Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 44. Tidak Tertarik


__ADS_3

Bintang sedang berjalan di koridor sekolah. Bulu kuduknya secara refleks terangkat, sedikit merinding saat mengamati sekitar yang sepi. Tak ada yang berlalu lalang di koridor. Hanya Bintang dan kesunyian. Jam istirahat sudah berakhir beberapa menit lalu. Murid-murid sudah berhamburan kembali ke dalam kelas.


Bintang hendak ke toilet. Tiba-tiba, dia kebelet mau buang air kecil saat sedang mengobrol bersama Surya di kelas. Sialnya, cowok itu tidak mau menemani Bintang ke toilet.


"Pergi sendiri sana! Mandiri udah gede. Gue lagi mager," begitu alibi Surya ketika Bintang meminta untuk menemaninya ke toilet.


Dengan wajah tanpa dosanya, Surya menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Membenamkan wajah di antara lipatan tangan. Menghiraukan tatapan Bintang yang kini sudah menatapnya tajam, padahal beberapa detik lalu memohon-mohon padanya sampai berkaca-kaca.


Bintang mendengus sinis diakhiri decakan kala diingatkan kembali dengan perbincangan terakhirnya bersama Surya. Tidak terasa cowok itu sudah berdiri di depan toilet. Saat hendak membuka pintu dan masuk ke toilet laki-laki, tangan Bintang terhenti saat pintu toilet perempuan di sampingnya berderit. Secara refleks Bintang menoleh.


Seorang murid perempuan keluar dari sana sambil merapikan kunciran rambutnya yang berantakan. Kedua alisnya saling bertautan, kemudian mendongakkan kepala saat merasa sedang diperhatikan oleh seseorang.


Sebuah senyum lebar dia dapatkan dari seorang lelaki yang tak asing sedang berdiri di depannya saat ini. Sedang menatap lekat ke arahnya. Cowok itu, Bintang. Teman sekelasnya.


"Hai," sapa Bintang sambil melambai ramah. Menyengir kuda saat sapaannya tak dibalas oleh gadis itu.


Bulan memutar bola mata malas setelah melayangkan tatapan ilfeel pada Bintang. Mencoba abai, gadis itu berlalu tanpa sepatah kata. Namun, langkah Bulan kembali terhenti saat menyadari pegelangan tangannya dicekal oleh seseorang.


Bulan menghela napas kasar. Dalam hati terus menyuruh dirinya agar sabar. Apalagi jika sedang berhadapan dengan spesies seperti Bintang. Dengan raut datar dan tak minat, Bulan menolehkan wajahnya dan menatap Bintang seolah bertanya ada apa.


"Lepas," ucapnya singkat, langsung ke intinya.


Bintang mengulum senyum dengan tatapan lekatnya. "WA."


"Hah?" Bulan mengerutkan kening saat satu kata keluar dari bibir Bintang tanpa dia tahu maksudnya.


"Nomor WA lo." Hingga ketika Bintang lanjut berkata sembari menyodorkan hp, barulah Bulan paham akan maksud lelaki itu.


Bulan menatap ponsel yang sedang terjulur ke arahnya itu tanpa minat. Satu alis terangkat ke atas. Lalu, beralih menatap Bintang yang kini sedang berharap semoga dia memberikan apa yang diminta.


Dalam diam, Bulan mendengus sinis. Tidak semudah itu, ferguzo!

__ADS_1


"Enggak punya WA," katanya dingin dan langsung pergi begitu saja.


Bintang tertawa kecil saat keinginannya tak terpenuhi. Dia mengendikkan bahu dengan bibir menyungging ke bawah.


"It's, ok."


***


Setelah buang air kecil, Bintang tak langsung kembali ke kelas. Cowok itu memutar balik arah, berjalan ke dekat gudang. Dimana di sana ada sebuah tangga yang menghubungkan roftoop.


Namun, sialnya dia malah bertemu dengan Langit, si ketua osis, yang paling patuh pada peraturan.


"Mau ke mana lo? Bolos ke roftoop lagi?" interogasi Langit, mencegat pergelangan tangan Bintang.


Menahan kesal, Bintang menghempas tangan lelaki itu. "Enggak usah ikut campur," balas Bintang sinis, menatap Langit penuh peringatan.


Bintang melewati badan tegap Langit. Tak lupa menyenggol bahu cowok itu sampai membuat Langit menarik napas kesal. Memejam mata untuk tetap sabar. Menghadapi orang yang keras kepala seperti Bintang memang harus ekstra sabar.


"Gue ketua osis," kata Langit penuh penekanan, seolah menegaskan bahwa dia punya kuasa di area ini.


"Terus, kenapa?" Bintang bertanya sebal. Raut songong yang membuat Langit terpancing emosi.


"Di luar lo boleh membangkang. Lo boleh kurang ajar sama gue. Tapi di sini ... lo harus patuh sama gue! Lo harus patuh sama peraturan sekolah!" desis Langit begitu geram.


Lagi, Bintang mendengus. "Lo ngandelin jabatan lo ngancem gua? Terus, kalo gue melanggar lo mau apa?" tanya Bintang menantang.


Tidak langsung Langit menjawab. Dia menelisik netra hitam lelaki itu seolah sedang mencari kelemahan Bintang supaya bisa membungkam mulutnya yang banyak bicara. Hingga kemudian bibirnya menyungging seringai tipis.


"Gue aduin ke guru BK," jawab Langit seadanya.


"Silakan aja. Gue enggak takut," kekeh Bintang.

__ADS_1


Langit menaikkan satu alisnya seolah ragu dengan jawaban Bintang.


"Gimana kalo bokap lo?"


Raut wajah Bintang seketika berubah datar. Tak ada lagi tatapan menyebalkan yang tertuju pada Langit, berganti menjadi tatapan maut yang mematikan.


Langit menyungging senyum remeh kala menyadari kedua tangan di sisi Bintang mengepal. Kali ini giliran dia yang membuat Bintang memanas. Cowok itu termakan pancingannya sendiri. Rasanya Langit ingin tertawa ngakak saat itu.


"Sialan! Jangan berani-berani lo ngelapor ke bokap gue atau lo mati sama gue!" ancam Bintang memperingati.


Tentu saja diabaikan oleh Langit. Cowok itu berlalu pergi meninggalkan Bintang yang kini masih anteng mengumpatinya dari kejauhan.


***


Bintang yang hendak bolos ke roftoop mengurungkan niat. Sebut saja dia pengecut karena takut pada ancaman Langit yang akan melaporkan kelakuan Bintang ke orang tuanya. Ah, bukan takut sebenarnya. Hanya saja Bintang sudah terlalu malas jika terus berurusan dengan orang tuanya. Bintang malas, Bintang capek jika sepulang sekolah nanti dia harus mendengar ceramahan panjang atau mungkin mendapat pukulan bertubi-tubi dari sang ayah.


Cowok itu menghempaskan dirinya dengan kasar di bangku tempat duduknya. Membuat beberapa murid berjengit kaget bahkan dengan terang-terangan menatap penuh tanya ke arahnya. Kedatangannya dengan wajah masam bercampur sebal memang sudah mengundang perhatian murid sekelas.


Terkecuali, seorang murid yang duduk di barisan seberang Bintang. Dia, Bulan Purnamasari. Murid pindahan itu sedang asyik membaca sebuah buku fiksi berlagak tak terjadi sesuatu dan bersikap masa bodoh. Sesekali senyum tipis tersungging di bibir ketika mendapat scene romantis di novel yang dibacanya itu. Sebut saja Bulan salting.


"Lan, Bintang kenapa tuh?" Berbanding terbalik dengan gadis bermuka polos namun aslinya sesad yang duduk di sebelah Bulan. Tak hentinya Renata merecoki Bulang dengan pertanyaan yang sama, berharap agar Bulan juga menoleh ke arah Bintang. Namun, tentu saja itu tidak mempan. Bulan tidak semudah itu akan mengalihkan atensi jika berkaitan dengan hal-hal yang tidak penting- penting amat.


"Ish, Bulan! Batu banget, sih, dibilangin. Emang lo kagak ada perasan tertarik apa sama Bintang?" Lama-lama, kesal juga menghadapi Bulan yang tidak mau menanggapinya seperti itu. Maka pilihan tepatnya untuk mengalihkan perhatian Bulan adalah dengan merebut novel sialan itu dari tangannya.


Bulan berdecak karena aktivitasnya terganggu. Namun, wajahnya tetap datar. Enggan terlalu memperlihatkan emosionalnya. Dia mencoba merebut kembali novel, namun tidak semudah itu jika sudah di tangan Renata.


"Jawab pertanyaan gue dulu," tutur Renata.


Bulan mendengus. "Enggak," kata Bulan.


Singkat, namun mampu membuat bola mata Renata membulat tak percaya. "Serius?" tanyanya lagi guna memastikan dan dijawab dengan anggukan kepala malas oleh Bulan.

__ADS_1


Seketika Renata terdiam mematung di tempat sampai tak sadar Bulan sudah mengambil novel itu dari tangannya. Ingin sekali dia meneriaki Bulan bahwa Bintang itu ganteng, manly, dan sebagainya. Namun, melihat ekspresi serius Bulan, membuat Renata mengurungkan niat. Bulan tidak sedang berbohong.


***


__ADS_2