Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 26. Cemburu


__ADS_3

Bulan melangkahkan kakinya ke dalam lingkungan sekolah dengan langkah ogah-ogahan. Namun, tak ada sedikit pun senyuman yang terpancar di wajah cantik gadis itu. Bulan yang notabe-nya gadis yang selalu tampak ceria itu, entah kenapa ia tampak berbeda dengan hari ini.


Sejak kejadian tadi malam, Bulan langsung berubah drastis seperti itu. Ia masih belum mengerti memgapa Tata jadi seposesif itu terhadapnya. Padahal dulunya, gadis itu yang mendukung hubungan Bulan dengan Bintang. Namun mengapa gadis itu tiba-tiba jadi membenci Bintang?


Entahlah?


Ini pasti ulah Mentari, pikir gadis itu sembari terus melangkahkan kakinya menelusuri sepanjang koridor sekolah. Hingga tiba-tiba, seseorang dari arah belakang menepuk pundak Bulan, membuat gadis itu terlonjak kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.


Bulan pun membalikkan badannya 180° ke belakang untuk melihat orang yang membuatnya terkejut.


"Kak Langit?" pekiknya yang terdengar kesal. Kemudian memegang dadanya yang berdetak begitu hebat karena terkejut.


Sementara Langit, cowok itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucu Bulan ketika terkejut.


"Kok malah ketawa sih?" Bulan refleks memukul lengan cowok itu hingga Langit meringis kesakitan.


"Aw... Iya-iya gue minta maaf!" ucap Langit mengalah sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas membentuk huruf 'v'.


Bulan pun menghentikan aksinya. Kemudian gadis itu memalingkan wajahnya ke samping dengan mengerucutkan bibirnya dan kedua kedua tangan bersedekap dada. Tampak masih terlihat ada rasa kesal di wajah gadis itu.


"Kok masih ngambek sih? Kan udah minta maaf." ucap Surya bertanya.


Sementara Bulan, cewek itu hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Langit dengan posisi yang masih sama.


"Udah dong ngambeknya." ucapnya lagi memohon. Namun lagi-lagi, Bulan tak meresponnya, membuat cowok itu berdecak kesal sambil memgerucutkan bibirnya.


Bulan yang tak sengaja melirik sekilas ke arah cowok itu, langsung menutup mulutnya untuk menahan tawanya. Muka cowok itu terlihat sangat lucu, sehingga Bulan kelepasan tertawa.


Langit yang melihat itu, mengerutkan keningnya. Heran dengan Bulan yang tiba-tiba tertawa.


"Kenapa?" tanyanya dengan ketus.


Bulan langsung menghentikan tawanya ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut cowok itu terdengar ketus. Ditambah lagi, cowok itu menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Enggak. Enggak papa kok." jawabnya berbohong.


"Ohh," Hanya itu yang kata yang keluar dari mulut cowok itu kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Udah kali, ngambeknya." Ucap Bulan memutar bola matanya malas.


"Siapa juga yang ngambek?" elak Langit dengan menatap Bulan sekilas dengan tatapan tidak suka, kemudian kembali memalingkan wajahnya.


"Tuh kan, ngambek."


"Gue udah bilang kalau gue gak ngambek. Lho tuh yang nyebelin." ucap Langit sedikit membentak.


"Ihh, kok sekarang jadi marah-marah sih? Aneh banget sih lho?" ucap Bulan tak henti-hentianya bertanya.


Tak ada jawaban dari Langit.


"Umm, gue tau nih kenapa lho ngambek." kata Bulan manggut-manggut dengan jari telunjuk yang menempel di dagu.


Langit menatap sekilas cewek itu, namun masih dalam mode ngambeknya.


"Apa?" tanyanya masih ketus.


"Pasti gara-gara Tata, kan?" tebak Bulan disertai dengan cengirannya.


"Ck, aneh lho. Siapa juga yang bilang gue ngambek gara-gara cewek gak jelas itu?" ujar Langit.


"Tuh kan, kakak ngambek karena Tata kan?" goda Bulan membuat cowok itu memutar bola matanya malas. Entah mengapa, setiap mendengar nama Tata, cowok itu selalu mendengus kesal. Sepertinya ia masih kesal dan kecewa terhadap cewek itu karena telah mempermainkan perasaannya.


Di saat yang bersamaan Tata datang menghampiri mereka dan berdiri di sampingnya Langit.

__ADS_1


"Ada apaan nih pake bawa-bawa nama gue?" tanyanya membuat kedua orang yang sedang berdebat kecil itu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Pagi Tata," sapa Bulan mengalihkan pembicaraan.


"Pagi Bulan," ujar Tata membalas sapaan Bulan. Kemudian cewek itu menatap Bulan dan Langit bergantian, mencoba mencerna keadaan saat ini.


"Tadi kenapa bawa-bawa nama gue?" tanyanya pada kedua orang itu dengan tatapan sombongnya.


"Ini Ta, Kak Langit," ujar Bulan sengaja menjeda ucapannya. Sementara Tata mengerutkan keningnya tak paham maksud Bulan.


"Kak Langit ngambek gara-gara lho." lanjut Bulan membuat Langit tersadar dari lamunannya dan menatap cewek itu dengan tatapan mautnya.


Sementara Tata, cewek itu melongo tak percaya.


"Gue?" ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri, kemudian menatap Langit yang ada di sampingnya mencoba mencari penjelasan dari cowok itu.


"Gak usah dengerin ucapan Bulan." ucap Langit cuek tanpa melirik sekalipun pada Tata.


"Kak Langit kenapa sih? Kok sekarang jadi cuek sama Tata?" tanya Tata pada Langit.


"Tanya sama diri lho sendiri." jawabnya cuek kemudian berlalu begitu saja dari tempat itu meninggalkan Bulan dan Tata berdua di sana.


"Kak! Kak Langit!" teriak Tata yang tak digubris oleh Langit.


Cowok itu terus melangkahkan kakinya lurus ke depan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


"Kenapa dia? Kalian berantem?" tanya Bulan yang hanya menonton interaksi kedua orang yang ada di depannya tadi.


"Mungkin dia masih kesal sama gue gara-gara waktu itu." jawab Tata mengerucutkan bibirnya kemudian menunduk.


Bulan tersenyum tipis padanya kemudian memghampirinya dan memeluk tubuh gadis itu dari samping.


"Udah, jangan sedih lagi. Oke?" ucap Bulan.


Sementara itu ada dua pasang bola mata yang melihat interaksi mereka dari kejauhan dengan tatapan tidak suka.


"Kok akur lagi sih?" ucap Mentari berdecak kesal melihat Bulan dan Tata kembali akur.


"Iya gue juga heran sama mereka. Kok bisa akur lagi sih?" tambah Surya yang tak kalah sebalnya dari Mentari.


"Berarti kita gagal dong." kata Surya lagi membuat Mentari menatapnya tajam.


"Gak, kita gak boleh gagal." ucap Mentari tegas.


                                          ***


Kring...


Bel tanda istirahat berbunyi. Siswa sisiwi pun berhamburan keluar kelas. Berlomba-loma ke kantin agar tidak kehabisan tempat di sana. Namun sebagian dari mereka ada juga yang memutuskan untuk berdiam diri di dalam kelas ataupun membaca di perpustakaan.


"Lan, ke kantin yuk! Gue laper nih." ajak Tata sembari memegangi perutnya yang sudah berkeroncongan meminta asupan.


"Lho duluan aja deh." tolak Bulan dengan sopan.


"Benaran nih?" ucap Tata memastikan.


Bulan menganggukkan kepalanya pelan dengan menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Ya udah gue duluan ya, bye." ucap Tata sambil melambaikan tangannya pada Bulan. Kemudian berlalu dari kelas tersebut.


Setelah Tata sudah hilang dari penglihatan Bulan, Bulan pun mengalihkan pandangannya kepada Bintang yang duduk di sampingnya yang kini tengah membaca sebuah buku. Entah mengapa cowok itu mejadi dingin kembali pada Bulan.


Sejak tadi pagi, cowok itu bersikap dingin pada Bulan. Bulan pun bingung sendiri dibuatnya. Cewek itu selalu bertanya-tanya dalam hatinya, Bintang kenapa ya?

__ADS_1


"Bintang, Bintang." ucap Bulan yang entah sudah ke berapa kalinya sambil menggoyang-goyangkan lengan Bintang. Namun cowok tak menghiraukannya meskipun dalam hatinya cowok itu berdecak kesal karena Bulan telah mengganggu konsentrasinya membaca.


"Bintang, Bintang, Bintang." rengek Bulan menggoyang-goyangakan lengan Bintang.


Merasa kesal dengan Bulan yang tak henti-hentinya mengganggu konsentrasinya, Bintang pun bangkit dari duduknya dan menggebrak meja dengan cukup keras.


"Lho bisa diam gak sih?" bentaknya.


Semua yang berada dalam kelas saat itu pun terlonjak kaget dibuatnya. Tak terkecuali Bulan, cewek itu menelan ludahnya dengan bersusah payah. Bulan terkejut bukan main. Bagaimana tidak? ini kali pertama Bintang membentaknya setelah mereka jadian.


"Kok lho jadi marah sih?" tanya Bulan menatap Bintang dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lho tanya kenapa gue marah. Lho buta apa gak liat gue lagi membaca?" bentaknya lagi.


Bulan pun tak bisa berkata-kata lagi. Ucapan barusan cowok itu sungguh menusuk hatinya. Bulan pun bangkit berdiri dan ikut menggebrak meja. Kemudian menatap Bintang kecewa. Tanpa ia sadari, air matanya keluar begitu saja dari kelopak matanya. Bulan pun menyeka air matanya dengan kasar. Ia tak boleh terlihat lemah di depan Bintang.


Kemudian gadis itu hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari situ. Namun dengan cepat Bintang mencekal pergelangan tangannya. Langkah Bulan pun terhenti.


Bulan pun membalikkan sedikit badannya dan menatap Bintang kecewa. Tampak ada rasa bersalah terpampang di wajah cowok itu. Namun cewek itu menghempaskan tangan Bintang dengan kasar. Kemudian Bulan pergi dari kelas tersebut dengan bercucuran air mata.


Sementara Bintang, cowok itu memegang kepalanya frustasi dan menendang mejanya. Kemudian meninju tembok di ruangan tersebut. Ia tak peduli dengan tangannya yang sudah memar bahkan berdarah.


"Argghh... Bodoh, Bodoh, Bodoh." ucapnya sambil memukuli tembok iti tanpa ampun. Ia merutuki dirinya sendiri. Ia sudah menyakiti dan mengecewakan perasaan gadis itu.


Setelah lelah melampiaskan amarahnya kepada tembok itu, ia pun menjatuhkan dirinya ke bawah lantai kelas dan tubuhnya bersandar pada tembok.


Di tengah kegusaran hatinya, Surya datang menghampirinya dan mencoba untuk menenangkannya. Ya, cowok itu dari tadi hanya memperhatikan perdebatan Bulan dan Bintang. Awalnya ia terlihat biasa-biasa. Namun ketika melihat Bintang menyakiti dirinya sendiri, timbullah perasaan ibahnya.


"Udah, gak usah sedih lagi." ucap Surya pada Bintang sambil menepuk-nepuk pundak Bintang dengan tersenyum simpul.


Mendengar suara Surya, Bintang pun menghentikan aksinya dan langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap tajam cowok yang ada di depannya tersebut. Emosinya tiba-tiba kembali memuncak dengan kedatangan cowok itu.


Surya yang ditatap seperti itu, mengerutkan keningnya. "Bintang kenapa?" tanyanya dalam hati. Belum sempat pertanyaan yang melanda hati Surya itu, Bintang sudah lebih dulu mendorong tubuhnya hingga Surya tersungkur di lantai. Surya yang langsung mendapat perlakuan seperti itu dari Bintang semakin mengerutkan keningnya tak mengerti.


Bintang pun bangkit dari posiisnya yang juga diikuti Surya.


"Lho kenapa sih?" tanya Surya mencoba meminta keterangan padanya mengapa Bintang mendorongnya seperti itu tanpa sebab.


"Lho gak usah pura-pura baik dan peduli sama gue. Gue gak butuh dikasihanin apalagi sama teman pengkhianat kayak lho." ucapnya sambil menunjuk dada Surya lalu mendorongnya pelan.


"Maksud lho apa? Gue bukan pengkhianat?" tanyanya menatap manik Bintang tajam. Ia tak terima dikatai pengkhianat.


"Ck," Bintang memalingkan wajahnya ke samping dengan senyuman smirknya. Kemudian kembali menatap Surya dengan tatapan mautnya.


"Ngaku aja deh lho. Lho senang kan gue sama Bulan berantem. Gak udah sok-sok baik juga deh lho sama gue." semprot Bintang.


"Gue gak pernah bilang kayak gitu." elak Surya.


"Lho kerja sama kan sama Mentari buat hancurin hubungan gue sama Bulan." ucap Bintang yang membuat Surya diam seribu bahasa.


"Kenapa lho diam? Benar kan?" tanya Bintang ketika melihat ada perubahan wajah pada Surya.


"Lho pasti kaget kan kenapa gue bisa tau? Lho pikir selama ini gue, Bulan, sama Tata gak buntutin kalian dari belakang." ucap Bintang yang semakin membuat Surya semakin bungkam.


"Dan asal lho tau, bukan hanya gue yang kecewa sama lho. Tapi Tata juga, lho udah hancurin hancurin hubungannya dengan Langit. Dan yang lebih parahnya lagi, lho udah permainin perasaannya dia. Emang lho sama Mentari itu gak lebih dari sampah." tambahnya.


Bintang pun kemudian malangkahkan kakinya ke depan, hendak meninggalkan Surya sendirian yang masih diam membeku di tempatnya. Namun baru dua langkah berjalan, ia berhenti sejenak dan kemudian membalikkan badannya ke belakang untuk melihat Surya.


"Dan lebih bodohnya lagi, lho itu cuman dimanfaatin sama Mentari. Dia gak cinta sama lho." ucap Bintang lagi dan setelah mengatakan itu ia benar-benar pergi.


Meninggalkan Surya yang tengah merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. Kata Bintang benar, Mentari gak suka sama dia. Mentari cuman memanfaatkannya.


"Bodoh, bodoh, bodoh!" teriaknya.

__ADS_1


__ADS_2