Calon Istriku Ketua Geng Jabrik

Calon Istriku Ketua Geng Jabrik
Episode 3 : Pria itu cukup berani.


__ADS_3

Ujian naik kelas sebentar lagi akan dimulai, tentu saja membuat Jessy tidak sabar untuk libur panjang, hanya saja ia juga perlu memikirkan ulang tetang apa yang dijanjikan pada Bu Luna, sepertinya Jessy perlu memikirkan strategi untuk lulus pelajaran matematikan tahun ini, jika tidak, tamatlah riwayatnya.


Rasanya jika liburan dimulai, Jessy akan menghabiskan waktu disebuah warnet yang ada diujung rumah, dan juga menyibukan diri menambah keterampilan bela diri, hanya saja Jessy perlu berfikir, bagaimana jika ketahuan oleh Mami, tentu hal ini akan semakin beresiko tinggi.


Bagaimanapun mami sangat tidak suka jika Jessy mengikuti kelas bela diri, wanita itu memaksa Jessy mengikuti kelas kecantikan atau memasak, meski sebenarnya dua-duanya bukan pilihan melainkan beban baginya, tetap saja jessy perlu mengambil kelas itu untuk formalitas semata.


Meskipun begitu, Jessy sering bolos dan jarang masuk kelas, sebab segala hal sangat membosankan dan menjijikan, andai saja mami mengerti dengan putri satu-satunya ini, mungkin tidak seperti ini nasib Jessy, rasanya mengharapkan pengertian dari mami menjadi hal mustahil untuk digapai, padahal selogan Jessy menjadi ketua dalam Geng Jabrik, untuk menjadi diri sendiri, sedangkan dia, jauh sendiri dari tujuan itu.


Sedari kecil, Jessy selalu dipaksa memakai pakaian warna pink serta boneka berbie yang cukup mengelikan, padahal Jessy mengiginkan mainan bola dan robot- robotan, namun mami tidak pernah mengerti dan terus memaksakan keinginanya sendiri.


Sebuah bulatan kertas memantul di meja Jessy, membuat gadis itu terhenti dari lamunanya, bahkan membuat Jessy membula surat itu. "Hari ini cukup panas, bukankah ini waktu yang tepat untuk bolos kelas ketiga, bagaimana kalau kita ke kantin kakak" ajaknya.


Membuat Jessy menaikan kedua alisnya seolah setuju dengan ajakan Leon, melihat Jessy setujutu dengan niatanya, membuat Leon mengirim surat lagi. "Bagaimaba jika kita ngajak Aiden"


Hingga gadis itu mengacungkan jempolnya untuk menyetujui perkataan Leon, bahkan Jessy mengajukan diri untuk meminta izin kearah luar, diikuti oleh Leon yang ada dibelakanhnya, sampai akirnya mereka bisa mengajak Aiden keluar dari kelasnya, bagaimanapun Aiden adalah adik tingkat yang masih berada disemester awal, jadi cukup menyenangkan mengajarkanya pengalaman menegangkan ini.


"Memanjat tembok" lirih Aiden dengan penuh pertanyaan, saat kegita orang itu berdiri diperkarangan belakang, bahkan Aiden tidak menyangka ia akan melakukan ini untuk pertama kalinya, sebab selama ini Aiden adalah murid teladan yang baru-baru ini memenangkan debat bahasa inggris di tingkat internasional, namun ia dihadapkan oleh pemandangan yang cukup mengejutkan hati nuraninya sendiri, membuat Aiden mengelengkan kepala seolah ia menolak melanjutkan hal ini, namun Jessy dan Leon menarik kerah bajunya yang memaksa Aiden melakukan prosesi ini.


"Kak Jessy, aku sungguh tidak bisa"


"Kau pasti bisa, bagaimabapun ini sangat menyenangkan, ayolah, jadi dirimu sendiri" hingga pria itu terdiam sambil menatap kearah tembok besar yang ada dihadapanya.


Hingga Aiden benar-benar melintasinya, bahkan Jessy tersenyum puas atas tindakan anak didiknya, sungguh Adien memukul dirinya sendiri, bagaimana bisa anak dengan sejuta prestasi melakukan hal ini.


"Astaga, aku tidak percaya" ungkapnya dengan wajag memucat saat dirinya mampu melakukanya dengan sempruna, bahkan seperti Jessy dan Leon.


"Leon kau hebat" bangga Jessy ketika mengusap kepala Aiden, bahkan membuat Airyn menyeringai puas atas apa yang ia lakukan.


"Astaga......lihat dirimu" timpal Leon dengan memuji, sampai mereka bertiga tertawa diatas kepuasan hati masing-masing.


"Bagaimana? Menyenangkan bukan?" tanya Jessy dengan sedikit mengejek.


"Tentu saja" saut Aiden dengan segera. "Tapi kak, aku ingin bertanya, siapa laki-laki yang berjaga di dekat toilet sekolah?" terusnya lagi.


"Dia, tim sukses kita memanjat pagar" timpal Leon dengan sedikit bercanda, membuat Aiden memalingkan wajah untuk menuntut penjelasan dari Jessy.


"Sebenarnya aku tidak ingin menjahili Doni, tapi kita membutuhkan dia sebagai alasan jika nanti ketahuan oleh guru. Bahkan melihat langkah kakinya yang gemetar membuatku tidak enak hati, tapi bagaimana lagi, ini kontrak antara kami yang menguntungkan" jelas Jessy kearah Aiden.


"Kontrak apa?" saut Pria itu dengan ingin tahu tinggi.


"Jika doni membantu kita selama sebulan untuk memanjat pagar ataupun tembok sekolah, maka dia tidak akan diganggu oleh geng Jabrik. Tapi jika dia menolak, maka pria malang itu akan mengalami penderitaan selama sebulan tanpa ada yg mengasihaninya"


"Tapi kenapa? Kenapa dia bisa terkena kontrak?" tanya Aiden. "Bukankah kalian tidak suka membully, tapi kenapa kalian melakukanya pada Doni?"

__ADS_1


"Wah Aiden, pertanyaanmu cukup kritis" terus Leon saat menyesuaikan langkahnya dengan mereka. "Tapi aku akan menjelaskan, kenapa mereka bisa mendapatkan kontak, karna Doni menindas temanya"


"Menindas, bagaimana bisa dia menindas? Bahkan aku melihat ia orang yang seperti tertindas" terus Aiden dengan rasa ragu.


"Beberapa waktu lalu, anak bodoh itu mencontek ulangan temanya, dan anak itu berasal dari keluarga yang sederhana yang tidak sebanding denganya, lalu Doni meminta pria itu menutup mulut, hanya saja Doni ketahuan oleh ayahnya. Kau tahu sendiri bagaimana kerasnya orang tua dilingkaran kita, jadi ia melampiaskan amarah dan memberikan pelajaran pada pria itu sampai sang korban berakir dirumah sakit, pengaruh ayahnya yang cukup besar, membuat Doni menutupi kasus, tapi semua itu tidak akan berfungsi di dalam lingkup sekolah, bahkan orang tuanya saja tidak akan berarti apa-apa jika menyinggung geng Jabrik" jelas Leon ketika merangkul pundak Aiden, membuat tubuh pria itu bergindik ngeri. "Untuk itulah Aiden..... sekali kau masuk, kau tidak akan bisa keluar"


"Ya! Berhenti menakutinya" ketus Jessy, hingga membuat Leon mengulas senyum dengan bodohnya, dan sekarang Aiden paham, apa yang membuat geng ini terbentu, yaitu kekuasaan yang mereka rangkai dalam lingkup sekolah, mungkin terlihat kecil, namun latar belakang anggotanya bukanlah orang main-main, untuk itulah setiap tahunya hanya beberapa orang yang lolos, dan tahun ini Aiden orang yang berhasil memasuki Geng Jabrik, sungguh ini menyenangkan, namun secara bersamaan cukup menakutkan.


*


Keesokan Harinya.....


"Jessy cepatlah" pinta Leon dengan tergesa-gesa.


"Sebentar" terus wanita itu dengan terengah, bagaimanapun ia harus membolos sebab ada anggota yang berkelahi di Base Camp, jadi Jessy terpaksa membolos lagi untuk melihat mereka.


"Liat baik-baik" tegas Leon kearah Doni yang sedang memantau guru, bahkan sikap gugupnya benar-benar terakses secara sempurna, hingga tidak bisa disembunyikan lagi.


"Jess, cepat...... " paksa Leon.


"Apaan sih, sabar" kesal Jessy saat beberapa anggotanya sedang memanjat tembok.


"Ji-Jika kalian ketahuan, kalian tidak akan membawaku dalam kasus inikan" seru Doni ketika menberanikan diri bersuara, membuat Leon sedikit jengkel, sembari menarik kerah bajunya.


"Leon" teriak Jessy dengan kalimat menekan.


Membuat Leon melepaskan cengkraman tanganya seolah merasa kesal atas sikap pria itu.


"Apa kau tidak bisa santai sedikit" kesal Jessy dengan nada peringatan.


"Bagaimana aku bisa santai, saat orang yang begitu bahagia menindas orang, dan saat ditindas merasa tidak terima dan seolah menjadi korban, bahkan melihat wajahnya saja, ingin rasanya kuhancurkan"


"Tapi kau harus sadar, kita tidak mengunakan kekerasan"


"Tenang saja, aku bisa mengontrol diriku, jikapun emosiku tidak tertahan lagi, juga tidak ada yang berani memperkarakan kita.


"Walaupun begitu, kau harus hati-hati, tidak semuanya akan berjalan dengan baik"


Hingga pembicaraan diantara mereka terputus, saat seseorang keluar dari arah toilet, bahkan Jessy terkesiap ketika ada orang di dalamnya.


"Apa kalian sedang bermain film laga" ejek pria itu saat mendengar perbincangan kedua manusia itu.


Untuk pertama kalinya Jessy membeku diposisi ketika ejekan seseorang mampu meruntuhkan kepercayaan dirinya, bahkan tatapan Jessy dan pria itu saling memancar satu sama lainya, sembari melangkah besar kearah Jessy.

__ADS_1


"Apakah kalian fikir sekolah memberikan hak untuk siswanya berlaku sebagai pihak kedisiplinan, kenapa kalian menghukum seseorang dan berlagak berkuasa saat kita semua sama rata" hingga ucapan pria itu, menarik perhatian beberapa anggota geng Jabrik.


Sekali lagi Jessy terpaku kearah depan, saat kedua matanya mengakses pria tampan yang memiliki postur tubuh tinggi dengan rupawan yang mengagumkan, kulitnya, gesturnya hingga tatapan matanya membuat Jessy terpana dalam pandangan nanar.


Kali ini Jessy tidak bisa melepaskan tatapan dari pria itu, bahkan ia sedikit kagum jika disekolah ini ada orang yang cukup berani menegur dan bicara penuh hina kearaj Jessy, biasanya tidak ada yang pernah bertanya kepada seorang Jessy melakukan hal ini, ataupun menanyakan apa yang ia perbuat pada seseorang, namun pria itu dengan kurang ajar mengkritik, bahkan membua Jessy cukup tercengang.


Sedangkan Doni yang ada diantara mereka tidak bisa mengedipkan matanya, dari mana pria itu berasal, bahkan ini kali pertama Doni melihat kehadiranya, bahkan Doni sama kagetnta dengan Jessy, selama ini banyak siswa melihat atau mendengar perbuatan Jessy, namun tidak ada yang berani ikut campur ataupun mengktitik, mungkin jika mereka berada dalam posisi ini, orang itu akan pergi secara perlahan untuk menghindar pelan-pelan.


"Menarik, aku bahkan baru bertemu orang sepertimu dalam seumur hidupku" putus Jessy diantara kesuraman itu.


"Benarkan, aku juga baru bertemu orang seperti kalian untuk pertama kalinya"


Hingga wajah Jessy megelap secara sempurna, bahkan ia menyilaukan tatapan tajam diantas kekecewaan yang begitu mengancam.


"Apa yang kau lakukan, apa kau tidak tahu siapa Jessy" timpal Aiden yang saat itu ada diantara mereka.


"Memangnya dia siapa?" tanya Pria itu dengan tatapan menghina.


"Randika......" lirih Adien degan penuh peringatan.


"Kau kenal dia?" terus Leon dengan sikap tidak suka.


"D-Dia.... "


"Perkenalkan..... " putus Randika saat nengacungkan tanganya kearan Jessy, membuat gadis itu menatap jengkel diatas rasa kesal yang sedang ia perlihatkan.


"Sepertinya, kau memiliki nyali yang cukup besar" hina Jessy dengan sikap tenang.


"Tentu saja" sautnya dengan penuh kebanggaan.


"Ikut aku" perintah wanita itu saat mengajak Randika kearah belakang, bahkan Jessy mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan beberapa orang termasuk Leon.


"Kenapa kau membawaku ke tempat sepi?" tanya pria itu, Membuat Jessy mengepalkan tangan atas sikap kurang ajarnya. "Apa kau sedang mengajak ku berkenalan di tempat seperti ini, astaga..... ternyata kau cukup menarik" ungkapnya dengan bercanda, membuat Jessy membalikan badan denagn sempurna hingga mengayunkan tangan untuk menghajar Randika, namun beberapa detik mampu ia lumpuhkan untuk menangkis serangan jessy.


Bahkan pria itu mendorong Jessy kearah dinding dan menempatkan gadis itu dibawah intimidasi dirinya. "Awalnya aku fikir ini sangat membosankan, tapi ternyata kau sungguh menarik jessy" ungkap Randika dengan penuh kemenangan, bahkan ia mendekatkan kedua wajah mereka sampai Jessy dibuat gugup tak kepalang.


"Siapa kau sebenarnya?" kesal gadis itu.


"Apa kau tidak ingat aku?" entah bagaimanapun perkataan yang keluar dari mulutnya selalu menjengkelkan, bahkan membuat Jessy menajamkan mata saat tidak mampu membalas perkataan Pria itu. "Tunggu saja, nanti kau akan mengenaliku secara pelan-pelan" hingga ia melepaskan tubuh Jessy, bahkan ketika mereka berdua berpisah, akirnya Leon hadir disana, bahkan Aiden juga sama.


"Jessy, apa kau baik-baik saja?" cemas Leon ketika memperlihatkan pertentangan.


"Aku baik-baik saja" saut Jessy ketika menatap tajam kearah Randika.

__ADS_1


__ADS_2