
Bintang berdiri di depan pembatas ruangan itu. Sekeliling-nya hanya dipenuhi dengan fasilitas sekolah berupa bangku dan meja yang sudah tidak layak dipakai lagi. Sarang labah-labah dan debu memenuhi ruangan itu.
Lelaki itu sedang berada di roftoop sekarang. Kedua mata tajam-nya menatap lurus ke depan. Dapat dilihat kilatan api tergambar jelas di kedua bola netra hitam itu. Kedua tangan-nya yang berpegangan pada pembatas itu pun sudah mengepal kuat. Dada-nya naik turun dengan napas tak beraturan. Semua itu pertanda bahwa sebentar lagi akan ada sesuatu yang meledak dalam diri-nya.
“Sial!” Lelaki berpenampilan acak-acakan itu menjambak rambut-nya frustasi sembari menendang udara di sekitar.
Seperti-nya Dewa kebaikan sedang tidak berpihak pada-nya sekarang. Hari ini adalah hari tersial dalam hidup seorang Bintang Prawijaya. Hari bersejarah yang tak 'kan pernah lekang dalam ingatan-nya sampai kapanpun. Kesabaran-nya benar-benar diuji sekarang. Itulah yang menjadi taruhan-nya.
Sudah bangun kesiangan, tadi pagi diomeli di rumah gara-gara pulang larut malam, dan sekarang dia terlambat. Akan tetapi, kalau boleh jujur, sebenarnya bukan hal itu yang menjadi permasalahan utama-nya. Tetapi ...
Ah, sudahlah!
Sekelabat bayangan dari rentetan kejadian pagi ini terputar otomatis di kepala Bintang. Mulai dari diri-nya yang bangun kesiangan sampai bisa berakhir di tempat kumuh ini.
Flashback On...
Sesampai-nya di depan gerbang, sekolah sudah tampak sepi. Tak ada lagi terdengar kegaduhan dan keributan murid-murid yang biasa-nya memenuhi setiap sudut area gedung besar tersebut. Pagar-nya pun sudah tertutup dengan rapat. Itu arti-nya, dia sudah terlambat.
“Nah, kan, feeling gue benar.” Bintang mengusap wajah-nya kasar diikuti dengan helaan napas berat.
“Arghhh!” Lelaki itu menjambak rambut-nya frustasi setelah menendang pagar sekolah yang sudah tertutup rapat. Apes benar hidup-nya hari ini padahal masih pagi.
Sial!
Bintang menyenderkan punggung-nya ke gerbang tersebut. Mulai memikirkan bagaimana cara agar bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah tanpa ketahuan guru. Tetapi bagaimana cara-nya? Sedangkan, penjagaan di sekolah ini sangatlah ketat. Hampir semua sudut dijaga oleh satpam bersama guru yang piket bergantian setiap hari. Kalau Bintang masuk, sudah dipastikan dia akan ketahuan dan masalah ini akan berujung dengan diri-nya yang mendapat ceramah dan bogeman dari sang ayah.
Ahha!
Hingga, Bintang menjentikkan jari-nya bersamaan dengan raut wajah yang berubah sumringah. Sebuah ide yang lumayan bagus tercetus di otak cerdas-nya.
“Bolos aja kali, ya?” gumam-nya pada diri sendiri. Kalau dipikir-pikir, bolos enggak ada salah-nya. Kedatangan-nya sekarang pun seperti-nya belum diketahui siapapun. Hm, boleh juga!
Cowok itu mengangguk-anggukkan kepala dengan bibir yang tak henti-hentinya mengukir senyuman.
“Ya udah, deh!”
__ADS_1
“Mau kemana?” Baru saja, cowok itu hendak melangkahkan kaki menghampiri motor, berniat untuk membolos, tiba-tiba saja sebuah suara mengintrupsi-nya dari belakang. Suara yang cukup familiar di telinga-nya mampu membuat Bintang menghentikan langkah dan mematung di tempat.
Bintang membalikkan badan-nya kembali menghadap pintu gerbang dengan jantung berdegup dua kali lebih cepat. Takut-takut, dugaan-nya tentang orang dibalik suara barusan benar.
Ternyata, pintu pagar sudah terbuka lebar. Di samping-nya, sudah berdiri tegap seorang guru laki-laki yang paling Bintang hindari di sekolah ini dengan tatapan tajam-nya.
Duh, mampus!
Bintang meringis pelan dalam hati. Bisa berabe urusan-nya kalau begini. Tetapi, sebisa mungkin, dia menyembunyikan raut wajah takut dan kegelisahan-nya itu dibalik wajah menyebalkan-nya.
“Eh! Om Andre ...,” celetuk Bintang berbasi-basi, lalu terkekeh pelan.
Guru itu memutar bola mata-nya jengah, lalu kembali melayangkan tatapan tajam-nya pada Bintang. "Jangan panggil saya, om! Ini sekolah Bintang," tegur guru itu setelah-nya.
Andre Wijaya, begitu nama-nya. Seorang guru matematika sekaligus pjok di SMA Mahardika. Masih muda, berparas tampan, tegas, dan berwibawa. Kesempurnaan yang dimiliki guru muda itu, membuat sebagian bahkan hampir seluruh siswi-nya tertarik pada-nya dan mengidolakan-nya.
Dia juga merupakan Paman Bintang. Ya, betul. Beliau adalah adik kandung dari Supriadi Wijaya, ayah kandung Bintang Prawijaya. Jangan kaget dengan Bintang yang memanggil-nya ‘om’ meskipun berada di area sekolah sekalipun, karena itulah Bintang.
Selain guru matematika dan pjok, Andre juga salah satu guru BK di sekolah ini. Semua yang mengenai tata tertib siswa, dia yang menangani-nya. Menghukum siswa yang melanggar tata tertib adalah tugas-nya. Bintang yang merupakan keponakan-nya sendiri adalah salah satu siswa yang menjadi korban-nya setiap hari. Pasal-nya, Bintang yang bandel dan sering melanggar tata tertib sekolah.
“Eng-enggak om,” elak Bintang seraya menggelengkan kepala-nya.
“Masuk!” pintah Andre tegas. Tatapan-nya pada Bintang berubah dingin.
Lagi-lagi, Bintang meneguk saliva-nya susah payah. Kemudian, cowok itu masuk ke dalam halaman sekolah dan mengikuti langkah kaki guru muda itu kemana dia membawa-nya pergi.
Sudah bisa ditebak. Bintang pasti akan dibawa ke sini. Kemana lagi kalau bukan ke ruangan BK, tempat diadili dan diceramahi-nya murid-murid nakal. Dan, di sinilah mereka berdua. Dalam ruangan yang hanya dipenuhi oleh tata tertib siswa. Berbicara empat mata.
“Kenapa bisa terlambat?” tanya Andre pada Bintang. Kedua tangan-nya disilangkan di depan dada menatap tajam murid yang berada di depan-nya itu.
Tak ada jawaban dari Bintang. Remaja laki-laki itu hanya diam menundukkan kepala, menatap ubin lantai yang dipijak-nya sekarang.
“Lambat bangun lagi? Iya?!” tebak Andre seakan sudah hapal jawaban yang akan keluar dari mulut Bintang setiap kali ditanya kenapa datang terlambat.
“Bintang... Bintang...” Guru itu geleng-geleng kepala, tidak tahu dengan jalan pikiran murid yang satu-nya ini. Keras kepala sekali seperti ayah-nya. Susah diatur. Ya, Andre harus akui eekalau hampir semua sifat Adi menurun pada Bintang.
__ADS_1
“Sampai kapan sih kamu akan terus seperti ini? Kapan kamu akan berubah?” tanya Andre memelankan suara-nya dengan mata yang tak henti-nya menatap Bintang iba.
Sementara yang diceramahi masih diam menunduk. Mendengarkan semua ceramah yang keluar dari mulut sang paman.
“Sadar, Bintang ... perjalanan hidup kamu masih panjang ...,” jeda Andre sejenak, “Om, mohon ... jangan rusak masa depanmu dengan berbuat seperti ini, Nak.”
Mendengar itu, Bintang mengangkat wajah dan menatap dalam manik mata sang paman. “Masa depan? Buat apa?!” tanya Bintang lirih, lalu tertawa sumbang.
Tanpa sadar, setetes cairan bening berhasil keluar dari kelopak mata-nya. Dia memalingkan wajah-nya ke samping sebentar untuk menghalau air mata itu agar tak keluar lagi. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Andre.
BRAK!
Bintang menggebrak meja dengan kasar membuat Andre terlonjak kaget. Kemudian, dia bangkit dari duduk-nya dengan wajah merah padam.
“BUAT APA, OM?! BAHKAN MASA DEPAN BINTANG SUDAH HANCUR GARA-GARA PRIA SIALAN ITU!!! JADI BUAT APALAGI?!!!” teriak Bintang marah dan tanpa sadar telah membentak
Andre. Pasal-nya, dia terlanjur emosi dengan perkataan Andre tadi menyangkut masa depan-nya.
Wajah Andre merah padam. Seperti-nya, sebentar lagi sesuatu akan meledak. Namun, sebisa mungkin, dia menahan semua amarah dalam diri-nya. Tangan-nya yang terkepal di bawah sana saling meremas jari-jarinya satu sama lain.
“Turunkan nada bicaramu, Bintang!” desis Andre dan penuh penekanan di setiap kata yang keluar dari bibir-nya. Mata-nya tak berhenti menatap Bintang dengan tajam. Dia membenci jika ada orang yang berani membentak-nya.
“Maaf, om! Saya kelepasan tadi,” lirih Bintang dengan nada penuh penyesalan-nya. Dia akui kalau dia memang salah. Baru saja ingin duduk kembali ke bangku-nya, Andre sudah lebih dulu mengusir-nya keluar.
“KELUAR!!!” usir Andre dengan tegas, tak terbantahkan.
Tanpa menunggu perintah yang kedua kali-nya, Bintang segera bangkit dari duduk-nya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Dia cukup tahu diri.
Bintang terus berjalan menyusuri koridor yang tampak sepi dengan pandangan yang lurus ke depan. Pikiran-nya sedang melayang kemana-mana. Perasaan-nya serasa dicampur aduk sekarang, membuat hati-nya bergerumuh tak menentu. Marah, kesal, kecewa, dan sedih dirasakan-nya dalam satu waktu yang bersamaan. Semua itu ingin dilampiaskan-nya agar bisa membuat-nya lega. Ya, tetapi, tidak di sini. Dia tidak ingin orang lain yang menjadi korban dari ulah-nya.
Langkah kaki-nya berhenti di sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai atap alias roftoop. Bintang terdiam sejenak. Lalu, menapakkan kaki-nya divanak tangga itu satu-persatu, hingga sampai di puncak-nya. Entah kenapa, kaki-nya malah membawa-nya kemari.
Bolos lagi? Persetan dengan semua itu.
Bintang tidak peduli.
__ADS_1
Flashback Off...