Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 37. First Day in Jakarta


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Bulan di Jakarta. Keadaan di sini benar-benar membuatnya tidak tenang. Baru sehari, tetapi Bulan sudah dibuat uring-uringan. Bunyi bising kendaraan, rasanya ingin memecahkan kepala Bulan. Bagaimana hari-hari ke depannya? Bisa-bisa, Bulan depresi.


Ya, Bulan memang belum terbiasa dengan keadaan di sini. Gadis itu perlu beradaptasi dan tentu akan menghabiskan jangka waktu yang cukup lama.


Oke, kalau begitu Bulan akan mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru ini.


Setelah seharian membantu Mila membersihkan rumah yang akan menjadi tempat tinggal sementara mereka di sini, agenda mereka selanjutnya adalah belanja ke supermarket untuk membeli perlengkapan dapur seperti bahan masakan.


Kini, dua perempuan beda usia itu sedang memilih-milih bahan masakan apa saja yang akan mereka beli. Mila yang berjalan duluan sembari melihat-lihat sekeliling lalu disusul oleh Bulan yang mendorong troli belanjaan mereka. Sudah ada beberapa bahan masakan yang mengisi troli belanjaan mereka, seperti sayur-mayur, daging beku, dan beberapa kaleng ikan sarden.


Mereka sedang berada di rak buah-buahan sekarang. Mila sudah mengambil beberapa macam buah dan memasukkannya ke dalam troli.


"Mau beli apa lagi, Ma?" Bulan bertanya ketika Mila baru saja memasukkan buah apel ke dalam troli.


Mila berbalik seraya menopang dagu, tampak menimang-nimang pertanyaan yang barusan dilontarkan Bulan. "Um ... kamu mau beli cemilan?" Mila bertanya balik, wanita paruh baya itu menatap sang putri dengan satu alis terangkat ke atas.


"Boleh," jawab Bulan singkat, masih dengan wajah datarnya.


"Ya udah, kamu cari dulu, ya! Beli aja apa yang kamu mau. Mama tunggu kamu di depan kasir." Mila menyunggingkan senyum tipis, lalu berlalu mendahului Bulan.


Tinggallah, Bulan sendirian menghela napas kasar. Lalu, gadis itu kembali berjalan sambil mendorong trolinya. Dia berpindah ke lorong sebelah untuk mengambil beberapa snack.


"Hm, enakan mana, ya ... ?" gumam gadis itu bertanya pada diri sendiri.


Tampak, Bulan sedang memilih-milih snack apa saja yang akan dibelinya. Jika diperhadapkan dengan berbagai macam snack seperti ini, dia suka bingung mau beli yang mana. Semuanya terlihat menggiurkan lidah. Hingga tangan gadis itu jatuh pada snack yang ber-cover hijau, cheetos dan beberapa snack lainnya.


Setelah mengambil beberapa snack, gadis itu berpindah ke bagian pojok supermarket. Dari sini, dia dapat melihat freezer besar yang dipenuhi oleh berbagai macam minuman dingin.


Bulan menghampiri freezer tersebut dan mengambil beberapa minuman dingin dari dalam sana. Menyinggungkan senyuman singkat lalu memutar balik arah trolinya, berniat untuk ke kasir. Duh, pasti mama sudah menunggunya lama.


BRUK!


Dan karena ketidakhati-hatiannya, troli Bulan sampai menabrak tubuh seseorang hingga tersungkur di lantai. Samar-samar, Bulan mendengar umpatan kasar keluar dari bibir orang yang ditabraknya itu. Lebih tepatnya seorang lelaki berseragam olahraga pendek berwarna biru. Orang itu kira-kira seusia Bulan.

__ADS_1


"Bangs*t!" umpat cowok itu kesal.


Bulan membulatkan kedua bola matanya, lalu menghampiri cowok berseragam biru itu berniat meminta maaf padanya.


"Eh, sorry ... gue gak sengaja. Lo ... lo gak papa, kan?" Bulan berjongkok di depan cowok itu sambil tangannya memegang bahu cowok itu.


Tak ada respon yang diberikan cowok itu. Hanya ringisan kecil yang keluar dari bibir tebalnya. Hingga, cowok itu menepis kasar tangan Bulan yang bertengger manis di pundaknya. "Lepasin," ketusnya lalu bangkit berdiri dari posisinya.


Bulan pun melakukan hal yang sama, bangkit dari jongkoknya. Dia menyampirkan rambutnya sedikit yang tidak terikat ke daun telinganya. Menatap takut-takut cowok yang berdiri di depannya.


"Lo gak papa ... lo gak papa ..." dumel cowok mendecak sebal, membuat Bulan menggigit bibir bawahnya takut.


"Lo gak liat gue-" Ucapan cowok itu langsung menggantung di udara ketika netranya melihat paras gadis yang berdiri di depannya. Cowok itu mengakhiri dumelannya. Wajah penuh emosinya tadi, kini berganti cerah. Senyum sumringah terukir indah di bibirnya.


"Cantik," gumam cowok itu, berdecak kagum.


Bulan terenyah untuk beberapa saat. Bukan, bukan karena baper ataupun tersentuh dengan pujian cowok itu barusan, tetapi karena hal itu berada di luar dugaan Bulan. Bulan tidak menduga kalau cowok itu akan memujinya cantik.


Hanya tatapan mata intens keduanya yang saling beradu. Tidak ada percakapan yang terjadi. Cowok itu dengan senyum menghias bibir dan tatapan kagumnya tertuju untuk Bulan seorang, berbeda dengan gadis itu yang hanya menatapnya datar.


"Ngapain liatin kayak gitu? Gue ganteng, ya?" tanya cowok itu dengan PD-nya membuat Bulan tersadar dari imajinasinya.


Bulan mengerjap. Seakan tersadar, gadis itu menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengenyahkan apa saja yang ada dalam pikirannya.


Tidak, tidak, tidak!


Bulan tidak mungkin terpesona pada cowok itu.


Bulan menghela napas kasar, lalu berbalik-menghampiri trolinya lalu mendorongnya. Dia berlalu dari tempat itu meninggalkan si cowok yang masih termengah-mengah akan kecantikannya.


Hingga ketika Bulan sudah semakin menjauh darinya, barulah cowok itu tersadar. Seketika kedua bola matanya membelalak melihat punggung Bulan yang sudah tertelan di lorong sana.


"HEH, LO MAU KEMANA?!" Cowok itu berteriak lantang membuat beberapa pengunjung melirik ke arahnya. "TUNGGUIN GUE!!!"

__ADS_1


Bulan sengaja menulikan pendengarannya dengan terus melangkahkan kakinya tergesa-gesa.


Secepat kilat, cowok itu menghampiri freezer dan mengambil satu minuman dingin dari sana. Baru mengajar gadis itu yang diyakini masih berada di sekitaran sini.


***


"Kok, lama banget sayang?" Pertanyaan dari Mila langsung mengintrupsi Bulan ketika sudah sampai di tempat kasir.


"Oh, itu tadi ..." Bulan gelagalan, tidak tahu harus menjawab apa. Matanya berlarian sana-sini mencoba mencari alasan yang tepat. "Ada ... Ada sedikit problem, Ma. Iya, sedikit problem," ujar Bulan sekenanya, meringis pelan dalam hati.


Lalu, Bulan memindah-tempatkan semua belanjaan yang ada di dalam troli ke atas meja kasir guna menghindari pertanyaan selanjutnya dari Mila. Tampak, si kasir pemilik senyum manis itu mulai menghitung semua jumlah barang belanjaan Bulan lalu memasukkannya ke dalam kantong besar.


"Jadi totalnya berapa, Mbak?" tanya Mila ramah sembari membuka dompet hendak mengeluarkan kartu ATM-nya.


"Lima ratus delapan puluh tiga ribu, Bu," jawab si kasir menyebut nominal total belanjaan Mila.


"Ini, Mbak ..."Mila menyunggingkan senyum tipis lalu mengeluarkan kartu ATM tersebut dan memberikannya si kasir.


Tampak si kasir yang mulai menarik uang dari kartu ATM tersebut dengan menggunakan alat penggesek kartu ATM. Setelah itu, dia kembalikan kartu itu kembali pada pemiliknya.


Mila menerima kartu ATM-nya kembali dan memasukkannya ke dalam dompet. Menyungging senyum ramah pada kasir lalu berkata, "Makasih ya, Mbak."


Kasir itu tersenyum tipis, kepalanya sedikit merunduk seolah memberi hormat pada pengunjungnya. "Terima kasih sudah berkunjung ke supermarket ini."


Bulan lalu mengambil alih barang belanjaan mereka yang sudah disatupadukan ke dalam satu kantong plastik besar.


"Mau mama bantu?" tanya Mila menawar, dibalas dengan gelengan kepala oleh Bulan.


"Enggak usah. Bulan bisa kok, Ma," tolak Bulan.


Mila mengangguk. "Ya sudah."


Bulan mengulum senyum, berbalik dan hendak berlalu dari tempat itu. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Dalam sepersekian menit, senyuman itu kembali memudar. Bulan kembali ke wajah datarnya.

__ADS_1


Saat ...


"WOI CEWEK MANIS, NAMANYA SIAPA?! TUNGGU ... GAK MAU KENALAN SAMA GUE, NIH?!"


__ADS_2