
Tak biasanya Bintang seperti ini. Sudah setengah jam lebih Bulan menunggunya di depan gerbang rumahnya, namun lelaki itu tak kunjung datang juga.
Bulan sudah berkali-kali menghubunginya, namun yang terdengar hanyalah suara operator.
Kemana perginya, cowok itu?
Ada apa dengannya?
Rasa kesal dan khawatir pun beradu satu dalam diri Bulan.
Bulan melirik jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan jam 06.50. Itu artinya tinggal 25 menit lagi kesempatan untuk Bulan tiba di sekolah.
"Duh, mana sih, Bintang? Lama amat." gerutunya.
Lima menit berlalu, Bintang tak kunjung datang juga. Bulan pun semakin resah. Dan, dengan terpaksa ia berangkat sekolah naik taksi. Di saat yang bersamaan ada taksi yang lewat di jalan depan rumahnya tersebut. Untungnya jalan hari ini tak terlalu macet, sehingga ia masih punya sedikit harapan untuk tidak telat hari ini. Ya, walaupun SEDIKIT.
"Huh, untung belum masuk."
Bulan lega. Akhirnya, ia sampai di sekolah tepat waktu. Ia pun turun dari mobil tersebut dan berjalan memasuki gerbang sekolah.
Sesampainya di depan pintu kelas, ia pun segera duduk di bangkunya. Kemudian menenggelamkan wajahnya di meja. Ada perasaan khawatir yang mengganjal di benaknya. Bangku Bintang masih kosong. Tasnya belum ada di sana. Itu artinya, sang pemilik bangku belum datang.
Hari ini kok aneh banget, ya? Bintang tumben gak jemput aku?
Dan yang lebih anehnya lagi, Bintang belum sampai juga di sekolah. Kemana dia?
Kok perasaan aku jadi gak enak gini ya!
Lamunannya buyar ketika seseorang menepuk pundaknya. Ia pun mendongakkan kepalanya ke atas.
"Tata? Surya?" ucapnya.
"Kok tumben, kalian berangkat bareng?" tanyanya.
"Biasa, Surya yang maksa gue bareng. Gue sih awalnya gak mau. Ya, tapi mau bagaimana lagi." jawab Tata ogah-ogahan.
Surya pun langsung menjitak kepala Tata. "Uhh, biasa aja kali."
Tata pun meringis kesakitan, walapun Surya menjitaknya dengan pelan.
"Sakit tau." ucapnya sambil memegangi kepalanya.
"Alla, alasan doang. Orang menjitaknya pelan, kok." balas Surya.
"Sakit gini, lho bilang pelan?"
Surya mengangguk tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Anjing lho, ya." umpat Tata yang membuat Surya mendengus kesal.
Sementara itu, Bulan hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka yang masih seperti dulu. Tak pernah bisa akur.
"Oh ya Sur, lho tau gak kenapa Bintang belum datang?" tanya Bulan menghentikan perdebatan kecil antara Tata dan Surya.
"Kalau soal itu gue juga gak tau, Lan. Emangnya-"
"Kok lho gak tau sih? Lho kan temannya Bintang." potong Tata yang membuat Surya naik darah.
"Jangan dipotong *****, gue belum selesai bicara." maki Surya.
__ADS_1
Tata memutar bola matanya malas. "Santai aja kali."
"Emangnya Bintang gak jemput lho?" tanya Surya, kembali ke topik pembicaraan.
Bulan menggeleng pelan.
"Aneh?"
Hanya itu yang keluar dari mulut Tata, kemudian menunjuk-nunjuk dagunya seperti seseorang yang sedang berpikir.
Hingga seorang guru memasuki kelas, menghentikan percakapan mereka. Tata dan Surya pun bergegas ke tempat duduk mereka.
Pembelajaran pun dimulai. Bintang belum muncul-muncul juga. Itu semakin membuat Bulan semakin khawatir. Ia takut terjadi sesuatu terhadap Bintang. Ia pun menjadi tak fokus pada pelajaran.
Hingga, sesorang dengan nafas ngos-ngosan mengetuk pintu kelas. Bu Dina pun menghentikan pembelajarannya dan semuanya menoleh ke pintu.
"Bintang?" ucap Bu Dina.
"Kenapa baru datang? Sudah jam berapa ini?"
"Maaf, bu." Hanya itu yang keluar dari mulut Bintang.
"Sudah terima hukumannya?" tanya Bu Dina. Bintang pun mengangguk.
"Ya sudah silahkan masuk."
Bintang pun masuk ke kelas dengan tampang dinginnya dan segera duduk di bangkunya di samping Bulan. Bahkan pada Bulan, ia pun bersikap dingin. Tak seperti biasanya.
"Hai." sapa Bulan yang tak digubris oleh Bintang.
"Kok, Bintang cuek. Ada apa ya? Apa gue ada salah? Tapi apa?"
Bulan bingung.
"Gue rasa hari ini, hari yang teraneh." ucap Tata sambil mengaduk-aduk jus melon yang dipesannya.
Bulan yang tengah makan bakso pun mendongakkan kepalanya ke atas. "Maksud lho?"
"Ya aneh aja." ucap Tata. Kemudian membenarkan posisi duduknya.
"Coba deh lho pikir baik-baik." lanjut Tata menjeda ucapannya sebentar. "Akhir-akhir ini Surya tiba-tiba menjadi lebih manis sama gue. Gue heran kenapa bisa."
"Aneh kan?" tanya Tata pada Bulan.
Bulan pun mengangguk menyetujui ucapan Tata. Memang benar, itu suatu hal yang sangat-sangat aneh. Bukankah ungkapan untuk mereka itu 'Tiada hari tanpa berantem' ?
"Iya juga sih,"
"Bukan hanya itu. Kak Langit juga jadi dingin sama gue sejak kejadian kejadian kemarin. Tadi aja pas berpapasan di lorong sekolah, dia cuekin gue. Padahal gue sapa, loh." lanjut Tata bercerita.
"Tunggu deh, lho bilang apa tadi? Kak Langit cuek sama lho gara-gara kejadian kemarin." potong Bulan.
Tata mengangguk.
"Kejadian apa? Bukannya lho udah baikan sama Kak Langit?"
"Nah itu dia masalahnya Lan. Pas gue mau minta maaf sama Kak Langit, tiba-tiba Surya datang. Mereka pun berkelahi. Gue pun bergegas melerai mereka, namun nahasnya gue yang jadi kena tonjokan Kak Langit. Gue pun pingsan, tak sadarkan diri. Dan gue tak tau apalagi yang terjadi setelah itu." jelas Tata panjang lebar.
Bulan pun menganguk-anggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Dan hari ini, Bintang gak jemput lho. Dan yang lebih anehnya lagi ia terlambat datang. Kemana saja dia? Aneh kan?"
"Gak hanya itu Tata, bahkan Bintang jadi cuek dan dingin sama gue." tambah Bulan.
Keduanya pun sama-sama terdiam. Mencoba berpikir arti dari semua ini. Bulan menerka-nerka semua kata-kata Tata.
"Iya benar juga sih, kata Tata. Tapi ini semua maksudnya apa? Kenapa kita semuanya jadi terlibat. Apa hubungannya coba?" batinnya.
"Dan..., Lan tunggu deh, kayaknya ada yang lebih aneh lagi dari sebelumnya." ucap Tata menyadarkan Bulan dari lamunannya.
Bulan pun mendongakkan kepalanya. "Apa?"
"Mentari juga udah gak pernah lagi mem-bully lho lagi." jawab Tata yang mampu membuat mereka kembali diam.
"Lalu, apa maksud dari semua ini Tata?" tanya Bulan membuka bicara setelah mereka terdiam beberapa saat lalu.
Tata pun mengedikkan bahunya.
***
Sementara itu di belakang sekolah...
"Gimana? Berhasil kan?" ucap Surya bangga diri.
"Iya, pekerjaan bagus Surya." puji Mentari.
"Karena gue udah melaksanakannya dengan baik maka sekarang gue minta jatahku." ucap Surya dengan senyum smirknya.
"Jatah? Jatah apa? Apa hubungan mereka? Kenapa mereka bisa sedekat itu?" batin seseorang yang sedang mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan.
"No, kamu lupa Surya kalau pekerjaanmu belum selesai?" ucap Mentari.
"Sorry kalau masalah itu, gue gak bisa. Gue gak mau hancurin hubungan sahabat gue sendiri. Gue gak sebodoh itu Mentari." tolak Surya.
"Ya udah kalau kamu gak mau hancurin hubungan Bulan dan Bintang, jangan harap kamu bisa jadi pacarku." ancam Mentari.
"Apa? Mereka mau menghancurkan hubungan kami? Gak, ini gak bisa dibiarin."
"Oke, bagi gue gak masalah. Tapi jangan salahin gue, gue bakal bongkar semua kebusukan lho selama ini." ancam Surya tak kalah dari Mentari.
Mentari pun diam terpaku du tempatnya. Tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Kenapa? Takut?"
Mentari pun pasrah. "Oke, gue mau jadi pacar lho. Tapi lho juga harus tetap hancurin hubungan mereka. Bagaimana?" ucap Mentari.
"Deal?" Mentari mengulurkan tangannya pada Surya.
"Deal." ucap Surya membalas uluran tangan Mentari.
"Dasar, teman laknat!" batin Bintang kemudian bergegas pergi dari tempat iti sebelum Surya dan Mentari menlihatnya.
Namun ketika hendak melangkah, Bintang tak sengaja menginjak botol aqua bekas sehingga menimbulkan suara. Mentari dan Surya pun mendengarnya.
"Siapa itu?" teriak Surya.
"Bisa mati kita sampai ada orang yang dengar percakapan kita tadi." ucap Mentrai yang mulai gelisah bercamput takut.
"Ya udah, ayo kita cek."
__ADS_1
Mereka pun melangkahkan kakinya perlahan ke sumber suara tersebut.
Dan...