
Sepercik cahaya pagi menembus kaca dan meleburkan panas sang fajar ke kamar Eca, perlahan gadis itu menyadari pertukaran waktu yang merenggut mimpi indahnya, sang fajar yang sudah berada didepan mata membuat selimut hangat itu nyaman untuk ditarik kembali
Tring..tring..tring alaram yang berada di atas meja itu berdering hingga tidak berhenti, menandakan Eca harus bangun bagaimana pun caranya, hari ini dia harus menghadiri kelas penting, rasa malas kembali menyelimuti hingga membuat niat hati setengah untuk memenuhi
Eca mengumpulkan beberapa nyawa yang belum kembali dari tidurnya untuk melangkahkan kaki kedalam kamar mandi, perlahan badan mungil itu beranjak dengan mata setengah sadar, Eca menempelkan telapak tangan ke arah diding seakan ada magnet pengikat yang membantu dirinya berdiri, sangat jelas betapa malas dirinya untuk memulai hari ini.
Seperti biasa Eca mengunakan bus untuk keberangkatan menuju kampus, bersamaan dengan aerphone yang memenuhi pendengaran agar dapat menutupi hiruk pikik manusia yang sibuk dengan kesibukan mereka, Eca mengikuti kuliah umum yang di adakan di auditorium fakultas Psychology, dia duduk di kursi paling belakang akibat keterlambatannya mengikuti acara tersebut, meskipun begitu, tidak menyurutkan niat Eca untuk mendengarkan point-point yang disampaikan.
Guna menambah pengetahuan nya tentang edukasi gangguan mental, gadis mungil yang mengunakan jeans dan baju kaos berwarna yellow dipadukan dengan tas ransel yang senada dengan jeans nya yang berwarna hitam selalu menghabiskan hari dan menyibukan diri seperti biasa, bersamaan dengan kesendirian di rumah, serta interaksinya dikampus hanya bersama syila.
Eca kembali menjadi penyendiri seperti biasa, perlahan bayangan Ken memudar begitu saja digantikan dengan rasa kecewa, Eca tersenyum aaat memikirkan betapa bodohnya dia rela memberikan diri begitu saja kepada orang yang sagat luar biasa jahatnya.
Bagaimana tidak jahat, setelah membuat nyaman, pria itu pergi begitu saja tanpa mempertanggung jawabkan perasaan yang tumbuh akan terbiasa, jika dipikir balik kebelakang Eca selama ini selalu berkaitan dengan Ken, dimana ada dirinya selalu ada Ken.
Hanya saja Eca tidak menyadari tentang keberadaan nya. untuk beberapa kali Ken menjadi penyelamat dirinya disaat yang terdesak, Ken juga pernah membantu Eca saat meng-enrol portal studi saat gangguan jaringan di perpustakaan, Ken juga pernah membantu Eca mengumpulkan tugas saaat keterlambatan atas kecerobohan nya.
Mungkin jika saat itu tidak Ken yang menjadi assisten dosen dia akan ketinggalakn dalam mengumpulkan tugas akir. Jika dipikir-pikir lagi kebelakang selama ini Ken dan Eca selalu berhubungan hanya saja Eca tidak pernah mempedulikan kehadiran Ken meskipun hanya setitik.
Dan tidak heran kenapa saat malam gelap yang menyebalkan dirinya merasa tidak asing dengan tubuh Ken. Seakan laki-laki yang berada didekat nya seperti sosok ternyaman untuk hidup nya, Hingga membuat Eca tidak menolak sedikitpun tentang Ken, hal ini terjadi karena tubuh kita lebih jujur dari pada fikiran. Secara tidak langsung alam bawah sadar mengelabui Eca.
__ADS_1
Bruakkk…..
Suara yang memecahkan keheningan di ruang toilet tersebut merebut fokus nya, seketika Eca mematung dan menghentikan aktifitasnya saat membersihkan tangan, air yang mengalir ke pungggung tangan Eca terasa begitu lancar hingga membasuhi seluruh bagian kulitnya, hal itu tetap membuat dirinya fokus kepada bagian suara yang di dengarnya barusan.
Matanya menatap sekelilingan ruangan toilet dan tertuju kepada satu pintu yang terkunci dihadapan nya, mencari sumber suara dan iya menemukan nya.
Suara itu berasal dari balik pintu kamar mandi yang terkunci rapat tersebut, Eca tidak pernah suka mencampuri masalah orang lain tapi jika itu berkaitan dengan hidup seseorang Rca juga tidak ingin main-main. Firasat Eca dengan jelas menerka bahwa didalam sedang tidak baik-baik saja, dengan panik dia berteriak memanggil seseorang yang berada dibalik pintu tersebut, tetapi tidak ada yang menyaut dari arah dalam.
Eca berlari ke arah pintu toilet dia berteriak minta tolong kepada orang yang lewat, sontak hal tersebut membuat seluruh mata tertuju padanya, seketika Eca terdiam saat keheninggan memperhatikan ke arah nya dengan gugup eca mengatakan “ to..long sepertinya ada yang tidak beres di kamar man” belum sempat dia menyelesaikan pembicaraan itu tiba-tiba saja laki-laki yang berdiri menatap nya dengan sigap berlari masuk ke arah kamar mandi wanita, lelaki itu memakasi baju kaos putih dilapisi dengan kemeja marron yang tidak di kancingi, hingga menabrak Eca yang tengah berdiri di antara pintu kamar mandi
Seketika Eca menarik kesadaran nya kembali, lalu mengikuti laki-laki itu ke dalam kaamr mandi dan disusul dengan segerombolan orang yang menonton pertunjukan, betapa shock nya Eca laki-laki yang mengindahkan permintaan tolongnya tersebut adalah Aldo Fenderick , seseorang yang tidak pernah bertatap muka dengan Eca sebelumnya, tetapi dikagumi Eca diam-diam.
Eca yang binggung dengan keadaan, menetralkan kembali dirinya dan memfokuskan matanya menatap keadaan yang tengah di hadapinya, sembari berhenti memperhatikan Aldo.
Kaki panjang Aldo menendang sekuat tenaga pintu yang terlihat kokoh beberapa kali di sertai dengan nafas yang tersengal serta wajah yang khawatir, pintu tersebut terbuka begitu saja dengan hantaman kaki Aldo yang membuat Eca kaget, dengan sigap pria itu menahan pintu yang di robohkan nya agar tidak mengenai seseorang yang berada didalam toilet.
Seketika Aldo masuk dan wajah cemas yang tidak dapat dikontol, Eca berpindah ke arah di mana dia dapat menjangkau pandangan nya kedalam kamar mandi itu, karna dia sangat penasaram siapa yang tengah di cemas kan oleh pria yang di kagumi nua
Eca melihat seorang wanita dengan rambut panjang terurai, memiliki tubuh langsing dan wajah cantik yang pucat pasi, terdampar tak sadar diri dengan kotak kecil yang berisi obat. Eca langsung menutup kedua mulutnya akibat kaget terhadap sesuatu yang dilihatnya barusan.
__ADS_1
Aldo memukul pelan wajah wanita itu untuk menyadarkan nya, namun tidak mendapatkan respon apa-aa
“Geb!! Geby!! sadarlah!”
Tapi wanita itu terkulai tidak sadarkan diri, langsung saja Aldo mengangkat tubuh wanita yang dipanggilnya Gebby dengan kedua tangan kekarnya tersebut, dia terlihat emosional dengan apa yang terjadi kepada wanita itu.
“Minggir!!!” bentak Aldo kepada orang-orang yang memadatkan jalan keluar ketika dia membawa pergi wanita yang menutup mata tanpa sadar.
Eca memperhatikan kepergian Aldo dengan wanita yang berada di gendongan nya dari arah belakang, betapa cekatan nya kak Aldo memberikan pertolongan, ditambah raut wajah yang ditampilkan, pasti wanita itu bukan lah wanita biasa, melainkan seseorang baginya, entah kenapa hati Eca seakan berdenyut sakit dengan kesimpulan yang dilakukan.
Mungkin ini yang dikatakan cemburu, rasanya tidak ada harapan lagi bagi Eca menyukai siapa-siapa, orang yang disukainya diam-diam sudah memiliki wanita yang di cintai nya, dan seseorang yang menjadi calon tunangan nya meninggalkan Eca setelah menikmati,
Ironis nya Eca masih belum dapat menghapus debaran saat memikirkan malam itu dia mengutuk diri sendiri, betapa bodohnya Eca menjadi seorang wanita.
Eca merasa tidak percaya diri dengan dirinya, lagian siapa yang akan menyukai Eca sedangkan dia tidak cantik sedikit pun, Eca tidak pandai mengunakan make up, dan tidak hebat mengatur gaya, bahkan hingga saat ini tampilan santai yang ada ditubuhnya membuat orang disekitar tidak memperhatikan Eca.
Tapi hidup itu pilihan, tuhan mungkin memberikan segalanya kepada kehidupan nya, tapi tergantung bagaimana caca dia menyikapi kehidupan nya, dan Eca sudah mengambil pilihan tersebut, meskipun tuhan memberikan segala nya tapi Eca enggan untuk menggunakan kesempatannya sebab dirinya ingin memilih jalan nya sendiri.
Dari awal dia tidak akan menyesali pilihan nya, sebab menjadi orang biasa dan tidak menarik perhatian membuat nya nyaman dalam menjalani hidup selama ini.
__ADS_1