
"OH MY GOD, GUYSSS!!! KALIAN WAJIB LIAT INI!!!" Sekumpulan murid cewek berlarian masuk ke dalam kantin dengan begitu heboh. Derap lari yang dihasilkan oleh mereka membuat hampir semua pasang mata mengarah pada mereka dengan pandangan bingung.
Bulan dan Renata yang duduk di salah satu meja pojok pun menoleh risih pada mereka. Acara makan mereka terasa terganggu gara-gara si pembuat rusuh itu.
"Ada apa, sih? Kok, rame?!" Bulan melayangkan pertanyaan pada Renata, dibalas dengan rotasi bola mata dari gadis berambut panjang dikuncir menjadi satu itu.
Berikut, helaan napas kasar terdengar darinya. "Huh, paling juga lagi caper," sahut Renata malas.
Sambil melambai tangan di udara, Renata kembali berucap, "Udahlah! Daripada ngeliatin anak banyak drama kayak mereka yang ujung-ujungnya bikin eneg, mending kita makan aja."
Bulan hanya mengangguki, lalu dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk berisi bakso kembali terdengar dari dua gadis cantik itu. Mereka lanjut makan bakso pesanan mereka yang belum sempat habis di tengah ramainya kantin.
Seorang gadis yang diduga leader dari kumpulan tersebut-berdiri di depan kantin didampingi oleh teman-temannya-berucap lantang, "Kalian wajib cek grup chat sekolah masing-masing. Ada berita hot yang wajib teman-teman tahu."
Mendengar itu, beramai-ramai murid langsung mengecek ponsel masing-masing untuk mengetahui hal heboh apa yang sedang dibawakan oleh Mentari dan kawan-kawan hari ini. Tentu mereka penasaran, karena semua hal yang dibawakan oleh selebgram yang satu ini selalu ter-update dan trending topic.
Di layar ponsel murid-murid, terpampang jelas beberapa jepretan foto si ketua osis dengan gadis asing-diduga siswi baru-tengah berjabat tangan. Tentu foto itu diambil secara diam-diam. Tak perlu mereka pertanyaan lagi, siapa pemotret dan dalang dibalik ini semua karena tentu saja semua jawaban mengarah ke satu nama. Mentari. Lalu, di bawah foto itu tertulis dengan jelas kalimat seperti berikut ini.
'KETUA OSIS & MURID BARU.
AHAY!!! KETOS DAPET GANDENGAN BARU INI.
MEREKA PASANGAN SERASI BUKAN, SIH?!!!'
Kata-kata itu sengaja ditulis besar dan dibuat tebal, seolah-olah ingin menekankan.
Desas-desus mulai terdengar. Suasana semakin bertambah panas. Renata yang juga diam-diam ikut mengecek grup membelalakkan bola matanya dan menatap Bulan nyalang, penuh tanya. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati foto teman sebangkunya sedang berjabat tangan bersama sang ketua osis SMA Mahardika.
"Lan, serius ini lo?!" pekiknya tak santai sembari menyodorkan ponsel miliknya itu ke hadapan Bulan.
__ADS_1
Bulan mengerut kening dalam sembari menerima ponsel itu dari tangan Renata. Lalu di detik berikutnya, bola matanya ikut terbelalak kaget. Dia mengangkat dagu dan menatap Renata dengan protes.
"Siapa yang fotoin gue?" Walau terkesan dingin, namun tersirat akan nada frustasi.
Terdiam cukup lama, hingga akhirnya Renata menunjuk gadis dengan dandan menor di wajah yang tak lain dan tak bukan adalah Mentari, menggunakan dagu. "Tuh, dalangnya!" ujar Renata kelewat santai.
Bulan mengikuti arah pandang Renata. Ia mendapati seorang gadis dengan dandan menor di wajah yang membuatnya bergidik ngeri. Bukannya terlihat cantik, gadis itu malah terlihat seperti janda anak dua. Padahal kalau dilihat secara teliti, gadis itu sudah cantik secara natural.
Bulan seperti merasa tidak asing dengan wajah itu. Ah, Bulan ingat! Bukannya gadis dengan dandan menor itu teman sekelasnya? Yang menatapnya sinis saat ia perkenalan di depan, bukan?
Sialnya, tepat saat Bulan melirik ke arahnya, Mentari pun demikian. Alhasil, pertemuan netra keduanya tak terelakkan. Bulan yang merasa sedikit risih, cepat-cepat memalingkan pandangan. Sementara Mentari diam-diam mengulum senyum tipis.
"GUYS, LIAT DEH CEWEK BERAMBUT SEBAHU TERURAI DI POJOK SANA! DIA ITU SI MURID BARU DI FOTO ITU LOH!!!" Tiba-tiba, Mentari berteriak heboh membuat pasang mata secara bersamaan menoleh ke tempat Bulan dan Renata duduk.
Jika Bulan hanya menampilkan raut datar tanpa minat, berbanding terbalik dengan Renata yang membulatkan matanya lebar-lebar seakan ingin keluar. Kini, mereka menjadi pusat perhatian. Lalu, Renata menatap Mentari dengan raut protes, dibalas dengan seringai jahil dari gadis sialan itu.
Hal itu semakin ramai ketika salah satu orang lagi yang sedang menjadi topik pembicaraan di hari itu masuk di kantin. Siapalagi kalau bukan Bragatama Langit Arkana, si ketua osis.
Lelaki dengan setelan rapi itu terhenti di ambang pintu saat semua pasang mata menyorot ke arahnya. Bingung sendiri.
Ada apa nih? Kok, pada ngeliatin gue? Tanyanya dalam hati.
Samar-samar, ia mendengar bisik-bisik di sekeliling tengah membicarakan dirinya. Namun, seolah menutup telinga lelaki itu bersikap acuh dengan melangkah maju ke dalam kantin.
Mentari yang menyadari keberadaan lelaki itu tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Bagus, ini bisa menjadi pelengkap dramanya agar terlihat lebih natural. Gadis itu tersenyum lebar.
"EH! EH! PAWANGNYA DATENG, GUYS! YOK, KASIH JALAN! DIA PASTI MAU MENEMUI TUAN PUTRINYA, HEHE!!!"
Bulan hanya bisa menutup telinga rapat-rapat dengan semua itu. Dengan malas, gadis itu bangun dari duduknya tepat saat Langit berdiri di depannya. Gadis itu langsung melangkah lebar bahkan sebelum Langit mengucapkan sepatah kata pun. Berbagai macam seruan mengiringi kepergiannya. Huh, baru pertama sekolah sudah dapat kesialan seperti ini!
__ADS_1
Langit hanya bisa menelan kata-kata yang hendak keluar dari bibir sambil menyoroti kepergian gadis itu. Dia belum mengerti betul situasi.
Sementara Mentari di depan sana semakin mengembangkan senyum sinis seolah barusan bukan apa-apa. Gadis itu senang berhasil mempermalukan Bulan si murid baru.
"Bulan kenapa?" Langit bertanya pada Renata, adik kelasnya.
Renata meliriknya sebentar setelah bangun dari kursi. Tak menanggapi ucapannya, gadis itu malah meneriaki Mentari.
"PUAS LO BIKIN BULAN MALU?! DASAR PEMBUAT MASALAH!" Lalu, Renata melenggang pergi begitu saja menyusul Bulan. Meninggalkan Langit yang kini terheran-heran dengan sikapnya yang terbilang aneh.
Seorang lelaki di bangku pojok lainnya, tampak sedang menahan gejolak dalam diri. Wajahnya sudah memerah padam. Tampak tak terima dengan perlakuan Mentari pada Bulan.
Dia, Bintang Prawijaya. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Mentari dengan kedua tangan mengepal kuat dan urat di leher menonjol keluar.
"Woi mau kemana lo?! Makanan lo belum abis!" Surya meneriakinya dengan mulut penuh. Lelaki itu baru saja menyendokkan dua biji bakso sekaligus ke dalam mulut sehingga membuat mulutnya mengembung.
"Oh, hai babe! Ternyata kamu di sini juga." Mentari langsung bersikap manis begitu melihat siluet Bintang mendekat ke arahnya. Ia berjalan mendekati lelaki itu dan bergelayut manja di pergelangan tangannya.
Di luar dugaan, Bintang menghempas tangan Mentari begitu kuat sehingga gadis itu terpental beberapa jengkal ke samping. Mentari dan teman-temannya terkejut akan hal tersebut.
"Gak usah ganjen lo ... dan gue peringatin berhenti gangguin Bulan!" sentak Bintang.
Mentari dibuat bungkam beberapa saat. Hingga kemudian, ia melayangkan satu pertanyaan yang berhasil mendapat tatapan dingin dari Bintang.
"Emangnya, Bulan siapa lo, sih ... sampe dibelain gitu?!" Walau terdengar seperti bentakan, akan tetapi nada lirih yang tersirat tak tersumbunyi.
"Mau Bulan siapa gue, itu bukan urusan lo. Ngerti!" balas Bintang, lalu berlalu begitu saja.
***
__ADS_1