Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 32. Awal yang Sesungguhnya


__ADS_3

Di suatu malam yang gelap, seorang gadis terbangun dari mimpi yang panjang. Napasnya memburu yang tidak beraturan seperti habis diburu oleh anjing galak. Wajah gadis itu basah dengan rambut acak-acakan. Tampak keringat mengucur deras dari pelipis turun membasahi pipi.


Dia menolehkan kepalanya ke samping. Segera meraih segelas air putih yang selalu stand by di atas nakas. Bulan meneguk air tersebut hingga tandas tak tersisa. Napasnya masih terengah. Rasanya itu belum cukup untuk menutupi rasa dahaganya.


“Tadi mimpi apaan, sih? Aneh banget," gumamnya kemudian, bermonolog pada diri sendiri dengan pandangan menerawang kosong ke depan.


Pindah ke luar kota, menjadi siswi baru di sebuah sekolah menengah atas, bertemu seorang cowok yang kemudian terjebak kisah asmara bersamanya hingga hampir berakhir tragis. Hanya itu yang Bulan ingat dari mimpinya. Kerutan jelas-jelas tergambar di dahi saat gadis itu berpikir keras untuk mengingat apa saja yang dia alami beberapa saat.


Gadis itu seolah baru saja seperti melakukan perjalanan waktu yang panjang sebelum akhirnya dia tersadar. Namun, rasanya hal itu terdengar tak masuk akal. Siapapun yang akan mendengarkan ceritanya pasti menganggap Bulan terlalu banyak berimajinasi dan malah mengoloknya karena terlalu sering membaca novel bahkan menonton drakor. Lantas dia menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengusir jauh hal tersebut dari pikirannya.


“Kalo cuma mimpi ... kenapa harus sedetail itu? Terus, kok mimpi itu kayak nyata, ya, seolah benar-benar terjadi?” kata Bulan lagi.


Kerutan yang kian bertambah banyak kembali mengukir dahi gadis itu. Pada dasarnya, mau sebagaimana pun usaha Bulan untuk menentang keras dan mengatakan pada diri sendiri bahwa semua itu hanyalah mimpi. Namun pada kenyataannya, Bulan tetap saja penasaran dengan yang sebenarnya terjadi.


Dan, apa pula arti mimpi itu?


Yang jelasnya mimpi itu datang membawa tanda-tanda yang tercium tak enak. Jantung Bulan langsung berpacu cepat. Perasaannya menjadi tak karuan. Feeling mengatakan bahwa sesuatu hal besar akan segera terjadi. Refleks Bulan memegangi dadanya yang berdetak kian tak normal hingga dia hilang kendali.


“Jangan bilang, kalo ini pertanda ....”


Satu hal yang Bulan tidak tahu bahwa mimpi tersebut adalah sebuah bayangan masa depan yang hendak dia lalu. Seperti sebuah alur cerita di kehidupannya yang akan datang yang diperlihatkan oleh Yang Mahakuasa kepadanya.


***


Bulan memasuki rumah megah bertingkat dua dengan raut wajah datar seperti biasanya. Tampak raut lelah yang tersirat di wajah dingin gadis bermata cokelat, berambut panjang sedada yang selalu dikuncir itu. Tangan kanannya mendekap beberapa buku paket dengan ransel biru yang menggantung di punggung. Dilihat dari outfit yang tengah dikenakannya, sepertinya ia baru pulang dari sekolah. Seragam putih abu-abu itu melekat rapi di tubuh mungilnya.


Langkah gadis itu terhenti di ambang pintu. Keningnya dengan refleks mengerut, melihat kedua orang tuanya bergerak sibuk—mondar-mandir seperti tengah mengemasi barang-barang.


Melihat sang ibu tengah menutupi sofa dan beberapa barang berharga lainnya dengan kain putih, membuat Bulan menghampiri dan menyapanya.


“Siang, Ma!” sapa gadis itu berbasa-basi.

__ADS_1


Merasa disapa, Mila mengangkat wajah dan mendapati putri semata wayangnya yang kini sedang berdiri menatapnya bingung.


“Eh, udah pulang.” Wanita paruh baya itu melebarkan seyum, kemudian mengecup pipi kanan Bulan dengan singkat. “Siang, anak Mama yang paling cantik,” sapa Mila balik.


“Ini ... kenapa pada beres-beres, Ma? Emang, kita mau kemana?” tanya gadis itu dengan mata berlarian kesana-kemari.


Wanita itu kembali menyunggingkan senyum lalu menatap lekat putrinya. “Udah. Dari pada banyak tanya, mending kamu ke atas rapihin baju kamu. Malam ini juga, kita akan berangkat ke Jakarta dan mungkin saja kita akan menatap beberapa bulan bahkan tahun di sana,” jawab Mila memberi penjelasan seraya mengusap beberapa helai rambut Bulan yang menjutai menutupi wajah gadis cantik itu.


Sontak, Bulan melebarkan matanya. Mulutnya berkomat-kamit tidak jelas seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi terasa mengganjal di tenggorokan.


“Ta-tapi kenapa ...” Baru saja gadis itu ingin melayangkan protesannya, teriakan sang ayah sudah menggelengar memenuhi ruangan itu.


“BULANNN!!! CEPATAN PACKING!!! KITA GAK PUNYA BANYAK WAKTU BUAT NGOBROL ATAU KAMU MAU TINGGAL DI SINI SENDIRIAN?!!!”


Perintah yang tak bisa dibantah. Inilah satu hal yang paling Bulan benci dari sosok Irawan, sang ayah. Tak terbantahkan. Sekali ngomong satu tetap satu, tidak bisa dua.


Bulan melirik Mila sekilas. Wanita itu masih dengan senyumnya yang tampak dipaksakan.


“Udah, ya ... turutin apa kata Papa kamu,” ucap Mila sambil mengusap lembut bahu gadis itu.


“Tidak perlu risau. Papa-mu sudah meng-handle semuanya. Ayo, cepatan packing nanti dibentak-bentak lagi, mau?!” sela Mila penuh intimidasi, mendapat gelengan kepala dari Bulan.


“Ya udah, gih!”


“Iya-iya.” Wajah gadis itu tampak cemberut dengan bibir yang mengerucut sebal. Mengembus napas kasar, lalu melangkahkan kaki lesuh menaiki tangga.


Tentu gadis itu bersedih akan kepindahan mereka ke Jakarta. Bandung adalah tanah kelahirannya. Enam belas tahun bukan hal mudah untuk melupakan. Sudah banyak kenangan manis yang terukir indah di setiap jengkal sudut kota ini. Bulan belum siap untuk itu semua.


Setelah ini, Bulan pastikan hidupnya tidak akan pernah ada kata tenang lagi. Bukan hal mudah baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi Ibu kota terkenal akan bermacam-macam tindakan kriminalnya.


Kisah baru akan segera dimulai.

__ADS_1


***


“BULAN!!! UDAH SIAP, BELUM?!!!”


“CEPATAN TURUN!!!”


Malam telah tiba. Kini, tiba saatnya Bulan akan pergi meninggalkan kota itu.


Teriakan menggelegar itu menginterupsi Bulan yang tengah menitikkan air mata di dalam kamar kesayangannya yang sebentar lagi ia tinggal.


Gadis itu langsung beranjak dari ranjang dan menghapus jejak air mata di pipinya. Ia harus cepat-cepat turun ke bawah. Ia tidak ingin membuat sang ayah menunggu lama dan makin murka padanya.


“IYA, PA! TUNGGU!!!” balasnya berteriak.


Buru-buru Bulan mengambil tas selempang kecil di atas kasur lalu memakainya, lalu menarik koper yang berada di sisi meja belajarnya.


Duk!


Prank!


Tak sengaja, Bulan menyenggol sebuah foto yang terpajang rapi di atas meja belajarnya. Jatuh ke lantai dan menimbulkan suara pecah yang cukup keras.


Kedua bola mata gadis itu membelalak. Ia langsung berjongkok di depan pecahan bingkai kaca tersebut dan membalik bingkai tersebut.


Deg!


Jantungnya langsung berpacu dua kali lebih cepat. Di balik bingkai pecah itu, ada foto masa kecilnya bersama kedua kawannya. Bulan mengusap foto yang mulai usang itu, lalu senyum sendu terbit di bibir gadis itu. Seketika memori ingatan, membawanya pada kenangan masa lalu yang begitu indah.


Hingga teriakan Irawan kembali menggelegar menyadarkan gadis itu dari kilas baliknya.


Bulan beranjak bangkit dan tergesa-gesa keluar dari ruangan penuh kenangan itu. Ia menuruni undakan anak tangga satu-persatu sambil menggeret koper hitamnya. Entah kenapa semakin dekat ke lantai bawah, perasaannya makin tak tenang.

__ADS_1


Bulan merasa seperti ada suatu hal besar yang hendak terjadi. Entah itu hanya perasaannya saja, atau ...


***


__ADS_2