
"Bagus, bagus, bagus!" ucap orang tersebut.
Bintang menolehkan badannya ke belakang dan mendapati seseorang berdiri dan tengah menatap mereka dengan tatapan benci.
"Mentari ...?" cetus Bintang memanggil.
Mentari menyungging senyum remeh. "Iya, gue Mentari. Gue yang udah culik Bulan," ucapnya sombong.
Bintang mengeraskan rahang."Lo mau apa, hah?" tanya Bintang membentak.
Terkekeh sinis, Mentari menjawab. "Gue mau lo sama Bulan putus, lalu jadian sama gue."
Jantung Bulan berdegup cepat mendengar itu. Apa? Putus dari Bintang? Tidak, Bulan tidak siap untuk itu.
Terdiam beberapa saat sebelum Bintang mengangguk setuju. "Oke," jawab Bintang enteng, membuat Bulan menoleh tak percaya ke arahnya.
Gadis itu sungguh tak percaya dan habis pikir dengan respons yang akan diberika Bintang. Dengan mudahnya, cowok itu menyetujui?
Setetes cairan bening berhasil luruh dari kelopak matanya. Namun, dengan segera Bulan menyeka air matanya kasar. Bintang tidak boleh melihatnya.
"Asal lo bebasin Bulan," lanjut Bintang dengan satu syarat.
"Oke," balas Mentari setuju. Tak perlu panjang lebar untuk gadis itu iyakan.
Bulan yang terlanjur kecewa bingkas bangun dan hendak berlari keluar dari ruangan itu. Namun ketika sampai di tempat Mentari berdiri, Mentari menarik lengannya dan memeluk tubuhnya dari belakang sambil mensejajarkan pisau tepat di leher Bulan.
Bintang yang melihat itu langsung terkejut bukan main. Sedangkan Bulan, cewek itu tampak ketakutan. Ia memejamkan matanya dan berdoa kepada Tuhan. Ia sekarang hanya bisa pasrah. Masalah nyawa, hanya Tuhan yang tahu.
"Mentari apa-apaan lo? Jangan berbuat bodoh!" sentak Bintang marah sekaligus takut.
Mentari berdecih. "Lo kira gue bodoh?" Menggeleng, gadis itu kembali berkata sambil tertawa sumbang. "Enggak Bintang! Gue tau siasat lo yang cuman manfaatin situasi!"
Bintang terhenyak dengan perkataan Mentari karena itu benar adanya.
"Tolong, jangan lakukan itu!" pintah Bintang memohon sambil berjalan pelan ke arah Bulan dan Mentari.
"Jangan mendekat atau Bulan ... " ancam Mentari disusul dengan suara tangis Bulan. Bintang hanya menurut saja karena tahu nyawa Bulan sedang dalam bahaya.
"Tolong Mentari lepasin Bulan. Kalau kamu mau, bunuh aku saja, jangan Bulan." mohonnya.
"Oke, gue lepasin Bulan." ucap Mentari kemudian melepaskan Bulan dari genggamannya. Dan perlahan-lahan menghampiri Bintang berniat untuk membunuhnya.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu maka orang lain pun tidak boleh," ucap Mentari dan kemudian hendak melayangakn pisau itu ke tubuh Bintang.
Sementara Bulan, cewek itu memejamkan matanya takut.
Bung.
Suara tembakan menggelegar di ruangan itu dan berhasil mengenai lengan kanan Mentari yang hendak membunuh Bintang. Kini tubuh Mentari tersungkur lemah tak berdaya ke lantai.
Perlahan, Bulan membuka matanya dan melihat sekitarnya. "Bintang? Dia masih hidup?" Sungguh ini sebuah kesenangan bagi Bulan. Gadis itu sduah berpikir yang tidak-tidak, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan masih menyayangi Bintang. Ia pun langsung berlari ke arah Bintang dan mengambur ke pelukannya.
"Bintang, kamu gak papa kan?" tanyanya di tengah isakannya.
"Iya aku gak papa," jawab Bintang lalu membalas pelukan Bulan.
"Syukurlah,"
"Angkat tangan!" ucap polisi dengan tegas sambil memajukan ke depan pistolnya.
Mentari pun hanya bisa pasrah. Ia mengangkat tangannya ke atas.
__ADS_1
"Sial," umpatnya dalam hati.
Polisi pun langsung menghampirinya dan memborgol kedua tangan Mentari.
"Saudara Bintang, saudari Bulan, apa kalian baik-baik saja?" tanya seorang polisi.
"Iya pak," jawab Bintang.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit!" ucap polisi itu lagi.
"Pak, hukum dia seberat-beratnya." teriak Tata ketika Polisi itu sudah membawa Mentari jauh dari hadapan mereka.
Kemudian, Tata dan Surya mengahampiri Bulan yang masih berpelukan.
"Udah woy, pelukannya. Yang jomblo iri tau!" jengkel Surya melihat mereka mesra dan langsung mendapat pukulan dari Tata di lengannya.
"Apaan sih lho? Bukannya hibur teman, ehh malah diledekin. Gimana sih?" kesal Tata.
"Hehe, Sorry neng." kekeh Surya sambil melipatkan kedua tangannya sejajar dengan dada.
"Apaan sih neng-nengan? Sekali lagi lho panggil gue neng, gue tabak pala lho ampe botak." ancam Tata.
"Ya ampun neng jahat amat sih. Gak kasihan apa sama babang gwanteng nan imwut ini." ucap Surya dengan gaya lebaynya.
"Iss, ngeselin banget sih lho,"
"Eh, kalian di sini mau berdebat apa bantu Bulan sih?" tanya Bintang melerai perdebatan itu.
Keduanya pun terhenti. Lalu menatap Bintang sambil menyengir kuda.
"Sorry Tang, gue kelepasan. Soalnya teman lho nih yang mulai," ucap Tata sambil menunjuk Surya yang ada di sampingnya dengan dagunya.
Surya yang merasa tersindir pun membela diri. "Enak aja nuduh-nuduh gue sembarangan. Lho kali yang mulai,"
"Lho kali,"
"Lho"
"Lho"
"Lh-"
"Ustt, bisa diam gak sih?" kesal Bintang.
"Maaf Tang," ucap Surya.
"Maaf, maaf. Udah yang ke berapa kalinya tuh maaf?" tanya Bintang yang sudah muak dengan kata maaf dua orang ini.
"Galak amat sih Bang?" ucap Surya dengan wajah yang sengaja diimut-imutkan.
"Sekali lagi lho ngomong kayak gitu, gue tampol mulut lho, mau?" ucap Bintang karena merasa jijik dengan wajah Surya yang seperti itu.
"Lho baik-baik aja kan Lan?" tanya Tata yang dari diam kini kembali angkat bicara.
"Iya, gue baik-baik aja kok." jawab Bulan.
Ya, sekarang Bulan sudah tampak tenang. Sudah bisa dikatakan kalau gadis itu sudah baik-baik. Sudah tak ada lagi ketakutan yang terpancar di wajahnya.
"Ya udah pulang yuk," ajak Bulan yang langsung diangguki oleh ketiga temannya tersebut.
***
__ADS_1
Kebahagian yang berlimpah, itulah yang dirasakan gadis yang bernama Bulan saat ini. Ia sungguh sangat bersyukur kepada Yang Mahakuasa karena kelimpahan yang diberikannya itu. Mulai dari ketika ia pindah sekolah dan bertemu Bintang dan yang lainnya, kehidupannya semakin menjadi lebih baik. Ayahnya yang awalnya terlalu posesif kepadanya, kini berubah. Iti semua berkat teman-temannya. Dirinya yang dulu kurang pergaulan dan tidak mengenal cinta, jadi tahu setelah berkenalan dengan Bintang. Ya, walaupun begitu banyak cobaan dan tantangan yang harus mereka lewati. Dan beginilah akhirnya, bahagia. Seperti pagi ini, kebahagiaan itu semakin terasa dengan keharmonisan keluarganya.
"Pagi Ma, Pa." sapa Bulan pada kedua orangtuanya yang tengah duduk berdampingan di meja makan.
"Pagi sayang, tumben wajahnya ceria banget. Ada apa?" tanya mamanya kepo.
"Ihh, mama kepo banget sih," jawab Bulan.
"Ya udah sini sarapan dulu sayang." ajak mamanya.
"Gak udah Ma, entar Bulan saraoannya di kantin aja." tolak Bulan secara halus.
"Tapi janji ya, sarapan." peringat mamanya.
"Iya, Ya udah Bulan pamit ya Ma, Pa," ucapnya kemudian berlalu dari tempat itu dengan sedikit berlari.
Di saat yang bersamaan ketika Bulan sampai di depan rumahnya, Bintang pun datang dengan sebuah motornya.
"Kok kita bisa bersamaan sih?" tanya Bulan heran.
"Jodoh kali ya," gombal Bintang.
"Iss, apaan sih." Bulan memukul lengan Bintang pelan.
"Ya udah ayo naik," ucap Bintang setelah memakaikan helm Bulan.
Bulan pun naik ke atas motor dan setelah Itu Bintang pun menjalankan motornya.
Tak terasa akhirnya mereka sampai di sekolah. Bintang pun menepikan motornya di parkiran. Kemudian keduanya pun turun dan memasuki kelas sambil bergandengan tangan.
Jangan lupakan banyaknya gombalan dari teman-teman mereka waktu itu melihat mereka bergandengan tangan.
Sesampainya mereka di pintu kelas, mereka dikejutkan dengan kelas yang tampak ramai.
"Ada apa ya?" tanya Bulan pada Bintang.
Bintang mengedikkan bahunya tak tau. "Gak tau juga tuh. Ke sana aja yuk!"
"Yuk!" Keduanya pun masuk ke dalam kelas dan menghampiri sekumpulan siswa-siswi membuat lingkaran.
"Ra, ada apaan sih, kok rame amat?" tanya Bulan pada seorang siswi yang bernama Rara.
"Itu Lan, Surya lagi nembak Tata." jawab Rara apa adanya.
"Apa? Tata ditembak Surya?" tanya Bulan antara percaya tidak percaya.
"Liat yuk!" ajak Bintang.
Keduanya pun menerobos masuk gerombolan itu dengan susah payah. Hingga akhirnya kini mereka yang berdiri di depan.
Kini di depan mereka, tampak Surya yang sedang bersujud di depan Tata sambil memegang sebuah bunga mawar. Sedangkan Tata yang berdiri, terus menunduk saking malunya.
"Udah Ta terima aja!" teriak Bulan heboh.
"Gimana?" tanya Surya pada Tata.
Tata pun mengambil bunga Surya, "Oke, gue mau jadi pacar lho," ucapnya dengan senyum malu-malu.
Surya pun bangkit berdiri dan berjoget-joget tidak jelas. "Yes,"
Teman-temannya pun tertawa sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah Surya yang lucu saat cintanya di terima.
__ADS_1
...—SELESAI—...