Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 40. Lagi lagi...


__ADS_3

Lagi dan lagi, cowok dengan baju yang sengaja dikeluarkan dan penampilan acak-acakan itu terlambat pagi ini. Siapa lagi kalau bukan Bintang Prawijaya, cowok dengan segudang kenakalannya?


Sekarang, penampilannya sudah seperti seorang berandalan saja. Sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia seorang siswa. Walau demikian, kadar ketampanan yang dia miliki tak berkurang sepeser pun. Malah penampilannya yang seperti itu terlihat lebih cool di mata cewek-cewek.


Kini, sekolah sudah tampak sepi. Bintang menyapukan pandangan ke segala arah. Kepalanya berputar menengok sana-sini. Mengamati situasi apakah aman atau tidak untuk menjalankan aksi yang sudah terancang matang.


Sepertinya aman. Hm, kesempatan yang bagus!


Cowok itu mengulum senyum sambil manggut-manggut. Ia mulai beraksi mengambil ancang-ancang dengan memanjat pagar sekolah yang cukup tinggi tersebut dengan lihai. Tanpa kesusahan sekalipun.


Dan, hap!


Dalam sepersekian detik, cowok itu telah berpindah tempat. Dia berhasil mendarat di halaman sekolah dengan aman.


Lagi-lagi, dia menyapukan pandangannya ke segala arah.


Sepi.


Melihat keadaan yang tampak aman, dia kembali menjalankan aksi selanjutnya.


Dia mulai berjalan menyusuri koridor sekolah dengan sangat hati-hati. Dia mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Kedua bola mata tajamnya tampak mengawasi sekitar. Takut-takut guru BK ataupun guru yang piket melihat keberadaannya.


Namun sepertinya, hari ini adalah hari keberuntungan buat Bintang. Guru yang piket hari ini belum datang semua makanya penjagaan tidak terlalu ketat.


Dari kejauhan, samar-samar dia mendengar kegaduhan murid-murid dari arah kelasnya. Itu berarti, belum ada guru yang mengajar.


Yessss, akhirnya!


Bintang mengulum senyum lebar. Dia bersorak gembira dalam hati. Dewa kebaikan benar-benar sedang berbaik hati padanya hari ini. Ah ya, mungkin dia kasihan melihat Bintang yang terus-terusan dihukum?


Ah, masa bodoh!


Yang penting hari ini selamat...


Bintang berlari kecil untuk mempercepat langkah kakinya kala jaraknya dengan kelas hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Namun sialnya, saat cowok itu hendak menginjakkan kakinya masuk ke dalam kelas, tanpa sengaja dia menginjak tali sepatunya yang entah sejak kapan terbuka. Dan, berakhir Bintang yang tersungkur di ambang pintu.


DUBRAK!

__ADS_1


Suara besar itu berhasil mengusik keributan dalam kelas. Kelas yang tadinya ribut seketika menjadi hening. Semua pasang mata langsung mengarah ke sumber suara yaitu ambang pintu-terkejut sekaligus penasaran apa yang terjadi.


Tak lama, kelas kembali menjadi heboh. Tentu mereka menertawakan nasib Bintang yang kini terbaring menelungkup di ambang pintu.


"Gimana rasanya, Tang?" tanya seorang siswi dengan sengaja ingin menjahili Bintang.


"Pasti rasanya anjing banget, kan? Lagian kenapa sih, Tang, pake tiduran di lantai? Dingin tau!" Siswa lainnya menimpali.


Tawa murid satu kelas kembali terdengar mendengar lelucun dua orang itu.


Sementara Bintang yang tersungkur di lantai, bangkit dari posisinya dengan mulut yang berkomat-kamit tidak jelas dan wajah memerah malu. Punya teman sekelas kok, gak ada akhlak semua. Temannya jatuh, bukannya ditolongin malah diketawain. Sialan emang!


"Tang, tang, tang, tang ... Lo kata gue, tang?!" dumel Bintang kesal. Satu hal yang paling Bintang benci adalah ketika teman-temannya memanggilnya dengan panggilan 'Tang'.


"Liat aja ... gue bakal balas lo semua," desis Bintang sembari melayangkan tatapan tajamnya ke penjuru kelas.


"Ngapain di sini?"


Hingga sebuah suara yang mengintrupsinya dari belakang, membuat Bintang diam tak berkutik. Cowok itu meneguk ludahnya susah payah. Suara itu ... lagi ...


Tamat riwayatnya!


"Eh, Om Andre ..." Bintang cengengesan, membuat Andre memutar bola matanya malas. "Sejak kapan di situ, Om?" tanya Bintang berbasa-basi.


"Ngapain kamu masih di sini?" Andre menghiraukan pertanyaan basa-basi Bintang. Guru muda itu balas melayangkan pertanyaan paling anti terhadap Bintang. Satu alisnya terangkat ke atas menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut murid yang satunya ini.


Bintang gelagapan. Diberi pertanyaan seperti itu tentu membuatnya bungkam, tidak tahu harus menjawab apa. Mau jujur? Itu sangat tidak mungkin. Jangan sampai Andre tahu kalau dirinya terlambat. Bisa diamuk lagi dia sama si pria tua bangka sialan itu.


Huh, mengingatnya lagi membuat Bintang emosi.


"Terlambat lagi?" tebak Andre, menyadarkan Bintang dari lamunannya.


"Eh?" Bintang tersentak. Otaknya tampak mencerna baik-baik pertanyaan yang barusan Andre layangkan. Lalu di detik berikutnya, cowok itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eng-enggak, Om!" kilah Bintang.


"Oh ya?" Salah satu alis Andre kembali terangkat. Tampaknya kurang percaya dengan jawaban yang barusan Bintang berikan. Lalu tatapan guru itu jatuh pada tas hitam yang masih menggantung di pundak Bintang. Satu sudut bibirnya melengkung ke atas.

__ADS_1


"Terus, tasnya kenapa masih dipakai, hm?!" tanya Andre dengan tatapan penuh selidiknya. Ingat, dia bukan tipe guru yang akan mudah dikelabui begitu saja oleh muridnya.


Pertanyaan itu kembali berhasil membuat Bintang bungkam.


"A-anu, om ... i-itu ..." ucap Bintang gelagapan.


Bintang menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal dengan ringisan pelan yang keluar dari mulut. Cowok itu memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya.


Semua teman-temannya kembali menertawakan Bintang yang gelagapan seperti itu.


"Apa?!" sentak Andre mendesak. "Alah, bacot! Cepatan masuk!"


Kedua bola mata Bintang membulat. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tampak ada binar bahagia di sana. "Serius, Om?!" celetuk Bintang memastikan.


"Masuk sekarang atau saya hukum?!" Andre dengan tatapan mengancamnya. Lama-lama geram juga jika terus berhadapan dengan murid seperti Bintang.


"Masuk, Om." Bintang menyahut tegas dengan cengiran lebar menghias bibir.


Bintang berbalik dan hendak melangkah masuk ke dalam kelas. Namun, kerah belakang bajunya ditarik lebih dahulu oleh seseorang. Tanpa berbalik pun, Bintang tahu siapa pelakunya.


Cowok itu menghela napas lalu berbalik dengan tampang menggemaskannya. "Apa lagi, Om?" tanya Bintang menggeram tertahan.


"Saya belum selesai bicara ..." Andre dengan delikan tajamnya menjeda sejenak ucapannya. "Satu lagi. Kalau saya liat kamu terlambat lagi ... saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan kamu ke ayahmu, paham?!" ancam Andre lagi.


Mendengar ucapan dari Andre yang seakan berkata secara tak langsung bahwa dia tidak akan melaporkannya pada sang ayah, Bintang bersorak senang.


"AHHH! MAKASIH, OM-KU YANG PALING GANTENGGG!!!" Bintang berseru heboh. "SEMOGA CEPAT DAPAT PACAR, YA! GUE DOAIN YANG TERBAIK, DEH, BUAT OM TERSAYANG!" kata Bintang dengan gaya lebay, lalu terkekeh pelan.


Andre mendelik tajam ke arah Bintang. Anak tidak tahu diri itu telah membongkar aib-nya di depan umum. Sialan! Umpatnya dalam hati.


Sementara Bintang yang seakan peka dengan arti tatapan maut yang ditunjukkan padanya terkikik geli dan mengambil ancang-ancang untuk berlari masuk ke dalam kelas. Menghindar dari Andre yang bisa saja mengamuk karena Bintang telah mempermalukannya.


"APA?!!! PAK ANDRE BELUM PUNYA PACAR?!"


"SERIUSAN, PAK, BELUM PUNYA PACAR?!"


"YEYYY!!! ITU ARTINYA, GUE MASIH PUNYA KESEMPATAN DONG BUAT DAPETIN HATINYA PAK ANDRE!!! IYA, NGGAK, PAK?!"

__ADS_1


Kelas 2 IPA B kembali heboh, terutama cewek-cewek yang dari dulu emang naksir sama Andre. Tak henti-hentinya, mereka bersorak gembira mendengar kabar bahwa sang guru ganteng dan muda mereka belum memiliki pacar alias masih single.


***


__ADS_2