Calon Istriku Ketua Geng Jabrik

Calon Istriku Ketua Geng Jabrik
Episode 2 : Menemukan Tujuan.


__ADS_3

"Astaga Jessy! Bangun jam berapa sih, telat mulu" kesal Leon saat menunggu Jessy untuk menjatuhkan tubuhnya.


Bahkan membuat gadis itu menyeringai kesal melihat umpatan Leon pagi-pagi sekali. "Apaan sih Lo, ngomongnya kayak orang bener aja" hina gadis itu yang bersusah payah menempatkan tubuh secara sempurna, meskipun tembok sekolah cukup kokoh, namun tinggi 2 meter ini terlalu beresiko, jika melakukan pendaratan secara terburu-buru.


"Aish, cepatlah turun, Pak Asmad berjaga di depan toilet" pinta Leon dengan kesal, bahkan pria itu mengacungkan kedua tanganya seolah bersiap untuk menangkap Jessy, hingga gadis itu membawa tubuhnya untuk terjun, sampai menimpa sebagian tubuh Leon.


Bahkan membuat Jessy sedikit berteriak seolah lompatanya hampir saja meleset, untung saja Leon menangkap dengan cekatan sehingga masih dalam kondisi aman, namun Pak Asmad terlanjur mendengar jeritan seorang wanita, bahkan beberapa siswa yang sedang berjejer menunggu urutan di toilet sekolah terkesiap tak percaya, bagaimanapun para pria itu adalah deretan anak pintar yang selalu menjadi penghalang untuk pak Asmad kearah belakang.


Membuat Jessy dan Leon bersembunyi menelusuri perkarangan sekolah yang sangat rimbun dengan tanaman liar, bahkan tanaman itu berhasil menghilangkan kedua tubuh mereka dalam dedaunan, hingga akirnya pak Asmad mengaruk kepalanya seolah tak menemukan apapun selain tempat kosong.


Melihat beliau beranjak dari sana, sungguh jantung Jessy terasa longgar, bahkan ia tidak menyangka akan berpepetan dengan Leon hingga posisi tubuh mereka hampir saja menempel, dengan segera keduanya saling mendorong tubuh masing-masing dan beranjak dari tempat itu.


"Dasar bodoh" hina Leon ketika melihat Jessy membersihkan seragam sekolahnya.


"Bodoh?" beo gadis itu dengan tatapan merendahkan, membuat Leon mengacak-ngacak rambut sahabatnya seolah merasa puas menghina Ketua Geng Jabrik. "Lo yang bodoh, lepasin rambut Gue" ketusnya ketika menepis tangan Leon, bahkan wajah jutek Jessy mampu membuat Leon terkekeh, hingga gadis itu beranjak dari sana untuk berlalu kearah kelas.


"Jessy, tunggu" teriak Leon dengan senyum manisnya, hingga keduanya saling berjalan kedalam kelas masing-masing.


*


Pria itu bernama Leonino Ardiansya biasa di panggi akrab Leon atau Nino, namun di dalam Geng Jabrik, Jessy sering memanggilnya Leon, pria itu adalah sahabatnya, salah satu rekanya dalam mengelola aktifitas mereka setiap harinya, bahkan Leon salah satu tombak untuk memperkuat persaudaraan Geng Jabrik, sebab pria itu adalah orang yang bisa dihandalkan, ketika Jessy cukup malas mengikuti agenda setiap malam minggunya.


Jessy melipat kedua tanganya sambil membenamkan kepala disana, ia menikmati tidur pagi dan melewatkan pelajaran Matematika, bagaimanapun tempat duduk Jessy adalah urutan paling belakang yang tidak akan mungkin di ganggu gugat oleh siapapun, bahkan tak ada siswa atau siswi yang berani menganggunya, hingga ketukan yang mericuhkan itu mengusik tidur lelap Jessy.


"Jessy..... " kesal Ibu Luna selaku guru matematika yang paling cantik dan bijaksana, wanita itu memiliki tubuh sempurna sehingga Pak Aslan selaku guru olahraga mengaguminya, namun rumor mengatakan beliau ditolak mentah-mentah, lantaran pak Aslan adalah pria yang cukup menyebalkan.


"Astaga Jessy, kenapa kamu selalu tidur dijam pelajaran ibu, apakah jam pelajaran ibu begitu membosankan" dengus wanita itu, membuat Jessy mengangkat kepalanya diantara wajah yang cukup sembab, bahkan Leon bertopang dagu untuk mengamatinya, hingga membuat pria itu memperhatikan Jessy secara lekat-lekat.


"Maaf bu"


"Maaf lagi" kesal Bu Luna dan penuh jengkel, membuat Jessy diam sambil menakukan kepala kearah meja.


Hingga helaan nafas dari beliau, membuat ibu Luna menutup buku yang ia genggam, sembari menyelipkan tangan kebelakang. "Keluarlah......" lirihnya dengan nada tegas.


"Baik bu, terimakasih" saut Jessy dengan sikap sopan.


"Tunggu di kantor guru" terusnya lagi, hingga mata Jessy terbelalak secara sempurna, bahkan ia tidak menyangka dirinya akan masuk kedalam ruang guru, bukankah ia harusnya berlari kesekeliling lapangan atupun tegak di depan pintu kelas, tapi kenapa ibu Luna meminta Jessy keruang guru, astaga, jika begini pasti akan menjadi peringatan terakir untuknya, jika ia memenuhi buku tamu konseling, maka Jessy perlu membawa orang tuanya atas panggilan mereka.


Sungguh, Jessy tidak bisa mendiamkan, ia tidak bisa membiarkan mami mengetahui apa yang Jessy lakukan di sekolah, sekalipun ia anak bandel, tetap saja Jessy perlu menyembunyikan sisi ini dari mami.


"Ibu....Jessy janji tidak akan tidur lagi, apa boleh hukuman lain saja"


"Tidak" tolak beliau tanpa menghargai bujukan Jessy.


"Bu........ Jessy mohon, tolong pertimbangkan, Jessy janji akan mendapatkan nilai sempurna saat akir semester nanti" terus gadis itu ketika mengatupkan kedua tanganya untuk membuat permohonan.

__ADS_1


"Benarkan" sontak mata Luna membulat dengan penuh kebahagiaan, bukankah ia akan menjadi guru yang cukup dipandang jika bisa membawa perubahan pada Jessy, bagaimanapun beberapa saat terakir ini, kepala sekolah sering menaruh perhatian padanya, namun tidak ada yang berani mendekati Jessy, dia termasuk kedalam anak berpengaruh di sekolah, yang notabenya orang tua Jessy adalah pemegang saham dan juga orang yang selalu dihargai.


"Ten-Tentu saja" saut wanita itu dengan bingung, bahkan ia tidak percaya jika perubahan wajah bu Luna bisa secepat itu.


"Baiklah, silahkan lari lapangan" terusnya lagi dengan senyum merekah.


"Apa!!" teriak Jessy diatas ketidak percayaanya.


"Meskipun kau menghindari panggilan orang tua, ibu tetap disiplin sayang, Jessy harus keliling lapangan karna tidur dijam pelajaran"


Demi apapun Jessy tidak percaya dirinya akan merugi dua kali, jika tahu begini, Jessy menarik perkataanya lagi, dia bukanlah guru yang disiplin dan bijaksana, dia guru menyebalkan yang selalu menidas muridnya.


"Jessy..... " lirih bu Luna dengan nada mengancam, membuat tubuh Jessy bergindik ngeri untuk mengulas senyum paksa kehadapan beliau.


*


Bel pulang berbunyi, semua anak keluar dari kelas dan berhamburan kearah gerbang, bahkan beberapa mobil sudah menanti mereka, entah itu orang tuanya ataupun sopir pribadinya, sedangkan mata Jessy melirik kearah Leon yang sedang berdiri disampingnya.


Hingga tatapan minim itu saling menyambut dan mereka berlalu kearah dalam. Tentu saja sekolah kegiatan tambahan sepulang sekolah selalu mereka isi, namun kegiatan itu tidak masuk kedalam list olahraga atau kesenian disekolah, melainkan sebuah pertemuan yang akan melibatkan banyak angkatan, baik dari semester awal hingga akir.


"Apakah ada yang menarik?" tanya Jessy saat seluruh kancing bajunya dibuka, hingga menampilkan kaos oblong putih sebagai dalaman, sungguh tampilan Jessy terlihat sangat cool namun ia begitu nyaman dengan dandananya.


"Tidak ada yang menarik, tapi lihat saja, mungkin kau suka" terus Leon ketika mengikuti langkah Jessy kearah Base camp mereka yang ada dikedai kakak.


Hingga Jessy tersenyum manis pada penjaga warung yang ada dihadapan talase daganganya, bahkan ia menjentikan jari hingga wanita dewasa itu menganggukan kepala dengan sempurna, ia menarik seluruh pintu besi itu khusus untuk Jessy, sebab saat Jessy memberikan isyarat tersebut maka, kakak perlu menutup kedai makan siangnya dan berganti menjadi ruang untuk Geng Jabrik berkumpul.


Gadis itu berlagak seperti mafia kelas atas yang memancarkan aura tajam namun mencengkam, gadis sederhana itu mungkin tidak belebihan soal dandanan, namun tetap karismatik dengan sikap apa adanya, bagaimanapum Jessy sudah memenuhi standart kecantikan tanpa mengubah, menambal ataupun memalsukan ragawinya, ia seperti dewi yang saat ini menduduki singgasana.


"Lap air liurmu" ketus Jessy dengan jengkel, pada pria berkacamata dengan bentuk tubuh mengikuti huruf O.


Hingga keheningan yang membentang tercairkan dengan sikap Jessy yang begitu santai dengan candaan klasiknya namun menghibur.


"Sepertinya wajah-wajah baru yang masuk kedalam geng Jabrik cukup menarik, silahkan presentasikan diri kalian masing-masing" ucap Jessy kearah mereka, membuat beberapa orang mengasingkan diri dan menyisihkan 3 kandidat baru yang bergabung.


"Air liur, silahkan mulai" terus Jessy dengan sikap santai, membuat pria itu menunjuk dirinya sendiri atas kebingungan ini.


"Per-perkenalkan, namaku Abbas, nama lengkapnya Abbas Jackson, aku adalah anak bungsu keluarga Jack yang bergerak dalam bidang pariwisata, aku berada pada semester awal"


"Tujuanmu ikut geng Jabrik?" tanya Jessy dengan sikap dingin.


"Aku...... " sungguh ia amat gugup, namun ia harus memberanikan diri untuk bicara dibawah tatapan mata Jessy yang mengerikan. "Aku menyukai kamu, kak Jessy" membuat Jessy menarik senyum dengan tipis sambil mengacungkan tangan pada anggotanya, agar menyingkirkan pria itu.


Menyadari ia dibuang dari podium, tentu Abbas tidak bisa menerima, sebab ia sudah sejauh ini memenuhi kualifikasi, namun tetap saja gagal, padahal selangkah lagi mencapai tempat tujuanya. "Kak jessy, aku sungguh menyukaimu, aku tahu panggilan mu adalah Jeje, dan kamu suka makanan asin dan bermain game, bahkan kamu sangat gemar mengembangkan diri dengan seni bela diri, sampai aku menjadi murid di tempat karate itu, tapi kamu tetap tidak menyadariku, untuk itulah tolong terima aku, dan aku siap melakukan apapun untuk menjadi yang terbaik" hingga Jessy menghempaskan benda yang ada dimeja itu, bahkan botol minuman kaca hancur lebur sampai membuat semua orang terpana.


"Kau menyukai ku" lirih Jessy dengan sikap mengerikan, bahkan ia melangkah dengan sempurna hingga berdiri tepat dihadapan Abbas, bahkan tinggi badanya saja mampu Jessy kalahkan, tapi dengan berani ia menyatakan perasaan dipodium geng Jabrik.

__ADS_1


"I-Iya....aku menyukaimu"


"Lalu, apa defenisi suka bagimu?" tanya Jessy dengan penuh kekesalan, bahkan ia menatap tajam kearah Abbas hingga membuat pria itu tertekan. "Menyelidiki latar belakangki, mengikuti keseharianku, melacak kepribadiaanku, bahkan kau mendekati aku hingga berani menghina podium Geng Jabrik, apa kau fikir ini sebatas rasa suka atau obsesi yang kau karang sendiri" hina Jessy dengan sikap kesal. "Kau tahu kenapa aku menyukai berteman dengan kaum laki-laki dari pada menjadikan mereka lawan jenis. Karna perasaan dan cinta itu merepotkan, menyukai seseorang hanya akan membuatmu gila, saat kau menyukai sesuatu tanpa kau sadari kau akan serakah dengan dirimu sendiri, tanpa memikirkan hal lain. Lihat dirimu sekarang, kau menyukaiku mungkin itu tidak ada salahnya, tapi sampai kau melakukan berbagai cara untuk mendapatkanya itulah yang salah. Dan kau fikir ini cinta? Tidak! Ini masalah yang paling merepotkan. Dan aku tid'ak suka menempatkan diri dalam situasi seperti ini, keluarlah sebelum aku menghajarmu" hina Jessy dengan penuh kekesalan, membuat beberapa anggota merasa bangga oleh karakternya, bahkan seorang pria saja tidak akan bisa setenang ini, namun lihat Jessy, ia seorang wanita namun memiliki karakter yang begitu membangun hingga bisa mengalahkan sang lawan.


"Bawa dia keluar, aku tidak ingin melihatnya lagi" perintah gadis itu, membuat Abbas keluar dari ruangan dengan penuh kekalahan.


"Lanjut" ketus Jessy dengan nada perintah. "Apa alasanmu mengikuti geng Jabrik?"


"Aku ingin memberantas penindasan dan ingin membuat relasi, aku berasal dari keluarga Light yang mengelola perusahaan pangan. Aku dengan segenap jiwa ingin menjadi bagian dari keluarga Jabrik dalam menyuarakan kebenaran"


"Apa kau fikir kami pejuang kebajikan?" tanya Jessy saat bertopang dagu.


"Bukankah kalian selalu berurusan dengan pembulliyan dan selalu bergebung dalam hobi yang sama, aku juga suka motoran dan nongkrong, aku suka berkeliling dan mengadakan pertemuan dengan banyak orang, apakah masih kurang"


"Tapi kami tetap memalak" timpal Jessy dengan sikap santainya.


"Me-Memalak?" tanya pria itu dengan tidak percaya, bahkan apa yang mereka lakukan berbeda jauh dari mosi yang ia ajukan.


"Tentu saja, disini masih menjinjung tinggi senioritas, untuk itulah memalak adalah kegiatan halal yang dilakukan oleh geng Jabrik, apakah masih bisa disebut menyuarakan kebenaran saat geng jabrik sendiri biang pembulliyan"


Membuat pria itu tergugu, hingga Jessy mengusirnya kearah luar, bahkan rasanya Jessy tidak ingin lagi mendengarkan apapun, sebab semakim di dengarkan semuanya semakin aneh, hingga gadis itu berdiri dari tempat duduknya seolah ingin bubar sesegera mungkin.


"T-Tunggu..... a-aku belum menyampaikan alasanku" lirihnya penuh gugup, bahkan membuat Jessy terpana melihat pria tampan yang cukup manis itu, sayangnya ia masih memiliki sikap penakut.


"Ah, apakah tujuanmu sama dengan mereka, jika sama, keluarlah" terus Jessy dengan sikap malas, bahkan beberapa orang sudah bubar dari pertemuan formal, sampai Leon menatap kearah pria itu.


"Jess.... lebih baik beri kesempatan saja"


"Tidak perlu, membuang waktu" ketusnya saat melangkah mendekati tangga untuk segera menuruninya.


"Aku ingin menjadi diriku sendiri, untuk itulah aku bergabung dengan geng ini" seketika langkah Jessy terhenti, tepat saat pria itu meneriaki alasan yang ia bawa kedalam geng Jabrik.


"Menjadi diri sendiri?" saut Jessy ketika memutar tubuhnya menghadap kearah belakang.


"Benar, aku mau menjadi diriku sendiri, aku tidak mengerti kenapa tuntutan banyak orang selalu menjadikan aku sebagai orang yang penakut, aku adalah ahli waris dari keluarga Jackson, perusahaan Game yang saat ini kau mainkan, namun aku sangat takut pada diriku sendiri, aku merasa tidak akan bisa memasuki dunia pemimpin saat aku sendiri meragukan diri sendiri, aku takut gagal, aku takut mengecewakan, aku takut standar orang tuaku tidak bisa aku penuhi. Untuk itulah aku memasuki geng Jabrik, menjadi diri sendiri dan menemukan kebahagiaan meskipun dengan cara yang semena-mena" hingga senyum Jessy mengambang, bahkan ia melangkah kearah depan sambil meraih pundak pria itu.


"Kau bagian dari kami" bahkan tepuk tangan semua orang memeriahkan ruangan itu, bahkan beberapa orang berkerumun untuk mengangkat tubuhnya dengan kebahagiaan.


"Aku diterima?" tanya pria itu dengan tidak percaya.


"Benar, karna kau menemukan apa tujuan ini kami buat" hingga Leon menatap Jessy dengan penuh kebangaan, bahkan pria itu tidak percaya gadis itu benar-benar menjadi Versi terbaik sebagai pemimpin dalam Geng Jabrik.


"Siapa namamu?" tanya Jessy dengan sedikit berteriak, lantaran suara anggotanya cukup mericuhkan.


"Aiden"

__ADS_1


"Siapa?"


"Aiden Jackson" teriaknya hingga membuat Jessy tertawa renyah untuk meninggalkan kedai kakak, bahkan gadis itu mengeluarkan beberapa lembar uang sebab kakak telah menyediakan tempat untuk dirinya, melihat Jessy sudah keluar dari bangunan itu, wanita dewasa tersebut membuka tempat danganganya seperti biasa, setelah melakukan bisnis sekejap mata.


__ADS_2