Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 42. Dua Makhluk Aneh


__ADS_3

"Jadi, begitulah langkah-langkah dalam mengerjakan soal semacam ini. Sampai di sini, ada yang mau ditanyakan mengenai matriks?" kata Pak Andre mengakhiri pelajaran.


Tak ada sahutan membuat Pak Andre mengangguk paham. "Oke, karena tidak ada yang menyahut, berarti Bapak anggap semuanya sudah paham. Baiklah, kalau begitu Bapak yang akan bertanya!"


Guru itu tersenyum penuh arti membuat murid-murid serempak meneguk salivanya susah payah. Mampus!


Tangan Pak Andre menari-nari di atas papan tulis. Tampaknya, ia sedang menulis soal yang akan diajukannya nanti.


"Anak-anak, siapa yang bisa jawab soal yang Bapak tulis ini?" tanya Pak Andre setelah menulis sebuah soal di papan tulis. Pandangannya mengarah ke murid-murid.


Berikut tulisan yang Andre tulis di papan.


Tentukan nilai a dan b dari kesamaan matriks berikut.


[ a + b ] \= [ 4a - 5 ]


[ 2a - 15 ] [ 6a + 7b ]


Lagi-lagi, tak ada yang menyahut. Murid-murid serempak jadi patung dadakan.


"Tidak ada yang bisa?" tebak Pak Andre terdengar kesal.


Cukup lama hanya keheningan yang melanda suasana tegang kelas itu. Hingga tak lama seorang murid di bangku kedua dari depan barisan tengah mengacungkan tangan tinggi-tinggi ke udara. "Saya, pak!" celetuk gadis itu.


Semua pasang mata langsung menoleh ke arahnya. Ada yang menatapnya sinis, berbinar, dan juga ragu. Tak terkecuali Renata, teman sebangku, yang kini menatap ragu padanya.


Berbanding terbalik dengan gadis yang duduk di bangku belakang mereka. Gadis itu mendelik sinis. Dengusan iri terdengar dari bibirnya. "Sok banget!" cibirnya.


"Bulan... ?" Pak Andre memanggil ragu. Kedua alisnya saling menekuk. "Kamu mau jawab?" tanyanya memastikan dan langsung mendapat anggukkan kepala mantap dari murid itu.


"Ya sudah, ke depan!" titah Pak Andre.


Bulan bangkit dari duduknya dan maju ke depan. Sesampainya di depan, Pak Andre langsung memberinya sebuah spidol berwarna hitam. Bulan mengambilnya dan mulai mengerjakan sederet angka-angka yang ada di papan tulis itu.


Jawab :


a + b \= 4a - 5


-3a + b \= -5


2a - 15 \= 6a + 7b


-4a - 7b \= 15


\=>Metode Eleminasi :


-3a + b \= -5 | x (-7) | 21a + (-7)b \= 35


-4a - 7b \= 15 | x 1 | -4a - 7b \= 15


--------- -

__ADS_1


25a \= 20


a \= 20/25


a \= 4/5


a \= 0,8


\=>Metode Subtitusi :


-3a + b \= -5


-3(0,8) + b \= -5


-2,4 + b \= -5


b \= -5 + 2,4


b \= -2,6


Jadi, nilai a \= 0,8 dan b \= -2,6


"Sudah, Pak!" ucap Bulan sembari menutup spidol yang baru saja selesai digunakan dan menyodorkannya kembali ke Pak Andre.


Pak Andre tampak mengamati dengan baik jawaban yang ditulis Bulan di papan tulis. Lalu tak lama, pria itu manggut-manggut bersamaan dengan senyum lebar tercetak di bibirnya.


"Bagus." celetuk Pak Andre. Lalu tatapannya beralih pada gadis yang berdiri di sampingnya itu. "Jawaban kamu benar!" katanya lagi dengan nada pujian.


"Makasih, Pak!"


Bulan berbalik lalu melangkah kembali ke tempat duduknya. Ia menggigit bibirnya malu karena kini dirinya menjadi pusat perhatian. Banyak tatapan memuja tertuju padanya.


Bulan melirik ke samping kala merasa orang yang duduk di sana sedang menatapnya. Dan benar, cowok itu sedang tersenyum ke arahnya lengkap dengan tatapan kagumnya yang tak bisa tersembuyi di kedua bola matanya.


Bulan tersentak. Tangannya langsung memegangi dada kirinya kala merasakan degupan cepat di sana.


Ada apa ini?


Perasaan apa ini?


Jujur, Bulan tidak tahu. Karena ini kali pertamanya Bulan merasakan hal aneh yang tak wajar ini.


Perlahan tapi pasti, sudut bibir Bulan melengkung ke atas hingga membentuk senyuman.


Dan di samping itu juga, di antara tatapan memuja terselip beberapa tatapan sinis padanya. Salah satunya dari gadis yang duduk di belakang bangkunya. Bulan sadar gadis itu sangat tidak menyukai kedatangannya di sekolah ini. Untuk alasan dan penyebabnya, Bulan tak tahu.


Dan lagi, adegan yang baru saja terjadi serasa tidak asing dalam ingatan Bulan. Seolah dia sedang merasakan deja vu. Gadis itu mengerutkan kening berpikir keras. Namun, kapan hal itu terjadi?


***


Bel tanda istirahat berbunyi menggema di seluruh penjuru kelas SMA Mahardika. Menginterupsi para guru yang kini masih setia menjelaskan materi di depan kelas. Seperti Pak Andre, guru matematika yang tengah mengajar di kelas XI IPA 2 itu langsung menghentikan kegiatan mengajarnya.

__ADS_1


"Pertemuan kita cukup sampai di sini, selamat siang!" Selesai mengemas barang-barang di atas mejanya, guru itu memberi salam pada murid-murid lalu melenggang keluar dari kelas.


"Siang, Pakkk!" dibalas secara serempak oleh seluruh murid.


Dan bertepatan dengan itu, mereka langsung berhamburan keluar kelas. Kelas yang tadinya hening, kini bising seperti tengah melakukan kegiatan jual beli di pasar.


Begitu pun dengan Bulan yang kini tengah mengemas peralatan tulisnya ke dalam tas. Kegiatannya terhenti saat Renata memanggil namanya. Ia menoleh dengan cepat dan gurat penuh tanya.


"Ke kantin bareng, yuk!" ajak gadis itu berbinar penuh harap.


"Tapi-"


"Tenang, gue traktir kok," sela Renata memotong ucapan Bulan. Padahal baru saja, Bulan akan menolaknya karena hendak ke perpustakaan.


"Ya udah, deh!" Menghela napas, Bulan pasrah. Anggukan kepala lalu terlihat darinya membuat Renata makin berbinar.


Saat keduanya hendak beranjak keluar dari kelas, dua orang cowok datang menghadang jalan mereka di ambang pintu. Mereka adalah Bintang dan Surya, dua orang sahabat yang otaknya sama-sama gesrek.


"Halo, cantik!" sapa Bintang genit, jelas-jelas tertuju pada Bulan.


Di saat Bulan menampilkan raut datar seolah gombalan Bintang barusan sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya, Renata malah memutar bola mata. Tampaknya sudah jengah dengan penampakan dua siluman yang tak henti-hentinya mengganggu cewek-cewek itu. Jangan bilang ia dan Bulan korban mereka selanjutnya lagi. Jangan sampai!


Ya, Bintang dan Surya memang dua sahabat yang terkenal akan kenakalan dan ke-playboy-annya di sekolah. Entah sudah berapa banyak cewek yang berhasil mereka gandrungi. Entah sudah berapa banyak hati yang retak karena ulah dua siluman buaya itu. Dasar buaya berwujud manusia!


"Mau apa lo berdua? Minggir, jangan gangguan kita! Cari mangsa sono! Kita laper, mau ke kantin!" Nada pengusiran dalam tuturan Renata barusan jelas sangat kentara.


Surya membesarkan pupil matanya. "Oh, mau ke kantin!" Lelaki itu lalu berseru heboh. Badannya ia sedikit geser ke samping seolah memberi jalan pada dua tuan putri itu.


Tersenyum lalu bergurau, "Ya udah atuh, sini bareng si aa' tamvan," ujarnya sembari menaik-turunkan alis menggoda. Jangan lupakan pergelangan tangan kanannya sudah mengacung ke samping seolah memberi akses bagi salah satu gadis itu untuk digandengnya.


Ketiganya sontak bergidik ngeri. Bahkan Bintang yang tadi ikut mengambil alih menggombal dua gadis itu, menatap jijik sahabat laknatnya. Kerutan bingung tak kalah menghias kening. Ingin sekali dia berteriak di depan wajah Surya, "Sudah keluar dari konteks awal tolol!!!".


Namun sayang, itu semua hanya bisa tertahan dan merongkah-rongkah di tenggorokan. Hanya wajah merah padam yang ia tampilkan serta kedua tangan mengepal di sisi badan, pertanda amarah tengah menguasai dirinya.


"Diem! Malu-maluin bangsat!" Bintang sedikit mendekat ke arah Surya dan mendesis kecil tepat di telinga lelaki itu. Geramannya terdengar begitu menakutkan di telinga Surya.


Surya dengan raut pucat pasi hanya bisa terkekeh sambil mengaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Suasana benar-benar kikuk saat ini membuatnya bertingkah layaknya orang bodoh. "Eh, oh! Gue malu-maluin, ya," cengirnya dengan raut penuh salah.


Bintang memejamkan mata erat. Dalam pejamannya, gigi-giginya ia gertakkan. Sumpah, Surya benar-benar membuatnya emosi saat ini. Andai saja tidak ada dua gadis cantik di depannya saat ini, pasti Surya sudah habis diterkamnya sedari tadi.


"Goblok!" cibirnya, lalu berlalu begitu saja keluar dari ambang pintu dengan kedua tangan menyempil di kedua saku celana abu-abu. Ia meninggalkan Surya yang masih termangu di tempat. Lelaki itu sungguh benar-benar tak tahu dengan tingkah Bintang. Aneh! Cibirnya dalam hati.


Melirik dua orang gadis di depannya yang sedari tadi mendengar samar-samar interaksinya dan Bintang, Surya menampilkan cengiran ramah.


"Ke kantinnya lain kali ya, cantik! Aku mau nyusul monyetku dulu. Dia ngambek lagi, hehe. Biasalah, akhir-akhir ini dia sensian banget. Kayaknya lagi pms, deh!" kata Surya mulai ngolor kidul, lalu beranjak dari sana.


Menyisakan Bulan dan Renata yang saling tatap. Dua gadis itu sama-sama menampilkan gurat bingungnya.


"Dasar orang aneh! Tidak jelas!" cibir Renata dengan dengusan sebalnya sebelum mengajak Bulan melanjutkan langkah mereka ke kantin.


***

__ADS_1


__ADS_2