
Bunyi alaram yang mericuhkan gendang telinga gadis itu, terdengar begitu nyaring, bahkan hampir membuat Jessy kehabisan nafas karna menimpal kepalanya dengan bantal, namun tetap saja tidak membuat dirinya beranjak dari ranjang tidur.
"Astaga! Jam ini sangat menganggu" bentak Jessy dengan jengkel, sungguh ia amat geram atas kericuhan pagi ini lantaran begadang tadi malam.
Jika tidak karna Mami, ingin rasanya Jessy menghancurkan benda yang berdering secara otomatis, sebab selalu menjadi boomerang setiap harinya.
"Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan" dengus Jessy saat membuka kedua matanya.
Bagaimanapun Alaram ini pemberian Mami, kado yang diberikanya 2 minggu lalu saat hari ulang tahun Jessy, dia memberikan alat pengigat waktu ini, agar gadis itu tidak lupa dengan jam sekolahnya, meskipun begitu hal ini tidak pernah di pedulikan olehnya sama sekali, yang penting Jessy sudah menerima kado terbaik darinya.
Gadis itu mengambil ponsel yang ada dinakas tidur, sembari mengotak atik beberapa sosial medianya pagi ini, hingga Jessy memalingkan pandangan kearah lorong kamar yang ada di hadapan, seolah Jessy tidak asing dengan seseorang yang akan hadir sebentar lagi, bahkan ia mengepalkan jarinya seraya membukanya sesuai hitungan datik, dan ya, langkah kaki seorang wanita memasuki kamar dengan teriakanya yang selalu menghantui Jessy untuk beranjak dari sana.
Mami adalag alasan kenapa gadis itu tidak nyaman berlama-lama di kasur, wanita paruh baya yang hampir menua itu menarik selimut Jessy dengan kesal, dia adalah wanita tercantik yang sangat Jessy cintai dan biasanya di panggil akrab dengan sebutan, Mami.
Wanita itu berteriak hingga memekakan gendang telinga putrinya, seakan ingin mengemparkan kamar kebanggaan Jessy, bahkan ini salah satu pembuktian bahwa Mami seorang emak-emak sekaligus sebagai guru kedisiplinan di rumah.
Mami sangat menyebalkan, tetapi apapun yang dia lakukan tidak jauh dari kata tulus, itulah hal yang bisa Jessy banggakan dari seorang ibu.
"Ya ampun anak ini" teriaknya dengan heboh. "Jeje bangun nak, kamu itu anak gadis sayang, udah jam segini masih aja uring-uringan, gadis macam apa yg tidur nggak mau bangun, ayo cepat mandi, nanti Jeje telat!" celotehnya dengan kalimat cepat.
Hingga lagi-lagi kalimat menyebalkan itu selalu menjadi pengantar paginya, membuat Jessy tidak habis fikir kenapa ia harus dituntut menjadi seorang wanita diatas haknya sebagai manusia.
"Mi, Jeje udah bangun"
"Kalau udah bangun bangkit dari kasurnya, cepat mandi dan sarapan, nanti telat lagi" keluh Mami dengan sikap tegas, membuat Jessy menghempaskan selimut yang membalut tubuhnya seraya bangkit dari sana.
__ADS_1
"Iya-iya.....jeje bangun" celetuknya dengan sikap malas, sambil memandang bantal yang begitu nyaman untuk di tiduri kembali.
"Tapi tunggu bentar lagi deh mi....5 menit lagi Jeje akan bangun, Janji!" pinta gadis itu sembari membentang tubuhnya sekali lagi.
Membuat Winona berkacak pinggang lantaran sikap Jessy yang menjengkelkan, wanita parubaya itu mengelengkan kepala penuh kekesalan, sambil melangkah mendekati putri semata wayangnya, tidakah Jeje tahu bahwa harapanya mendapatkan anak perempuan terlalu tinggi, hingga ekspektasi yang terjadi malah mengecewakan, jika tahu begini, lebih baik dia memiliki anak laki-laki agar tidak perlu ribut setiap harinya.
"Aduh.......gusti, aku ngidam apa sih, punya anak gadis pemalas kayak gini, Je, liat tu anak buk Yan, pagi-pagi udah rapi dengan seragam sekolahnya, pake bedak dan lipstik tipis untuk mempercantik diri, andai aja kamu seperti si Geby Je, mungkin Mami bersyukur sama Gusti Allah"
"Jadi Mami menyesal melahirkan Jeje?" kesal Jessy dengan tatapan jengkelnya. "Kalau gitu, Jeje keluar aja dari rumah, biar mami nggak perlu ribut lagi bangunin Jeje tiap pagi"
"Astaga anak ini" dengus Winona pada putrinya, bahkan ia menjewar telinga Jessy hingga membuat gadis itu meringis. "Jangankan untuk keluar, pulang sekolah telat aja udah mami cari sampe selokan, sudah.... sudah.... ayo bangun, nanti telat Je" ketus Mami dengan hebohnya, membuat Jessy terpaksa mengangkat tubuhnya, sebab tak mau mendengarkan ocehan mami lagi.
Gadis itu berjalan dengan sempoyongan, sambil membersihkan tubuh di dalam kamar mandi, rasanya ingin sekali menambal mulut mami biar diam dalam beberapa detik, tapi Jessy terlanjur takut jika dibilang sebagai anak durhaka.
Untuk itulah, lebih baik bangun dan patuh akan perintahnya, di banding mendengarkan ocehan mama, bahkan jika Jessy mengabaikan beliau ataupun mendiamkanya, bisa-bisa Mami tidak akan berhenti bicara seperti lajunya rel kereta api, lebih parahnya Jessy tidak akan mendapatkan uan jajan pagi ini.
*
Seperti yang kalian ketahui, aku adalah anak gadis semata wayang Mami yang sangat pemalas bangun pagi, namun di tuntut menjadi gadis yang bergaya feminim diatas ekspektasi yang terlalu tinggi.
Hanya saja, aku tidak suka menjadi gadis seperti harapan semua orang, sebab aku tidak ingin repot-repot menjadi seseorang yang selalu dipuji namun memaki diri sendiri, karna hal itu tidak akan cocok dengan gaya dan standart kehidupanku sendiri, bahkan membayangkan tubuhku berdandan seperti wanita tulen saja, sudah membuatku ingin mundur secara perlahan, untuk itulah, aku adalah gadis yang selalu mengecewakan.
Jika kalian bertanya, apa yang membuatku nyaman menjadi remaja, mungkin aku akan menjawab, tampil apa adanya tanpa diberatkan oleh standar orang tua, adalah poitn utama untuk mencintai diri sendiri.
Bagiku, mereka yang ingin tampil cantik untuk dirinya sendiri, adalah langkah yang tepat dalam melakukan Self Love, namun jika kita berdandan untuk dilihat banyak orang dan menuai pujian yang gemilang, kita harus bersiap-siap jika suatu saat ekpektasi mereka akan di kecewakan.
__ADS_1
*
SMK Tunas bangsa, adalah sekolah bertaraf internasional yang terkenal di Negara ini, banyak anak di tuntut menjadi impian dari mimpi setiap orang tua mereka, namun ada sebagian yang memilih menjadi dirinya sendiri, begitupun dengan Jessy, ia memilih langkah kedua untuk mencintai dirinya.
Jessy sudah terlambat selama 20 menit, mungkin jika sampai sekolah, sekitar 5 menit lagi, membuatnya menghabiskan waktu selama 25 menit kedepan. Tapi hal itu tidak membuat Jessy panik, karna telat adalah hobi sang ketua Jabrik.
Inilah yg membuat Jessy selalu semagat untuk pergi kesekolah, karna gadis itu bisa mencicipi sedikit nakal tanpa memikirkan bagaimana penilaian orang.
Bagi Jessy dan teman-teman Geng Jabrik, gerbang sekolah tidak memiliki fungsi, lantaran setiap pagi mereka selalu masuk melalui pagar belakang, tentu tindakan terlarang itu sangat jarang ketahuan oleh pihak sekolah, karna seorang anak rajin selalu menjaga pintu bagian dalam, itulah cara mereka menjaga pagar belakang agar tidak ketahuan oleh para guru.
Di sekolah ini tidak ada yang tidak mengenal Jessy, si ketua geng Jabrik yang mengomandoi kaum laki-laki dari berbagai angkatan, bahkan Jessy sangat di hargai dan dihormati, tak jarang orang selalu memberi jalan jika gadis itu sudah memasuki daerah kekuasaan, salah satu tempatnya, adalah kantin sekolahan.
Orang pintar mungkin berprestasi dibidang akademik, tapi Jessy yang tidak pintar berprestasi dibidang memanjat pagar sekolah, sebagai satu-satunya siswi sekolah SMK Tunas Bangsa, ia menjadi ikonik tersendiri oleh anggota geng mereka.
Meskipun banyak orang yang sering mencemooh dirinya, dan mengatakan Jessy sebagai aib keluarga, itu bukan masalah penting baginya, sebab yang terpenting bagaimana Jessy menghargai dirinya sendiri tanpa di bebankan oleh standar orang lain yang menuntut dirinya menjadi sempurna.
Jessy adalah salah satu gadis terkenal di lingkungan sekolah, sebenarnya diam-diam gadis itu mengikuti kelas bela diri, hal ini bertujuan untuk berjaga-jaga, agar tidak ada yang berani macam-macam dengannya.
Selain itu Jessy tidak memiliki teman wanita, sebab sering bergaul dengan pria membuanya membangun batasan dengan mereka, mungkin wanita di sekolah ini tidak ada yang mau menjadikan Jessy sebagai teman mereka, lantaran semuanya menganggap pergaulan dan tingkah laku Jessy termasuk dalam pergaulan bebas.
Meskipun begitu, Jessy tidak membutuhkan kaum lemah yang selalu mengejar laki-laki tampan, bahkan para gadis yang gemar bergosip seakan menajadi santapan lezat dalam keseharian, tentu saja Jessy tidak suka dengan sikap alami wanita meskipun ia terlahir sebagai kaum mereka, karna bagi Jessy, para wanita adalah kaum membosankan jika membahas tentang cinta dan pria yang di idamkan, membuat gadis itu tidak nyaman dengan hal kehidupan singkat namun membosankan.
Satu lagi, alasan Jessy mempelajari ilmu bela diri bukan untuk melindungi dirinya sendiri, namun dengan keterampilan ini Jessy bisa menghajar tikus-tikus brengsek yang berani bermain-main dengannya.
Mungkin masa SMA bagi sebagian wanita bisa dibilang sebagai masa paling indah, karna bisa menebar pesona dan mendapatkan laki-laki yang populer untuk di jadikan urutan mantan, namun baginya hal seperti itu sangatlah menjijikan, bahkan sedikitpun tak pernah terfikir untuk Jessy melakukanya, yang selalu bayangkan, bagaimana cara bolos nantik siang dan lompat pagar besok pagi, lalu begadang malam untuk main game agar tidak ketahuan oleh Mami.
__ADS_1
Tapi semua kehidupan tenang dengan kesempurnaan standar yang di tetapkan Jessy hancur sudah, bahkan segala hal berubah, saat pria bernama Randika hadir dalam sekejap mata, namun menempatkanya di pertengahan tali tipis yang akan putus jika Jessy salah memilih.