Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 46. Berkunjung ke Rumah


__ADS_3

Drama di sekolah baru seharian ini membuat Bulan merasa lelah. Baru sehari sekolah tetapi sudah berurusan dengan orang-orang penting di SMA Mahardika. Dia kira pertemuan tak sengaja dengan Langit, si ketua osis. Tidak akan berpengaruh pada kehidupannya, nyatanya malah sebaliknya.


Lalu, ada Bintang dan Mentari yang sialnya lagi teman sekelas Bulan. Bulan pikir mereka adalah sepasang kekasih yang tidak akur, atau mungkin sudah menjadi mantan tetapi salah satu dari mereka belum rela melupakan.


Bintang, si badboy---kata siapa Bulan tidak capek menghadapi sikap cowok itu. Sementara Mentari, Bulan benci melihat wajah sinis dan penuh permusuhan yang selalu terpampang untuknya. Seakan Bulan ingin mencabik-cabik wajah itu sampai tak terbentuk. Hanya saja dia mencoba sabar sehingga tidak sampai melakukan hal itu. Lagi pula dia tidak ingin membuat masalah di sekolah apalagi statusnya sebagai murid baru sekarang.


Dan satu hal paling tidak wajar bagi Bulan. Wajah Bintang terus berkeliaran di kepalanya. Entah karena apa wajah itu seolah tak ingin menghilang dari bayang-bayang Bulan. Sialnya lagi, Bulan sempat blushing hanya karena tatapan cowok itu saat di kelas tadi ketika Bulan baru selesai menjawab soal matematika di papan tulis. Ya, Tuhan bagaimana mungkin Bisa terpesona pada para lelaki itu. Tidak mungkin kan, Bulan sudah ...


Ah, itu tidak mungkin!


Gadis itu menghela napas gusar. Dia yang sedang tiduran di atas kasur, lantas bangun setelah mengacak rambutnya frustasi. Kemudian tidur lagi dengan posisi tengkurap. Menenggelamkan wajah kusutnya di atas bantal.


Hingga suara ketukan pintu dari luar mengalihkan perhatian gadis itu. Hening sejenak melingkupi sebelum Bulan membalik tubuh dan turun dari ranjang saat mendengar suara lembut sang asisten rumah tangga memanggil namanya.


“Non, ada temannya yang datang di depan!” kata sang pembantu lanjut mengetuk pintu karena belum mendapat respons dari si empunya kamar.


Bulan yang tadinya hanya menyimak lantas bangun dari tidurnya mendengar itu. Temannya? Siapa?


Dia menghampiri pintu kamar dan membukanya. Dia menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan kernyitan.


“Siapa, Bi?” tanyanya.


“Itu, Non. Cowok,” ujar si bibi.


Hal yang membuat kening Bulan makin mengerut. Terdiam beberap saat memikirkan hal itu hingga akhirnya dia beranjak turun ke lantai bawah untuk melihat langsung siapa yang bertamu di rumahnya malam-malam seperti ini.


Di lantai bawah. Bulan dapat melihat sileut seorang pemuda yang cukup familiar sedang duduk santai di sofa ruang tamu dengan posisi membelakanginya.


Mendengar suara undakan tangga, si lelaki lantas bangun dari duduknya dan berbalik badan. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat sosok Bulan sudah berdiri di sana.

__ADS_1


“Hai, cantik!” sapa lelaki itu melambaikan tangan, lalu mengedipkan mata genit.


Sejenak Bulan mematung di tempat. Sangat terkejut dengan pemandangan di depannya.


“L-lo ...,” cicitnya pelan, sebelum kembali merubah raut wajahnya menjadi datar.


Dia menghampiri sosok itu dengan tenang. Dia mengambil tempat di sofa samping lelaki itu. Lalu beralih menatap dingin sosok yang sudah duduk kembali di tempatnya.


“Ngapain ke sini dan dari mana lo bisa tau alamat rumah gue!” Bukan pertanyaan, tetapi sebuah tuntutan tegas untuk menjawab.


Senyum itu masih ada. Senyum yang perlahan berubah menjadi seringai tipis.


“Apapun bisa gue lakukan Bulan Purnamasari. Sekalipun itu untuk memenangkan hati batu lo itu,” kata Bintang penuh percaya diri.


Dalam diam, Bulan mendengus sinis. Ck, apa katanya barusan? Rasanya Bulan ingin mual mendengarnya. Mungkin seperti inilah sosok asli buaya ketika sedang mencari mangsanya. Sayangnya, Bulan bukan salah satu dari para gadis yang mungkin saja sudah berhasil lolos oleh jebakan bujuk rayu lelaki di depannya itu.


Bintang menyeringai jahil melihat tingkah Bulan yang menatapnya dengan ekspresi jijik.


“Kok, diusir, sih? Enggak sopan banget sih lo sama tamu,” cetus Bintang terang-terangan.


Bintang mengerut tak suka, meski pada akhirnya tetap beranjak dari tempat duduknya. Baiklah, mungkin benar kata Surya. Segala sesuatu termasuk untuk mendapatkan hati perempuan yang kita sukai butuh waktu dan proses yang tidak singkat.


Sebelum berlalu pergi tak lupa meninggalkan sepatah kata, “Ya udah, gue pulang, ya, cantik,” pamitnya.


Bintang maju selangkah dan mengelus puncak kepala Bulan dengan lembut. Dengan cepat ditepis oleh gadis itu.


“Enggak sopan banget, sih, lo! Gila ya!” gerutu Bulan kesal.


Lagi dan lagi Bintang menyengir melihat itu.

__ADS_1


“Lo ternyata banyak bicara juga, ya, kalo di luar sekolah,” tutur Bintang.


Hal yang membuat Bulan langsung mematung di tempat. Ah, sepertinya dia sudah kelewat batas. Harusnya Bulan tetap mempertahankan raut datarnya tadi. Namun, sialnya Bintang sudah melihatnya dari sisi lain.


Ini tidak bisa dibiarkan!


***


Satu minggu kemudian...


Seminggu sejak kejadian Bintang datang di rumah Bulan malam-malam. Untung saja malam itu kedua orang tua Bulan sedang di luar rumah sedang menghadiri pesta salah seorang kerabat papanya di Jakarta.


Entah apa jadinya andai saja Irawan tiba-tiba muncul malam itu. Bulan tak bisa bayangkan bagaimana marahnya pria itu. Seorang lelaki berkunjung ke rumahnya tengah malam dan menemui anak gadisnya?


Tidak! Bahkan mendengar kata pacaran dari mulut Bulan saja, emosi Irawan sudah di batas kepalang.


Sejak saat itu pula Bintang tiada henti merecoki hidup Bulan. Tidak di sekolah, tidak sepulang sekolah. Ketika Bulan sedang belajar di kelas, membaca buku di perpustakaan, atau ketika sedang jajan di kantin bersama Renata. Ada saja waktu bagi lelaki itu untuk mengganggu ketenangan hidupnya. Tiba-tiba datang bak jelangkung yang tak diundang, lalu pergi tanpa diantar. Tentu pergi setelah berhasil membuat Bulan kesal dan merasa terusik.


Bahkan Renata yang berstatus sebagai teman sebangku Bulan saja merasa risih dengan sikap Bintang. Menurutnya Bintang terlalu berlebihan. Renata tidak pernah melihat sikap berlebihan cowok itu di sisi lain. Namun, kedatangan Bulan seolah mengubah segalanya. Renata dapat melihat obsesi yang tinggi di mata cowok itu untuk memiliki Bulan.


Beberapa hari lalu, Langit pun ikut mendatangi Bulan ke kelasnya. Parahnya lagi, cowok itu datang di saat yang tidak tepat. Di saat jam pelajaran masih berlangsung. Di saat kelas masih ramai.


Hal yang membuat murid-murid teman sekelas mereka jadi bertanya-tanya sebenarnya mereka ada hubungan apa. Rumor yang terus beredar hari itu kembali trending topik karena hal tersebut.


Langit datang meminta maaf perihal kesalahpahaman yang disebarkan oleh Mentari di kantin. Bulan hanya bisa meringis malu dengan kepala tertunduk. Tatapan interogasi dari murid-murid lain membuatnya tak fokus. Tidak tahu hendak mengatakan apa. Sebenarnya, dia tidak terlalu marah pada Langit hari itu. Dia hanya kesal pada Mentari yang menyebarluaskan hoaks.


Walau demikian, Bulan tetap memaafkan Langit. Bulan akui Langit tidak sepenuhnya salah. Bahkan tidak bersalah. Hanya saja pertemuan mereka yang tidak tepat kala itu yang membuat semuanya menjadi sedikit rumit.


Sedangkan Mentari. Tiada henti gadis itu melayangkan tatapan permusuhan padanya. Wajahnya setiap kali bertatapan dengan Bulan selalu saja sinis.

__ADS_1


***


__ADS_2