Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 16. Bintang untuk Bulan


__ADS_3

"Darimana saja kamu?" suara itu menyambut kedatangan Bulan ketika membuka pintu.


"Dari rumah teman Pa." jawabnya berbohong.


"Sini kamu!" ucap Pak Irwan agak membentak.


Bulan pun langsung menghampirinya.


Pak Irwan pun memelototinya dengan tajam. "Apa yang sudah kamu lakukan di sekolah tadi?" tanya ayahnya agak keras.


Bulan hanya memutar bola matanya malas. Sudah dia duga. Pertanyaan itu pasti akan dilontarkan oleh ayahnya nanti kepadanya. Dan benar saja.


"Gak ada apa?" jawab Bulan biasa biasa saja. Tak ada rasa takut sedikit pun kepada sang ayah seperti biasanya.


"Jangan bohong Bulan. Papa baru saja mendapat surat peringatan dari sekolah kamu. Katanya tadi kamu berkelahi sama teman kamu. Apa benar itu?" ucap Pak Irwan kemudian memperlihatkan selembar kertas di tangannya.


Bulan hanya diam menunduk. Tapi bukan berarti ia sedang takut sekarang. Malah kebalikannya, ia tengah mengumpulkan kekuatannya untuk melawan ayahnya yang terlalu posesif ini.


"Jawab!" bentak Pak Irwan yang semakin membuat emosi Bulan memuncak.


"Iya Pa, itu benar. Emangnya kenapa?" jawabnya seolah-olah menantang.


"Ohh, jadi sekarang kamu sudah berani melawan Papa? Hm?" ucap Pak Irwan kemudian perlahan-lahan mendekati Bulan.


"Bulan gak berniat buat ngelawan Papa, tapi Bulan udah gede Pa. Bulan gak mau diatur-atur lagi kayak anak kecil. Bulan gak suka." ucap Bulan terus terang.


"Kurang ajar kamu ya!". Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Bulan, membuatnya meringis kesakitan.


Bu Mila yang melihat itu pun langsung menghampiri Bulan."Stop Pa, jangan sakitin Bulan lagi" ucapnya membela Bulan.


"Ma, lebih baik kamu diam. Gak usah belain anak kayak dia. Anak kayak dia emang pantes dapat ganjarannya." kata Pak Irwan saat melihat istrinya lebih membela Bulan, anaknya.


"Pa, bukannya Mama belain Bulan, tapi Papa yang sudah salah." ucapnya menghentikan ucapannya "Memarahi Bulan karena salah itu benar, tapi jangan sampai main fisik, Pa" lanjutnya menjelaskan.


"Papa jahat" ucapnya lirih.


Kemudian, Bulan melepaskan kedua tangan ibunya yang sedang mengelus-elus bahunya, kemudian berlari dari tempat itu.


"Bulan, Bulan!" teriak Bu Mila ketika melihat anaknya keluar rumah.


"Kamu mau kemana sayang?" tanyanya lagi, berteriak, yang tentu tak digubris oleh Bulan.


Bu Mila pun tersungkur ke lantai, menangisi kepergian anaknya. Ia sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya. Pak Irwan pun mencoba memenangkannya dengan mengelus-elus bahunya. Namun dengan cepatnya, Bu Mila menepis tangan suaminya itu dengan kasar.


"Kamu liat sendiri kan Pa, Bulan pergi. Ini semua karena Papa. Gara-gara Papa. Kalau sampai terjadi apa apa sama Bulan, Papa yang harus bertanggung jawab." ucap Bu Mila menyalahkan suaminya atas kepergian Bulan.


"Kok salah Papa?" tanyanya.


Istrinya tak menggubris pertanyaan suaminya dan malah pergi ke kamar, meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Sedangkan Pak Irwan, ia mengacak rambutnya frustasi.


"Mama benar, aku seharusnya tak menampar Bulan tadi. Aku sudah benar benar keterlaluan."


Sementara itu, Bulan terus berjalan menyusuri jalan raya tanpa tau arah dan tujuannya kemana. Ia sudah berhenti menangis, tapi sakit hatinya belum. Ia mengacak rambutnya frustasi. Sungguh, hari ini hari yang menjengkelkan baginya. Tak pernah terbayang dalam pikirannya akan mengalami semua ini. Awalnya semua berjalan dengan normal. Namun semenjak dirinya mengenal Bintang, masalah satu persatu mulai bermunculan. Dan Bulan tak suka hidup seperti ini, penuh dengan masalah. Itu hanya akan membuatnya gila. Namun salahkah ia karena telah mengenal dan mencintai Bintang? Haruskah ia menjauh darinya agar hidupnya kembali tenang seperti semula?


"Gue salah ya, kalau suka sama lho." batinnya di tengah lamunannya.

__ADS_1


Entah kenapa air mata Bulan lolos keluar begitu saja dari matanya. Ia mencoba menahan agar tidak menangis, namun pertahanannya itu roboh. Ia tak bisa lagi membendung air matanya. Tak terasa ia kini telah berada di sebuah taman. Bulan pun menghentikan langkahnya di taman tersebut. Ia menumpahkan segala amarah dan kekesalannya di tempat itu. Tak peduli dengan orang orang yang berlalu lalang di tempat itu selalu memperhatikannya. Tak peduli jika orang lain menertawakannya atau bahkan menyebutnya orang gila. Yang penting hatinya bisa puas setelah ini.


Tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang sejak tadi. Ia tak menegur Bulan dan atau menenangkannya sekalipun. Seolah-olah ia memberinya kesempatan untuk memuaskan hatinya terlebih dahulu.


Semakin lama, tangisan Bulan semakin mereda, hingga tak terdengar. Rupanya ia sudah lelah.


Orang yang dari tadi menunggunya di belakang itu pun, menghampirinya dan memberikannya sebuah sapu tangan. Bulan pun langsung mengambilnya, lalu mengelap air matanya yang masih menempel di pipinya dengan sapu tangan tersebut. Kemudian ia mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memberinya sapu tangan tersebut.


"Makasih ya Bintang, lho udah buat gue tenang sekarang." ucap Bulan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bintang dan tangannya merangkul tubuh Bintang dari samping.


Ya, mereka sedanh duduk di sebuah bangku di taman tersebut.


"Sama-sama" jawab Bintang singkat.


"Jadi sekarang, kita baikan nih ceritanya?" tanya Bintang sengaja untuk membuat Bulan tertawa.


"Iya gue udah maafin lho." jawab Bulan.


"Lho gak bisa jauh jauh sama abang ganteng ini. Gak bisa kan?" ucap Bintang percaya diri.


Bulan pun bangun dari sandarannya dan melepaskan rangkulan tangannya. "Apaan sih?"


"Tapi benaran kan, lho gak bisa jauh dari gue? Ayo jawab!" goda Bintang yang membuat Bulan tertipu malu. Ia sebenarnya ingin agar Bulan melupakan semua masalahnya dan merasa tidak terbebani lagi. Dan benar saja, Bintang berhasil.


"Gombal" jawab Bulan, kemudian menggelitik tubuh Bintang.


"Ohh mau ngajakin perang ya?" tanya Bintang.


"Jangan". Baru saja Bulan mengatakan itu, Bintang sudah lebih dulu menggelitiknya, sehingga ia tertawa karena geli.


Setelah itu, Bulan pun kembali memyenderkan kepalanya di bahu Bintang, kemudian mereka menatap langit yang sama. Dua kata untuk langit malam ini; Langit tampak indah dan cerah. Banyak Bintang yang bertaburan di langit menghiasi indahnya malam ini.


Bulan pun mengikuti arah telunjuk tangan Bintang.


"Kamu liat kan bulan itu, yang sedang dikelilingi bintang bintang," ucap Bintang


"Iya, emangnya kenapa?" tanyanya.


"Bulan itu kamu dan salah satu dari binatang itu aku" sambungnya.


Bulan pun langsung menatapnya. "Kok gitu. Dia bukan bintang gue".


"Kenapa?" tanya Bintang ikut menatap Bulan.


"Karena bintang gue itu lho" jawab Bulan yang kemudian membuatnya jadi salah tingkah.


"Itu kan cuma perumpamaan Bulan, yang penting kan intinya sama" balas Bintang.


"Intinya? Maksud lho?"


"Iya, intinya kan sama." ucap Bintang mulai menjelaskan.


"Bulan dan bintang itu tak bisa saling melepas satu sama lain. Mereka saling membutuhkan. Jika salah satu diantara mereka tiba tiba tidak muncul pada malam hari, maka salah satunya tidak akan bisa bersinar dan memancarkan sinarnya dengan sempurna. Sama kayak kita."


"Gue gak ngerti deh maksud lho apa?". Meskipun Bulan tidak mengerti apa maksud Bintang, namun ia kagum terhadapnya. Tak pernah terbayang dalam pikirannya Bintang yang terkenal cool itu, bisa seromantis ini.

__ADS_1


"Maksudnya, aku dan kamu sampai kapan pun tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun itu, termasuk jarak." jelas Bintang agar Bulan lebih memahaminya.


"Kok bisa?" tanya Bulan, masih sedikit kurang mengerti.


Bintang langsung menarik satu pergelangan tangan Bulan dan menempelkannya di dadanya. Bulan pun bisa merasakan detak jantung Bintang. "Karena kamu adalah separuh dari bagian dalam diriku, Lan. Begitupun sebaliknya. Kamu bisa rasakan sendiri kan, jantungku ini berdetak untuk kamu, Bulan Purnamasari.".


Bulan hanya tersenyum menanggapi cowok itu, kemudian melepaskan tangannya dari dada cowok tersebut.


Keadaan kembali hening.


"Besok aku mau kasih kamu surprise." ucap Bintang tiba tiba untuk memecah keheningan.


"Hah? Surprise?" ucap Bulan mengulang kata Bintang.


Bintang pun menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Kenapa gak sekarang aja?" tanya Bulan lagi.


"Besok aja deh" jawab Bintang membuat Bulan mendengus kesal karena sudah tidak sabar.


"Ya udah pulang yuk, dah malam ini." ajak Bintang yang langsung diiyakan oleh Bulan.


Mereka pun berlalu dari taman itu. Sebelum pulang ke rumahnya, Bintang terlebih dahulu mengantarnya ke rumahnya.  Jika tadi pulang sekolah membawa sejuta luka, maka saat ini ia pulang membawa sejuta kebahagiaan.


Berselang menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga di rumahnya Bulan. Bulan pun turun dari motor Bintang dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Tak lupa pula memberi salam pada Bintang.


"Ya udah masuk gi, udah malam ini. Gak baik cewek masih berkeluyuran malam malam begini" Ucap Bintang.


"Oke pak bos" balas Bulan sambil berhormat pada Bintang, seolah olah Bintang adalah bosnya. "Kamu juga hati hati ya di jalan. Jangan ngebut ngebut".


Bintang pun menganggukkan kepalanya.


Sesampainya Bulan di kamar, ia langsung membaringkan tubuhnya yang letih ini di atas kasur. Kemudian perlahan lahan ia mulai mengerjapkan matanya. Ia sudah tak sabar menunggu hari esok. Kira kira kejutan apa yang akan diterima Bulan?


Terima kasih Bintang,


Karena engkau, aku bisa kembali bersinar,


Karena engkau, aku seakan lupa akan


masalah yang sedang ku hadapi sekarang,


Dan karena engkau, aku bisa tertawa


kembali seperti semula.


Jangan pernah meninggalkanku, Bintangku.


Aku mohon...


Selamat tidur....


Semoga bertemu di alam mimpi...


I love you, Bintangku.

__ADS_1


                        Salam hangat,


                       Bulan Purnamasari


__ADS_2