
Randika tengah menikmati sarapan pagi bersama mamanya, bahkan Randika begitu fokus menyantap hidangan untuk mengisi perutnya agar menjadi sumber kekuatan, tentu saja suasana hati yang menyenangkan membuat Randika memiliki nafsu makan yang besar, sehingga wanita itu menyelisik untuk memperhatikan gurat bahagia yang terpampang jelas.
"Hal apa yang membuatmu senang? Apa kau sudah berteman baik lagi dengan Jessy?" tanya wanita itu dengan sikap santai.
"Masih belum. Ternyata banyak hal yang berubah setelah 10 tahun berpisah, bahkan Jessy banyak berubah dari segala aspek, namun ia tetap manis" ungkap Randika kearah beliau.
"Astaga, anak ku ternyata sudah dewasa. Bagaimana bisa cinta moyetmu bisa membuatmu mengangumi Jessy seperti ini, membuatku iri saja" sahut Nyonya Tama selaku ibu dari Randika.
"Apa yang kau cemburkan, saat papa memberikan cinta berlimpah padamu"
"Tetap saja, ia sudah sibuk bekerja dan menjadi tua yang menyebalkan, dia tidak pernah romantis lagi, hari-hari hanya sibuk di kantor, ah....... menyebalkan sekali mengigat tua bangka itu" kesalnya, namun Randika tersenyum manis kearah beliau.
"Tapi papa hanya memiliki mama saja, bagaimanapun inilah resiko mencintai pria penggila kerja" hingga sarapan mereka berakir dengan susu manis yang Randika teguk hingga tandas.
"Oh iya nak, kapan kita akan bertamu ke rumah Jessy, mama cukup kangen dengan Jessy, kata Winona Jessy sangat manis, cepatlah putuskan harinya" paksa wanita itu, membuat Randika baru mengigat pertemuan ini, bagaimanapun perjodohan mereka hanya di ketahui oleh orang tua Jessy saja, mereka mengatakan belum berani untuk bicara hal ini dengan Jessy, jadi Randika memutuskan sendiri untuk mengejar calon istrinya, bahkan ia pindah ke negara ini disaat bisnisnya berkembang pesat di negara tetangga, namun Randika tidak peduli, baginya Jessy lebih penting dari semua hal yang di punya.
"Nanti saja, saat aku sudah mendapatkan hatinya" ledek pria itu, membuat wanita yang hampir menua mencubit pipi putranya dengan sayang, tentu Randika masih berusia 18 tahun, tapi dirinya lebih dewasa dari orang seusianya, bahkan tanggung jawab dan sikapnya sudah begitu matang sehingga Utami tidak meragukan lagi keinginan Randika untuk menikahi Jessy.
*
Jessy sangat benci dengan keadaan yang tengah di hadapinya, dia tidak mengerti lagi harus merespon segala hal ini seperti apa, bagaimana bisa Jessy dihadapkan pada sebuah pilihan pernikahan.
Sungguh membuat gadis itu dilanda bimbang yang berkepanjangan hingga ia menghadiri kelas dengan kekusutan, bahkan Jessy memilih tidur dari pada mendagarkan pelajaran, hingga jam istirahat membuat beberapa siswa keluar dari sana, bahkan Randika melirik Leon yang tengah membangunkan gadis itu.
"Jessy! Bangunlah, apa kau ingin melewatkan makan siangmu" seru pria itu, bahkan suara Leon menarik perhatianya hingga Jessy mengangkat kepala dengan sempurna sebelum akhirnya melirikan mata pada jendela kaca yang menembuskan panas kearah ruangan.
"Panas sekali" Lirih jessy saat menyipitkan kedua matanya lantaran terkena pantulan sinar sang surya.
"Apa yang kau fikirkan, hingga akir-akir ini tidak pernah ke basecamp?" tanya Leon dengan ingin tahu tinggi, bahkan membuat Jessy cukup malas menjawabnya, gadis itu bangkit dari duduk seraya menarik nafas secara dalam untuk ia keluarkan dengan sempurna.
"Aku disibukan dengan pekerjaan rumah, dan belakangan ini aku terpaksa les matematika" terus Jessy dengan sikap malasnya.
"Les matematika" celetuk Leon dengan ingin tahu tinggi, bahkan ia membeokan ucapan gadis itu hingga Jessy menganggukan kepala seraya merengang tubuh, baru saja Jessy merengang tubuh kearah berlawanan matanya terkesiap saat Randika ada di tempat sembari meyaksikan rambut berantakan dan wajah sembabnya, demi apapun Jessy pasti sudah gila bertindak tanpa tahu malu di hadapan pria itu.
"Kenapa kau masih dikelas?" tanya Jessy dengan kesal.
__ADS_1
"Tentu saja menunggu mu" sautnya dengan tenang, bahkah Randika berlalu kearah gadis itu sembari menarik paksa tangan Jessy.
"Ikut aku" paksanya, bahkan membuat Jessy meronta untuk menolak Randika.
"Tidak mau, lepaskan aku" kesalnya.
Sampai akirnya Leon mencegat tangan pria itu, bahkan pria itu mengurungkan niatan untuk menatap sang lawan, bahkan pancaran mata dari keduanya membuat Jessy di rundung dilema, kenapa keduanya mengeluarkan atmosfer yang mengerikan, saat Randika mengenggam kuat tangan Jessy, sedangkan Leon mencegar tangan pria itu.
"Lepaskan Jessy!" tegur Leon dengan tatapan paling mengerikan, bahkan Jessy tidak pernah melihat sikap Leon yang cukup berbahaya.
"Kenapa aku harus melepaskan tangan Jessy dan mengikuti perintahmu! Apa kau kekasihnya"
"Tidak! Tapi Jessy bukan orang semberangan untuk kau sentuh"
"Meskipun begitu, Jessy tetap manusia, aku tidak peduli dia ketua geng Jabrik atau siapa, yang penting aku memiliki masalah penting denganya" tegas Randika.
"Kau fikir dirimu pantas" teriak Leon.
"Sangat pantas" saut Randika dengan tegas.
"Apa kau lupa jika dirimu memiliki hutang padaku?" tanya Randika dengan sikap menggoda, bahkan pipi Jessy memerah ketika ia baru mengingat sesuatu hal tentang perbincangan mereka.
"Hutang apa?" timpal Leon saat ikut campur, setidaknya ia perlu terlibat tentang masalah Jessy, untuk itulah Leon tidak akan membiarkan Randika seenakanya.
"Bukan urusan mu, ayo pergi" celetuk Randika dengan sikap paksanya, bahkan ia benar-benar meninggalkan Leon untuk melarikan Jessy.
bahkan dengan cara seperti apa lagi, demi tuhan bagaimana bisa dirinya sebodoh itu, Eca mengutuk hidup yang tengah di jalani nya, sebab tidak melihat bahwa Ken adalah tutor nya dalam belajar, jika Dari awal dia tahu akan begini, lebih baik dari awal dirinya tidak mengikuti kegiatan psychology'fams.
Siang itu Eca baru mengetahui nya sebab dia baru memeriksa jadwal nya, tertera jelas nama Ken Fenderick yang menjadi kakak tingkat dalam belajar kelompok di hari rabu, membuat Eca begitu frustasi membatalkan kegiatan tersebut atau tidak, jika dirinya membatalkan hanya karena kesal dengan ken, itu terlihat kekanak-kanakan, lantaran kerja kelompok sangat bagus untuk menunjang kenaikan nilai nya
Dengan langkah berat gadis itu berjalan menelusuri tempat yang sudah di informasikan di grup chat, dia berlajan dengan sangat malas, namun bagaimana lagi Eca terpaksa menghadiri nya.
Jam tiga belas lewat lima belas menit!
Jantung Eca mulai berdegup tak karuan, kali ini bukan jatuh cinta lagi melainkan rasa takut yang berlebihan, Eca seperti seseorang yang memiliki panic attack, itu sakit psikologis dimana timbulnya rasa takut atau ketidaknyamanan yang berlebihan secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya. hanya perkara Ken saja mampu membuar dirinya setakut itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak perlakuan Nya yang kasar tadi pagi masih terngiang ngiang di ingatan nya, membuat gadis itu memainkan ujung baju nya hingga berkerut, tanpa disadari suara mobil berhenti di depan Cafe yang dia duduki tersebut, sebuah Lamborghini aventador berwarna kuning dengan gagah berdiri didepan Cafe membuat semua mata wanita tertuju kesana, seketika laki-laki bertubuh bidang tersebut keluar dengan rapinya mengunakan kemeja putih yang menyilaukan pandangan, dia adalah Ken seorang tutur belajar untuk kerja kelomopok.
Meskipun penampilan ken begitu menarik namun tak mampu membuat eca tertarik, walaupun dia menunjukan eksistensinya sebagai good boy tidak bisa menghapus pandangan eca bahwa pria itu sepeti Fack boy! perlahan Eca mengatur nafas dan membuka buku untuk mengalihkan perhatian, agar dirinya tidak terlalu fokus dengan rasa gugup
"maaf aku sedikit terlambat" sapa nya kepada Eca dan gadis lain nya
"nggak papa kok kak" sahut wanita berkacamata dengan dandanan casual tersebut, terlihat jelas dia tertarik sekali dengan Ken hingga wajahnya sangat berbinar memandangi wajah pria itu. Ken pun berjalan mendekat ke arah mereka sembari menarik kursi yang persis berhadapan dengan eca, tentu saja melihat sikap tersebut membuat iri para wanita lain nya, sedangkan Eca hanya tertegun bingung, rasanya Eca benar-benar dipermainkan oleh pria itu, dengan senyum paska dia berusaha tersenyum kecil ke arah Ken hingga memalingkan wajah sambil melihat ke buku yang terlantang di atad meja, meliha sikap Eca tentu saja membuat Ken tersenyum sungging, bagaimana pun gadis itu benar-benar membuat dirinya merasa tidak di hargai.
"apakah kalian hanya ber 4 hari ini?" tanya Ken kearah mereka
" iya kak" sahut wanita yang memakai celana jeans dan memiliki kaki jenjang yang indah itu, Eca belum kenal siapa mereka tapi untuk beberapa waktu kedepan setiap minggu dirinya selalu bersama mereka, yaitu para wanita yang memandang sinis ke arah nya
Ken mencoba menjelaskan beberapa mata kuliah dan bagaimana menghadapi beberapa perihal, entah itu tentang alat test psikologi atau lain-lain nya, Ken juga menjelaskan bagaimana membuat proposal yang bafus untuk sebuah penelitian, dirinya tak lupa memgajari bagaimana mengetik di word secara benar, bahkan Ken membantu mereka dalam mengerjakan beberapa tugas, dia sangat tegas dan sangat cekatan dalam menjelasakan, membuar Eca hanya menunduk sambil menulis point-point penting yang dipaparkanya, saat itu Eca sedikit gugup dan kaku jika harus menatapnya, lantaran sikap nya tadi siang benar-benar keterlaluan untuk berhadapan dengan kakak tingkat.
Sekarang Eca mulai menyadari setelah semua itu dirinya dan Ken menjadi seseorang yang saling membenci satu sama lain, meskipuj begitu Eca mengagumi sedikit tentang sosok pria itu, jika bukan karna dirinya yang memiliki prinsip dalam ber kemlompok dan cara dia yang profesional mungkin Eca sudah ditendangkeluar dari tempat tersebut, seketika mata mereka saling bertemu membuat gadis itu mengalihkan pandangan segera, beberapa kali terlihat ketidak nyamanan yang ditampilkan nya kepada Ken, mebuat Eca kurang fokus dalam mendengarkan penjelasan dari pria tersebut.
"dia benar- benar laki-laki yang menyebalkan untuk ku, meskipun dia sangat pintar, tapi tetap saja aku tidak nyaman" gumam Eca
" apa dia tidak suka belajar dengan ku, jika tidak, mengapa mengambil jadwal ku!! gadis yang menyebalkan" gerutu Ken seraya menyembunyikan kekesalan dengan senyuman nya
"Cindy. apa kau sudah mengerti sampai sini?" tanya ken kepada gadis yang mengunakan kaca mata tersebut
"lumayan kak, aku mulai paham" balas gadis itu, membuat Eca hanya melirik ke arah mereka
"jika kau ingin lancar dalam membuat Ppt, belajar dari Youtube dan jangan lupa sering sering mencoba nya" tutur Ken dengan tersenyum, membuat semua wanita tersebut mengiyakan apa yang dikatakan nya, sedangakn Eca hanya dia mendengarkan semua hal tanpa bicara apapun
"Siapa nama mu" tanya Ken ke arag Eca, bahkan mata mereka bersirobok saling menatap, namun memdengar hal itu Eca hanya tertegun sembari menunjuk dirinya, untuk memastikan apakah ken benar-benar bicara dengan dirinya " iya kamu" jelas nya dengan sedikit datar
"Eca kak" balas gadis itu dengan penuh sopan, bahkan sangat berbeda dari sikap nya tadi pagi, membuat Ken menarik senyum samar di sudut bibir nya.
"kenapa dia bisa berbeda, dasar wanita aneh" gumam Ken seraya menganggukan kepala untuk mengerti.
Selang beberapa lama, Akirnya kerja kelompok yang di pimpin oleh Ken itu selesai dengan pertemuan pertama mereka, tentu saja Eca merasa lega sebab dirinya benar-benar terbelengu dengan rasa sesak tersebut.
Sedari tadi Eca ingin sekali pertemuan itu cepat berakhir, sebab dirinya ingin mempelajari lagi apa yang dipaparkan pria itu, sebab paparan materi dari nya lebih mudah untuk di mengerti dari pada materi yang diajarkan dosen di ruang kelas. jadi untuk kedepan nya sangat sayang jika dirinya tidak menghadiri pertemuan seperti ini, sebab cara belajar dengan kakak tingkat sangat menunjang untuk kenaikan nilai semester Eca.
__ADS_1