Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 6. Bintang Sakit


__ADS_3

“Hai, Lan!”


“Pagi, Kak!”


“Apa kabar, Lan?”


“Kakak makin cantik aja, deh!”


Begitu banyak sapaan dari adek kelas maupun seangkatannya yang diacuhkan oleh Bulan ketika memasuki lingkungan sekolah.


Cewek itu sedang berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah tegap dan tergesa-gesa. Matanya tampak awas ke segala penjuru arah. Seperti tengah mencari keberadaan seseorang. Namun sejak tadi, batang hidung orang yang dicari-carinya itu tak kunjung terlihat jua. Rasa gelisah, khawatir dan panik pun bercampur aduk menjadi satu.


Bintang mana, ya, kok gak datang-datang? Risau Bulan dalam hati.


Entah kenapa Bulan begitu mengkhawatirkan akan keadaan Bintang. Dari awal bertemu Bintang hingga mengenalnya, hidup Bulan terasa begitu berwarna. Bulan merasa nyaman berada di dekat cowok itu dan ia takut kehilangannya. Baginya, cowok itu adalah hal paling berharga dalam hidupnya. Hidupnya pasti akan terasa hampa tanpa kehadiran cowok cuek itu.


Bulan melirik arloji yang melingkar pas di pergelangan tangannya. Perasaannya makin tak karuan kala melihat jarum jam yang sudah menunjuk pukul 07.15.


Bintang kemana sih?


“Surya ...,” guman Bulan. Di tengah kegelisahannya, sebuah nama tiba-tiba tercetus dari bibirnya begitu saja.


Bulan terdiam untuk beberapa saat. Lalu, cewek itu menjentikkan jarinya dengan wajah berbinar. Ya, Surya! Cowok itu pasti tahu alasan Bintang gak masuk sekolah.


Bulan beranjak dari tempatnya dan berlari ke kelas untuk mencari keberadaan Surya. Sialnya, Bulan menubruk badan besar seseorang saat hendak sampai ke koridor kelasnya. Berakhir dengan Bulan yang terjungkal ke belakang dan tersungkur di lantai.


“Awh...,” Bulan meringis kesakitan sambil memegang sikunya yang sedikit mengeluarkan darah. Tak sengaja terantuk ke lantai tadi.


Orang yang menabraknya itu menghampiri Bulan dan berjongkok di depan gadis itu. “L-lo gak papa kan?” tanya cowok itu dengan raut paniknya.


Bulan mengangkat wajah dan melayangkan tatapan sinis pada cowok yang sedang jongkok di depannya itu. Udah tau sakit, masih nanya lagi! Beneran bego apa pura-pura bego, sih?!


“Mata lo gak papa! Noh, liat siku gue!” ujar Bulan tak santai seraya memperlihatkan sikunya yang sedikit mengeluarkan darah ke depan wajah cowok itu.


Dibentak seperti itu membuat si cowok menutup rapat-rapat bibirnya dengan kepala merunduk. “Maaf, gue kan gak sengaja!” Suara cowok itu tiba-tiba melirih.


Bulan memutar bola matanya malas. Cewek itu sesekali meniup-niup sikunya yang terasa perih.


Tiba tiba, sebuah tangan terulur ke arahnya. Bulan mengernyit dan menatap cowok itu penuh tanya. Maksud cowok itu mengulurkan tangan ke arahnya apa?


Cowok dengan penampilan rapi itu kini sudah berdiri tegap di depan Bulan. Ia menghela napas gusar kala Bulan hanya menatap aneh tangannya tanpa berniat untuk menggapainya. “Sini ... gue bantuin berdiri,” ucapnya lembut.


“Gak butuh, gue bisa sendiri!” ketus Bulan sinis, menepis kasar tangan cowok itu.


Cowok itu menatap nanar tangannya yang masih terjulur ke arah Bulan. Sedetik kemudian, ia menarik tangannya kembali dan menatap Bulan tak enak. “Oh, oke.” Ia menggaruk tengkuk belakangnya salah tingkah.


Bulan berdiri dan melenggang pergi, melewati tubuh si cowok yang kini mematung di tempatnya. Boro-boro untuk berlama-lama dengan cowok ngeselin itu, menatapnya saja Bulan ogah.


Tanpa Bulan sadari, cowok itu terus memandangi kepergian dirinya sampai badannya menghilang penuh ditelan pintu kelas.


Satu helaan napas berat mengisi kesendirian cowok itu sebelum berbalik dan ikut meninggalkan koridor dengan arah yang berlawanan dengan Bulan.


...***...


Bulan memasuki kelas dengan wajah murung tak seperti biasanya. Wajahnya semakin tertekuk kala pandangannya terjatuh pada sebuah bangku yang masih kosong. Artinya si pemilik tempat duduk belum datang juga.


Satu helaan napas berat terlontar dari bibir Bulan begitu saja. Cewek dengan rambut ikat menjadi satu itu melangkahkan kakinya menuju bangku Renata, bangku seberang bangkunya dengan Bintang. Ia memutuskan untuk duduk sebangku dengan Renata hari ini.


Renata yang sedang asyik membaca cerita di platform *******, mengalihkan atensinya ke samping kala merasakan bangku sana seperti diduduki oleh seseorang.


Kedua alisnya saling bertautan kala mendapati Bulan di sana sedang menelungkupkan kepalanya di meja yang penuh dengan coretan pulpen. Bukan itu yang menjadi pusat perhatian Renata. Renata lebih fokus ke wajah Bulan yang tampak kusut dan lesuh.


“Kenapa duduk di sini, Lan? Tempat duduk lo kan di seberang sama Bintang,” tanya Renata sekaligus memperingati.


Kebungkaman dan no respon dari Bulan membuat kerutan di dahi Renata tambah berlipat ganda. Cewek itu—Bulan hanya diam saja dengan mata terpejam. Pertanyaan Renata diacuhkan begitu saja.


Nih, anak kenapa dah? Gak biasanya juga kayak gini! Tanya Renata dalam hati.


Netra Renata tak sengaja menangkap luka parutan kecil di siku tangan kanan Bulan. Seketika kedua bola cewek itu membulat ingin keluar.


“Ya ampun, Lan!!! Tangan lo kenapa berdarah gitu, anjir?!” Renata berseru heboh dengan kedua tangan membungkam mulut. Tubuhnya juga sedikit dijauhkan dari jangkauan Bulan.


Bulan mencebik sembari mengusap telinganya. Rupanya terganggu dengan suara cempreng milik Renata. “Jatoh tadi,” jawabnya singkat tersirat nada kesal di dalamnya.


Renata mendekatkan tubuhnya kembali ke arah Bulan. “Kok, bisa?” tanyanya sedang berada dalam mode kepo.


“Ceritanya nanti aja. Gue capek, sumpah!” ujar Bulan lemas masih dengan mata terpejamnya.


Tatapan Renata berubah iba. Ia meraih pergelangan sahabatnya itu berniat membantunya berdiri. “Yodah, yuk ke UKS!”


Bulan langsung mengangkat wajah kusutnya dan menatap Renata kesal. “Mau ngapainnn?!!!” gregetnya.


Renata merotasikan kedua bola matanya. “Ngobatin luka lo, Lan!” tekan gadis itu di setiap katanya.


“Gak, gak usah deh! Nanti sembuh sendiri juga!” tolak Bulan terang-terangan, menarik paksa tangannya dari Renata.


Cewek itu kembali menelungkupkan kepalanya di meja membuat Renata mengembus napas gusar. Sabar, Ren! Sabar!


Renata pun memutuskan untuk duduk di bangkunya kembali. Ia mendekati Bulan dan mengusap surai hitam cewek itu. “Lo yakin, Lan?” tanyanya memastikan.


“Iya, Taaa!” sahut Bulan gemas meski dalam posisi telengkupnya.

__ADS_1


“Yodah, deh!” Renata menghentikan kegiatannya mengusap surai hitam Bulan. Cewek itu merubah posisi duduknya kembali menghadap depan.


Setelahnya, tak terdengar lagi percakapan di antara keduanya. Keduanya tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Renata yang kembali pada kegiatan awalnya yang sempat terjeda dan Bulan bersama lamunannya.


Di tengah lamunannya, Bulan teringat tujuan awalnya masuk ke kelas tadi. Alhasil, gadis itu pun langsung bangun dari duduknya membuat Renata yang duduk di sebelahnya tersentak kaget. Bulan hendak beranjak pergi, namun tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Renata.


“Kemana, Lan?” Kira-kira seperti itulah arti tatapan yang Renata layangkan padanya sekarang.


“Ke bangkunya Surya,” jawab Bulan yang seakan mengerti arti tatapan itu.


Sontak hal itu membuat Renata beranjak dari duduknya dan menatap Bulan horor. Jangan lupakan cekalan pada pergelangan tangan Bulan semakin diper-erat.


“Mau ngapain lo? Nikung gue?!” Tatapan Renata padanya berubah sinis.


Bulan mencibir dalam hati. Ck, bukan siapa-siapa juga tapi posesifnya minta ampun!


“Lo kira gue sahabat apaan?!” Bulan menyahut nyolot. Tak terima reputasinya diperburuk oleh sahabatnya itu.


“Terus, ngapain?” Renata dengan mata memicingnya.


Bulan memutar bola matanya. “Mau tanya ke Surya Bintang kenapa gak dateng. Apa mau ikut lo?”


Renata tersenyum jahil. Raut penuh intimidasi seketika hilang dari raut cewek itu. “Cie, perhatian nih ceritanya...,” ledek Renata.


“Ish, apaan sih, Ta! Ngaco deh!” Bulan tersipu malu. Dengan refleks menabok lengan Renata. “Lepasin gue!” berontaknya namun dihiraukan oleh Renata.


“Bulan sayang... temuin Surya-nya nanti aja ya. Soalnya, guru udah datang tuh!” Renata menariknya dan mendudukkannya kembali ke kursi. Dan benar saja, seorang guru kini telah berada tegas di depan mereka.


Guru dengan kacamata berlensa putih tembus pandang itu dan spidol bertinta hitam dalam genggaman tangannya sedang menebar senyum di depan kelas 11 IPA 2.


“Selamat pagi, anak-anak! Hari ini, kita akan belajar tentang teks eksposisi,” ucap Bu Truly, Guru Bahasa Indonesia itu.


“Kira-kira, di antara kalian siapa yang tahu apa itu teks eksposisi?” lanjutnya bertanya.


Tak ada sahutan dari murid-murid. Mereka semua dengan kompak mengheningkan cipta.


“Gak ada yang tahu?” Bu Truly hanya tersenyum tipis, memaklumi. Guru muda itu mengembus napas, lalu memberi intruksi pada anak muridnya.


“Oke ... Untuk lebih jelasnya, kalian coba buka buku halaman 51. Baca mulai dari situ sampai halaman 62. Jika ada yang tidak dan kurang dipahami, silakan ditanyakan!”


“Iya, Bu!” seru anak murid serempak.


Lagi-lagi, senyum tipis menghias bibir guru muda itu. Lalu, ia melangkahkan kakinya ke meja guru dan duduk di bangku sana. Bu Truly memilih memperhatikan murid-muridnya yang kini berlomba-lomba membaca buku. Meski ada yang hanya berpura pura saja membaca—hanya melihat bukunya sekilas, dan ada juga yang benar-benar membacanya dengan cermat.


Pandangan Bu Truly lalu terjatuh pada seorang siswi yang duduk di bangku kedua barisan kedua sebelah kiri. Kedua alis Bu Truly saling bertautan. Murid itu tampak lesuh dan pucat. Ia sedang memegangi kepalanya dengan kedua tangan sambil memijit-mijit keningnya. Sepertinya, ia pusing.


Bu Truly langsung bangkit dari bangkunya dan berjalan menghampiri murid itu.


Bulan yang tadinya menelungkupkan wajah di antara kedua tangan yang disilangkan di atas meja, menegakkan tubuhnya kembali kala ia merasakan tangan Bu Truly yang hinggap di bahunya.


Bulan menatap Bu Truly dengan senyum paksanya.


“Gak kok Bu! Ini cuman pusing dikit aja,” jawab Bulan berbohong.


“Bulan!” Renata menyentaknya kesal. Hal itu membuat Bulan beralih menatapnya dan kembali memaksakan senyum palsunya.


“Enggak papa kok, Ta ...”


“Bulan kalau kurang sehat jangan dipaksa buat belajar, Nak! Bukannya mengerti, kamu malah tambah pusing.” Bu Truly menegurnya membuat Bulan merundukkan kepala dalam. Ada benarnya juga perkataan Bu Truly, pikir Bulan.


Bu Truly lalu beralih menatap Renata. “Tata, kamu anter Bulan ke UKS, ya!” titahnya pada murid yang satu itu.


“Baik, Bu!” Renata mengangguk patuh. Cewek itu bangkit dari duduknya dan membantu Bulan berdiri.


“Yuk, Lan!” ajak Renata sembari menarik pergelangan tangan Bulan.


Bulan hanya pasrah saja ketika Renata menyeretnya keluar dari kelas. Jujur, Bulan benar-benar butuh istirahat untuk saat ini. Hanya saja ia tak punya keberanian untuk berkata jujur. Ia takut jikalau Bu Truly sampai mengeluarkannya dari kelas. Namun ternyata itu semua hanyalah imajinasi Bulan.


Kedua cewek itu berjalan bersisian di koridor yang sepi. Tiba-tiba, tubuh Bulan sempoyongan hilang keseimbangan dan menubruk pundak Renata. Untungnya dengan cegat Renata menangkap kepala cewek itu. Jika tidak, bisa dipastikan Bulan berakhir di lantai saat itu juga.


“Astaga Lan, badan lo panas banget!” Renata panik saat tak sengaja menyentuh dahi Bulan.


Dan Renata makin tak karuan kalah menyadari sahabatnya itu tak sadarkan diri.


Iya, Bulan pingsan.


Renata tampak menengok sana-sini berniat mencari bantuan. Mana kuat dia membawa Bulan ke ruangan UKS yang masih lumayan jauh dari tempatnya saat ini. Dan untung saja, ada seorang murid laki-laki yang kebetulan lewat di koridor tersebut. Renata memanggilnya dan dengan cepat murid lelaki itu mendekat ke arahnya.


“Teman lo kenapa, dek?” Oh, rupanya senior Renata.


“Teman gue pingsan, Kak! Boleh minta bantuannya gak, Kak?” ujar Renata penuh permohonannya pada seniornya itu.


“Iya-iya.” Tak ambil pusing, cowok itu mengambil alih tubuh Bulan dan membawanya dalam gendongannya. Cowok itu membopong tubuh Bulan sampai di ruangan UKS dan menidurkannya di ranjang.


“Makasih ya, Kak!” ujar Renata dengan senyum malu-malu karena baru sadar orang yang barusan dimintainya bantuan ternyata salah satu orang berpengaruh di sekolahan.


Langit, nama cowok yang berstatus seniornya itu merupakan mantan ketua osis periode dua tahun silam dan jabatannya berakhir kemarin pas naik di kelas dua belas. Cowok berparas tampan dan murah senyum itu. Cewek manapun yang berada di dekat Langit pasti akan merasakan hal yang sama dirasakan oleh Renata. Jantung berdegup tak karuan.


Cowok itu hanya menangguk dengan senyum tipis. “Yodah, gue tinggal ya! Semoga temannya cepat sembuh!” ujarnya lalu melenggang pergi begitu saja.


...***...

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Bulan sadar. Cewek itu langsung bangkit dari tidurnya dan beranjak dari ranjang berniat untuk kembali ke kelas, namun pergerakannya langsung dicegat oleh Renata.


“Lo belum sembuh total, Lan!” tegur Renata saat itu memperingatinya.


“Gue harus ketemu Surya, Ta. Gue khwatir sama keadaan Bintang. Gue yakin cowok itu gak baik-baik saja setelah ujan-ujanan kemarin.” Namun Bulan ya, tetap Bulan. Cewek itu tetap ngotot kembali ke kelas untuk menemui Surya.


Sesampainya di kelas, mereka tak menemukan batang hidung cowok itu. Seorang siswi yang kebetulan ada di kelas saat itu mengatakan pada mereka kalau Surya sedang berada di kantin sekarang. Lagi makan berdua sama Mentari.


Mendengar itu, Renata yang jadi berang. Cewek itu langsung menyeret Bulan ke kantin. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mulut cewek itu menyerocos tidak jelas. Mengatai Surya lah, Mentari lah. Emang yang cemburu tanpa ada hubungan apa-apa mah beda!


Bulan hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya. Dan kini, mereka sudah berdiri di depan Surya dan Mentari. Kedatangan mereka langsung disambut baik oleh Surya, berbading terbalik dengan Mentari yang kini melayangkan tatapan sinis pada mereka berdua.


“Tumben, nyari gue! Ada apa, Lan?” tanya Surya dengan wajah tengilnya.


“Bintang mana kok gak keliatan dari tadi?” Bulan menghiraukan pertanyaan Surya. Cewek itu malah bertanya balik.


Mendengar nama Bintang disebut membuat raut wajah Surya berubah sedih. Cowok itu mengembus napas lalu berkata, “Bintang demam.”


Sontak hal itu membuat Bulan, Renata dan Mentari melotot secara bersamaan.


“APA?! BINTANG DEMAM?!” pekik Mentari lantang membuat beberapa orang mengaduh kesal padanya. Tak terkecuali Renata yang kini menye-menye mengikuti ucapan cewek itu.


“Kok bisa?” tanya Mentari menurunkan sedikit volume suaranya. Ucapan yang terlontar dari bibir Bulan setelahnya, membuat Mentari mengalihkan pandangan pada cewek itu.


“Pasti gara-gara kehujanan kemarin,” celetuk Bulan sedih. Kepalanya sedikit merunduk. Kedua tangannya di bawah sana saling memilin satu sama lain. Bulan merasa bersalah pada Bintang.


“Kehujanan? Maksud lo?” tanya Surya dengan dahi mengernyitnya. Tatapannya sepenuhnya tertuju untuk Bulan.


Jika Surya memilih bertanya karena penasaran, maka berbanding terbalik dengan Mentari yang kini menuduh Bulan yang enggak-enggak.


“Ini pasti gara-gara lo, kan. Bintang sakit gara-gara lo kan, Lan!” tudingnya pada Bulan dengan mata memicingnya.


“Enak banget lo kalo ngomong.” Renata maju selangkah. Cewek itu tampak tak terima dengan tuduhan yanh barusan Mentari lontarkan untuk Bulan, sahabatnya. Wajahnya tampak tak main-main menatap Mentari sebagai musuh yang harus musnah.


“Terus kalo bukan dia siapalagi, hah?” Mentari ikut maju selangkah, hingga kini Renata dan dirinya sudah berhadapan hanya dipisahkan oleh jarak beberapa senti saja.


Mentari menelisik penampilan Renata dari atas sampai bawah lalu mendengus sinis. Jangan lupakan seringai kecil yang menghias bibirnya. “Mending lo gak usah ikut campur deh. Gak usah sok keras. Ink tuh bukan urusan lo, paham?!” Mentari mendorong bahu Renata kasar membuat tubuh Renata mundur selangkah ke belakang.


“Maksud lo apa dorong-dorong gue, hah?” Renata yang merasa tak terima pun membalas perlakuan Mentari. Ia mendorong balik bahu cewek itu hingga tubuhnya terantuk ke meja kantin. Wajahnya makin berang sekarang. Andai saja bisa, Renata ingin memusnahkan makhluk bernama Mentari saat itu juga.


Mentari yang sungguh licik tak kehabisan akal untuk membalas perlakuan Renata. Cewek itu menyeringai dalam diam, lalu...


“A-awh, sakit...,” ringis Mentari pura-pura sembari memegangi area pinggangnya yang barusan terantuk meja.


Surya yang memang terobsesi berat sama Mentari langsung saja menghampiri cewek itu dan membantunya duduk di bangkunya kembali. “Lo gak papa kan, Tar?” tanyanya agak cemas.


“I-iya gak papa kok, Sur. Tenang aja,” sahut Mentari sok polos di depan cowok itu.


Sementara Renata memutar bola matanya malas. Renata bisa baca bahwa ini semua hanya akal-akalan Mentari saja. Uh, queen drama!


“Ck, elah! Gitu aja sakit, haha...,” Renata tertawa sinis dan terdengar meledek.


Sontak hal itu membuat Surya emosi. Sudah membuat Mentari sakit, sekarang cewek itu masih meledeknya juga.


Surya berbalik dan menatap sangar cewek yang kini mengangkat dagu tinggi-tinggi itu. “Heh, Tata! Jahat banget sih lo jadi orang. Gak punya hati banget. Lo manusia bukan sih?” omel Surya.


“Urusannya sama lo, apa ya?” tanya Renata dengan kedua alis saling menekuk. “Gue harus minta maaf gitu?” tanyanya lagi yang langsung diangguki dengan tegas oleh Surya.


Renata tersenyum sinis. Tersirat nada kecewa di kedua bola matanya. Ternyata, Surya jauh lebih peduli sama Mentari, si manusia ular itu, ketimbang dirinya. Miris!


“Jangan harap! Gue gak bakal pernah lakuin itu. Minta maaf sama dia itu sama aja gue jatuhin harga diri gue sama sahabat gue,” desis Renata dengan suara tegasnya.


Rahang kokoh Surya mengeras menatap Renata lamat-lamat. “Minta maaf, gak?!” ucapnya melirih.


“Enggak,” kekeh Renata. Cewek itu menggeleng-gelengkan kepalanya tak mau.


“MIN-TA MA-AF” bentak cowok itu dengan penekanannya.


“ENG-GAK!”


Surya menggeram tertahan. Cewek ini benar-benar menguras emosinya. Tangannya terangkat ke atas dan mendarat tepat di pipi kiri Renata.


PLAK!


“GUE BILANG MINTA MAAF, YA MINTA MAAF SIALAN!!!”


Renata tersentak. Bulan yang berdiri di belakangnya pun tak kalah kagetnya. Gadis itu sampai menutup mulutnya tak percaya. Surya menampar Renata?


Renata terdiam beberapa saat di tempatnya dengan tangan yang memegangi pipinya yang barusan kena oleh-oleh. Matanya berkaca-kaca menatap Surya dengan perasaan retak dan hancur tak bersisa. Kini tatapan yang selalu memuja itu berubah menjadi tatapan penuh kecewa dan patah hati. Setelah ini, mungkin Renata tidak akan pernah mengagumi lagi cowok yang bernama Surya.


Setetes cairan bening berhasil meluncur dari kedua kelopak mata cewek itu sebelum berbalik dan berlari dari tempat itu.


Bulan meratapi kepergian sahabatnya itu dengan tatapan iba. Menghilangnya punggung Renata di pintu kantin membuat mengalihkan tatapannya pada Surya.


Bulan menatap cowok itu kecewa. Bulan geleng-geleng kepala. “Keterlaluan lo, Sur!” ujarnya lalu berlari mengejar Renata.


Tinggallah Surya yang kini mematung di tempatnya. Masih tak percaya dengan apa yang barusan dirinya perbuat. Apakah ia kelewat batas?


Tak ada yang bisa dilakukan cowok itu selain merutuki dirinya dalam hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2