyata anak itu berguna juga untuknya.
“Ya udah, gue cabut duluan. Sorry, enggak bisa gabung hari ini,” pamit Bintang sambil bertos ria ala cowok pada temannya satu-persatu.
Setelah acara pamitannya selesai, cowok itu pun melangkah keluar dari ruangan dan bergegas menuju ke parkiran. Menghampiri motor sport-nya dan menancap gas keluar dari parkiran tersebut.
Dinginnya malam menemani Bintang yang sedang berada di atas motor sendirian. Malan ini jalanan terlihat sangat sepi. Banyaknya kendaraan yang berlalu lalang bisa dihitung dengan jari. Tumben sekali jam segini jalanan tidak macet.
Angin sepoi-poi datang menerpa wajah Bintang, melambai-lambaikan rambut cowok itu yang mulai lebat. Seutas senyum terpancar di bibirnya melihat supermarket di depannya tak jauh dari tempatnya sekarang. Cowok itu menepikan motornya di depan supermarket yang buka 24 jam tersebut.
Bintang turun dari motor dan memarkirkannya seaman mungkin. Lalu lelaki dengan pakaian olahraga berwarna biru bercelana pendek itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket tersebut. Hawa dingin yang berasal dari AC ruangan tersebut langsung menusuk kulit Bintang yang hanya menggunakan pakaian lengan pendek.
Bintang melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Tidak terlalu ramai, tapi pengujungnya bisa dibilang banyak. Langkah cowok itu membawanya ke pojok ruangan tersebut, dimana di sana ada beberapa freezer besar yang menampung berbagai macam minuman dingin.
Ya, hanya itu yang menjadi tujuan satu-satunya Bintang masuk ke supermarket ini. Minuman dingin. Sudah sejak tadi lelaki itu menahan rasa dahaganya yang terus membuncah.
Bintang meneguk salivanya lalu menghampiri freezer tersebut. Karena ketidak-fokusannya pada jalanan, cowok itu sampai tertabrak troli belanjaan seseorang sehingga tubuhnya terjatuh dan berakhir tersungkur di lantai.
__ADS_1
BRUK!
“Bangsat!” umpat Bintang kesal.
Bintang mencoba bangkit dari posisinya, tetapi tidak bisa. Hingga dia merasakan tangan lain memegang bahunya mencoba membantunya berdiri.
“Eh, sorry ... gue gak sengaja. Lo ... lo gak papa, kan?” tanya gadis yang barusan menabraknya itu.
“Lepasin.” Bintang memberenggut kesal lalu menepis kasar tangan gadis itu yang bertengger manis di pundaknya. Dia mencoba sekali lagi bangkit dari posisinya dan berhasil. Dia pun merasakan gadis yang menabraknya itu pun bangkit dari posisi jongkoknya.
“Lo gak papa ... lo gak papa ....”
“Lo gak liat gue—”
Bintang menepuk belakang celananya seolah mengeluarkan debu yang menempel di sana. Awalnya, hendak mengomeli gadis itu karena kecerobohannya sampai membuatnya terjatuh. Namun ketika netra hitamnya bertemu langsung dengan netra gadis itu, ucapannya seketika menguap di udara. Paras gadis yang berdiri di depannya berhasil membuatnya diam tak berkutik. Lidahnya terasa keluh untuk melanjutkan perkataannya.
Bintang mengakhiri dumelannya. Wajah penuh emosinya tadi, kini berganti cerah. Senyum sumringah terukir indah di bibirnya.
"Cantik," gumam Bintang penuh dengan kekaguman.
Bintang menatap gadis itu dalam dengan senyuman yang terus terpatri di bibir. Sementara si gadis hanya membalasnya dengan tatapan datar. Hanya tatapan mata keduanya yang saling beradu. Tidak ada percakapan yang terjadi.
Perlahan tapi pasti, senyum tipis terbit di wajah ayu milik gadis itu. Senyuman Bintang seolah menular padanya.
“Ngapain liatin kayak gitu? Gue ganteng, ya?” tanya Bintang berhasil membuyarkan lamunan gadis itu.
Bintang terkikik geli di dalam hati karena setelahnya gadis itu tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bintang tahu gadis itu pasti sempat terpesona padanya.
Lamunan Bintang buyar ketika melihat gadis itu berlalu meninggalkan dirinya. Seketika kedua bola matanya membelalak melihat punggung gadis itu yang sudah tertelan lorong di sudut sana.
“HEH, LO MAU KEMANA?!” teriak Bintang membuat beberapa pengunjung melirik ke arahnya. Bintang tersenyum kaku sembari menundukkan kepala seolah meminta maaf pada mereka. “TUNGGUIN GUE!!!”
Teriakannya dihiraukan oleh gadis itu, dia terus melangkahkan kakinya.
Secepat kilat, Bintang menghampiri freezer tersebut dan mengambil satu minuman dingin secara asal dari sana. Baru mengajar gadis itu yang diyakini masih berada di sekitaran sini.
Flashback Off...
Bintang mengerjapkan matanya pelan. Senyuman manis terukir begitu saja di bibirnya. Senyuman yang akan membuat siapa saja meleleh ketika melihatnya. Sepotong kejadian saat di perjalanan pulang tadi kembali terputar di memori ingatan Bintang. Dimana dia bertemu bidadari cantik yang kesasar di supermarket. Pertemuan pertama yang tidak begitu mengenakan.
Ah, mengingat hal itu membuat Bintang tak bisa berhenti tersenyum.
__ADS_1
“Cantik,” gumamnya memuji.
...***...