Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 47. Perihal Bulan Pingsan


__ADS_3

“Bagaimana sekolahnya seminggu ini? Enggak ada yang aneh-aneh, kan?”


Makan malam yang hening---hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar---seketika pecah oleh pertanyaan Irawan.


Pria itu melonggarkan dasi yang mencekik leher kemudian menenggak air putih di dalam gelas. Dia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Dia melayangkan pertanyaan tanpa menatap sang putri.


Aktivitas Bulan yang sedang mengunyah makanan seketika terhenti. Begitu pun Mila. Wanita itu menghentikan tangannya yang sedang menyendok lauk pauk dan memindahkannya ke piring. Sejenak dua perempuan berjarak umur itu saling menatap. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang tersisa. Waktu seakan berhenti berputar.


“Baik, Pa,” jawab Bulan lanjut menghabiskan makanan dalam mulutnya.


“Ya iya dong. Bulan kan anak baik-baik, Pa. Enggak mungkin lah aneh-aneh,” timpal Mila terang-terangan berpihak pada Bulan.


Tak merespons ucapan sang istri dan sang anak, Irawan bersama raut tak pedulinya bingkas bangun dari tempat duduknya dan berlalu dari sana.


“Ingat, belajar yang benar. Jangan buat ulah yang bisa bikin malu keluarga!” Dia hanya meninggalkan sepenggal kata. Ancaman seperti sebelum-sebelumnya. Kalimat serupa yang mungkin sudah di luar kepala Bulan.


Kembali Bulan dan Mila saling beradu tatap karena hal tersebut. Bulan dengan wajah tidak mengertinya dan Mila dengan gurat lelah. Hela napas berat terdengar panjang dari bibir wanita itu.


***


Pagi yang cerah menyambut hari Bulan yang suram. Pasalnya, gadis itu bangun kesiangan hingga berakhir di sini. Berada di antara deretan murid-murid yang mana bernasib sial sama seperti dirinya. Berdiri di tengah lapangan sambil hormat ke tiang bendera. Hukuman yang umum bagi murid-murid yang suka terlambat kalau bukan membersihkan toilet sekolah.


Keringat mengucur deras membasahi pelipis gadis itu. Tangan pun tak kalah pegal sudah hormat sejak belasan menit yang lalu. Sialnya lagi, sang guru BK yang menghukum mereka tak beranjak juga dari hadapan mereka. Guru killer itu malah mengambil kursi dan duduk di pinggir lapangan. Mengawasi murid-murid begitu ketat supaya setelah ini mereka bisa kapok dan tidak melanggar aturan lagi.


Guru BK berjenis kelamin laki-laki itu menenggak sebotol air mineral. Dengan sengaja memamerkan air minum kemasan di depan muridnya yang kini sedang menahan dahaga. Tak ada yang bisa dilakukan para murid itu selain menelan ludah ngiler dan beberapa lagi mengumpat dalam hati, bahkan terang-terangan menyumpah serapahi guru itu.


Segala macam memenuhi Bulan. Panas dan juga haus. Ditambah risih karena sialnya dia harus ada dalam lingkup cowok yang satu ini. Mana berdiri tepat di samping Bulan lagi!


Sedari tadi tiada henti mengajak Bulan mengobrol namun diacuhkan olehnya. Entah apa salah Bulan, tetapi semesta seolah sedang menguji kesabarannya dengan terus mempertemukan dirinya dan terjebak dalam satu ruang seperti ini.


Sok asik. Dua kata yang menggambarkan watak Bintang bagi Bulan. Ya, tentu saja setelah SKSD (Sok Kenal Sok Dekat).


Lagi pula, kenapa juga cowok satu ini harus terlambat?


Ah, Bulan lupa Bintang kan memang bulan-bulanannya hal seperti ini. Bagaimana Bulan bisa melupakan cap badboy dalam diri seorang Bintang Prawijaya.


“Lo kenapa bisa terlambat, sih?” tanya Bintang.

__ADS_1


Entah untuk ke berapa kalinya menanyakan hal yang sama. Tiada bosan menatap wajah cantik natural itu dari samping.


“Kepo lo,” gumam Bulan nyaris terdengar.


Gadis itu mengerutkan kening saat baru sadar dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir. Kenapa juga Bulan harus menjawab pertanyaan itu? Kemana sisi cuek Bulan pada sekitar?


Entah kenapa selalu lenyap digantikan dengan emosi menggebu-gebu jika berada di dekat Bintang. Mungkin karena dari sananya cowok itu selalu membuat orang-orang kesal.


Sementara Bintang terkekeh kecil mendengar itu. Jujur saja sangat senang meksi balasan dari Bulan terkesan sinis. Bagi Bintang, ini adalah sebuah kemajuan ketika Bulan sudah mulai membalas setiap ucapannya. Itu artinya, gadis itu sudah terusik dan rencana pendekatan Bintang sudah berhasil perlahan-lahan.


“Gue tebak lo lambat bangun,” lanjut Bintang tanpa beban.


Bulan seketika menoleh dengan kernyitan dahi, raut kaget mendominasi. Bagaimana dia bisa tahu? Tanyanya dalam hati seraya menatap Bintang lekat.


Ditatap seperti itu tentu membuat Bintang gelagapan. Walau di sini dia yang terkesan agresif. Namun pada kenyataannya, cowok itu akan lemah jika sudah ditatap lekat oleh orang yang sedang ditaksir.


“K-kenapa natap kayak gitu? G-gue ... bener, kan?” tanya Bintang memastikan.


Tidak mendapat jawaban dari Bulan dan hanya tatapan yang masih sama yang dia layangkan. Bintang segera memalingkan pandangannya. Cowok itu sedang menormalkan degup jantungnya yang tak normal. Sial!


Untung wajahnya tidak ikut memerah. Bisa-bisanya dia deg-degan hanya dengan ditatap lekat oleh Bulan. Kalau seperti ini ceritanya, kemungkinan besar Bintang yang akan jatuh duluan. Kalah sama perasaannya sendiri.


***


90 menit berlalu...


Bersamaan dengan bel istirahat yang berdering nyaring, hukuman para murid terlambat pun berakhir. Sang guru BK lantas membubarkan barisan. Hal tersebut mendapat sorakan dari murid-murid yang tidak terlambat ketika beberapa teman kelas mereka baru tiba di kelas padahal jam pelajaran pertama sudah selesai.


Bintang pun berlalu keluar dari lapangan. Namun, langkahnya langsung terhenti di pinggir lapangan begitu mendengar teriakan histeris dari beberapa murid.


Saat Bintang menoleh ke tengah lapangan, dia dapat melihat Bulan yang kini dikerubungi anak-anak. Gadis dengan wajah pucat pasi itu sedang tidak sadarkan diri dan ambruk ke tanah.


“Astaga! Bulan pingsan!”


“Tolongin woiii, tolongin! Ada yang pingsan.”


Samar-samar terdengar teriakan murid-murid cewek yang sangat cempreng.

__ADS_1


Cepat kilat Bintang menghampiri. Namun, langkahnya yang hendak mendekat langsung terhenti begitu melihat dirinya kalah cepat oleh seorang lelaki yang kini sudah membopong tubuh Bulan ke ruang UKS. Wajah lelaki itu pun tak kalah panik dengannya. Hal yang membuat rahang Bintang mengeras kokoh dan tangan mengepal tak terima.


***


Lepas membaringkan Bulan di atas brankar UKS dan memanggil anak PMR untuk memberikan pertolongan pertama, Langit keluar dari ruangan. Lelaki itu merasa tugasnya sudah selesai di sini. Bukan tanpa alasan dia menolong Bulan. Hanya saja posisinya saat itu, Langit sedang berkeliaran di koridor dan tak sengaja melihat kejadian Bulan pingsan di tengah lapangan.


Langkahnya seketika tercegat saat membuka pintu ruangan. Seseorang sudah menunggunya di sana. Mencekik kerah seragam Langit membuat lelaki itu terlonjak beberapa saat karena gerakan gesit yang tak dia sadari.


Hingga kemudian, dia baru menyadari bahwa ada Bintang yang kini sedang menatap berang ke arahnya. Langit tidak tahu entah dimana letak kesalahannya kali ini.


“Maksud lo apa-apaan, hah?!” sentak Bintang dengan bola mata mengkilat marah.


Langit mengerutkan dahi. Tak paham dengan maksud laki-laki itu yang tiba-tiba datang menyergap duluan. Harusnya Langit yang menanyakan hal itu.


“Lo yang kenapa? Datang-datang emosi. Aneh banget!” Langit mencebik.


Dapat dia rasakan cengkeraman Bintang semakin mengerat setelah itu.


“Bacot. Diam lo, b*ngs*t!” umpat Bintang.


Emosi laki-laki itu sudah tak terkontrol karena elakan yang diberikan oleh Langit. Langsung saja dia melayangkan bogeman di pipi kiri Langit.


Langit meringis merasakan perih teramat sangat menyerang pipinya. Lelaki itu mengusapnya pelan, lanjut menatap tajam sosok tempramental di depannya.


“Sialan!” desisnya marah.


Ada nada kebencian yang membara dalam ucapan lelaki itu. Kebencian pada Bintang yang tertimbun lama.


“Apa salah gue sama lo, anj*ng!”


Langit pun memberikan bogeman yang sama di pipi Bintang. Hingga cowok itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


“Kurang ajar!”


Saling tidak terima akan hal tersebut sehingga aksi perkelahian pun tak terelakkan. Dua remaja paling berpengaruh di sekolah tersebut saling adu jotos. Begitu kira-kira berita yang dengan cepat menyebar seantero sekolah sehingga kini sudah tercipta kerumunan di antara dua remaja itu. Bukannya melerai, mereka---umumnya para murid lelaki---malah menyoraki supaya terus berkelahi.


Perkelahian itu baru dilerai ketika sang guru BK datang dan menyeret dua siswa itu ke ruang pengadilan sekolah.

__ADS_1


***


__ADS_2