
Bulan pun pulang membawa sejuta luka. Apalagi kalau ayahnya sampai tau soal perkara yang baru saja dialaminya di sekolah. Bisa tamat riwayatnya. Kalau tidak pindah sekolah, pasti ia akan dikirim keluar negeri. Dan Bulan, ia tak mau itu sampai terjadi. Ia tak mau pisah dari Bintang dan teman temannya yang lain. Ia sudah terlanjur mencintai sekolah itu.
Tak terasa akhirnya ia sampai juga di sebuah rumah bercat putih yang tampak besar. Ia pun memencet bel di samping pagar tersebut agar sang satpam keluar dan membukakannya pintu. Dan benar saja, tek berselang menit kemudian seorang satpam menghampirinya dan membukakannya pagar.
"Jalan kaki ya non? Tumben gak dianter sama temannya yang itu." tanya satpam tersebut yang sudah lama bekerja di rumahnya Bulan. Bulan sering memanggilnya Kang Ujang. Ia tidak pernah tau nama asli satpamnya ini meskipun sudah cukup lama bekerja di rumahnya tersebut. Bi Mina salah satu pembantu di rumahnya, sering memanggil satpam tersebut dengan sebutan Kang Ujang, jadi Bulan pun mengikutinya.
"Iya Kang. Teman yang mana kang?" ucap Bulan bertanya balik.
"Itu lho non, cowok yang pernah datang ke sini anter non malam malam. Terus dimarahin sama bapaknya non" jelas Kang Ujang.
"Bintang, maksudnya Kang" jawab Bulan setelah memutar kembali ingatannya.
"Ohh jadi namanya Bintang non" ucap Kang Ujang manggut.
"Bulan, masuk dulu ya Kang.". Bulan pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di kamar, ia pun langsung membaringkan tubuhnya di ranjang untuk menhilangkan rasa penatnya. Bayangkan ia berjalan kaki dari sekolah ditambah lagi cuaca yang panas menguras energi. Ia menenangkan dan menstabilakan dirinya sejenak sebelum mengganti seragamnya. Tiba tiba handphonenya berdering. Bulan pun mengambilnya yang tergeletak di kasur. Lalu mengecek siapa yang mengiriminya pesan.
"Huh, dia lagi dia lagi" keluhnya pada diri sendiri. Sejak Tata mengerjainya tadi, Bulan sedikit murka sama gadis tersebut. Bulan pun langsung membaca isi pesannya.
"Lan, lho masih marah ya sama gue. Gue minta maaf ya! Gue sebenarnya gak bermaksud buat ngerjain lho. Sekali lagi maaf ya."
"Kita ketemu di Cafe Cemara sekarang. Ada yang pengen gue omongin sama lho. Penting."
Melihat isi chat yang kedua dari Tata membuatnya langsung bangun dari ranjangnya dan bergegas mengganti pakaiannya.
*****
Sudah setengah jam Tata menunggu kedatangan Bulan. Namun gadis itu tak muncul muncul juga, membuatnya sedikit khawatir.
"Bulan mana sih? Kok gak datang datang juga." ucapnya pada diri sendiri. "Apa dia masih marah ya, sama aku?" batinnya.
Tak berapa lama kemudian seorang cowok masuk ke dalam cafe tersebut dan mulai mencari keberadaan Tata dan di saat yang bersamaan Bulan pun datang.
"Kak Langit!" ucap Bulan yang tak menyangka akan bertemu Langit di sini.
"Hai Bulan" sapanya tanpa ada rasa kaget apapun. Seolah-olah Ia sudah mengetahuinya.
"Kakak ngapain di sini?" belum sempat Langit menjawab pertanyaan Bulan tersebut, Tata sudah lebih dulu memanggil mereka.
__ADS_1
"BULAN! KAK LANGIT!" teriakan itu membuat percakapan kedua orang tersebut terhenti. Mereka menoleh ke orang yang memanggilnya tersebut.
"Tata!" ucapan yang keluar dari mulut Bulan lalu menghampiri Tata. Langit pun mengikutinya dari belakang.
Bulan duduk di samping kiri Tata. "Sorry ya, Ta. Tadi di jalan kena macet." ucapnya kepada Tata dengan raut wajah penuh salah.
Tata menatap Bulan lekat, kemudian menyunggingkan senyuman tipisnya. "Iya gak papa kok."
Langit pun ikut duduk di sebelah kanannya Tata. "Jadi kakak ke sini diundang sama Tata juga?" tanya Bulan yang diangguki oleh Langit.
"Ohh ya Ta, katanya ada yang mau diomongin?" tanya Bulan to the point. "Apa?"
"Ohh, jadi ini maksud lho Ta?" Bukannya menjawab pertanyaan Bulan, Langi malah melontarkan pertanyaan pada Tata. Tata pun menganggukan kepalanya pelan.
Tentu saja Bulan mengernyit heran, tak mengerti arah pembicaraan kedua makhluk tersebut. "Maksud Kak Langit, apa?" tanyanya bingung.
"Jadi gini Lan," ucap Tata yang mencoba untuk menjelaskan, namun langsung dipotong oleh Langit.
"Biar gue aja yang jelasinnya, Ta." ucap Langit memotong ucapan Tata.
"Sebelumnya kita minta maaf ya, Lan." ucap Langit sebelum memulai ceritanya.
Surya dan Tata menganggukkan kepalanya pelan kemudian menunduk secara bersamaan. Tampak dari ekspresi mereka bahwa mereka benar-benar seperti orang yang sedang bersalah. Tapi apa? Bulan sendiri pun tak tau.
"Buat apa?" tanya Bulan lagi. "Ini tuh, gimana sih?" ucapnya bingung tak paham akan arah pembicaraan kedua orang tersebut. "Gue benar benar gak paham deh maksud kalian."
"Tapi lho harus janji dulu. Apapun kesalahan kita dan sebesar apapun itu, lho harus maafin kita." ucap Tata yang kemudian mengangkat jari kelingking-nya ke atas, "Janji?".
Bulan pun tersenyum ke arah Tata. Lalu
ikut mengangkat jari kelingking-nya ke atas, kemudian menautkan-nya ke kelingking Tata. "Janji."
Langit pun menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kasar.
"Lan, lho masih ingat gak waktu kalian jengukin Bintang." ucap Langit yang langsung diangguki Bulan. Tentu Bulan masih ingat. Apalagi waktu itu, ia sempat diculik.
"Masih ingat dong. Waktu itu..." jawab Bulan sembari mengingat-ingat yang terjadi tempo itu. "Waktu itu, gue hampir diculik juga sepulang dari rumah Bintang. Tapi untungnya Bintang datang nolongin gue." jelasnya.
"Nah, itu Lan." ucap Langit membenarkan pernyataan Bulan.
__ADS_1
Bulan menatap Langit bingung. "Maksudnya?"
"Preman-preman itu suruhan gue, Lan. Gue minta maaf ya!" jawab Langit dengan wajah yang serius.
"Apa?" ucap Bulan tak menyangka.
"Preman itu suruhan gue Lan. Tapi gue gak ada niat jahat kok buat nyakitin lho, gue cuma," ucap Langit mencoba menjelaskan yang sebenarnya alasan ia hendak menculik Bulan tempo itu. Namun Bulan langsung memotong pembicaraannya.
"CUKUP!" bentaknya agak keras. Kini terlihat perubahan di wajah Bulan, tampak wajahnya memerah tanda bahwa ia sedang marah, nafas-nya memburu tak menentu dan matanya sudah berkaca kaca. Langit dan Tata yang mendengar bentakan itu pun langsung diam, menunduk. Baru kali ini, mereka melihat Bulan semarah itu.
"Lan, dengarin dulu penjelasan gue. Gue itu," ucap Langit mencoba memberi penjelasan.
Namun lagi-lagi Bulan menyela-nya, seolah-olah tak akan memberi-nya waktu untuk berbicara. "Gue gak butuh penjelasan dari lho!"
Habis sudah pertahanan Bulan. Kini, air matanya sudah berhasil menetes membasahi pipi-nya.
"Please Lan, dengerin dulu penjelasan gue. Waktu itu, gue gak bermaksud buat nyulik lho. Gue cuma mau, " ucap Langit lagi.
"Kalau bukan untuk nyulik gue, terus itu namanya apa Langit?" timpal Bulan emosi.
"Itu ide gue Lan. Gue minta maaf!". Tata yang dari tadi diam menunduk, pun angkat bicara.
Bulan pun langsung beralih pandang ke arah Tata dan menatapnya bingung. "Ide lho?" tanyanya.
"Iya. Waktu itu gue pengen lho jadian sama Kak Langit, karena gue liat Kak Langit juga suka sama lho. Tapi ternyata lho sukanya sama Bintang. Gue minta maaf ya Lan, gue gak sengaja." jawab Tata menjelaskan sambil berurai air mata dan sesekali menyeka-nya.
"Dan, asal lho tau. Ide konyol lho itu yang buat hubungan gue sama Bintang jadi begini. Dia dimarahi habis habisan sama Papa." timpal Bulan kasar.
Emosinya sudah tak dapat ia kontrol lagi, ia sudah lepas kendali. Tanpa ia sadari, air matanya berhasil keluar begitu saja. Kemudian menyekanya dengan kasar.
Namun tiba tiba, ia tertawa mengejek. Kemudian memandang remeh kedua orang tersebut. Andai saja ada orang yang melihat-nya saat itu, mungkin sudah menganggapnya orang gila. Bahkan Langit dan Tata pun heran. "Gue nyesal tau nggak berteman dengan kalian. Kalian itu jahat." ucapnya kemudian hendak beranjak dari tempat yang hanya membuatnya terluka tersebut.
Namun Langit mencekal pergelangan tangannya. Langkahnya pun terhenti.
"Apalagi Kak? Belum puas udah buat gue kayak gini? Hm?" tanyanya tak berperasaan.
"Tunggu dulu Lan. Dengerin dulu penjelasan kita. Bukankah kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin?" ucap Langit lembut, berharap Bulan akan luluh dengan ucapannya.
Namun ternyata....
__ADS_1
"Gue gak butuh lagi penjelasan dari kalian" ucapnya ketus, Kemhdian menepis tangan Langit kasar. Lalu berlalu dari tempat itu.