Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 21. Permulaan


__ADS_3

Di taman belakang sekolah, tempat cewek tersebut kini berdiam diri. Duduk di bangku taman dengan pikiran yang melayang layang di udara. Itulah yang dilakukan cewek itu. Tampak dari raut wajahnya, ia kelihatan bingung.


Pernyataan perasaan kakak kelasnya tersebut yang secara tiba tiba membuatnya tak bisa berpikir secara normal. Ia tak tau mesti jawab apa. Di satu sisi, ia masih mencintai Surya, meskipun cowok itu tak pernah menganggapnya ada. Tapi di sisi lain, ia juga tidak mau menyakiti dan menghancurkan perasaan Langit. Cowok itu benar-benar tulus mencintainya. Namun salahkah Tata jika ia menolak cinta kakak kelasnya itu, karena ia tidak mencintainya? Ataukah ia masih belum terlalu merasakan kehadiran dirinya dalam hidupnya.


"Duh gimana nih?" Tata mengacak rambutnya frustasi.


Tiba tiba seseorang datang menghampirinya.


"Woy." ucap orang tersebut sambil menepuk pundak Tata.


Cewek tersebut pun kaget dan tersadar dari lamunannya. "Ngagetin aja?"


"Lho tau gak, jantung gue hampir copot tau gara-gara lho." celotehnya.


Orang yang mengejutkannya itu pun hanya bisa terkekeh sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Tata. Kemudian ia mengambil alih, duduk di samping Tata.


"Lagian, lho ngapain sendirian di sini? Gak takut setan lho." ucap orang tersebut.


"Ihh, Bulan lho udah hampir buat gue jantungan, terus sekarang lho mau nakut-nakutin gue. Ihh, gue kesal tau gak sama lho. Lho jahat." celoteh Tata.


"Kok gue dikatain jahat sih, gue kan orangnya baik." balas Bulan tak terima dikatain jahat.


"Umm, baik sih baik. Cuman..." ucap Tata menggantung ucapannya.


"Cuman kalau ada maunya." Tawanya pun meledak seketika dan menggema di gendang telinga Bulan, membuatnya menutup telinga dengan kedua jari tangan.


"TATA BERHENTI!" teriak Bulan risih.


Tata pun menghentikan tawanya.


"Suara lho kayak kuntilanak tau. Bisa-bisa orang yang mendengarnya pingsan ketakutan." ledek Bulan tanpa memperhatikan perasaan cewek itu, bakalan marah atau bagaimana.


"Enak aja lho kalau ngomong." semprot Tata tak terima.


"Dih, santai mbak, santai." ucap Bulan mencoba memenangkan Tata dan meredakan emosinya.


"Tarik nafas dalam-dalam!" pintah Bulan yang kemudian dituruti Tata dengan baik.


"Kemudian hembuskan lewat mulut pelan pelan." Lagi-lagi Tata mengikuti instruksi dari Bulan.


"Nah, udah lega kan sekarang?" ucap Bulan memastikan. Tata pun mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Nah, karena lho udah lega... Sekarang gilirang lho cerita ke gue. Kenapa lho di sini melamun sendirian? Ada masalah apa?" ucap Bulan mengintrogasi.


Tata menghela napasnya berat. Seolah-olah ia akan menceritakan hal sangat berat.


"Kak Langit nembak gue." ucap Tata singkat, namun padat dan jelas.


"WHAT?" Empat kata itu mampu membuat Bulan tercengang tak percaya.


"Serius lho?" tanya Bulan memastikan. Tata pun menganggukkan kepalanya.


"Gue juga gak tau, kenapa Kak Langit ngungkapin perasaannya secara tiba-tiba." jelas Tata.


"Terus, lho terima atau gimana?" Tanya Bulan.


"Nah, Itu dia tuh yang buat gue jadi bingung harus jawab apa." ucap Tata.


"Apa hubungannya Tata? Kak Langit nembak lho terus lho bingung harus jawab apa?" ucap Bulan mencoba membuka hati Tata agar bisa menerima Langit di hatinya.


"Terima aja." ucap Bulan mantap.

__ADS_1


"Astaga Lan, segampang itu lho bilang terima. Lho kan tau Lan, gue kan sukanya sama... " timpal Tata.


"Sampai kapan lho suka sama Surya? Sampai nenek-nenek. Udah dong Ta, move on aja. Apa susahnya sih? Toh, dia juga gak nganggep kamu." sela Bulan.


"Iya juga sih. Sampai kapan gue begini terus. Belum tentu juga Surya balas perasaan gue." batin Tata mengiyakan ucapan Bulan.


"Tapi kan, gue gak cinta sama Kak Langit." ucapnya lagi.


"Bukan gak cinta Tata, tapi lho belum nyadarin itu semua. Ini karena lho belum move on dari Surya. Tapi, lama-lama lho juga bakalan cinta kok sama dia." jelas Bulan meyakinkan Tata.


Dan benar saja, berkat Bulan akhirnya Tata bisa kembali membuka pintu hatinya pada cowok lain selain Surya. Cewek itu berhasil membuat Tata kembali ceria.


"Jadi, gimana?" tanya Bulan memastikan.


"Oke, gue bakal terima." jawab Tata disertai dengan senyumannya.


Mereka pun berpelukan.


"Makasih ya, Lan." ucap Tata lirih.


Sementara itu, ada sepasang bola mata yang mendengarkan percakapan kedua gadis tersebut di balik pohon yang tak jauh dari mereka.


"Ohh, jadi Tata ditembak Kak Langit. Gue harus bikin mereka musuhan supaya mereka gak jadian. Tapi gimana ya caranya?"


Tiba-tiba sebuah ide jahat terlintas di pikiran si pengintip itu. Ia pun tersenyum jahat ke arah dua gadis itu yang tentu tak mereka lihat.


                                         ~~~~


Renata Anastasyah


Kak, sehabis ini kita ketemuan di taman belakang sekolah.


Ketik Tata di room chatnya dengan Langit. Tak berapa lama sebuah notif masuk di handphone Tata. Mungkin itu balasan dari Langit.


Oke.


Tata pun hanya membacanya. Kemudian ia mematikan handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku bajunya kembali.


'Kring...'


Tak terasa bel tanda pulang, berbunyi. Inilah hal yang dari tadi ditunggu-tunggu murid-murid. Tak terkecuali Bulan dan Tata. Mereka pun berhamburan keluar kelas  dengan wajah yang ceria.


Seperti halnya Tata dan Bulan, kedua cewek itu berlarian menuju taman belakang sekolah untuk menepati janjinya tadi.


Alangkah bahagianya Tata ketika sudah mendapati seorang cowok berdiri tegap dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana tengah membelakanginya di depannya. Tata pun langsung menghampirinya. Sementara Bulan, cewek itu hanya menunggunya dari kejauhan. Sebenarnya ia tak ingin ke tempat itu. Ia tak suka ikut campur urusan orang lain. Namun karena Tata yang memintanya, jadi ia tidak bisa menolaknya.


"Hai." sapa Tata.


Cowok itu pun membalikkan badannya dengan perlahan mendengar sapaan Tata.


"Surya!" ucap cewek itu tak percaya.


Cowok itu pun tersenyum manis terhadapnya. Jujur, cewek itu kembali jatuh cinta lagi pada cowok itu. Apalagi, itu adalah senyuman pertama Surya untuknya.


"Kok, ka-mu bi-sa di sini?" tanyanya to the point.


Bukannya menjawab cowok itu, malah mengambil kedua tangan Tata dan menggenggamnya.


"Itu gak penting, kenapa gue bisa di sini." ucap cowok itu.


"Mau bilang apa? Cepat ngomong, gue gak punya banyak waktu." Tanya Tata ketus.

__ADS_1


"Gue cuman mau bilang satu hal ke lho." Jawab Surya dengan tangan yang masih digenggam.


"Aduh cepet ngomong deh, gak usah basa-basi kayak gitu." ucap Bulan risih.


"Lho mau kan, jadi pacar gue?" ucap Surya.


"What? Apa-apaan  lagi ini? Kenapa semuanya jadi berbalik ke gue." batin Tata kaget.


"Tata!" ucap seseorang membuat kedua orang tersebut mengarahkan pandangannya pada cowok itu. Yang entah sejak kapan sudah berada di situ.


"Kak Langit?" ucap Tata mengernyit heran tak percaya kalau Langit sudah berada di hadapannya. Dengan cepat pun Tata melepaskan tangannya dari tangan Surya.


Sementara itu, Bulan berdecak kesal melihat itu.


"Duh kok jadi gini sih. Kan bisa-bisa Kak Langit jadi salah paham. Lagian itu Si Surya, ngapain pake nembak Tata segala sih." batinnya.


"Duh, gimana nih?"  batin Tata tak tau harus bagaimana.


"Jadi ini maksud kamu?" tanya Langit tak percaya. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa, lalu bergegas pergi dari tempat itu.


Sementara itu, Surya diam diam tersenyum jahat.


"Kak Langit!" teriak Tata yang hendak mengejar Langit, namun tangannya cepat dicekal oleh Surya.


"Surya, lho apa-apaan sih? Lepasin tangan gue!" ucap Tata ingin mengejar Langit.


"Gak akan gue lepasin, sebelum lho menjawabnya." ujar Surya bulat.


Tata tersenyum meremehkan. "Sampai kapanpun gue gak akan pernah menerima cinta lho." ucapnya sambil menunjuk-nunjuk dada Surya. "Ngerti lho?" ucapnya menekankan.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Tata pun berlari mengejar Langit yang kini pasti sudah menjauh dari tempatnya.


Cowok itu pun menggeram kesal dalam hatinya. Bisa-bisanya cewek itu menolaknya dengan sangat tidak sopan.


"Liat aja nanti, gue bakal bikin lho terklepek-klepek sama gue dan gue gak akan biarin lho buat jadian sama Langit."  batinnya sambil tersenyum jahat.


Selepas kepergian Bulan dan Tata, seorang cewek pun datang menghampiri Surya yang masih berdiri tegap di posisinya.


"Bagus Surya!" seru cewek itu sambil tersenyum jahat.


"Karena gue udah berhasil buat mereka musuhan, sekarang tepatin janji lho." ucap Surya.


"No, gak segampang itu Surya. Tugas lho belum selesai." balas cewek itu.


"Apa maksud kamu Mentari? Jangan bilang kamu cuman manfaatin aku." tanya Surya tak terima.


"Karena emang iya Surya." batinnya tersenyum jahat.


"Kata siapa? Gue gak pernah bilang itu." ucap cewek itu agar Surya tak curiga.


"Terus apa tugas gue selanjutnya?" tanya Surya melembut. Rupanya, ia sudah luluh kembali.


Mentari pun membisikkan sesuatu kepada Surya.


"Apa?" teriak Surya tak percaya dengan tugas selanjutnya yang diberikan Mentari padanya.


"Jadi gimana? Mau gak gini? Kalau gak mau juga gak pa-pa. Tapi jangan harap_" tanyanya untuk memastikan.


"Oke gue mau." potong Surya.


"Bagus" ucapnya tersenyum jahat.

__ADS_1


"ini baru permulaan Bulan."


__ADS_2